Showing posts with label ~MALAYSIA. Show all posts
Showing posts with label ~MALAYSIA. Show all posts

Monday, June 27, 2011

Mencicipi "Pasembur" di Pasar Malam Sungai Dua, Penang

Hari sudah menjelang sore saat kami berempat masuk ke dalam bus dari arah Queensbay Mall untuk kembali menuju hostel kami di Georgetown, Penang. Belum sampai 5 menit perjalanan, di tengah kantuk dan mata yang berat, tiba-tiba dua orang teman saya berseru, "Eh ada pasar malam! Turun yuk!"

Dengan otak yang masih setengah sadar dalam mencerna kata-kata teman saya, seorang bapak di samping saya mengangguk-angguk setuju sambil menunjuk ke sebelah kiri jalan, "Ya, pasar malam. Turun di sini saja," ujarnya pendek dengan bahasa melayu. Sekilas di sudut mata saya tampak warna-warni lampu jalanan yang menghiasi keramaian senja.

Oke deh Pak
, jawab saya dalam hati sambil menekan bel di dalam bus. Bus pun berhenti di sebuah halte yang terletak persis di depan sebuah mall besar bernama Sungai Dua Tesco Extra, 8 Ringgit kini berpindah tangan ke sang pengemudi bus.

Pasar malam di daerah Sungai Dua ini benar-benar tampak ramai di akhir pekan. Warna-warni lampu deretan kedai-kedai makanan kaki lima dan penjual pernak-pernik turut menyemarakkan jalanan yang mulai menggelap. Meriah! Dengan langkah bersemangat kami menyeberangi jalan raya untuk mengeksplorasi pasar malam di depan mata kami.

Tujuan kami saat itu cuma satu sebenarnya, mencari cemilan kaki lima khas Penang! Ya, selain terkenal dengan bangunan-bangunan tua bersejarahnya di kota Georgetown, yang memiliki arsitektur yang unik dan kaya karena akulturasi bermacam-macam budaya, Pulau Penang juga merupakan surga kulinernya Malaysia. Oleh karena itu jangan sampai tidak sempat mengeksplorasi kuliner Penang ya saat berlibur ke sini.



Deretan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai penganan
di Pasar Malam Sungai Dua, Penang.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Bermacam-macam makanan hangat yang dipajang di deretan kedai-kedai membuat kami beberapa kali menelan air liur serta berusaha menahan godaan untuk membeli dan mencicipi semuanya. Pada akhirnya berbagai cemilan pun sempat kami cicipi, dari gorengan, lumpia, hingga kebab, dengan harga yang relatif murah (1-4 Ringgit). Walaupun sudah banyak mengemil, tapi ternyata perut kami masih minta diisi. Oke, saatnya mencari makan malam!

Pilihan kami jatuh kepada Restoran Maheran yang terletak di sebuah deretan ruko, sebelah 7-11, salah satu alasannya karena ada tulisan "Halal" di papan nama restoran ini.


Restoran Maheran, Sungai Dua.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Pemilik restoran ini adalah seorang bapak setengah baya berbadan besar yang tampaknya berdarah Arab (atau India? Hehe..) ini ramah sekali menyambut sekaligus menanyakan pesanan kami. Begitu melihat menu yang dipajang di depan restoran sederhana namun bersih ini, kami langsung memilih Koay Teow (Kwetiaw) Sotong, Roti Canai dengan saus karinya, Teh Tarik, dan Milo dingin.


Menu Restoran Maheran.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Tak lama pesanan kami pun muncul. Lho, kok ada satu piring tambahan dengan sajian asing yang rasanya tadi tidak kami pesan?

"Wah, ini apa ya Pak? Kami tidak pesan ini kok Pak," tanya kami kebingungan. Bapak itu hanya mengangguk sambil tersenyum dan menjelaskan dengan bahasa melayu, "Ngga apa-apa, itu namanya Pasembur Sotong. Dicoba aja dulu, kalau ngga suka, tidak perlu membayar."

Waaaw, mana mungkin tawaran makan gratis ini kami lewatkan, hehehe... Nama yang lucu, sahut saya dalam hati. Tampilannya sekilas mirip seperti rujak di Indonesia, berbagai macam potongan sayuran dan lain-lainnya dicampur lalu disiram dengan saus kacang. Begitu saya coba satu sendok, saya langsung membatin, "Wah alamat bakal musti bayar nih. Enak!" Jujur, menurut saya, ini salah satu makanan paling enak yang sempat saya coba saat di Penang.




(Atas) Roti Canai dengan saus kari; (Tengah) Koay Teow Sotong;
(Bawah) Pasembur Sotong.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

"Pasembur" ternyata merupakan salah satu kuliner khas Penang yang isinya potongan kentang, tahu, timun, tauge, telur rebus, gorengan udang, serta cumi-cumi, yang kemudian disiram dengan saus kacang berwarna merah kecoklatan dengan rasa manis gurih dan agak pedas. Harganya 4 Ringgit per porsi. Wajib dicoba!

Sambil mengobrol dan tertawa-tawa mengingat kejadian-kejadian lucu selama perjalanan, tak terasa akhirnya piring-piring kami tandas juga. Puas rasanya. Makan malam kali itu kami hanya menghabiskan sekitar 12 Ringgit di Restoran Maheran untuk porsi empat orang. Perut kenyang, hati senang, dan yang paling penting: kantong aman. Murah soalnya, hehehe... :)

Friday, March 4, 2011

Birunya Pantai Tioman yang Mencuri Nafas Panjang

Posting tamu oleh : Melly Ridaryanthi

Tempat-tempat yang dikunjungi oleh kebanyakan turis-turis ketika ke Malaysia adalah daerah Ibu Kota Negara, yaitu Kuala Lumpur —yang selalu tampil cantik dengan Menara Kembar dan Menara Kuala Lumpur yang menjulang tinggi. Tidak lupa juga wisata belanja yang selalu menarik perhatian para peminat SALE, karena hampir sepanjang tahun akan selalu ada Big Sale, entah itu dalam menyambut Imlek, hari kemerdekaan atau pergantian tahun.

Tempat pilihan lainnya mungkin Penang yang penuh dengan peninggalan sejarah dan tempat ibadah yang indah luar biasa; serta Langkawi yang berada di beberapa urutan teratas daftar tempat kunjungan wisata pantai di Malaysia. Beberapa orang yang saya kenal tidak meletakkan Malaysia dalam daftar negara kunjungan karena mereka tidak minat berbelanja, melainkan lebih sebagai penikmat laut, pantai dan pemandangan. Namun kadang mereka tidak mencari wisata pantai seperti yang tersedia di Langkawi, kurang greget konon katanya.

Jangan tutup peta dulu, Malaysia pun sebenarnya memiliki spot-spot pantai cantik yang diidamkan itu, salah satunya adalah Pulau Tioman.

Pulau Tioman, Pantai Cantik yang Tersembunyi
Pulau Tioman terletak di pantai timur Semenanjung Malaysia, di Negeri Pahang tepatnya. Terdapat delapan kampung yang biasa menjadi kunjungan para turis, namun yang paling banyak dikunjungi adalah Kampung Tekek yang terletak di sebelah utara Pulau Tioman.

Di pulau ini terdapat daerah hutan hujan tropis, tempat perkembangbiakan kura-kura, ada juga spot untuk snorkeling dan diving, serta pantai yang berwarna jernih menjadi daya tarik untuk sekedar menghabiskan waktu mendengar suara ombak dan menunggu matahari tenggelam.

Beberapa waktu lalu saya dan tiga orang teman berkunjung ke sana. Kami yang kebetulan berdomisili di Kuala Lumpur menghabiskan waktu dua hari untuk istirahat sebentar dari rutinitas kampus. Karena pengalaman saya ke Pulau Tioman ini dimulai dari Kuala Lumpur, maka saya akan sedikit berbagi cerita bagaimana kami menuju ke sana dan apa yang bisa dinikmati di sana. Untuk teman-teman di Indonesia, bisa memulai perjalanan dengan membeli tiket pesawat dengan tujuan Kuala Lumpur dan memulai perjalanan ke Tioman dari sana.

Untuk mencapai Pulau Tioman, kita harus naik bis dari Kuala Lumpur ke Mersing lalu naik ferry menuju pulau. Ferry akan membawa kita ke kampung-kampung yang ingin kita tuju.

Menuju Pulau Tioman
Dari Terminal Bis Kuala Lumpur, kami naik bis yang menuju Mersing dengan harga tiket RM 60.00 pergi-pulang. Kami membeli tiket bis yang berangkat pukul 11.30 malam dengan tujuan sampai di Mersing pagi dan tidak akan tertinggal ferry.

Perjalanan Kuala Lumpur – Mersing sekitar 4 jam. Sebaiknya tiket langsung dibeli untuk pergi dan pulang karena kadang-kadang tiket pulang dari Mersing habis sehingga kita akan kesulitan untuk kembali lagi ke Kuala Lumpur. Waktu itu kami pergi Jumat malam dan kembali ke Kuala Lumpur dengan bis malam pukul 10, jadi punya 2 hari penuh untuk piknik.
Catatan Penulis:
Saat tulisan ini dibuat, letak Terminal Bis Kuala Lumpur yang semula di Pudu sementara ini sedang pindah ke Bukit Jalil karena Terminal Puduraya sedang dalam perbaikan. Jadi jangan merasa heran kalau kami harus pergi agak jauh ke daerah Bukit Jalil. :) Kabarnya sih hanya ditutup selama 4 bulan sejak Maret 2010, tapi yang saya tahu hingga saat tulisan ini dibuat pun masih ditutup, jadi kalau ingin pergi coba cari tahu lagi ya.

Jetty di Pulau Tioman.
Foto (c) Melly Ridaryanthi, 2010.

Kami tiba di Mersing sekitar pukul 4 pagi dan langsung membeli tiket untuk boat pergi dan pulang seharga RM 70.00 (waktu itu kami sekalian membeli di loket bis yang kami naiki, karena mereka menawarkan tiket ferry juga). Untuk hari biasa, ferry dari Mersing ke Pulau Tioman hanya akan ada dua kali sehari, pagi dan sore. Tapi pada musim libur biasanya akan ada dua hingga tiga kali jadwal ferry yaitu jam 8 pagi, 1 siang dan 5 sore -- info dari penjaga loket tiket ferry di Jetty Mersing. Jadi, lebih baik kita sampai di Mersing pagi hari agar bisa dapat ferry paling awal dan tidak rugi hari ketika di Pulau Tioman.

Perjalanan menggunakan ferry akan memakan waktu sekitar 2 jam, dan jika cuaca kurang bersahabat maka selamat mabuk laut... :)

Penginapan di Pulau Tioman
Bermalam di Pulau Tioman tidak terlalu mahal, ada harga backpacker ada juga harga koper, bergantung teman-teman jenis pejalan-jalan yang mana. Banyak chalet ukuran “cukup” yang disewakan mulai harga RM 70.00 biasanya bisa untuk 4 orang atau hotel yang berharga lebih dari RM 100.00.


(Kiri) Chalet di Kampung Juara;
(Kanan) Pemandangan di depan chalet.

Foto (c) Melly Ridaryanthi, 2010.

Saya dan teman-teman waktu itu menginap di Coral Reef’s Holiday dengan harga chalet per malamnya RM 90.00 untuk berempat lengkap dengan sarapan. Letak chalet itu tepat di pinggir pantai jadi kami bisa sarapan sambil menghadap ke pantai, indah bukan?

Menikmati Pulau Tioman
Apa saja yang bisa dinikmati di Pulau ini? Banyak! Apalagi bagi penikmat laut dan pantai, kalian akan merasa puas dengan apa yang ada di pulau ini. Pengalaman saya dan teman-teman waktu itu menghabiskan dua hari penuh dengan snorkeling, menikmati pantai dan mengunjungi Kampung Juara.



(Atas) Pantai di Kampung Juara;
(Bawah) Salah satu spot untuk snorkeling.

Foto (c) Melly Ridaryanthi, 2010.

Dengan bantuan seorang bapak yang akrab dipanggil Pak Su, kami dibantu untuk mencari tempat menginap dan mengatur kegiatan dalam dua hari itu. Hari pertama kami habiskan sekitar enam jam untuk keliling tiga pulau diantaranya yaitu Monkey Bay, Pulau Soyak dan Marine Park.

Di ketiga tempat itu kami bisa snorkeling sepuas hati, dengan catatan sebelum langit gelap kami harus sudah kembali ke penginapan. Good deal! Untuk kegiatan ini kami merogoh RM 300.00 untuk berempat, konon biasanya per-kepala akan kena harga mulai dari RM 100.00.

Di dua pulau pertama kami melihat ikan-ikan yang beraneka ragam warna, bentuk dan ukurannya. Air biru jernih dan karang juga segala penghuni dasar laut yang sangat memukau membuat enggan untuk naik lagi ke kapal. Sementara di Marine Park, ya seperti namanya, ada sebuah taman dan bangunan seperti museum untuk dikunjungi. Ada juga jalan menuju satu hutan tropis yang merupakan salah satu tempat kunjungan wisata di pulau ini.

Untuk teman-teman yang sudah punya diving license bisa mencoba pula di pulau ini. Biasanya mereka menawarkan satu paket dengan snorkeling, tapi ya harus punya license dulu.

Keliling Kampung Juara
Hari terakhir di pulau ini kami manfaatkan untuk tur keliling pulau. Kami mengunjungi Kampung Juara dengan paket perjalanan RM 200.00. Dari Kampung Tekek kami melalui jalan kecil menerobos bukit untuk menuju Kampung Juara ini. Sepanjang jalan menuju kampung yang sangat terjal ini kita akan menemukan perkebunan karet yang sangat lebat.

Di kampung ini kita akan menemukan tempat perkembang biakan dan perlindungan kura-kura. Di kampung ini pula kita dapat menemukan tepian pantai yang lebih jernih lagi. Ada beberapa tempat untuk duduk-duduk dan tempat makan yang terletak di pinggir pantai persis dan kita bisa melihat gradasi warna air dari biru tua hingga hijau sangat muda.


Air terjun di pelosok Kampung Juara.
Foto (c) Melly Ridaryanthi, 2010.

Pemandangan dan suara ombak yang sayup-sayup membuat enggan beranjak. Tempat lain yang di kunjungi adalah satu tempat dengan air mengalir yang disebut dengan air terjun. :D Tempatnya tidak terlalu istimewa, dan kita perlu jalan dengan sedikit ribet menelusuri hutan untuk ke tempat ini.

Makanan

Kalau bicara pantai, pasti di pikiran langsung beterbangan berbagai hidangan laut. Tapi sayangnya saya tidak bisa merekomendasikan makanan yang lezat dari perjalanan ini. Menurut saya, masakan laut yang dijual cenderung tidak segar, jadi tidak terlalu menggiurkan.

Makanan yang dijual juga tidak berbeda jauh dari tempat makan di kota-kota lainnya di Malaysia seperti nasi goreng, mie goreng, kwetiaw, sayuran seperti kangkung dan sayur campur. Tapi untuk menyiasati makanan yang standar itu bisa dengan mencari tempat makan yang memberi nilai tambah seperti satu tempat makan yang cukup eksklusif tepat di pinggir pantai. Kita dapat menikmati makan yang menghadap ke pantai dan menikmati pemandangan walau di depan mata hanya ada nasi goreng biasa. Selalu ada cara menyiasati kekurangan kan. Alternatif lainnya adalah bawa bekal, selain sesuai selera, dijamin irit pula. ;)

Oleh-Oleh & Budget
Ada beberapa tempat jual oleh-oleh di pulau ini. Standar-nya adalah gantungan kunci, kaos, magnet kulkas, pulpen dan lainnya. Saran saja, sebaiknya beli oleh-oleh ketika di Jetty Mersing karena lebih murah. Harga kaos bisa setengah dari harga yang ditawarkan di beberapa toko di Pulau Tioman atau di Jetty-nya, lumayan kan. Untuk perjalanan ini sendiri saya mengeluarkan biaya sekitar RM 300.00.

Jadi, kapan mau piknik menghirup udara segar Pantai Tioman?


Profil Kontributor

Melly Ridaryanthi, yang akrab dipanggil Beby, adalah seorang mahasiswa salah satu universitas negeri di daerah Bangi, Malaysia yang memanfaatkan mind-blocked-phase selama menulis disertasi untuk piknik. Disebut piknik karena kata piknik dianggap bisa menjangkau segala status sosial untuk tetap bisa menikmati indahnya alam dan mengisi waktu luang dengan jalan-jalan sesederhana apapun. Piknik selalu dijadikan hadiah setelah menyelesaikan target-target tugas akademiknya. Pengalaman pikniknya bisa dilihat di Jinjinger. Kenapa "jinjinger"? Karena dia tidak punya tas punggung untuk disandang sehingga disebut sebagai backpacker, hanya sesederhana itu. :)

Sunday, February 27, 2011

Batu Caves, Filosofi dalam 272 Anak Tangga

Sempatkanlah untuk mengunjungi Batu Caves apabila Anda sedang berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia. Bukit kapur Batu Caves adalah lokasi kuil Hindu terpopuler di luar India yang dipersembahkan untuk Dewa Murugan. Objek wisata religius yang juga merupakan spot utama untuk perayaan festival Thaipusam di Malaysia ini terletak sekitar 13 km dari Kuala Lumpur, dan tidak dikenakan biaya masuk untuk mengunjungi kawasan tersebut.

Setelah melompat ke dalam bus nomor 11D dari arah Pasar Seni dan membayar tiket sebesar 1.2 ringgit per orang, perjalanan 45 menit ke arah Batu Caves itu pun kami habiskan dengan tidur —apalagi didukung oleh teriknya matahari siang bolong dan minimnya pemandangan menarik menuju objek tersebut.




(Atas) Gerbang masuk Batu Caves;
(Tengah & Bawah) Patung Emas Dewa Murugan &
272 anak tangga menuju Temple Cave.

Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011

Astaghfirullah...
Pertama kali saya menapak ke dalam kawasan religius ini, objek pertama yang paling menarik perhatian saya adalah landmark berupa patung emas Dewa Murugan tertinggi di dunia (tingginya 42,7 meter) dan di belakangnya terlihat 272 anak tangga curam yang menuju sebuah gua di atas bukit kapur yang berfungsi sebagai kuil.

Belum hilang keterpukauan saya, dari belakang bahu saya terdengar desahan pelan, "Astaghfirullah..." Rupanya teman saya juga sangat terpukau melihat tingginya kuil di atas bukit tersebut dan langsung memutuskan untuk tidak ikut naik ke atas, hehehe...

Ya, sebagai orang-orang yang tidak pernah menjadi anggota komunitas pecinta alam dan tidak pernah melakukan aktivitas mendaki gunung (hanya pernah trekking kecil-kecilan), ratusan anak tangga tersebut terlihat amat sangat mengintimidasi kami.

Hadeuuhh, butuh berapa puluh menit ya untuk menuntaskan anak-anak tangga ini?, batin saya dalam hati. Saran saya hanya satu, datanglah ke tempat ini saat masih pagi atau sore sekalian, jangan tengah hari bolong. Terik matahari sepertinya cukup menciutkan semangat untuk naik ke atas.

Matahari siang bolong yang terik dan 272 anak tangga, here we come!
Untuk mencapai kuil gua di ujung tangga bernama Temple Cave, tentunya kita harus mendaki ratusan anak tangga tersebut. Sekilas mengingatkan saya akan ratusan anak tangga di Gunung Bromo. Menantang sekali. Belum lagi ditambah panasnya matahari yang cukup menusuk kulit. Saya bisa menyerah sekarang, tapi apalah artinya petualangan kali ini kalau sudah sampai di sini dan tidak mencoba sensasi naik tangga tersebut.

Akhirnya dari empat orang, hanya saya dan satu teman saya yang memutuskan untuk mendaki sang bukit kapur. Perbekalan yang kami siapkan hanya segenggam niat ... dan payung, dan sebotol air minum, dan kamera poket, ... dan mp3 player (yang sudah saya isi ulang dengan daftar lagu Top 100) yang akan sangat berguna apabila tiba-tiba di tengah jalan kami mulai merasa bosan. Ya, kami memang cukup lebay.

Filosofi dalam 272 Anak Tangga
Dan tahu tidak? Pendakian kali ini ternyata memiliki makna tersembunyi yang mungkin akan berpengaruh terhadap pola pikir kami di masa depan. Bagaimana ceritanya? Mari simak lebih lanjut catatan perjalanan di bawah ini.

Pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang masuk tangga, kami berpapasan dengan dua orang wisatawan muda yang juga terlihat ragu-ragu untuk memulai pendakian. Kami saling bertatapan dengan pandang penuh arti, melihat bersamaan ke arah tangga yang curam, menghela nafas, dan saling melempar tawa. Yah, tampaknya kami harus segera memulai langkah pertama sebelum semangat kami goyah.


Let's the journey begin!
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011

Seiring dengan anak tangga demi anak tangga yang satu persatu kami daki, beberapa kali kami berpapasan dengan para turis dari berbagai belahan dunia yang telah sukses mendaki ke atas dan sedang menuju ke bawah, dan setiap kali itu pula kami saling melempar senyum. Senyum tanpa batasan bahasa yang seperti memiliki arti "Ayo kamu bisa, sedikit lagi!"

Dari pengalaman tersebut, saya menemukan filosofi pertama dalam 272 anak tangga di hadapan saya.
Filosofi 1:
Sekelompok manusia dengan berbagai macam latar belakang apabila dihadapkan dalam keadaan yang berat pasti akan lebih terdorong untuk saling bekerjasama dan mendukung satu sama lain —padahal mungkin dalam keadaan normal, mereka tidak akan terlalu peduli satu sama lain. Dalam situasi seperti ini, manusia sebagai makhluk sosial akan menciptakan unsur "kebersamaan" yang muncul dari keinginan mereka yang terdalam.
Sepertiga perjalanan, kami sudah ngos-ngosan dengan peluh mengucur deras. Ujung tangga masih terlihat jauuuuhhh di depan mata. Tiba-tiba saya ingin menbuat satu goal untuk tahun 2011 ini: "Sukses mendaki 272 anak tangga Batu Caves!" dan rupanya goal itu sedikit menambah semangat saya untuk meneruskan pendakian, yah paling tidak saya jadi punya alasan untuk terus berjuang, hehehe...

Ah, tak lama akhirnya perjuangan kami terbayar sudah. Setelah beberapa kali istirahat mengumpulkan nafas, akhirnya kami mencapai puncak tertinggi dan dapat menikmati pemandangan dari atas yang ... ternyata biasa saja. Di atas, kami menatap bagian belakang patung Dewa Murugan dengan latar belakang pemandangan kawasan industri Gombak.

Tapi yang membuat kami kaget, ternyata kami berhasil mencapai puncak tertinggi hanya dengan waktu kurang dari 15 menit! Wah saya kira bakal habis minimal setengah jam...
Filosofi 2:
Masalah yang awalnya tampak mustahil diselesaikan setelah dilewati ternyata tidak seburuk/sesulit seperti yang terlihat pertama kali.
Kami hanya menghabiskan waktu sebentar di Temple Cave. Di bagian depan area ini terdapat sebuah patung dewa di atas batu yang dinaungi payung berwarna kuning serta sebuah kios oleh-oleh yang tampaknya hari itu sepi pengunjung. Kalau ingin menjelajah lebih jauh ke dalam gua pun sebenarnya bisa, tapi saat itu kami sudah ingin cepat-cepat mencicipi kelapa muda (3 RM) yang dijual di mini market bawah.



Temple Cave, pemandangan di puncak anak tangga.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011

Perjalanan ke Bawah
Untungnya kini kami sudah kuat mental melihat ratusan anak tangga yang *lagi-lagi* harus kami lalui, apalagi begitu ingat 15 menit lagi kami akan minum air kelapa muda segar. Satu persatu anak tangga kami turuni dengan sabar, dan secara tidak sadar kami sudah sampai mini market dengan waktu yang lebih singkat! Kelapa muda, tunggu kami!!
Filosofi 3:
Masalah apa pun pasti akan terselesaikan dengan baik apabila kita menjalaninya satu persatu dengan sabar dan ikhlas.

Di samping mini market yang juga menjual kelapa muda,
kita bisa memberi makan kawanan burung merpati
(sekaligus untuk difoto, tentunya).

Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011

Pesan Moral dari Cerita Ini
Coba lihat, ternyata banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari mendaki ratusan anak tangga tersebut bukan? Tapi ada satu poin terpenting dari "ujian" 272 anak tangga Batu Caves yang sangat berpengaruh di masa depan kami, yang dapat dipaparkan secara gamblang sebagai berikut:

Setelah berhasil melalui uji nyali naik 272 anak tangga tersebut, setiap kali kami mendapati eskalator yang rusak, anak-anak tangga di Kek Lok Si Temple Penang, maupun hambatan-hambatan kecil lainnya selama backpacking kali itu, kami selalu menyahut dengan bangga,
"Alaahh... Batu Caves aja kita berhasil, ginian doang mah keciiiilll..."
Yak, masalah apa pun memang menjadi terlihat kecil setelah melalui 272 anak tangga Batu Caves!

Maka demikianlah pesan moral dari cerita ini yang sekaligus menutup catatan perjalanan saya di Batu Caves.

:))

Wednesday, February 23, 2011

I'm Indonesian Project: Kuala Lumpur, Malaysia


Batu Caves, 272 steps ahead to go to Temple Cave.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011


Petronas Twin Tower, taken from Suria KLCC.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2011

"I'm Indonesian" Project - started in May 2010

Share the joy of travel with all Indonesian travelers!

Tag your favourite destinations to show us as Indonesian were there! Any tag with "I'm Indonesian" text are welcome. You can create your own tag using cardboard, teared paper, or anything. Be creative ... and have fun!

Then you can send it to us at
backpacker.notes(at)gmail.com

Don't forget to mention the location. We will publish the chosen photos in our website with your name (and your website, if you have any) as credit! Feel free to contribute!

Happy traveling! :)


+ + + + +

"I'm Indonesian" Project (c) The Backpacker's Notes, 2011

Kuala Lumpur edition
Idea: Herajeng Gustiayu & Hanny Musytika
Property: Ronggo Ahmad Wikanswasto
Hand model: Hanny Musytika

Sunday, June 27, 2010

Review Akomodasi : Kuala Lumpur, Malaysia

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Kuala Lumpur boleh dibilang spot travel terdekat setelah Singapore dari Jakarta. Kalau Anda berpikir bahwa mencari penginapan di KL lebih mahal dibanding Jakarta, ternyata tidak juga, karena ternyata kita bisa mendapatkan penginapan dalam kitaran Rp.100rb-an semalam per orang. Jumlahnya bahkan mencapai puluhan.

Jangan dibayangkan penginapan-penginapan tersebut jauh di tepi kota dengan ruangan yang remang-remang. Penginapan murah tersebut termasuk cukup layak dan berlokasi di tengah kota dengan interior pernak-pernik khas Ikea. Desain menarik dengan luasan cukup, sesuai untuk tidur dengan nyaman selepas jalan-jalan di KL. Ini pun juga dilengkapi dengan hot shower, Air-Conditioning, luggage-deposit dan locker sebagai fasilitas standard penginapan, beberapa mendapat free breakfast kopi-teh-toast, dan beberapa menyediakan peralatan mandi-handuk-selimut gratis. Hemat bukan?

Ada dua kelas akomodasi murah, Hotel atau Hostel. Salah satu hotel yang terbilang murah dan pernah saya coba adalah Tune Hotels, sedangkan untuk hostel saya merekomendasikan 3 buah tempat. Simak review sepenuhnya pada tulisan ini.

Hotel: Tune Hotels

Ini hotel satu jaringan dengan AirAsia. Apabila ada yang terlihat berkedip di halaman "home", biasanya itu adalah promo atau info terbaru. Biasanya promo ditawarkan jauh-jauh hari, sekitar setengah tahun atau setahun sebelumnya. Mirip early bird flight untuk tiket pesawat. Untuk booking diperlukan kartu kredit dengan sistem pembayaran penuh. Untuk dapatkan info terbaru, bisa coba untuk berlangganan newsletter di website itu melalui email.

Tapi apabila sedang tidak ada promo, harga Tune Hotels mirip hotel biasa. Apalagi kalau kita check-in mendadak, harganya pada kitaran 90-an Ringgit atau sekitar Rp.250rb. Jadi sangat dianjurkan untuk tetap waspada dengan newsletter, hehe...

Jenis Kamar & Biaya Permalam
Jenis kamar yang ditawarkan ada tiga: Single (1-single), Double (1-queen size, untuk berdua) dan Twin (2-single). Harga yang ditawarkan tergantung waktu saat kita booking. Saat promo early book (biasanya ditawarkan semingguan untuk 1 tahun berikutnya), bisa gratis atau harga murmer sekitar 1-2 ringgit (Rp 3-6 ribu) saja. Mirip promo freeseat di AirAsia.com.

Tune Hotels - Double Bed

Biaya ini belum termasuk management fee yang selalunya sekitar 10 ringgit atau Rp. 30rb. Harga Tune Hotels ini terhitung untuk 1 bilik dan dapat diisi lebih dari 1 orang. Bahkan salah 1 flyer promo Tune Hotels sendiri menyebutkan 1 bilik double bisa dihuni oleh keluarga kecil dengan 2 orang dewasa dengan 2 anak kecil.

Jumlah pembayaran via online tergantung pada layanan apa saja yang ingin kita gunakan. Berbeda dengan hotel konvensional yang menawarkan fasilitas-fasilitas dalam satu paket, Tune Hotels menguraikan layanan per item (istilah yang digunakan adalah "bayar tambah"/add-on facilities, kalau kita perlukan kita bayar, kalo ngga, ya ngga perlu bayar), contohnya: Air Conditioning, handuk dan alat mandi, hairdryer, TV, wi-fi.

Setiap item ini memiliki jumlah tertentu yang nanti akan ditotal di akhir sesaat sebelum bayar. Layanan standard yang masuk dalam sewa kamar tanpa kita order antara lain listrik, hot shower, dan fan (kipas angin). Sedang internet gratis per 30 menit tersedia di Lobby-Ground Floor.

Lokasi
Lokasi Tune Hotels di KL ada dua tempat, yakni di Downtown KL dan Kota Damansara.

Untuk lokasi Downtown berjarak 100m ke monorail Medan Tuanku, yang sekali jalan ke arah KL Tower, Bukit Bintang atau KL Sentral. Tapi untuk tujuan lainnya seperti KLCC (Petronas Twin Tower), Pasar Seni, dll perlu naik LRT yang terkoneksi dengan stasiun-stasiun monorail.

Lokasi kedua di Kota Damansara berdekatan dengan Sunway Lagoon dan Shopping Kompleks Bandar Utama Damansara (The Curve, IKEA, Ikano Centre). Menuju tujuan-tujuan tersebut maksimum 15 menit dengan biaya taksi berkisar 5 Ringgit atau Rp.15rb.
Keduanya memiliki minimarket Seven-Eleven di Ground Floor-nya. Yang di downtown KL terdapat warung Kopitiam dan warung ‘Subway’ yang menjual paket breakfast-lunch-dinner. Untuk early book sangat direkomendasikan. Excellent value of money.


Hostel
Hostel mungkin belum terlalu familiar untuk kita. Tapi tipologi ini sudah umum bagi traveler dari negara-negara lain, terutama anak-anak muda untuk berkeliling dunia yang bepergian berkelompok dengan biaya seminim mungkin.

Pilihannya ada dua: Private dan Dorm (asrama). Variasi dorm beragam berdasarkan pengisi: laki-laki/perempuan/bercam
pur dan penawaran kapasitas perbiliknya beragam antara hostel yang satu dengan lainnya, tergantung lahan dan bangunan yang mereka miliki.

Cukup banyak website untuk pemesanan hostel kalau kita klik "book hostel" di Google. Namun biasanya saya book di Hostelworld, yang masih menggunakan kartu kredit juga. Pembayaran sebesar 10% harga bed plus jasa 1US$ sekali pesan. Sedang pelunasan sisanya (90%) dilakukan saat check-in di hostel yang bersangkutan.

Dari puluhan hostel yang ada, bed pada harga kisaran Rp.100rb per orang, saya merekomendasikan 3 tempat :

(1) BackHome Kuala Lumpur, Masjid Jamek
30, Jalan Tun H.S. Lee, 50000, Kuala Lumpur

Hostel ini adalah hostel favorit karena desainnya sangat menarik, walaupun kita tinggal bersama orang lain dalam 1 kamar tapi susunan tempat tidurnya membuat kita seperti memiliki teritori sendiri.

BackHome ini pernah dinobatkan sebagai Best Hostel in Asia 2009 versi Hostelworld.com. Lokasinya dekat dengan Stasiun Kereta Masjid Jamek yang bisa menghubungkan ke LRT KelanaJaya-Putera, dan LRT aliran Sri Petaling dan Ampang. Ketiga aliran LRT ini merupakan tulang punggung transportasi kereta api di Kuala Lumpur.

Desain bangunan dan interior minimalis modern dengan ruang bersama yang nyaman. Disediakan breakfast berupa buah-toast serta kopi-teh yang bebas untuk diisi ulang. Di samping hostel ini pula terdapat restoran Taste of Asia yang kadang suka membagikan makan gratis ke penghuni hostel. Terdapat internet corner dengan harga 1 ringgit per 15 menit. Untuk handuk dan selimut ada sewa terpisah seharga 5 Ringgit atau Rp.15ribu per item. Kamar mandi sharing dengan jumlah cukup banyak.

BackHome Hostel

(2) Bedz KL, Bukit Bintang
58, Changkat Bukit Bintang, Bukit Bintang, 50200, Kuala Lumpur

Bedz KL ini 5 menit jalan kaki ke pusat-pusat perbelanjaan di KL: Sungai Wang - Bukit Bintang Plaza (Fashion), Low Yat - 88 Fahrenheit (elektronik), Pavilion - Lot10 (branded shop), Money Changers, juga tempat makan-makan unik yang beragam. Untuk restoran franchise dan foodcourt FoodRepublic ada di lantai 1 mall Pavilion, sedang kedai-kedai mirip di Kemang ada 1 jalan yang dikenal dengan nama Changkat (bisa jalan kaki 2 menit dari hostel ke arah berkebalikan dengan arah Bukit Bintang), yang akhir-akhir ini lagi naik daun untuk tempat fine-dining.

Di seberangnya terdapat Seven-Eleven dan di lobby ada internet corner 3 ringgit sejam. Kamarnya cukup standard dengan loker. Harganya dah termasuk dengan selimut dan handuk. Sangat tepat untuk bermalam setelah seharian ngider Bukit Bintang. Dekat dengan stasiun Monorail Bukit Bintang yang menghubungkan dengan jaringan monorail-LRT. Setting lokasinya mirip Tune Hotels untuk bepergian seputar KL.

Sejauh ini ini yang paling ekonomis, harga sangat sesuai dengan ruangnya yang efektif untuk menumpang tidur, serta dekat ke titik transportasi dan perbelanjaan.

Bedz KL Hostel

(3) Reggae Guest House 1 dan Reggae Guest House 2, Pasar Seni
156 & 206, 1st Floor Jalan Tun H.S. Lee, 50000, Kuala Lumpur

Lokasinya di Chinatown yang sebenarnya masih berjarak jalan kaki dari Masjid Jamek. Sangat dekat dengan stasiun LRT Pasar Seni, yang di sampingnya ada Stasiun Bus Klang dan Medan Pasar. Dari dua stasiun bus inilah hampir semua bus berpangkal dan menyebar ke seluruh bagian Kuala Lumpur, bisa ke Batu Caves, Damansara, University Islam Antarabangsa, dll.

Reggae House ini memiliki dua lokasi pada dua sisi ujung Jalan Tun HS Lee. Reggae 1 berbatasan dengan Reggae Bar, sedangkan Reggae 2 berbatasan dengan Seven Eleven ujung satu lagi. Internet gratis di area lobby. Suasananya mirip di rumah sendiri.

Kelebihan hostel ini sangat bersih juga dekat dengan dua titik simpul transportasi (train-bus), tiap malam di jalan yang paralel dengan Tun Lee, terdapat jalan Petaling, tempat berkumpulnya Pedagang Kaki Lima KL.

S e l a m a t - l i b u r a n !

PS. Artikel ini ditulis secara objektif berdasarkan pengalaman pribadi dengan tanpa adanya keterlibatan dan kerjasama terkait dengan pihak maskapai penerbangan AirAsia maupun manajemen Tune Hotels.

Book Hostels Online Now


Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun depan, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

Monday, May 24, 2010

Photo(s) : Malacca, Malaysia

Foto oleh : Herajeng Gustiayu
"Malacca (Malay: Melaka) is the capital of the state of Malacca, on the west coast of peninsular Malaysia. Modern-day Malacca is a vibrant old city that believes its wealth of history. Visiting Malacca is a unique experience; its rich historical background earned it a World Heritage Site designation in July 2008." - Wikitravel


Becak warna-warni di Melaka.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Christ Church at Stadthuys Square.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Ruins of Fort A Famosa.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Bapak penjual sketsa tangan.
Kirain dia senimannya, kirain sketsanya asli, ehh ternyata
bapak ini cuma jualan sketsa cetakan. Tapi emang keren-keren sih.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Friday, March 26, 2010

Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-3)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Sambungan dari Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-2)

Tulisan ini merupakan catatan akhir perjalanan Krabi-Bangkok-Georgetown, sebelum kembali ke KL pada awal 2010. Karena content yang cukup banyak, maka tulisan ini dipisah menjadi 2 bagian. Pertama, lebih ke akomodasi dan kota tua Georgetown. Dan kedua, tentang Pulau Penang secara keseluruhan lengkap dengan atraksi-atraksi alamnya yang tersebar.


Georgetown view from ferry.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Meninggalkan Bangkok, kami berempat naik kereta first class sleeper dengan rute Bangkok-Butterworth. Perjalanan 23 jam di atas kereta melewati ratusan kilometer kembali tertolong oleh fasilitas sleeper yang lebih nyaman dibanding perjalanan second class sleeper Suratthani-Bangkok (mungkin karena beda kelas). Kami berangkat sekitar pukul 2 siang (Bkk). Berempat kebagian tiket upper bed semua.

*PS. Thanks Ka Budi, yang membantu pembelian tiket sebulan sebelum keberangkatan yang tinggal tersisa 4 itu doang :p*

Sekitar jam 8 pagi hari berikutnya, kami sampai di pos imigrasi ‘Padang Besar’ yang di dalamnya bergabung counter Thailand sekaligus Malaysia. Semua penumpang harus turun, sama dengan border lainnya. Setiap barang dipindai, bahkan isi koper-koper dikeluarkan untuk dicek satu persatu. Masinis menunggu sampai semua penumpang selesai urusan imigrasi.

Cukup tenang, ga sekhawatir seperti waktu di Custom Singapore-Malaysia yang lebih kompleks. Di
Custom Singapore-Malaysia, selain bangunannya terpisah (Woodland-Johor Bahru), antrian di dua custom terlalu panjang sehingga penumpang sering ketinggalan bus.

Dari Padang Besar, kereta api perlahan tapi pasti menuju Butterworth, melewati wilayah Negeri Bagian Kedah dengan transit di Alor Setar selama setengah jam.


Menuju Georgetown

Georgetown berada di Pulau Penang, yang terpisah sebelah Barat Laut Semenanjung Malaysia. Menuju Georgetown bisa dengan 3 cara (darat, laut dan udara).

Via darat bisa ditempuh dengan bis umum atau kendaraan pribadi melalui Penang Bridge yang konon tersohor. --Tapi gw juga baru tahu bagaimana bentuknya ya saat itu :p--

Via udara dengan penerbangan (AirAsia, Sriwijaya Air, JetStar, TigerAirways, dll) yang pemberhentian akhirnya di Bandara International Pulau Penang. Dari bandara tersebut, terdapat jaringan Rapid-Penang ke KOMTAR di tengah Georgetown dengan harga 2.5 RM /6500 rupiah. Kalo kepepet bisa pake taksi seharga 45 RM /120.000 rupiah sekali jalan.

Pilihan terakhir, via laut dengan titik pemberangkatan dari jetty Butterworth yang 1 lokasi dengan stasiun kereta api (sebagai titik transit KL-Bkk, sekaligus melayani pemberangkatan train ke KL dan ke Bangkok secara terpisah).

Dari tempat kita turun kereta api, cukup berjalan kaki saja menuju jetty (sekitar 200m). Ferrynya mirip dengan rute Ketapang-Gilimanuk di Selat Bali, namun lebih cepat, (20 menit perjalanan). Harganya relatif murah, hanya 1.5RM (4.000 rupiah).

Sepanjang perjalanan laut, di samping kiri ferry terhampar Penang Bridge. Kalau diamati sekilas, bentuknya mirip-mirip Jembatan Suramadu, mungkin lebih panjang, atau mungkin juga lebih tinggi.

Sesampainya di Jetty Georgetown, terdapat stasiun bus. Banyak sekali trayek Rapid-Penang yang siap mengantar ke seluruh penjuru pulau, harganya bervariasi tergantung jarak. Tapi rata-rata sangat murah (paling mahal sekitar 3RM / 10.000 rupiah sekali jalan). Selama berjalan di Pulau Penang sangat terbantu oleh rute-rute bus ini.

Akomodasi
di Georgetown
Untuk penginapan, gw dan rekan mengandalkan Tunehotels.com yang murah. Semalam harga yang gw dapat selama ini berkisar 30-50RM (100.000-130.000 rupiah) dengan cara booking 2-3 bulan sebelumnya (double room-standard). Kalau mendadak (walk-in booking), harga normalnya 90RM (270.00 rupiah), dan bisa lebih mahal kalo lagi musim liburan.

Lokasi Tune terletak di Jalan Burmah
. Cukup strategis, karena tepat di samping foodcourt ‘New World’ dan bisa berjalan kaki 10 menit ke podium Kompleks Tun Abd Razak/KOMTAR yang merupakan menara tertinggi di Pulau Penang. Di podium KOMTAR berkumpul banyak resto, café dan stasiun transit bus dari arah jetty yang mengantar ke berbagai titik di Pulau Penang.

Berkeliling Georgetown

Area konservasi Georgetown berisi bangunan-bangunan bersejarah terkonsentrasi di ujung timur laut pulau. Kalo mau berkeliling kota tua ini, disediakan bus shuttle yang bernama Central Area Transit/CAT (berwarna kuning). Titik-titik transit CAT bus ini merupakan titik kunjungan wisata yang termasuk dalam heritage trail.

Bus ini gratis, membawa kita berputar melalui jalan-jalan yang di antaranya bertebaran artefak-artefak arsitektur Portugis, Inggris, China, dan India.

Kuliner
Untuk makanan, konon Penang sangat terkenal di kalangan penggemar Chinese Food, dengan spesialisasi seafood dan laksa-nya. Namun perlu dicatat, karena non-muslim menguasai tengah Bandar, maka sangat susah menemukan resto yang halal.

Makanan Halal hanya ditemui di kedai-kedai mamak (kedai Indian muslim), yang memiliki menu andalan Ayam Tandoori dan Nasi Kandar.

Kalau ente tinggal di Tune, dengan berjalan sedikit ke arah Menara UMNO, terdapat kedai Nasi Kandar Pelita (seberang Museum Dr. Sun Yat Sen). Satu porsi sekitar 5 RM (15.000 rupiah).

Kiri: Tandoori Chicken at Nasi Kandar Pelita;
Kanan:
Georgetown white coffee ice and roasted bread with 'kaya' jam.. :9
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009


Kalau ingin pengalaman kuliner unik, di area konservasi (tepatnya samping Masjid Kapitan Keling), terdapat Nasi Kandar Beratur 'Qoliyatut Tali' yang bukanya setiap pukul 10pm. Tapi antriannya panjang banget. Sampai 50 orang setiap baru buka, konon karena saking enaknya. Tapi pas nyobain sebelas-duabelas saja dengan Nasi Kandar Pelita. --Lebih mahal iya... Mungkin karena kedai ini dulunya pelopor jualan nasi kandar di Georgetown--


Café dan tempat minum juga tersebar rata di sepanjang area komersil. Rekomendasi gw minum di kedai kopi putih Georgetown di podium Komtar (kopi putih disajikan panas/dingin, dengan kelengkapan roasted-bread with butter & Kaya Jam). Menu makanan dan minuman lain juga tersedia, bisa puas dengan suasana interior kedai kopi jaman British yang unik. Semua perabotnya masih perabot antik dengan penerangan cukup remang-remang. :p

Kota Tua Georgetown

Georgetown merupakan UNESCO Heritage City di Malaysia, selain Melaka. Kalo Melaka landscape-nya berbukit-bukit, naik turun, dengan kota yang struktur pedestriannya berkoneksi secara organik, maka Georgetown kebalikannya. Situs-situs sejarah Georgetown terletak pada landscape kota yang datar dan lebih urban dengan pengaturannya yang ‘gridy’.

Di kota tuanya terdapat peninggalan Peranakan --keturunan Chinese yang berakulturasi dengan budaya Melayu: berupa kuil, mansion, ruko-- dan situs-situs keturunan India (Bengali, Kapitan Keling, Kuil, pasar). Semua tersebar pada jalanan yang membentuk ‘lot-lot kapling’.

Lotus as sacrifices ('sesajen') at China Town's temples.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Untuk area konservasi, istilah jalan diubah menjadi ‘lebuh’ dan ‘lane’. Yang cukup menarik di sana penamaannya masih ala-ala kependudukan British, kalau jeli di dalamnya kita bisa menemukan Love Lane, Lebuh Buckingham, Lebuh Manchester dan sejenisnya.

Lebuh Champbell, at Georgetown's central.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Area Pemugaran Kota Tua Georgetown
Area-area pemugaran ditandai dengan lantai paving atau beberapa terbuat dari cobalt-stone. Cukup memudahkan turis untuk mengetahui apakah di daerah itu terkonsentrasi artefak yang dikonservasi atau bukan.

Beberapa gedung yang berhasil dikonservasi memiliki booth kecil di depan tapaknya. Booth ini memperlihatkan proses renovasi dari foto-foto awal sebelum direkonstruksi, awal proyek dimulai, sampai penjelasan tentang perubahan-perubahan yang dilakukan dari desain awal sehingga mendapatkan bangunan renovasi yang siap digunakan kembali.

Dengan demikian kita bisa mengamati bagaimana situs-situs arsitektur yang berusia ratusan tahun itu dibangun ulang. Cukup menarik.

Tercatat beberapa mansion di Georgetown menjadi contoh menarik untuk pemugaran situs budaya dengan fungsi baru atau tetap seperti yang lama. Misalnya Blue Mansion yang mendapatkan award untuk kategori 'most successful renovation' dari UNESCO. Mansion ini diubah fungsi menjadi hotel butik dengan pengamanan yang sangat ketat.

Details at Blue Mansion.
This building is the most famous one at Georgetown,
because of UNESCO Award (the most successful renovation category).
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Pengunjung tidak sembarangan bisa masuk ke dalamnya. Itu pun dengan waktu kunjungan yang hanya 2 kali sehari, pada jam 11 dan 3 sore (selama 30 menit) dan hanya untuk 20 orang pertama! Memasuki museum ini membayar rata-rata 10RM sekali masuk (27.000 rupiah).

Selain area Chinese dan India, terdapat beberapa situs sejarah yang menandai kependudukan Inggris dan Portugis di Pulau Penang.

Benteng Fort Cornwallis yang berada di titik paling ujung menandakan awal pembukaan wilayah Pulau Penang oleh kaum penjajah. Benteng ini berisi gereja tua, meriam-meriam dan gudang mesiu, serta penjara-penjara tua yang diubah fungsi jadi galeri berisi panel-panel tentang kedatangan Portugis ke Penang.

Peninggalan Inggris dapat kita temui pada sekumpulan bangunan kolonial yang berdekatan dengan benteng Cornwallis. Terdapat City Hall, Parlianment Assembly, dan beberapa bangunan yang sekarang difungsikan untuk kantor-kantor Bank.

Georgetown City Hall.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Oh ya ketika menyusuri tepian pantai Georgetown, gw menemui monumen peringatan perang setelah kemerdekaan, untuk memperingati gugurnya pejuang melawan serangan dari Indonesia (?). --Baru tahu kalau dulu Indonesia pernah perang dengan Malaysia pada jaman Sukarno. Mmm..--

Tips Berjalan-jalan di Georgetown
Untuk panduan berjalan-jalan, ikuti saja flyer yang dibagikan oleh Pejabat Warisan Budaya Dunia UNESCO, semua obyek penting sudah tercantum di dalamnya. Semua bangunan peninggalan ini berkumpul pada area downtown, dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki seharian.

Kalau ga salah ada 40 bangunan lama yang menandai uniknya Georgetown. Tipologinya Mansion, Kuil, Gereja, Urban Amenities, dan Sekolah. Meski tampilannya jadul Georgetown nampak tetap menarik.

Semua aktivitas baru penduduknya tidak merusak bangunan-bangunan lamanya. Bahkan kerusakan yang signifikan pada gedung tuanya terus diperbaiki dan dibangun ulang dengan penelusuran data dan foto oleh dewan kotanya.

+ + + + +

Perjalanan ke Georgetown ini melengkapi informasi tentang sejarah Negara Malaysia. Lebih afdol lagi bila Anda juga telah mengunjungi Melaka di Bagian Selatan Semenanjung.

Bersambung ke Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-4) - coming soon



Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

Saturday, March 13, 2010

Living in Kuantan, Malaysia

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Di tengah ramainya berita Iklan Enigmatic Malaysia di Discovery Channel, berulangnya siksaan terhadap TKW dan kebijakan pengurangan TKI ke Malaysia, terbit juga surat panggilan bekerja sebagai pengajar di Program Kerjasama Senibina Universiti Teknologi Malaysia di Shahputra. Dengan keyakinan 'Rencana Allah itu Yang Terindah', akhirnya memilih untuk berangkat. Karena setelah ditimbang-timbang, merupakan yang terbaik dari pilihan yang ada saat itu. Bismillah..

Suasana Ramadhan di Kuantan.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Dan mulailah tinggal di Kuantan. *Kuantan-bukan Kelantan :D*
Meninggalkan Bandung dengan segala suka-dukanya..

Kota ini merupakan ibukota Negeri Pahang Darul Makmur, lokasinya sisi Pesisir Timur Semenanjung Malaysia. Kalau berangkat dari KL (tepatnya terminal Pekeliling) sekitar 3 jam ke arah Timur.

Melewati hutan juga perkebunan kelapa sawit. Saat petang atau pagi hari melintas di jalan ini, sering disuguhi pemandangan yang menarik. Berupa awan rendah atau kabut tipis di sela pepohonan yang beragam jenis. Di tepian tol ini juga, terdapat pemberhentian bus di setiap kota kecil yang dilewatinya. Kira-kira panjangnya hampir 1.5 kali Tol Cipularang (Bandung-Jakarta). Pada titik tertentu terdapat terowongan, juga hasil ledakan bukit batu untuk perataan jalan dalam skala yang raksasa.

Teluk Cempedak.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Negeri Pahang dikenal dengan wisata alaminya. Pernah denger Genting Highland? Ya, itu juga ke arah yang sama dengan Kuantan (tapi lebih dekat, hanya 1 jam perjalanan dari KL).

Di sepanjang jalan ini pula terdapat banyak belokan menuju lokasi wisata lainnya, ada Bukittinggi dan Taman Negara (Taman Nasional terluas berupa hutan hujan tropis yang sudah diolah menjadi kunjungan wisata dengan fitur lintas hutan, susur sungai, resort tengah belantara, 'hiking', dsj). Kelebihan lainnya adalah pesisir timur yang memiliki pantai pasir putih dengan beragam atraksi (pengembangbiakan penyu di Cherating, batu-batu beku dalam bongkahan besar di Teluk Cempedak dan kerang serta pantai tebing di Balok).

Kuantan mungkin bukan tujuan wisata populer bagi para pejalan. Kotanya juga tidak seramai KL. Hanya infrastruktur jalan dibangun dengan baik. seperti kota kecil lainnya, tidak terdapat public transport yang memadai. Jadi van (antar-jemput) dan taxi menjadi pilihan untuk bepergian bagi yang belum memiliki kendaraan. Buat gw yang terbiasa mobile dengan motor di Bandung, kondisi ini cukup menyulitkan karena aktivitas yang tadinya relatif bebas menjadi terbatas dengan rutinitas yang lebih terjadwal. Transport ini juga yang menyebabkan pelajar tidak datang tepat waktu saat kelas :( (alasan wee..)

Sama juga dengan Bandung, mall-mall besar dengan tenant sekelas Carrefour dan Giant mendominasi Pusat Bisnis Distrik di tengah kota. Sisanya deretan ruko (yang dipanggil Rumah Kedai atau Kedai Pejabat) yang tersusun sama di sepanjang tepi jalur utama.

Tidak hanya ruko, rumah-rumah banyaknya dibangun seragam per blok yang dikembangkan oleh Developer. Konon nilai properti di wilayah Kuantan termasuk yang mahal dibanding dengan kota-kota yang sekelas dengannya. Untuk sewa 1 unit rumah kosong tanpa perabot sekitar RM300-400-600 (tergantung besar rumah) di tepian kota. Sedangkan di tengah bandar, apartemen (standard furnished) atau hunian landed berkisar minimum RM800. Sedang untuk pembelian hunian baru harganya sekitar RM200.000-400.000an untuk tipe standard di tepi kota. Fyi, rumah dapat dibeli dengan angsuran jangka panjang juga (dengan tempo sekitar 25 tahun).

Penghasilan orang Malaysia beragam. Untuk maid, pegawai perkebunan, pekerja konstruksi sekitar RM500-800 per bulan. Tapi makan dan tinggal biasa tertanggung. untuk pegawai kantor standard sekitar RM1000-2000 (tergantung posisi), tapi kalau memiliki gelar S1 berkisar RM2500an di awal, pemilik master degree berkisar RM3000 untuk freshgrad, dan RM3500-4000 untuk yang berpengalaman.

Standard ini sepertinya 3 kali gaji standard di Indonesia, dan sekitar setengah dari Singapore. Tapi, untuk kota besar, seperti KL, gaji biasanya lebih besar. Buat pekerja expatriat, skim ini biasanya sekaligus disertai kelengkapan fasilitas hunian, juga transportasi. Namun bila sewa atau menggunakan transport umum, akan diberikan 'allowance' tambahan per item tersebut. Untuk pekerja dengan skill yang sedang dicari, bisa menembus level RM6000 meski dia baru tingkatan freshgrad S1! *RM1 sekitar Rp 2.900an*

Untuk transportasi hampir semua orang memiliki kereta (mobil) atau motorsikal (sepeda motor). kepemilikan mobil dan motor ini sangat mudah asal kita memiliki tanda kependudukan setempat dan surat keterangan bekerja, dapat mencicil jangka panjang (sekitar 10 tahun untuk mobil dan 5 tahun untuk motor).

Harga mobil termurah adalah Kancil (di Indonesia Daihatsu Ceria) dengan harga RM35.000,- dan jenis yang lebih tinggi bisa berjenjang sampai tak terbatas. Setelah dibandingkan, untuk tipe yang sama, harga mobil di Indonesia sepertinya masih lebih murah. Tapi tetep, skim pembayaran yang jangka panjang ini sangat memudahkan. Terutama bagi kelompok pekerja-keluarga baru.

Kumpul-kumpul di flat.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

TKI banyak juga. Tercatat 3 kali kunjungan ke KL by bus, yang duduk di sebelah gw adalah orang Indonesia. Ada yang bekerja sebagai laden, tukang, mandor, waitress, maid, atau tenaga profesional. Untuk pengajar kolej saja yang dah kenal ada 9 orang. Belum lagi mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil S2 dan S3 di universitas-universitas setempat. Setiap level ini memiliki kisah beragam (biasalah, suka duka di perantauan).

Kalau mendadak akrab, 3 jam ke KL bisa tak berasa, karena saling bercerita atau seringkali kecolongan curhat ttg pekerjaan :)

Selain TKI, banyak orang lokal yang juga keturunan Indonesia. Seperti Kepala HRD di kampus gw yang ternyata keturunan Jawa dan sering menyapa, 'Yo'opo rek? waras koen?', atau aunty Cleaning Service yang Malaysian sering menyapa pagi-pagi sambil menyapu, 'piye wis mangan sarapan rung?' hehe..

Restoran Indonesia dengan spesifikasi makanan nusantara meski sedikit, ada juga.yang nampak dan pernah berkunjung, ada warung bakso yang juga menjual Ayam Penyet, Soto, Rawon, dan Pecel! Konon di kota lain masakan Padang cukup tersohor buat orang lokal juga. Di tempat-tempat inilah sering berkumpul orang-orang dengan pekerjaan beragam, dari beragam level demi kerinduan makanan tanah leluhur.

Will it be my 3rd longtermliving-town?
Wallahualam-Bissawab.. :D



Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

Friday, March 5, 2010

Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-2)

Posting tamu oleh: Arlinda Wibiayu

Sambungan dari Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-1)

Lesson One - Finding Hostel is very tiring

Sumpah capek. Setelah semalem confirm ke Lee (pengelola Frankel Hostel), dengan menyesal saya harus cari hostel lain karena katanya udah di-booking. Emang sih hostel tersebut baru saya booking untuk satu malem, jadi ya nasib lah. Setelah sempet telpon dari hostel ke beberapa hostel lain, saya tetep gak dapet kamar juga. Agak panik sih, tapi akhirnya kami putusin untuk hunting kamar langsung setelah sebelumnya minta izin late check out sama Lee.

Dimulailah pencarian kami di daerah Little India. Di sini ternyata memang banyak hostel yang disiapkan untuk para backpacker. Setelah keluar masuk hostel dan membandingkan harga, diputuskan untuk stay di Fragrance Hostel karena murah dan ada female dorm-nya. Langsung deh di bayar untuk 2 hari. Jadi mendingan pas booking online langsung book sebanyak hari kita tinggal di kota itu deh. Kalo pun gak enak, toh kita lebih banyak waktu di jalan daripada di hostel. Jadi ya dibetah-betahin aja.

Lesson Two - Bus is easier than MRT
Sumpah deh, setelah awalnya selalu naik MRT yang bikin capek kalo mau pindah jalur, akhirnya saya and friends mutusin naik bus dari daerah Little India ke Sims Avenue. Ternyata lebih gak ribet aja. Karena ada yang langsung, trus sama aja kayak MRT bisa pake EZ Link card jadi gak perlu mikir ngitung receh. Pokoknya kita bisa liat jalurnya di halte sambil cocokin sama peta yang kita pegang. Dan ternyata bus is cheaper than MRT. So starting from to day, we prefer using bus.

Lesson Three - Water is expensive in Singapore
Beneran deh... saya sempet shock ngeliat harga mineral water merek Aqua yang di Indonesia cuma dua ribu bisa jadi 1,6 SGD alias 12 ribuan (dengan kurs saat itu). Karena malem sebelumnya kami nemu drinking water gratis di masjid di Changi street, kami bisa isi botol masing-masing. Lumayan bisa irit sedikit lah. Jadi di semua masjid yang kami datengi selama di Singapore ini selalu ada drinking water gratis. Kata bapak yang sempet kami tanyain sih itu memang wakaf masjid. Alhamdulillah...

Lesson four - Rice is better than noodle (for those who are picky)
Beneran deh. Setelah balik dari daerah Little India kami putusin untuk cari makan dulu baru ambil barang kami di Frankel Hostel. Di deket hostel kami ada rumah makan muslim gitu deh. Tadinya mau pesen nasi lemak, tapi katanya belum tersedia. Ya udah… sebagai penyuka noodle saya pesen mie. Temen-temen juga ikutan pesen mie. Setelah pesenan diantar saya sempet shock juga sih. Karena foto di menu sama kenyataannya beda banget.


Mie makan siang kami.
Foto (c) Arlinda Wibiayu, 2009.


Di foto mie di hidangkan dengan mangkok, tapi kenyataannya dihidangkan pake piring trus kuahnya kentel-kentel gitu kayak lo mie kali ya tapi lebih mirip kuah sate padang sih. Nah kebayangkan... Saya putusin untuk segera dimakan dan segera dihabiskan. Kedua temen saya kayaknya cuma sempet makan satu sendok deh, trus mereka nyerah (kasian sampe trauma bau kare).

Lesson Five - Bring compas, and you better learn to use it
Beneran saya sempet bingung nentuin arah kiblat ketika di Fragrance Hostel. Waktu di Frankel saya masih bisa tentuin arah kiblat karena saya masih bisa liat matahari. Tapi berhubung waktu di Fragrance dapet kamar di basement, mau gak mau saya cuma bisa memperkirakan arah kiblat atau barat berdasarkan letak gedung di sekitar. Jadi lumayan banget kalo bawa kompas dan bisa bacanya. Berhubung saya cuma ikut pramuka dua bulan waktu SD, saya gak ngerti bacanya. (Jadi bersyukurlah anda yang pernah ikut pramuka) Waktu Gramedia Grand Indonesia diskon saya sempet mau beli penunjuk arah kiblat, tapi kok jarumnya pindah-pindah aja, jadi kurang meyakinkan. Makanya gak jadi beli…

Mengintip Johor Bahru
Karena hari kedua ini sudah keambil waktunya untuk nyari hostel, kami putusin untuk sekalian aja dihabisin untuk ke Johor buat ngambil tiket kereta. Tiket kereta ini sudah saya pesen sebelumnya lewat email. Tapi karena booking by email, untuk dapetinnya saya harus ambil di wilayah Malaysia dan sebelum tanggal yang ditentukan dari KTMB-nya.

Ternyara bus 170 yang menuju Johor Bahru itu bisa saya naikin dari halte bus yang gak jauh dari Fragrance hostel. Alhamdulillah… Perjalanan dari Ronchor Canal Road menuju Johor bahru memang lumayan lama, tapi nyaman-nyaman aja kok. Lagian murah banget. Cuma yang perlu ekstra sabar adalah ngelewatin custom di sini. Gampang sih, tapi berasa ribet aja, karena melewati dua pemeriksaan. Pertama untuk keluar Singapura, trus pemeriksaan masuk Malaysia. Jadi harus turun naik bus, walaupun gak bayar lagi sih.

Keluar dari customnya Malaysia yang gede dan menurut saya mewah, kami langsung disuguhin pemandangan yang kontras dengan custom itu, tapi gak jauh beda sama di Indonesia. Yaitu bus lengkap dengan kenek atao calo deh. Sama aja ternyata sama di Indonesia. Kantor KTMB ternyata gak jauh, tinggal jalan sedikit.

Selese bayar tiket, kami sempet bingung mau ngapain. Mau lihat Sultan Palace kok orang tanyain pada gak ngertinya. Pas dibilang Istana Sultan baru deh ngerti. Tapi gak ada informasi yang jelas. Jadi kami putusin naik bus yang lewat skudai (katanya Istana Sultan di sana). Rada lama duduk di dalem bus kami rada bingung juga, kok gak ketemu-ketemu ya. Akhirnya ada yang menyarankan untuk turun aja dan balik ke JB City Center.

Karena takut kemaleman, kami putusin untuk balik ke Singapur setelah sebelumnya beli roti dulu. Lumayan beli roti manis yang udah diskon karena udah sore dengan harga 3 ringgit. Bisa untuk seharian deh rotinya, karena lumayan besar.

Back to Singapore
Karena hari sudah cukup malam, kami putuskan untuk langsung kembali ke hostel. Tapi saya rada heran juga di sepanjang jalan di Little India itu isinya laki-laki semua. Dan ruame banget, kata temen sekamar kami sih memang lagi ada sejenis festival sehingga kaum lelakinya pada tumplek di jalanan. Rada ngeri juga sih, apalagi ada yang sudah minum-minum juga dipinggir jalan. Tapi karena perut laper, kami putusin untuk beli prata untuk makan malam dulu sebelum akhirnya kembali ke hostel.

Balik ke kamar, ternyata teman sekamar kami belum dateng. Pas kami mau bersih-bersih dia baru dateng. Pas kami selese bersih-bersih dia udah mau tidur, simple banget sih.

Bersambung ke Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-3)



Profil Kontributor
Ayu, kini bekerja di sebuah lembaga pemerintah dengan latar belakang bidang farmasi. Gaya backpackingnya adalah mengunjungi beberapa tempat sekaligus dan (tampaknya) sudah berencana untuk backpacking lagi dalam waktu dekat. :) Tulisan Ayu lainnya dapat ditengok di Arlinda's Site.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting