Showing posts with label Bangkok. Show all posts
Showing posts with label Bangkok. Show all posts

Wednesday, March 31, 2010

Review Akomodasi : Bangkok, Thailand

Ada beberapa area backpacker di Bangkok, yang paling terkenal tentu saja Khao San Road "the Mecca of Backpackers" di daerah Banglamphu. Namun selain Khao San Road, di Bangkok sendiri terdapat banyak sekali tempat penginapan murah yang tersebar, contohnya di daerah Sukhumvit, Silom, dan beberapa spot lainnya. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan faktor kestrategisan dengan tujuan wisata.

Saat kami ke Bangkok, kami memilih untuk menginap di daerah Sukhumvit, yang (katanya) daerahnya lebih tenang dibandingkan Khao San Road yang hidup 24 jam.

Di bawah ini adalah salah satu opsi penginapan yang pernah kami inapi di Bangkok :

Suk11
1/13 Sukhumvit 11, Sukhumvit Road, Bangkok, Thailand

Kami booking hostel ini melalui email, langsung dari website mereka: www.suk11.com. Suk11 ini (tampaknya) memiliki tema "jungle". Semua elemen interior rata-rata dibuat dari kayu, lengkap dengan akar-akar pohon yang menjuntai dengan "ayunan Tarzan"-nya. (Hehe~!)


Suasana di Suk11.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009


Kamar kami di Suk11.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Kamar: 3 bed, private, ensuite (kamar mandi dalam).
*Lihat di sini untuk foto-foto kamar yang tersedia : Suk11's Rooms Gallery
Rate: 1200 Baht for 3 people/days
Fasilitas:
- Air Conditioner,
- Diberikan gratis 1 botol air mineral per-orang saat pertama kali datang,
- Sarapan (buah, roti, selai, kue, teh/kopi),
- Meja kecil, gantungan handuk (disediakan handuk & toiletries),
- Kamar mandi dalam (wastafel, kloset, shower, air panas),
- Ada beberapa komputer dengan akses internet di lantai 2 dengan biaya 10 Baht/1 jam (kalau tidak salah ingat), tapi di lobby disediakan wifi gratis,
- Common room at lobby,
- 24 hour reception.

Nyaman, Bersih, dan Cocok Bagi yang Senang Berkenalan dengan Orang Baru
Suasana di hostel ini memiliki penerangan secukupnya, alias remang-remang, entah karena tema interiornya begitu atau memang untuk menghemat listrik. Tapi di dalam kamar kami sendiri sih memang cukup terang.

Di lorong depan kamar-kamar, terkadang ada satu wadah berisi buku-buku bekas. Kita bisa menukar buku yang sudah kita baca dengan buku yang tersedia di sini, istilahnya: "book swap". Ini sangat berguna apabila Anda tipe orang yang memerlukan bacaan selama di perjalanan dan buku yang Anda bawa sudah selesai Anda baca. Dengan adanya fasilitas book swap, Anda tidak perlu membeli buku baru, tinggal tukar saja di sini.

Kelebihan lain dari hostel ini adalah disediakannya common room di area lobby, yakni tempat duduk-duduk dan mengobrol. Di sini kita dapat saling berkenalan dengan para backpacker dari seluruh dunia yang menginap di Suk11.

Apabila Anda memiliki waktu lumayan banyak antara jam check-out dan jadwal penerbangan Anda, hostel ini menyediakan fasilitas penitipan tas, GRATIS. Dengan adanya fasiiltas ini, Anda dapat menghabiskan waktu menunggu pesawat dengan berjalan-jalan keliling kota tanpa perlu membawa-bawa backpack Anda yang lumayan berat. Sayangnya fasilitas ini tanpa penjagaan, jadi untuk jaga-jaga lebih baik Anda bawa semua barang berharga Anda.

Uniknya hostel ini, dinding-dinding selasarnya dipenuhi pesan-pesan singkat dari backpacker-backpacker yang sempat menginap di Suk11. Menjadikan dinding-dinding ini mempunyai kesan yang sangat personal. Apabila Anda jeli, Anda juga dapat melihat bekas coretan tulisan kami di sana, hehehe...

Secara keseluruhan, hostel ini nyaman, bersih, dan (relatif) aman. Banyak backpacker yang telah merekomendasikan hostel ini, termasuk Lonely Planet. Untuk itu, maka lebih baik Anda booking Suk11 jauh-jauh hari untuk mencegah tidak tersedianya kamar saat Anda tiba.


Book Hostels Online Now
---



Friday, February 26, 2010

Photo(s) : Ronald McDonald at Khaosan Road

Foto oleh : Herajeng Gustiayu

ขอบคุณ
"Khop kun ka" = thank you. :)
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Thursday, January 28, 2010

Naik-Turun Kendaraan Umum di Bangkok

Salah satu hal yang paling saya sukai di Bangkok, Thailand, adalah sistem transportasi publiknya yang amat bagus. Thailand sebagai negara berkembang rupanya telah mempersiapkan dirinya menjadi negara maju. Sistem transportasi publik Bangkok relatif telah terintegrasi dengan baik satu sama lain, hingga memberikan kemudahan bagi warganya untuk mencapai satu titik ke titik lain.

Dari awal kami tiba di Bangkok, di bandara internasional Thailand, Suvarnabhumi Airport, kami sebagai para turis disediakan bus khusus bandara menuju titik-titik utama kota. Contohnya, untuk mencapai Sukhumvit (tempat hostel kami berada), kami perlu naik bus AE3. Sedangkan untuk menuju Khaosan Road, namanya AE1. Dan seterusnya. Ini benar-benar memudahkan para turis.


Bus AE3 Menuju Sukhumvit.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Peta jalur transportasi publik dapat diambil gratis di bandara Suvarnabhumi Airport. Di peta ini dijelaskan bahwa ada beberapa macam moda transportasi yang dapat digunakan selama di Bangkok, dua yang paling utama adalah BTS (Skytrain) & MRT (Subway).

BTS & MRT sebenarnya mirip-mirip saja. Bedanya cuma kalau BTS beroperasi di atas jalan raya, namun kalau MRT beroperasi di jalur bawah tanah. Tarifnya pun mirip-mirip. Antara 10 Baht hingga 45 Baht dari titik terdekat hingga ke titik terjauh.


(kiri) Stasiun BTS (Skytrain);
(kanan) Loket penukaran koin
untuk tiket.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Sistem pembayaran BTS & MRT menggunakan sistem kartu, serupa dengan sistem pembayaran MRT di Singapura & Malaysia. Ada yang tipe prabayar dan ada pula yang beli di tempat. Contohnya, apabila kita ingin menuju Victory Monument dari stasiun Asok, maka kita memerlukan 4 koin 10 Baht (40 Baht) untuk di"tabung" di mesin koin yang nantinya mengeluarkan kartu. Apabila kita tidak memiliki recehan, kita dapat menukarkannya di loket yang sudah disediakan. Saya dan teman-teman jalan saya tiba-tiba terpikir, berapa banyak koin yang harus mereka sediakan perhari ya?? Tapi pertanyaan itu terjawab beberapa detik sesudahnya, yah kan koin-koin di mesin kartu bakal balik lagi ke mereka. Hehehe, dasar udik...

Waktu kami pergi ke Ayutthaya, kami mencoba kereta 3rd class mereka. Btw kami mencoba kereta ini karena direkomendasikan oleh Simon, teman baru kami yang berasal dari Jerman. Simon ini ternyata setelah lulus dari kuliah, selama 2 bulan ia berkeliling Asia Tenggara seorang diri, sebelum akhirnya bekerja kantoran. Simon sehari sebelumnya juga ke Ayutthaya. Dari awal kami diwanti-wanti, Ayutthaya tempatnya panas banget! Kulit saya sampai terbakar parah. Wah iyalah bule, kalo kita kan udah biasa sama panas, hehehe... Simon bilang, keretanya unik, semua terbuat dari kayu. Hmm menarik... Okay, here we go then! :)




(atas) Wooden 3rd class train to Ayutthaya, @15 Baht;
(bawah)
3rd class train back to Bangkok, @ 20 Baht.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Berangkat dari Stasiun Hua Lam Phong, kereta 3rd class ini hanya menghabiskan uang 15 Baht per-orang. 15 Baht itu berarti sekitar 4500 rupiah, dengan waktu perjalanan 2 jam antara Bangkok-Ayutthaya. Benar kata Simon, keretanya kayu semua, dari bangku, badan kereta, sampai lantai-lantainya pun kayu. Dan di sini kami bebas memilih kursi di mana pun, walaupun sebenarnya lokasi kursi sudah tertera di tiket.

Bagusnya, walaupun 3rd class, kereta ini bersih sekali, kami tidak menemukan sampah apapun di sini. Kami juga memperhatikan bahwa di Thailand, mereka sangat tepat waktu! Berangkat sesuai dengan jam yang ditentukan, dan sampai di tujuan sesuai pula dengan jam yang tertera di tiket kereta.

Pulang dari Ayutthaya, kami lagi-lagi memesan tiket 3rd class, dengan harga 20 Baht per-orang. Lho, kami terheran-heran kenapa harganya tiba-tiba naik?? Petugas loketnya berusaha menjelaskan dengan susah payah berbahasa Inggris, tapi kami tetap tidak mengerti. Setelah kami cek tiketnya, ternyata sepertinya kali ini tipe kereta kami berbeda dengan kereta saat berangkat. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kereta kami tiba. Rupanya benar, ternyata kereta yang sekarang ini bukan kereta kayu yang seperti sebelumnya. Kereta yang ini tampak lebih "eksklusif", eksklusif di sini artinya bangkunya lebih empuk, badan kereta & lantai kereta dari logam, selebihnya sih biasa saja.

Di Bangkok kami juga mencoba menggunakan bus lokal, dari yang berlantai kayu hingga yang ber-AC, kami coba semua. Rata-rata tarif naik bus di sini sekitar 7 hingga 14 Baht. Bus lokal di sini biasanya punya 2 staff, satu sopir, dan satu lagi kondektur. Dua-duanya diberikan seragam & topi, biasanya berwarna hitam-hitam. Menariknya, kondekturnya rata-rata wanita. Cuma sekali saja kami naik bus yang kondekturnya pria.


Bus lokal di Bangkok, lantainya kayu!
Dan kondekturnya rata-rata wanita.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Ada cerita lucu waktu kami mencoba-coba untuk naik bus lokal ini. Waktu itu kami ingin ke Khaosan Road, yang katanya sih surga para backpacker di Bangkok. Berangkat dari Benchasiri Park di daerah Sukhumvit, kami coba bertanya kepada penjaga taman. Mana penjaga tamannya ngga ngerti bahasa Inggris sama sekali, akhirnya kami menggunakan bahasa tarzan (alias bahasa tubuh). Akhirnya dia mulai mengerti saat kami menyodorkan buku pedoman "Tips on Thailand" yang ada terjemahan bahasa Thailandnya, sambil menunjuk-nunjuk bagian "numbers" & peta Bangkok, dan bersahut-sahutan "Bus, bus number, to Khaosan Road!" Aha! Dia mulai mengangguk-angguk, dan menuliskan 2 nomer bus. Fuihhh...

Setelah mengucapkan terimakasih ke penjaga taman, kami langsung mencari bus dengan nomer tersebut. Begitu naik ke atas bus, salah seorang teman saya kembali bertanya kepada kondektur sambil menunjuk-nunjuk peta ke arah Khaosan Road. Walah! Kondektur itu menggeleng-geleng, rupanya kami salah naik bus. Haiyaa... Untungnya kami dipersilahkan turun di pengkolan depan, lalu disuruh naik bus nomer lainnya, yang katanya mengarah ke Khaosan Road. Pas kami mau bayar, kondektur itu menolak dengan tegas. Waahhh... Baiknya!

Turun dari bus, kami mencari bus dengan nomer rekomendasi dari kondektur tadi. Ah nemu! Kami langsung naik, dan kembali bertanya kepada kondektur tentang daerah tujuan kami. Ya ampuuunn, lagi-lagi kami salah naik bus. Tapi untungnya sih, lagi-lagi kami diturunkan di tempat yang agak jauh dan semakin mendekati Khaosan Road, dengan GRATIS.

Kejadian itu berulang 2-3 kali lagi sampai akhirnya kami benar-benar tiba di Khaosan Road dengan sangat hemat! Karena kami hanya membayar satu kali tarif bus, sekitar 7-8 Baht. Hahaha! Padahal jaraknya lumayan jauh dari tempat kami berangkat tadi. Saat tiba di Khaosan Road, kami hanya bisa tertawa-tawa geli mengingat perjuangan dan cara kami hingga berhasil sampai di sana.

Benar-benar deh, penduduk -eh- kondektur bus di Bangkok baik-baik banget! :D


Tuesday, January 26, 2010

Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-2)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Sambungan dari Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-1)

*ngarep kereta mudik waktu lebaran bisa leyehan*
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Setelah berangkat dari Suratthani pukul 9pm, kami berempat tidur di kereta api- sleeper 2nd class. 4 tiket yang tersisa berhasil kami dapatkan : 2 bilik tidur-atas dan 2 bilik tidur-bawah. Awalnya gw pikir fasilitas bilik tidurnya sama, tapi ternyata tidak. Bilik tidur-atas tidak mendapatkan pemandangan ke luar. Langit2nya pun pendek, *terang aja harganya berbeda* Di bilik bawah ada jendela, dan spacenya lebih lega. Karena sebagian kita mendapat lower-sleeper, jadi masih bisa nyobain.. mm.. ternyata jauh lebih nyaman, meski beda harga dengan upper-sleeper tidak signifikan! *hehe, coba kalo kereta mudik lebaran ada kelas sleeper juga*

Landscape-line yang tadinya didominasi tebing2 alam selama di Krabi-Suratthani berangsur berubah dari perkebunan>perumahan>perkantoran>dan ga nyadar dah nyampe aja di pusat kota Bangkok pada pagi harinya [8am, jadi total perjalanan sekitar 11jam]. Suasana hiruk pikuk mirip Jakarta, taxi dimana-mana, warna2nya pun nyolok mata. Ada pink, kuning, ijo, ungu terang, dan cyan! Penjual makanan juga keluar masuk kereta mirip di stasiun Jogja, *hehe jadi inget teriakan2 ‘popmi, kopi, mijon.. kolakolane mas’, tapi di sini ntah2, udah bahasanya ga ngerti, sahut2an lagi*

Sebelum keluar Hua Lamphong, sempet ketemu petugas information centre yang mirip 'Mulan Jameela' yang kemudian kami ketahui bernama Aminah, beliau membantu menulis alamat hotel yang kami dapat dari internet menjadi karakter2 Thai yang mirip huruf Jawa Kuno, buat ditunjukin ke supir Taxi.. *Arigatou-ne Aminah-San..*

Berdasar informasi Aminah ini, banyak penghuni Bangkok yang tidak bisa membaca huruf Roman [huruf latin] mereka hanya bisa berbincang dan membaca huruf Thai. Gaswat! Jadi pengen 'hire' Aminah buat nemenin, kan kita takut kesasar.. *hehe..ngarep*

Perjalanan pertama setelah nyampe hotel adalah mencoba sky-bus, *lebih mirip MRT kalo di Singapur, tapi platformnya diangkat mirip monorail di KL*. Dan kita pun menuju ChatuChak Weekend Market..

Leaving Chatuchak, see how many hrs have we spent there?
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Di sana berkumpul PKL dari segala penjuru Bangkok. Menurut info tourism map, konon diperlukan waktu 2 bulan penuh kalo kita mau ngiterin semua lapak pedagang dengan berjalan kaki. Pedagang tidak selalu menempati lokasi dagangan yang sama. Yang dijual sangat beragam, dari yang kualitas abal-abal sampe yang koleksi ala butik. Harganya murah. Buat perbandingan kaos2 sekualitas Dagad* [dari segi material dan desain] dijual rata2 100Baht (Rp30rb-an), baju2 yang desainnya lumayan update juga sekitar 150an Baht (45rb), kalo beli banyak minimum 3 langsung harga diturunkan lagi [wholesale price] tanpa kita perlu menawar.

Melihat situasi ini, langsung semua pada kalap belanja. Yang tua, yang muda, yang laki, yang perempuan, yang lokal, yang bule, semua nenteng2 kresek. hehe.. [ati2 ya kalo datang ke sini, sediakan waktu, uang, dan tenaga yang memadai.., juga jangan lupa sebelumnya menyisakan space di koper dan persiapkan sehingga over-luggage di bandara]

Di samping ChatuChak ini, ada taman kota yang luas.. nampak sebagai ruang publik yang berhasil. Di dalamnya ada pohon, tempat duduk, instalasi seni, dan kolam. Di sekitarnya ada station sky bus, pool taxi, pool bus, juga Station subway.. pas Sabtu Minggu rame banget! orang datang dan pergi dari berbagai arah..

Namun ada yang sama dengan taman2 di Indonesia, tamannya diPAGERin! *due to violences and chaos that happened there lately, maybe..* tapi titik keluar ke simpul transport dibuka sehingga sedikit menghalangi permeabilitas massa.

Ga kerasa sekitar 7jam kita muter2 di pasar akhir pekan ini, dilanjutkan menghabiskan waktu bersama penduduk Bangkok dan turis lainnya di taman Chatuchak untuk sejam kemudian..

Full Team.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Procession from square to circle form in classic Thai.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Esok paginya kita menuju Grand Palace aka. Istana Raja ภูมิพลอดุลยเดช ป [Bhumibol Adulyadej]. Harga masuknya naik jadi 350Baht [Rp.100ribu-an, info sebelum year-end masih 300Baht :(]. Agak mahal, tapi ta apalah.. may be once in the life time ngeliatin ‘keseriusan’ Kerajaan membangun istana dan kuil Budha dari emas 24 karat. Pas udah masuk ternyata ramai dan sangat panas. Iseng megang2 bangunan atau detail dari emas, ternyata adem lho.. [mungkin bisa jadi solusi buat anda yang tinggal di Jakarta, silahkan mencoba membangun dinding dan atap dari emas, wkwk..]

Atmosfer istana ini tidak semistis Istana Jogja. Mungkin karena terlalu ramai pengunjung.. Yang gw heran, jarak bangunan2 di dalamnya sangat rapat, seperti sudah tidak ada lahan lagi saja. Padahal setiap bangunan dibuat dengan detail yang sangat menarik, sangat presisi, dengan elemen2 kecil yang indah.

Kalo gw disuruh mendesain ulang, Gw akan tarik sedikit lebih jauh jarak antar bangunan supaya pengunjung bisa menikmati setiap elemen dan detail dengan lebih baik. Problem lainnya yaitu panas matahari yang menyengat. Kalo lagi-lagi gw disuruh desain ulang, gw akan desain selasar2 yang adem, nanem pepohonan, dan meletakkan tempat duduk yang nyaman di sepanjang lintasan pengunjung..

Secara keseluruhan puas melihat ‘kegilaan’ konstruksi Grand Palace ini. Proporsi bentuk bangunannya sangat unik [dg pucuk2nya yang berangsur meruncing ke atas], eksekusi material [which is gold] yang sangat detail, juga olahan warna2nya meski meriah, nampak memiliki keteraturan.

Tuk-Tuk.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Tuk Tuk [4 hrs muter2 bkk]

Sepulang dari Grand Palace, kita ditodong oleh seseorang di luar pintu istana. Tadinya kita mau ke Wat Po, tempat Budha raksasa leyehan. Tapi orang ini memberitahu kalo di Wat Po sedang ada upacara dan akan berakhir pukul 4 petang [Waktu itu masih jam 12an siang, terik matahari naujubile] Dia menawarkan jasa Tuk-Tuk, hanya 20 Baht saja (Rp6ribu) dia akan mengantarkan ke Standing Budha, Sitting Budha, dan Golden Mountain diakhiri dengan kunjungan di Sleeping Budha *gw heran, ada yang bisa jelasin ga, kenapa Budha dibuat dg berbagai posisi?* tapi dia bilang di sela-sela kunjungan ini kita akan diajak ke art galleries sebanyak 6 tempat. Demi melihat atap TukTuk yang teduh dan kursinya yang kosong. Langsung saja setuju. *keputusan tanpa pertimbangan yang matang*

Perjalanan dengan Tuk-Tuk ternyata memakan waktu berjam2. Gw jadi mikir bagaimana bisa hanya dengan 20Baht dah dianter muter2 kota?. Kita ngelewatin perkantoran UN, kantor2 pemerintahan, kampus2 dan jalan2 utama Bangkok.. di sepanjang perjalanan, baru tau kalau perjalanan itu ternyata disponsori Art Galleries yang emang konon dah ga laku lagi. Sang supir yang masih berusia 23, Tik, menceritakan, dia dapat subsidi dari setiap toko yang kita datangi. [d*mn! tertipu..]

Setiap Art Gallery yang kita kunjungi memiliki ruang display yang luas dan kosong pengunjung. Penjaga2 dengan gigih menawarkan barang dagangannya yang harganya ga kira2. Ada tukang jahit yang nawarin model celana ala brand kondang dengan harga paling murah 2000Baht (Rp600rb-an), sampai galeri perhiasan yang menawarkan cincin atau kalung dengan mata ruby-thai paling murah 4000Baht (Rp.1,2jt-an), *noway-hosay. Jangan2 informasi upacara di Wat Po tadi berita bohong, Untung gw masih rela, gara2 disupirin keliling Bangkok dg murah-meriah..*

Water taxi, atapnya adjustable naik-turun saat lewat bawah jembatan.. *sugoi!*
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Selepas perjalanan TukTuk yang sukar dilupakan ini, kami mencoba water taxi ke arah Pratunam [Shopping District]. Biaya perjalanan dengan perahu ini murah sekali. Kami hanya dikenakan ongkos 10Baht (Rp3rb) saja, menyusuri sungai2 Bangkok yang disampingnya berderet hunian2 publik setinggi 6-7 lantai, nyupirnya kenceng lagi. Kenek yang nagih duit penumpang berdiri di samping boat, sambil akrobatik ngatur atapnya [naik turun saat lewat bawah jembatan]. Pembatas tepi terbuat dari terpal, bisa dikendalikan secara manual oleh penumpang dengan teknologi mekanika dan prinsip sambungan sendi yang sederhana.. *menarik! coba ya di Jakarta sungainya dibersihin trus ada perahu2 seperti ini, pasti sangat membantu transportasi dan pariwisata kota*

Kami mencoba masuk di satu mall namanya Platinum Mall, [ala2 Mangga Dua], barang2 dijual dengan harga super miring. Apalagi kalo kita beli dengan pembelian minimum 3, harganya turun lagi. Desain2 kaos yang mirip Giord*no dijual dengan 100Baht saja (Rp30rb), baju2 kerja mirip G200* seharga 200Baht (Rp60rb), warna dan modelnya okelah, hanya mutu materialnya kurang sedikit. Tapi buat barang murah dengan desain yang bagus, tetep banyak juga pengunjung yang memborong.

Pengamatan secara sekilas dari segi model baju-kaos untuk kaum muda di Bangkok hampir lebih variatif dengan harga setengah di Bandung, makanya dulu waktu di Bandung gw liat banyak distro dan toko yang menjual barang2 Thailand.. [fyi. di Bandung harganya menjadi 3 kali lipat]

Elevated pedestrian and train path, Victory Monument.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Sekitar tempat gw menginap [Rajavithi], terdapat Victory Monument. Di sini, ga pagi ga malam, banyak yang menjual barang2 murah. Mirip PKL2 di Jakarta. Yang menarik, space pedestrian tidak terganggu. Taman kota juga masih berfungsi tanpa invasi pedagang, aliran pedestrian tetap disediakan. Terdapat struktur jembatan beton yang dinaikkan lengkap dengan escalator dan hanging garden buat meeting point atau tempat ngobrol. Elevated pedestrian ini juga berfungsi menghubungkan jalur pejalan kaki antara sisi jalan2 yang sangat sibuk-padat [fyi. 1 jalur kendaraan terdiri dari 4-6 lajur di downtown]. Di atas struktur yang sama terdapat jalur sky-bus. Di bawah tanahnya dilengkapi dengan subway train. *wuih.. sibuknya*

Makanan hampir sama dengan Krabi, harus pinter2 nyari yang Halal. Kendala bahasa ternyata tidak separah yang diceritakan oleh Aminah, masih banyak orang yang pandai berbahasa Inggris meski buta huruf latin, terutama di daerah2 wisata dan belanja.

Our first class Sleeper Train
Bangkok-Butterworth at Pulau Penang [22 hrs!]*
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

*Premium classnya silahkan googling 'Eastern Oriental Express', jalur Singapore-KL-Butterworth-Bangkok.

Setelah 3 hari 2 malam, kami pun mengakhiri perjalanan di Bangkok. Dan melanjutkan ke Butterworth [di Pulau Penang, Malaysia]. Sama seperti sebelumnya, kami menempuh perjalanan kereta api malam, yang pemberangkatannya dari Stasiun Hua Lamphong.

Tadinya berharap ketemu Aminah lagi. Apa daya ternyata siang itu, penjaga kios informasinya berbeda. Wajah penjaganya kali ini lebih mirip pemain lenong bocah. Dengan setengah ketus, ketika kami tanya lokasi train ke arah Butterworth, dia menjawab,
‘Have you got the tickets? Go to Platform 5!’
Wuduu.. Siap Bu!..

*hari ini Aminah kemana ya? Wkwk..*

Bersambung ke Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-3)




Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting