Showing posts with label Bristol. Show all posts
Showing posts with label Bristol. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

Event Tahunan di Kota Bristol, SW England

Posting tamu oleh: Dhitta Puti Sarasvati



Sebelumnya, saya tidak tahu menahu tentang kota Bristol. Saya hanya mendaftar di universitasnya karena universitasnya memiliki reputasi yang sangat baik di bidang ilmu pendidikan. Tapi ternyata saya jatuh hati pada kotanya karena suasananya mirip Bandung, hangat, banyak kegiatan, artistik, dan juga bukan kota besar --I hate big cities I might say!-- tapi juga bukan kota yang terlalu kecil.



Kalau ke Bristol, ada beberapa event tahunan yang menyenangkan. Di antaranya:


1) Bristol Balloon Fiesta

Kegiatan ini diadakan setiap tahun di musim panas, biasanya selama tiga hari berturut-turut di daerah bernama Ashton Court. Kalau cuaca sedang baik, biasanya balon akan diterbangkan pagi-pagi sekali (saat matahari terbit) atau sore (saat matahari terbenam). Biasanya event ini sangat penuh dan sangat menyenangkan. Tahun 2009 lalu saya datang di acara pembukaannya di sore hari. Balon-balonnya berkedap-kedip lampunya. Seru sekali! Lalu suatu hari saya sedang belajar di perpustakaan di lantai dua, ternyata saya masih bisa melihat balon-balon berterbangan di udara. It is great fun!



Editor's Note: You should see the beautiful photographs of Bristol Balloon Fiesta in this link! Captured by Daugirdas Tomas Racys from Long Lens Photography. You can see more of his awesome works on his flickr account. :)



2) Bristol Art Trail
Kebetulan tahun 2009 lalu saya ikut berpartisipasi di West Bristol Art Trail dengan berjualan kalung karya sahabat saya Aini, Manikam. Jadi, di daerah tempat saya tinggal, bukan hanya seniman profesional yang bisa ikut berpartisipasi, tetapi juga orang-orang biasa. Orang-orang yang merasa memiliki karya seni dapat mengadakan open house di rumahnya (ada juga yang di sekolahnya) dan memamerkan karya-karya seni yang ada di rumah mereka. Kebetulan, pemilik rumah saya setiap tahun selalu membuat kartu natal sendiri, jadi mereka memamerkan kartu-kartu natal yang mereka buat.



Ada juga karya-karya lain seperti gambar anak-anak mereka, hasil quilting, gambar-gambar bangunan di Bristol, dan juga lukisan dan fotografi karya keluarga. Selama seminggu saya ikut rapat bersama pemilik rumah, membersihkan rumah dan mengatur tata letak ruang agar terlihat bagus. Kami juga menyediakan teh dan biskuit bagi tamu di rumah. Saya bertemu banyak orang baru, dan beberapa tamu bahkan sudah pernah ke Indonesia!



Sayangnya, saya hanya sempat mengunjungi satu rumah tetangga untuk melihat karya seni mereka, karena jumlah tamu yang datang ke tempat tinggal saya banyak sekali. Sehingga kami tak sempat berjalan-jalan ke tempat lain. Ini adalah foto beberapa karya di tempat tinggal saya.






Beberapa karya seni warga Bristol

yang dipamerkan di Bristol Art Trail.


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009




Ini juga event tahunan yang diadakan di pelabuhan Bristol. Tepatnya diadakan di Bristol Harbour, Queen Square, Millennium Square, Harbourside pada saat musim panas. Banyak kapal yang ada di pelabuhan, juga ada berbagai musik, bazaar, dan juga semacam fun fair. Saya dan teman saya naik sebuah wahana serupa di Dunia Fantasi, Ancol, Indonesia. Berhubung kami penakut --saya terutama--, saya hanya berani naik satu permainan, itu pun sudah teriak-teriak ketakutan. Haha! Tapi event ini menurut saya kalah seru dibandingkan Bristol Balloon Fiesta dan Bristol Art Trail.


Bristol Harbour Festival.

Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009




4) Redland Mayfair

Sebenarnya event ini baru beberapa minggu lalu. Event ini diadakan setiap May Day, alias tanggal 1 Mei dan selalu diadakan di daerah yang disebut Redland, yang jaraknya hanya 20 menit berjalan kaki dari tempat saya tinggal. Saya tidak datang karena sedang sedikit sakit, padahal beberapa teman-teman saya dari Amnesty International Bristol membuka stand di sana.





Redland May Fair.

Source: flickr


Satu lagi event yang tampaknya tidak akan sempat saya kunjungi (beberapa minggu mendatang) adalah Bristol Vegan Fayre, yang konon merupakan vegan fair terbesar di dunia.





Bristol Vegan Fayre.

Sumber:
geometricapartments.com








Profil Kontributor

Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.



Sunday, November 22, 2009

Bertemu Tibetian Monks

Posting tamu oleh : Dhitta Puti Sarasvati

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan pusat Bristol.

Menurut teman saya ada beberapa Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestry yang sedang membuat lukisan dengan pasir. Saya sangat tertarik ingin mengetahui teknik pembuatan lukisannya. Pasir berwarna diletakkan ke dalam sebuah corong logam lalu di samping corong ada bagian bergerigi. Bagian ini digesek-gesekan dengan sebuah alat, sehingga pasir keluar secara perlahan. Wow mengerjakan lukisan tersebut benar-benar membutuhkan kesabaran.


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009

Para Tibetian Monks dari Tashi Lumpo Monestery ini juga berjualan berbagai barang seperti gelang, kartu pos, hiasan dinding, karena mereka sedang mengumpulkan dana untuk pembebasan Panchen Lama yang bernama Gedhun Choekyi Niyam, salah satu tahanan politik paling muda di dunia.

Saat saya sedang melihat-lihat barang-barang yang dijual oleh para monks, saya terpana pada sebuah hiasan dinding berwarna jingga. Tulisannya begini:
THE PARADOX OF OUR AGE

We have bigger houses but smaller families;
more convinience, but less time;
we have more degrees, but less sense;
more knowledge, but less judgement'
more experts, but more problems;
more medicines, but less healthiness;
We've been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet the new neighbour.
We built more computers to hold more
information to produce more copies than ever, but have less communication;
We have become long on quantity,
but short on quality.
These are times of fast foods
but slow digestion;
Tall man but short character;
Steep profits but shallow relationships;
It's a time when there is much in the window, but nothing in the room

... His Holiness the 14th Dalai Lama


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009

Entah kenapa kata-kata ini begitu mengena bagi saya, mungkin juga koreksi terhadap diri sendiri. Saya meminta izin kepada sang biksu yang menjaga barang-barang dagangan untuk memotrer tulisan ini lalu mengobrol sedikit tentang Pancen Lama yang sedang dipenjara. Akhirnya saya berjalan pulang.




Profil Kontributor
Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.

Sunday, August 16, 2009

Eksibisi Banksy

Posting tamu oleh : Dhitta Puti Sarasvati

Saya belum sempat mengunjungi museum kota Bristol sejak museum dirombak khusus untuk eksibisi karya-karya Banksy. Eksibisi ini akan berakhir pada 31 Agustus, dan saya tampaknya harus menyempatkan diri ke sana. Banksy seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya merupakan salah satu seniman grafiti yang berasal dari Bristol. Tak banyak yang tahu siapa dia sebenarnya. Karya-karyanya cenderung merupakan kritik sosial, terhadap berbagai isu di dunia. Ia juga pernah membuat grafiti di tembok Palestina, sebagai sebuah aksi protes terhadap konflik yang terjadi di sana.

Yang menarik dari eksibisi Banksy di Bristol kali ini adalah bahwa persiapannya dilakukan secara rahasia. Yang tahu bahwa Banksy akan melakukan eksibisi di museum hanya kurator museum. Bahkan semua karyawan museum kaget, ketika hari pertama pembukaan eksibisi dan menemukan ,museum telah dirombak total. Untuk tahu lebih lanjut coba intip site ini.

Museum terletak di seberang jalan menuju jurusan saya. Saat itu saya sedang berjalan melalui museum dan cukup kaget dengan boneka Ronald McDonald yang duduk di atap museum. Ronald McDonald tampak sedih dan seakan-akan mau bunuh diri. Tampaknya itu sebuah visi yang ingin disampaikan Banksy. Ia tampaknya bermimpi bahwa suatu hari industri fast food seperti McDonald akan mati.

Di hari yang lain saya dibuat kaget lagi ketika melewati Oxfam yang terletak di jalan masuk ke jurusan saya. Saat itu Oxfam sudah tutup, tetapi ada tulisan berupa tanda terima kasih kepada penyumbang rahasia karya-karya Banksy kepada Oxfam. Karya-karya tersebut telah habis terjual dalam waktu yang sangat singkat dan menghasilkan uang belasan ribu poundsterling.

Oxfam Bookshop

Salah satu alasan saya tidak mengunjungi museum adalah karena setiap saya melewati museum saya melihat antrian yang teramat panjang. Bahkan setiap hari ada satu jalan (yang cukup lebar dan panjang) yang ditutup, karena penuh dengan antrian orang-orang yang mau melihat eksibisi Banksy. Banyak orang datang dari seluruh dunia untuk melihat eksibisi ini termasuk (katanya) para artis dunia. Hehe saya yang tinggal hanya 10 menit dari museum pun belum ke sana. :D

Source (picture):
http://www.nerdbanite.com/2009/08/ronald-mcdonald-bristo/
http://www.bristol-street-art.co.uk/street-art-blog/oxfam-selling-banksy-merchandise




Profil Kontributor
Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.

Tuesday, December 23, 2008

Polisi Berkuda di Bristol, England

Foto oleh : Dhitta Puti Sarasvati


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009

Polisi berkuda di Bristol..
Ah akhirnya bisa motret juga. :D

Lucu yah?


Profil Kontributor
Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.

Tuesday, December 9, 2008

Bristol Brunel Academy

Posting tamu oleh : Dhitta Puti Sarasvati


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009

Minggu lalu saya berkunjung ke sebuah sekolah menengah bernama Brunel Academy. Sekolah ini dulunya cukup bermasalah (anaknya bandel2x). Belakangan ini sekolah tersebut di desain ulang (ada investor).

Dan kurikulumnya pun di ubah. Ada beberapa seminar (kayak kelas pada umumnya), ada sistem proyekan.. Setahun ada sekitar 12 proyek yang harus dikerjakan. Proyek2x ini multidisiplin, dan ada juga sistem tutoring, di mana ada guru2x yang berkeliling dan memberikan bimbingan secara lebih individual.

Ada beberapa hal yang unik tentang sekolah ini.. Yakni ketika saya memasuki pintu depan sekolah ini, saya terpaku oleh tempelan harapan2x murid2x sini. Katanya, ini adalah usul seorang murid.. Harapan2x ini beberapa seperti,
"Saya ingin mempunyai monyet"
"Saya ingin memiliki pacar yang ngak galak"
"Saya ingin berjalan di bulan"

Sampai beberapa harapan yang menyentuh hati seperti
"Saya ingin semua orang bahagia"
"Saya ingin tidak pernah capai"
"Saya berharap ibu saya bisa melihatku tumbuh dan bangga pada diriku"

dan banyaaaaaak lagi..

Hal unik lainnya tentang sekolah ini adalah desain arsitekturnya. Namanya sekolah menengah lah yah.. Pastinya ada anak2x yang selalu ingin mencoba2x merokok, jual beli narkoba. Nah.. Kamar mandi merupakan salah satu sarana untuk melakukan segala transaksi ilegal ini. Makannya desain kamar mandinya cukup mengagumkan. Dari luar bisa dilihat siapa yang masuk kamar mandi. Persis di ujing ada sebuah kaca besar, jadi seandainya ada asap rokok keluar dari salah satu kamar mandi.. Bisa langsung dideteksi..

Ini ada contoh gambarnya:
Nah desain kantor kepala sekolah, guru, dan wakil kepala sekolah pun terbuka.. Jadi hanya disekat oleh semacam papan (kayak dikantor-kantor gethu). Gunanya biar lebih gampang mengawasi anak2x.. Kalau ada suara teriakan, atau apapun bisa lebih gampang di handle. JAdi walaupun di sekolah ini anak2x diberi cukup banyak kebebasan untuk berkesperimen dalam proyek2x yang ada dalam kurikulum, desain arsitektur sekolahnya memungkinkan adanya pengawasan yang lebih.

Nah di belakang papan yang warna oranye (dibawah ini), itu kantor wakil kepala sekolahnya.


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009

Hehe.. begitulah kunjunganku ke sekolah menengah ini.




Profil Kontributor
Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting