Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts

Saturday, August 20, 2011

Dieng Plateau, Surganya Dewa-Dewi Khayangan

Posting tamu oleh: Dita Rany Anggraeni



Liburan kali ini saya dan teman-teman dari Backpacker's Indonesia (BPI) memutuskan untuk berwisata ke Dieng Plateau. Sudah lama sekali saya merencanakan untuk pergi ke tempat yang terkenal dengan keindahan alamnya ini. Dengan waktu dan budget terbatas, maka pergilah saya bersama teman-teman BPI kesana.



Berangkat ke Dieng

Jumat malam kami berkumpul di terminal bus Grogol. Rombongan kami menuju ke kota Wonosobo. Tiket bis menuju Wonosobo berharga Rp. 70.000. Perjalanan menuju Wonosobo dari Jakarta cukup jauh, ditambah pula bis kami harus melalui kemacetan parah di daerah tol dalam kota. Ketika memasuki kawasan Nagrek bis pun mengalami kemacetan yang cukup parah. Jam 3 pagi kami berhenti sejenak di daerah Tasikmalaya untuk menunaikan solat dan makan. Edisi makan kali ini bisa disebut makan malam yang kemalaman dan makin pagi yang kepagian :)). Kami melanjutkan perjalanan pulul 04:00.



Pukul 07:30 bis kami sampai di kota Wonosobo, kami berhenti di depan Plaza Wonosobo. Sejujurnya tidak nampak plaza atau kawasan perbelanjaan besar seperti yang saya bayangkan. Yang ada hanyalah ruko-ruko kecil yang berada di antara pasar dan jalan raya. Di depan Plaza Wonosobo, mobil carteran kami sudah menanti. Kami dibawa untuk beristirahat sejenak di rumah salah satu anggota rombongan kami. Kebetulan salah satu anggota kami adalah puteri asli Wonosobo yang merantau kerja di Jakarta.



Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng Plateau. Pemandangan yang nampak di luar jendela mobil sangat indah. Di kanan-kiri jalan, kami disajikan dengan hamparan sawah, bukit dan gunung yang indah permai. Cuaca nya sangat sejuk dan bersahabat. Rasanya tidak sabar untuk segera berpetualang mengelilingi Dieng Plateau yang terkenal dengan julukan "Negeri di Atas Awan" itu.





Gapura Dieng Plateau.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Dieng, kami datang!

Akhirnya kami sampai di kawasan Dieng Plateau pada pukul 10:00. Kami melakukan ritual rutin para pelancong, yaitu berfoto-foto di depan gapura Dieng Plateau. Setelah puas berfoto, kami mampir sebentar ke penginapan. Kami menginap di Penginapan Lestari. Di Dieng tidak ada hotel, tetapi cukup banyak penginapan atau homestay. Harganya cukup terjangkau dengan rate antara Rp.60.000-Rp.100.000/malam.



Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "di" yang berarti tempat, dan "hyang" yang berarti "dewa pencipta". Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata "edi" yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan "aeng" yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan (sumber: www.wikipedia.com).



Terletak pada ketinggian 2000 meter dpl, masyarakat Dieng patut bersyukur atas melimpahnya kekayaan yang dianugerahkan kepada tanah mereka yang cantik dan eksotik ini. Cuaca dingin yang cukup ekstrim untuk sebuah wilayah yang terletak di daerah tropis telah memunculkan gaya hidup dan gaya berpakaian yang unik dari para penduduknya.



Saya sering sekali melihat penduduk lokal memakai sarung kemana pun mereka pergi. Kebanyakan penduduk Dieng berwajah cerah terkadang merah merona. Hal ini adalah bentuk adaptasi fisiologis tubuh mereka terhadap suhu yang dingin dan kadar oksigen yang rendah, sehingga tubuh perlu memproduksi lebih banyak hemoglobin.



Telaga Warna, Sumur Jatulanda, dan Kawah Sikidang

Petualangan pertama kami dimulai ke Telaga Warna. Telaga warna konon memantulkan warna biru, hijau dan ungu. Namun sepengamatan saya warna air di Telaga Warna didominasi oleh warna hijau toska dan biru. Di tempat ini kami banyak melakukan sesi pemotretan. Saya sempat menyapa dan sedikit berbincang dengan turis mancanegara asal Ceko. Dia memuji keindahan Indonesia. Dia menyebutkan bahwa ini adalah kunjungan keduanya di Indonesia, setelah dari Bali, Lombok dan kawasan Jawa Timur. Rasanya bangga sekali menjadi anak Indonesia.





Telaga Warna.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Petualangan kami kemudian dilanjutkan ke bukit yang banyak terdapat goa-goa dan berisi patung-patung dari tokoh-tokoh wayang agama Hindu seperti Patih Gajah Mada, Semar dan Srikandi.



Selanjutnya kami menuju ke Sumur Jatulanda. Sumur ini tidak terlalu menarik buat saya, namun menjadi menarik karena minggu sebelumnya baru saja ada wanita muda yang bunuh diri dengan cara menyeburkan diri ke sumur tersebut. Sumur tersebut berwarna hijau dan sangat dalam. Beberapa turis domestik sibuk melempar-lempar batu kerikil yang dibeli dari penjaga sumur seharga Rp.2000. Konon jika batu yang kita lempar masuk ke dalam sumur, maka permintaan kita akan terkabul. Namun sepengamatan saya sangat sulit untuk bisa melempar batu ke tengah sumur, kebanyakan batu akan jatuh di sisi-sisi sumur yang berupa hamparan tanaman hijau.



Petualangan dilanjutkan menuju ke kawasan Kawah Sikidang. Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti "kidang" atau kijang (sumber: www.wikipedia.com).



Dalam radius 5 meter pun sudah tercium aroma belerang yang lumayan menyengat. Kami sempat mengambil beberapa foto di tepi kawah. Beberapa dari kami mendaki bukit-bukit di sekitar kawah. Pemandangan yang tersaji cukup wow! Untungnya salah seorang dari kami sudah siap dengan kamera SLR dan tripodnya, sehingga kami bisa bernarsis ria di atas bukit.





Kawasan Kawah Sikidang.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Sekilas Dieng di Dieng Plateau Theater

Perjalanan kami lanjutkan ke Dieng Plateau Theater. Di dalam teater ini, kami menyaksikan film tentang Dieng, meliputi kondisi geografis, karakteristik dan peristiwa penting yang terjadi di Dieng. Film ini berdurasi kurang lebih 30 menit. Untuk masuk kesini pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp. 6.000,-





Dieng Plateau Theater.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Mencicipi Camilan Khas Dieng

Perjalanan mengelilingi Dieng membuat perut kami lapar, kami memutuskan untuk membeli makanan khas daerah setempat. Saya membeli kentang goreng dan jamur goreng. Teman saya membeli carica. Carica memang sangat asing di telinga saya. Carica adalah buah khas daerah Dieng, masih kerabat dekat dengan pepaya namun berukuran lebih kecil. Carica yang memiliki nama latin Carica pubescens (sumber: www.wikipedia.com) ini berwarna hijau saat mentah, dan menjadi kuning atau jingga saat matang. Daging buahnya berwarna kuning, sangat cocok untuk dijadikan manisan.



(Kiri) Buah Carica; (Kanan) Manisan Carica.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Pukul 18:00 kami kembali ke penginapan untuk melepas lelah. Hawa dingin semakin membuat kami kelaparan. Di penginapan sebenarnya dijual juga beberapa jenis makanan seperti; nasi goreng, mie goreng dan nasi rames. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk makan di luar penginapan. Kami memilih makan di sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari penginapan. Saya memakan sop jamur dan nasi goreng. Kalau saya perhatikan rupanya penduduk lokal sering sekali memanfaatkan jamur sebagai panganan sehari-hari.



Di warung makan ini dijual juga Purwaceng. Purwaceng adalah salah satu jenis rumput yang tumbuh liar, diolah menjadi minuman khas Dieng yang berkhasiat untuk menambah kejantanan pria. Konon Purwaceng bisa menambah stamina dan vitalitas, namun tak seorang pun dari kami mau mencobanya.



Pukul 21:00 rasa kantuk mulai melanda saya. Saya pun tertidur dengan pulas. Cuaca di malam hari sangat dingin, untungnya saya sudah mempersiapkan diri. Saya memakai jaket tebal, dua buah kaus kaki, sarung tangan dan selimut yang tebal. Ya, saya tidur dengan nyaman, sementara beberapa orang teman saya mengaku tidak bisa tidur karena kedinginan.



Gunung Sikunir dan Kompleks Candi Arjuna

Hari kedua, kami berencana untuk mendaki Gunung Sikunir untuk melihat matahari terbit. Alarm pun dipasang pukul 03:00, namun sayang sekali turun hujan. Hal ini tentu akan menganggu pendakian. Akhirnya kami menuju gunung Sikunir pada pukul 06:00, sedikit terlambat, namun cuaca cukup bersahabat. Dari atas gunug Sikunir terbentang hamparan kecantikan alam ciptaan Ilahi. Di kanan kiri kami terdapat gunung-gunung yang diselimuti oleh kabut, sehingga terkesan seolah-olah kami sedang berada di atas awan.





Pemandangan dari atas Gunung Sikunir.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Kira-kira pukul 10:00 kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Kompleks Candi Arjuna. Kompleks Candi Arjuna yang merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa masih berdiri dengan tegaknya di tengah deraan waktu dan cuaca, menjadi bukti warisan kekayaan budaya yang luar biasa. Meskipun beberapa bagian candi mulai aus dimakan usia, namun candi pemujaan Dewa Siwa yang dibangun pada tahun 809 M ini tetap kokoh berdiri memberikan nuansa kedamaian di tengah keheningan alam pegunungan (sumber: www.wikipedia.com).



(Kiri atas) Candi Arjuna; (Kanan atas) Candi Bima;

(Bawah) Candi Gatot Kaca.


Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Setelah puas mengelilingi kompleks candi Arjuna kami berkeliling Dieng dan berfoto di tempat-tempat yang eksotik. Penduduk lokal Dieng kebanyakan berprofesi sebagai petani. Sejauh mata memandang akan terlihat hamparan perkebunan sayur-sayuran, antara lain: kentang, kol, cabe, dll. Bunga-bunga yang tumbuh di kawasan Dieng juga sangat cantik. Saya juga sempat menemukan tanaman kantong semar disini. Tanaman pemakan serangga ini tumbuh subur di dataran tinggi Dieng.





Kantong Semar.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Berkenalan dengan Anak-anak Berambut Gimbal

Satu hal lagi yang menarik dari Dieng adalah keberadaan anak-anak berambut gimbal. Anak gimbal pada awalnya terserang demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, disertai mengigau waktu tidur. Gejala-gejala seperti ini tidak bisa diobati sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya tetapi rambut sang anak akan menggimbal. Rambut inilah yang dipercaya titipan penguasa alam gaib. Pada usia tertentu rambut gimbal anak ini harus dipotong dengan suatu upacara adat.





Anak berambut gimbal.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Oleh-Oleh Khas Dieng


Ketika hari sudah semakin siang, maka kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Dengan menggunakan mobil carteran kami menuju ke Wonosobo. Tidak lupa kami membeli oleh-oleh khas Dieng-Wonosobo, antara lain: keripik jamur, kacang Dieng dan manisan Carica.



Kami juga menyempatkan diri untuk mencoba makanan khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok. Mie Ongklok terbuat dari mie, yang diberi sayur, telur dan kuah yang agak mengental, disajikan dengan sate ayam. Harganya relatif murah. Kami juga mencicipi tempe kemul. Tempe kemul ini adalah tempe goreng berselimut tepung yang dilengkapi campuran potongan daun hijau serupa daun bawang. Setelah perut kami kenyang, kami pun siap melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Demikianlah petualangan kami di Dieng Plateau. Dieng Plateau is a hidden paradise in Central Java that you should visit and enjoy. :)





Mie Ongklok.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.



Full Team of Dieng Plateau Trip, 2011.

Foto (c) Dita Rany Anggraeni, 2011.




Profil Kontributor

Dita Rany Anggraeni (Dita), penggemar jalan-jalan berlatar belakang pendidikan di bidang biologi ini kini sedang aktif di organisasi Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Baca tulisan-tulisan Dita lainnya di Galaksi-nya Dita.



Wednesday, August 17, 2011

Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-3)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala



Sambungan dari Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-2)



Catatan penulis: Tulisan ini merupakan bagian ketiga (akhir) dari perjalanan 3 kota di China pada awal bulan Juli 2010.



Selamat Datang di Hangzhou

Sampailah pada kota terakhir kunjungan kami, Hangzhou, kota yang tak pernah kami dengar sebelumnya. Mau tak mau kami harus pergi, karena budget flight yang kami gunakan akan berangkat dari bandara Hangzhou.



Karena tak ada informasi yang dipunyai, kami pun berniat untuk transit saja, dan waktu yang kami luangkan juga sangat minim (tak sampai 24 jam sebelum jadwal penerbangan balik). Berangkat lagi dari Shanghai-Nan, kami menaiki bullet train (¥54) ala China yang murah meriah tapi tetap bisa diandalkan kecepatannya. Meski tampilannya jauh lebih modern, tapi kereta ini memiliki layanan yang sama dengan kereta Parahyangan Bandung-Jakarta tempo doeloe, yaitu menjual tiket berdiri! Kami cukup bergembira mendapatkannya, mengingat lautan manusia beratur di depan loket penjualan tiket ke Hangzhou berdesakan dan berebut antrian tanpa nilai kesopanan dan peri-keantrian.



Satu jam 18 menit kemudian kami sukses berdiri menempuh jarak 180 km sambil menjaga semua koper yang kami punya. Koper-koper pun sudah beranak cucu berisi belanjaan dari HK dan Shanghai. Keuangan juga menipis ditandai dengan tersisanya recehan dan pecahan Yuan dalam bentuk sepuluhan dan satuan yang boleh dihitung dengan jari. Lengkap sudah…



Impresi pertama saat kita datang kurang menyenangkan. Belum lagi keluar dari stasiun Hangzhou yang cahayanya remang-remang, kami sudah masuk dalam antrian yang panjang selama 1 jam untuk mendapatkan taksi. Orang yang antri awal-awal pun ada yang berkelahi untuk masuk dalam taksi yang datang satu-dua. Di tengah antrian mendapatkan taksi ini, ada mbak-mbak sales provider yang penuh semangat menawarkan produknya. Dengan bersimbah peluh, kami pun mendapatkan taksi (¥15) juga akhirnya.



Pada malam hari jalanan sangat gelap, sepanjang jalan kami hanya melihat siluet pepohonan. Arsitektur sepanjang jalan juga didominasi bangunan bergaya China klasik yang tertutup rapat di bagian eksteriornya.



Akhirnya kami sampai juga di West Lake Hostel, hostel yang telah kami pesan. Lobby-nya dipenuhi dengan perabot kayu bergaya klasik dengan penerangan lampion merah-kuning-oranye. Di lobi hostel ini, kita bisa memesan teh seduh melati, teh hijau, teh merah, teh bunga dan makanan setempat dengan penyajian khas China. Hostelnya sangat direkomendasikan karena bersih-unik-murah, 1 bed tipe dorm berharga ¥40 saja!





(Kiri) West Lake Hostel; (Kanan) Ruang publik di tepian West Lake.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010



Obyek yang nampak pertama kali ketika kami bangun pagi adalah sebuah kuil di atas bukit. Konon di kuil ini adalah tempat berpisahnya Ular Hijau dengan Ular Putih (jd inget Legenda Siluman Ular Putih di TV tahun 90-an). Di kaki bukitnya membentang West Lake yang luasnya sekitar 10 kali lapangan bola. Pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Taksi pun menyusuri jalanan di tepian West Lake. Nampak taman-taman China yang lengkap dengan jembatan setengah lingkaran, gasibu dan pedestrian apung di tepi danau yang terkoneksi dengan jogging track yang membelah danau hampir tepat di tengah-tengah. Orang beramai mengelilingi danau dengan bersepeda dan berlari serta berjalan bersama keluarga. Sepeda ini dipinjamkan dengan uang jaminan yang dikembalikan bila sepeda sudah selesai digunakan.



Di tepian West Lake Road pula terdapat resto-resto yang desainnya menyatu dengan taman2 yang besar jarak antar bangunan yang cukup jauh ditata dengan tanaman dan landscape yang menarik. Taksi menuju daerah ini lumayan murah, hanya ¥15 saja.



Saatnya Belanja (Lagi)!

Taksi pun menuju Women Fashion Street. Suasananya mirip dengan Kemang di Jakarta Selatan. Butik-butik dengan desain bangunan unik tertata dengan rapi sebagai podium deret bangunan flat yang rata-rata berketinggian 8-10 lantai di sepanjang tepian jalan. Pohon maple dan tempat duduk berbaris rapi di sepanjang trotoar. Beberapa titik dilengkapi dengan pot-pot bunga warna-warni. Sayangnya harga baju di area ini cukup mahal (kisaran di atas ¥200an). Jadinya kami memilih untuk melanjutkan pada titik berikutnya. namun demikian sempat melihat gang-gangnya. Hampir mirip perkampungan kota di Jakarta dan Bandung dengan lot yang berserak tak beraturan, tapi lingkungannya bersih dan tertata dengan baik, sampai kedai di gang-gang ini pun tetap menjual baju dengan harga relatif mahal.





Women Fashion Street.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010



Berbekal flyer wisata dan peta lembaran yang dibeli seharga ¥8, kami menuju Silk Street. Konon jalan inilah yang menjadi sumber dari sejarah besar Silk Road di China yang kemudian diperdagangkan hingga ke Timur Tengah dan memakmurkan jual beli di sepanjang laluannya. Di sana kami temui beragam olahan baju dari sutera. Tempat berjualan dan koridor ditata dengan setting rumah toko khas China klasik. Beberapa art work berupa patung bertema industri sutera dipasang di sepanjang jalan. Semua barang bisa ditawar. Barang dagangannya pun beragam. Dari yang murah meriah untuk souvenir hingga butik-butik mahal yang nilainya ribuan Yuan.





Silk Street.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010



Berdasarkan flyer wisata itu pula kami melanjutkan ke Pasar Sou Ji Qing yang dikenal sebagai Fashion Market. Pilihan desain bajunya beragam dengan harga yang sangat murah. Barang-barangnya mirip yang di Mangga Dua digelar dengan harga sepertiganya di sini. Pasar ini menjadi rujukan tukang kulakan mungkin, karena harganya memang sangat murah, harga wholesale atau kodian lebih miring lagi membuat beberapa dari kami menderita stress ringan gara-gara kondisi keuangan yang menipis. Sedang hasrat berbelanjanya terlampau besar. Disarankan untuk yang mau berjalan-jalan di China untuk menyiapkan Renmimbi/Yuan dalam jumlah yang cukup karena mata uang luar bahkan USD pun ditukar dengan harga yang sangat murah di sana. Bahkan Rupiah dan Ringgit tak diterima oleh Bank of China sekalipun. :(



Dengan kondisi keuangan yang siap untuk dinyatakan bangkrut, kami menuju Qinghefang Historical Street yang membuat kami makin menderita. Di jalan ini semua barang khas China dijual sangat murah. Barang-barangnya pun sangat unik. Di sepanjang jalan ini kami temukan banyak orang yang mengenakan baju-baju klasik China. Unik pernik dengan tema sosialis, Mau Tse Tung, seragam-seragam tua (saat jaman susahnya China) dijual dengan sangat murah. Notebook dan t-shirt vintage dijual hanya ¥10-20an.





Qinghefang Historical Street.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010



Hangzhou, Kota Pariwisata Terbaik di China

Supaya lebih tenang, kami pun balik ke hostel dan memilih berjalan-jalan di sekitar West Lake menikmati ruang-ruang publik yang dibangun dengan desain klasik China. Sepertinya ajang Olimpiade dan World Expo digelar untuk mengundang turis antara bangsa datang ke kota-kota China. Beberapa anak kecil yang kami temui dengan bahasa inggris yang cadel menyapa, "Welcome to China, Sir!" Hehe..



Kami pun dengan cepat menyukai Hangzhou lebih dari kesukaan kami akan modernnya HK dan riuh-rendahnya Shanghai. Satu keputusan yang sepertinya salah, dengan hanya transit di kota yang kemudian kami tahu adalah kota pariwisata terbaik di China ini, itu juga kita baca dari satu billboard besar di tengah kota, entah versi siapa...



Karena waktu yang sangat terbatas, kami harus balik hotel dan berkemas untuk pulang. Hostel menyediakan pengantaran ke Bandara dengan harga ¥100 untuk 3 orang. Kami pikir dekat saja, ternyata jauhnya lumayan, 20km-an, dan sepanjang jalan itu kami temui beberapa gedung tinggi dan jalanan-jalanan besar mirip Sudirman-Thamrin di Jakarta, jembatan-jembatan baja dengan 3-4 lajur per jalurnya, tepian sungai besar yang didesain dengan ruang publik tepi air yang rindang dengan pepohonan. Bangunan hunian berketinggian sedang (8 lantai) ada di sana-sini.



Rupanya China betul-betul giat membangun, kota kecil dan besarnya nampak direncanakan cukup baik. Budayanya yang kuat dikemas sehingga siap menghadapi globalitas. Ruang-ruang kunjungan wisata dikemas dengan menarik. Dan yang paling menguntungkan adalah produk-produknya yang bagus, murah, dan fungsional. Sekedar mengingatkan, hati-hati kalau sedang antri, karena warga setempat ada kebiasaan menyerobot.



Pengalaman yang menarik untuk mengingatkan kita supaya lebih bekerja keras seperti mereka. Anak kecil, kaum muda dan orang tua hampir semua nampak aktif. :)



Tips Berjalan-jalan di Hangzhou:

  • TRANSPORT - Kemana-mana disarankan menggunakan taksi karena murah.
  • HOSTEL - Banyak hotel dan hostel sepanjang tepi West Lake, terjangkau dan pemandangannya sangat bagus.
  • TUKAR UANG - Disarankan membawa Renmimbi/Yuan yang cukup, karena nilai tukar USD sangat rendah. Money Changer dilayani oleh jaringan Bank of China yang tidak menerima Rp atau MYR. (1 Yuan setara Rp.1000)
  • BAGASI - Siapkan tas untuk belanjaan, terutama baju dan tekstil.



Profil Kontributor

Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini berprofesi sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Setiap tahunnya, jadwalnya pasti sudah penuh dengan agenda jalan-jalan. Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.





Monday, June 27, 2011

Mencicipi "Pasembur" di Pasar Malam Sungai Dua, Penang

Hari sudah menjelang sore saat kami berempat masuk ke dalam bus dari arah Queensbay Mall untuk kembali menuju hostel kami di Georgetown, Penang. Belum sampai 5 menit perjalanan, di tengah kantuk dan mata yang berat, tiba-tiba dua orang teman saya berseru, "Eh ada pasar malam! Turun yuk!"

Dengan otak yang masih setengah sadar dalam mencerna kata-kata teman saya, seorang bapak di samping saya mengangguk-angguk setuju sambil menunjuk ke sebelah kiri jalan, "Ya, pasar malam. Turun di sini saja," ujarnya pendek dengan bahasa melayu. Sekilas di sudut mata saya tampak warna-warni lampu jalanan yang menghiasi keramaian senja.

Oke deh Pak
, jawab saya dalam hati sambil menekan bel di dalam bus. Bus pun berhenti di sebuah halte yang terletak persis di depan sebuah mall besar bernama Sungai Dua Tesco Extra, 8 Ringgit kini berpindah tangan ke sang pengemudi bus.

Pasar malam di daerah Sungai Dua ini benar-benar tampak ramai di akhir pekan. Warna-warni lampu deretan kedai-kedai makanan kaki lima dan penjual pernak-pernik turut menyemarakkan jalanan yang mulai menggelap. Meriah! Dengan langkah bersemangat kami menyeberangi jalan raya untuk mengeksplorasi pasar malam di depan mata kami.

Tujuan kami saat itu cuma satu sebenarnya, mencari cemilan kaki lima khas Penang! Ya, selain terkenal dengan bangunan-bangunan tua bersejarahnya di kota Georgetown, yang memiliki arsitektur yang unik dan kaya karena akulturasi bermacam-macam budaya, Pulau Penang juga merupakan surga kulinernya Malaysia. Oleh karena itu jangan sampai tidak sempat mengeksplorasi kuliner Penang ya saat berlibur ke sini.



Deretan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai penganan
di Pasar Malam Sungai Dua, Penang.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Bermacam-macam makanan hangat yang dipajang di deretan kedai-kedai membuat kami beberapa kali menelan air liur serta berusaha menahan godaan untuk membeli dan mencicipi semuanya. Pada akhirnya berbagai cemilan pun sempat kami cicipi, dari gorengan, lumpia, hingga kebab, dengan harga yang relatif murah (1-4 Ringgit). Walaupun sudah banyak mengemil, tapi ternyata perut kami masih minta diisi. Oke, saatnya mencari makan malam!

Pilihan kami jatuh kepada Restoran Maheran yang terletak di sebuah deretan ruko, sebelah 7-11, salah satu alasannya karena ada tulisan "Halal" di papan nama restoran ini.


Restoran Maheran, Sungai Dua.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Pemilik restoran ini adalah seorang bapak setengah baya berbadan besar yang tampaknya berdarah Arab (atau India? Hehe..) ini ramah sekali menyambut sekaligus menanyakan pesanan kami. Begitu melihat menu yang dipajang di depan restoran sederhana namun bersih ini, kami langsung memilih Koay Teow (Kwetiaw) Sotong, Roti Canai dengan saus karinya, Teh Tarik, dan Milo dingin.


Menu Restoran Maheran.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Tak lama pesanan kami pun muncul. Lho, kok ada satu piring tambahan dengan sajian asing yang rasanya tadi tidak kami pesan?

"Wah, ini apa ya Pak? Kami tidak pesan ini kok Pak," tanya kami kebingungan. Bapak itu hanya mengangguk sambil tersenyum dan menjelaskan dengan bahasa melayu, "Ngga apa-apa, itu namanya Pasembur Sotong. Dicoba aja dulu, kalau ngga suka, tidak perlu membayar."

Waaaw, mana mungkin tawaran makan gratis ini kami lewatkan, hehehe... Nama yang lucu, sahut saya dalam hati. Tampilannya sekilas mirip seperti rujak di Indonesia, berbagai macam potongan sayuran dan lain-lainnya dicampur lalu disiram dengan saus kacang. Begitu saya coba satu sendok, saya langsung membatin, "Wah alamat bakal musti bayar nih. Enak!" Jujur, menurut saya, ini salah satu makanan paling enak yang sempat saya coba saat di Penang.




(Atas) Roti Canai dengan saus kari; (Tengah) Koay Teow Sotong;
(Bawah) Pasembur Sotong.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

"Pasembur" ternyata merupakan salah satu kuliner khas Penang yang isinya potongan kentang, tahu, timun, tauge, telur rebus, gorengan udang, serta cumi-cumi, yang kemudian disiram dengan saus kacang berwarna merah kecoklatan dengan rasa manis gurih dan agak pedas. Harganya 4 Ringgit per porsi. Wajib dicoba!

Sambil mengobrol dan tertawa-tawa mengingat kejadian-kejadian lucu selama perjalanan, tak terasa akhirnya piring-piring kami tandas juga. Puas rasanya. Makan malam kali itu kami hanya menghabiskan sekitar 12 Ringgit di Restoran Maheran untuk porsi empat orang. Perut kenyang, hati senang, dan yang paling penting: kantong aman. Murah soalnya, hehehe... :)

Saturday, June 11, 2011

Akhir Pekan di Pangandaran, Jawa Barat

Posting tamu oleh: Falahuddin Indra Rizani



Lembutnya gulungan ombak di Pantai Batu Karas dan serunya bermain body rafting di Green Canyon adalah dua hal yang membuat kami memutuskan untuk melancong ke Pangandaran, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 5 jam dari Jakarta.



Dengan niat untuk ‘piknik’ ke Pangandaran, seminggu sebelum keberangkatan kami menyusun budget dan tujuan wisata apa saja yang ingin kami kunjungi selama berada di sana. Ternyata kami dikejutkan dengan banyaknya tujuan wisata yang disuguhkan oleh daerah ini. Dengan waktu selama 3 hari 2 malam, akhirnya kami memilih untuk mengunjungi Pantai Pangandaran, Pantai Pasir Putih, Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, body rafting di Green Canyon, dan trekking di Cagar Alam Pangandaran.



Pada Jumat malam, saya dan dua teman saya --Rifki dan Fahmi-- berangkat setelah pulang kantor untuk langsung menuju Pangandaran dengan menggunakan mobil. Sesampainya di Pangandaran kami segera menuju penginapan yang terletak di Pantai Pangandaran Barat (zona wisata di pantai pangandaran dibagi dua wilayah berdasarkan arah matahari yaitu Pantai Pangandaran Barat dan Pantai Pangandaran Timur).



Aroma khas desa nelayan di Pantai Pangandaran ini sudah tercium saat mobil memasuki area yang penuh dengan deretan perahu dan tumpukan oleh-oleh khasnya, yaitu ikan asin jambal roti.



Green Canyon adalah tujuan pertama kami, ciri khas dan keunikan Green Canyon adalah tebing-tebing tingginya yang menutup di kedua sisi sungai Cijulang, ditambah dengan air sungai yang terlihat bening kehijauan. Sebagai catatan, apabila hujan biasanya Green Canyon akan ditutup akibat tingginya arus akibat hujan hari ini/hari sebelumnya. Oleh karena itu, jangan lupa untuk memperhitungkan unsur cuaca apabila Anda ingin ke tempat ini.



Salah satu aktivitas yang wajib dilakukan saat mengunjungi Green Canyon adalah body rafting. Sensasi adrenaline saat bermain arus sepanjang sungai Cijulang pasti akan membuat kita melupakan kepenatan akibat aktivitas sehari-hari.





Perjalanan menuju Green Canyon, siap-siap bakal ditutup kalau airnya sedang tinggi akibat hujan. Sempatkan untuk body rafting. Worth it.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.



Setelah puas bermain di Green Canyon, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Batu Karas. Areal ini mungkin merupakan salah satu pantai terbaik yang ada di Jawa Barat, dengan deretan perahu nelayan yang tertata rapih, dan dengan pantai yang lebih bersih dari Pantai Pangandaran. Pantai ini sendiri terkenal dengan ombaknya yang tergulung lembut, sehingga sangat bagus untuk belajar surfing.



Hari kedua, kami menuju Pantai Batu Hiu yang terkenal dengan spot tebing tinggi yang menyuguhkan pemandangan ganasnya ombak yang berasal dari Samudera Hindia. Dalam perjalanan menuju Pantai Batu Hiu kami melewati pemandangan beragam yang indah, dari panorama sungai Cijulang, asrinya lambaian deretan pohon kelapa, hingga hijaunya sawah yang siap dipanen. Pemandangan sepanjang perjalanan tersebut saja cukup membuat saya dan teman-teman keheranan karena kami tidak menyangka akan melihat hal-hal tersebut.





Salah satu pemandangan yang bikin kagum sepanjang perjalanan antar pantai di Pangandaran. Di sini hampir setengah jam sendiri untuk foto-foto.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.





Sisi pantai Batu Karas yang langsung menuju lautan. Sisi yang nyaman untuk belajar surfing terletak 10m dari sini.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.





Spot terbaik buat belajar surfing di Jawa Barat. Apabila malas untuk belajar surfing, banyak penyewaan body board seharga Rp 10.000,- untuk bermain sepuasnya.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.





Kombinasi hamparan hijau sawah dan deretan pohon kelapa. Pemandangan yang akan sering dijumpai selama di Pangandaran.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.





Sunset di Pantai Pangandaran.

Perahu nelayan dan keramba berserakan di pantai ini.


Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.



Hari ketiga, saatnya untuk trekking di Cagar Alam Pangandaran! Di sini --seperti layaknya khas cagar alam-- kami disambut dengan deretan pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun dan lusinan gua-gua yang terdapat di areal ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi Pantai Pasir Putih yang juga terletak di dalam areal cagar alam. Keunikan pantai ini adalah butir pasir yang besar dan sedikit kasar dengan warna putih keemasan. Di sini kita bisa melakukan snorkeling untuk melihat keanekaragaman ikan-ikan cantik di sekitar pantai. Tapi jangan berharap akan melihat terumbu karang ya, karena sepanjang pengamatan terumbu karangnya hanya sedikit saja yang terlihat.





(Kiri) Pantai Pangandaran dari sisi Cagar Alam Pangandaran;

(Kanan) Pantai Batu Hiu. Di sini kita melihat langsung pemandangan Samudera Hindia dari atas tebing. Dan salah satu spotnya penduduk lokal kalau lagi pacaran, hehehe.

Foto (c) Falahuddin Indra Rizani, 2011.



Highlights:

1) Pemandangan deretan pohon kelapa dan hamparan hijau sawah yang siap dipanen di sepanjang perjalanan antar pantai di Pangandaran.

2) Body rafting di Green Canyon.

3) Bermain ombak (surfing atau main body board) di Pantai Batu Karas.






Profil Kontributor

Falahuddin Indra Rizani, akrab dipanggil Riza, maniak jalan-jalan ini setelah resign dari kantor lamanya sebagai auditor, menghabiskan waktu kosongnya untuk traveling ke berbagai tempat menarik, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Pulang-pulang dari salah satu trip-nya, ia dikejutkan oleh sebuah panggilan kerja untuk sebuah perusahaan multinasional. Traveling memang membawa berkah! Temukan foto-foto perjalanan Riza di http://falahuddinrizani.tumblr.com dan follow twitter-nya di @FalahuddinRiza.



Thursday, May 19, 2011

Melebur dengan Alam di Pulau Peucang, TN Ujung Kulon

Jangan percaya jika ada yang bilang kalau di Ujung Kulon harus berkemah! Saya salah satu korbannya.

Saya kira karena Ujung Kulon termasuk Taman Nasional, maka pengunjungnya ya harus "bersatu dengan alam" alias berkemah di alam terbuka. Salah seorang teman jalan saya yang tidak tertarik berkemah pun menolak untuk ikut perjalanan kali ini karena alasan tersebut.

Ternyata di Taman Nasional Ujung Kulon ini terdapat banyak pilihan akomodasi dari bungalow ekslusif hingga penginapan seadanya yang satu atap dengan hewan-hewan liar. Satu atap? Ya, karena bentuknya yang seperti rumah panggung, maka banyak hewan yang juga tidur di bawah rumah.

Perjalanan kali ini diilhami seorang teman yang mengajak untuk turut serta ke Ujung Kulon bersama sebuah komunitas backpacker bernama Backpacker's Indonesia (BPI), yang salah satu pencetusnya adalah Pak Priyo dan Mbak Okta.

Baru kali ini saya mengikuti perjalanan dengan sebuah komunitas, biasanya hanya bersama teman-teman dekat. Jika melakukan perjalanan dengan sebuah komunitas, semua jadwal perjalanan, akomodasi, makanan, dan lain sebagainya telah diurus oleh pihak komunitas, mirip dengan travel. Namun bedanya, komunitas backpacker biasanya tidak mengambil keuntungan, tidak seperti travel yang pastinya mengenakan biaya pelayanan. Kita tinggal bayar sesuai biaya keseluruhan dan tinggal duduk manis menikmati liburan kita. Perjalanan Ujung Kulon ini sendiri kemarin menghabiskan biaya Rp 450.000,-/orang, dengan titik keberangkatan dari Jakarta.

Saran saya cuma satu, karena perjalanan ini sifatnya memang "backpacking" yang identik dengan bujet murah, ya sebaiknya jangan berharap terlalu banyak dengan fasilitas yang diberikan. Kan backpacker ngga boleh banyak ngeluh, nikmati saja dan don't forget to have fun, hehehe...

Sekilas tentang Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon telah tercatat sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Berbagai macam aktivitas dapat dilakukan di sini, dari surfing, diving, snorkeling, diving, trekking, hingga mengamati satwa dan berbagai jenis tumbuhan. Taman nasional ini berada di tepi paling barat pulau Jawa. Tujuan kami kali ini adalah Pulau Peucang, yakni salah satu pulau di Ujung Kulon yang dikelilingi lautan biru kehijauan bening dan tenang.


Lautan biru jernih dan tenang di Ujung Kulon.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Mari Berangkat!
Perjalanan ke Ujung Kulon dari Jakarta membutuhkan sekitar sepuluh jam. Tujuh jam perjalanan darat menuju Desa Sumur dan tiga jam menggunakan kapal menuju Pulau Peucang, Ujung Kulon.

Kami berangkat pada malam hari dengan meeting point di Slipi Jaya, dan sampai di Desa Sumur pagi-pagi sekitar jam enam lewat, kemudian dilanjutkan naik kapal menuju Pulau Peucang.


Birunya langit di Desa Sumur.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Selama perjalanan di kapal kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Birunya langit dan lautan seakan menyatu di horizon, terkadang pemandangan tersebut terpecahkan oleh kumpulan lumba-lumba dan ikan terbang yang berlompatan dari kejauhan. Pemandangan ini seakan membuat kami sejenak melupakan teriknya matahari di atas kapal.


Lautan dan langit biru seakan menyatu di horizon.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Welcome to the Jungle!
Begitu kami sampai di dermaga Pulau Peucang, kami disambut oleh pantai Ujung Kulon dengan pasirnya yang putih dan lembut sehalus tepung tanpa kerikil sedikit pun. Pantai di pulau ini landai dengan air laut biru jernih yang amat bening.


Pasir putih lembut dan pantai yang landai di Pulau Peucang.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.



Welcome to the Jungle!
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Rusa-rusa di padang rumput yang dikelilingi bangunan penginapan berupa rumah-rumah panggung tampak bebas berkeliaran dan merumput. Namanya juga Taman Nasional, belum apa-apa kami sudah disambut oleh segerombolan monyet yang berusaha merebut makan siang kami. Dan ketika salah satu dari mereka berhasil merebut sebungkus nasi milik Mbak Okta, tak pelak tawa kami pun pecah berderai-derai.


Rusa-rusa bebas berkeliaran di Pulau Peucang.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Setelah menaruh barang di kamar, kami pun melanjutkan makan siang. Segerombolan monyet kembali berkeliaran di sekeliling kami sehingga kami pun makan dengan hati was-was sambil menjaga nasi bungkus masing-masing. Saat salah seorang dari kami melempar sisa nasi bungkus, dengan sigap beberapa monyet berlari ke arah tumpahan nasi bungkus dan tiba-tiba dari bawah rumah panggung muncul beberapa ekor babi hutan yang mengendus-endus keluar. Agak kaget juga saya melihat sekumpulan babi hutan yang cukup besar.



Teman makan siang kami.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

"Wah, hidup di sini memang benar-benar menyatu dengan alam ya, sehari-hari dikelilingi hewan liar gini," batin saya.

"Welcome to the jungle!"
Mungkin begitulah seru mereka menyambut kedatangan kami.

Yah, tapi kami baru benar-benar merasakan terasing dari kehidupan perkotaan saat menyadari tidak ada sinyal sama sekali yang tertangkap di daerah ini. Dan paling parahnya ... tidak ada warung buat jajan! Hahaha, padahal ini termasuk kebutuhan primer bagi kami yang suka jajan.

Satu Jam Menembus Hutan ke Karang Copong
Jadwal hari pertama kami adalah mengunjungi Karang Copong, sebuah karang yang tengahnya berlubang dan terletak di tengah laut. Untuk mencapai karang ini dibutuhkan waktu satu jam menembus hutan yang dipandu oleh petugas setempat. Mungkin sebenarnya pengunjung tidak memerlukan bantuan petugas untuk mencapai tempat ini, karena jalanan setapak sudah ditandai dengan sapuan cat merah dan potongan kaleng yang dipakukan ke beberapa pohon. Tapi demi keamanan bersama, lebih baik Anda tetap didampingi oleh seorang petugas setempat.

Suasana tenang di dalam hutan sejenak terganggu oleh kedatangan kami. Udara siang itu terasa lembab dan gerah, namun untungnya tidak terasa terik karena kami ternaungi oleh pohon-pohon besar. Sesekali terdengar suara-suara hewan liar dari kejauhan, membuat kami menebak-nebak sendiri suara hewan apa itu. Jangan-jangan Badak Jawa, tebak saya.

Taman Nasional Ujung Kulon ini sendiri aslinya adalah tempat penangkaran Badak Jawa, namun bahkan jarang sekali ada penduduk setempat yang pernah menemukan hewan langka yang pemalu dan pandai bersembunyi ini.

Di hutan ini terdapat sebuah pohon tinggi besar dengan akar raksasanya yang menghujam ke tanah membentuk terowongan, ini juga menjadi salah satu objek foto favorit para pengunjung Taman Nasional Ujung Kulon. Jadi jangan lupa berfoto di sini ya!


Objek foto favorit di hutan menuju Karang Copong.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Akhirnya setelah berjalan sekitar satu jam menembus hutan, melewati pantai dan beberapa tanjakan, maka Anda akan menemukan spot tersembunyi yang menyuguhkan pemandangan laut dan Karang Copong dari atas bukit. Air lautnya begitu biru dan bening sehingga Anda dapat melihat bawah laut dengan mata telanjang.



Karang Copong, satu jam perjalanan berjalan kaki.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Tanjung Layar, Sang "Surga Tersembunyi"
Kegiatan hari kedua kami adalah snorkeling dan bermain air di dekat sebuah pulau yang memiliki air terjun mini -- nama pulaunya saya lupa, hehehe... Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Pos Cibom, Tanjung Layar. Di sini kami kembali trekking melewati hutan untuk menemukan sebuah tempat yang kadang disebut sebagai "surga tersembunyi", yaitu padang rumput menghijau yang dikelilingi bukit-bukit batu dengan pemandangan laut biru jernih di ujungnya. Sekilas mirip scene di film Lord of The Rings versi miniatur. Rasanya malas pergi lagi dari sini saking bagusnya pemandangan di depan kami.


Air terjun mini.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.


Langit dan laut seakan tidak berbatas!
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.


Pantai Tanjung Layar.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.


"Hidden Paradise" di Tanjung Layar.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Bertemu Banteng di Padang Cidaon
Setelah puas bermain dan mengambil foto, kami pun bertolak ke Padang Penggembalaan Cidaon, yang pulaunya berlokasi sekitar 6 km dari Pos Cibom. Di Padang Cidaon ini Anda dapat menemukan sekumpulan banteng di sebuah padang rumput. Untuk mencapai padang rumput ini, lagi-lagi Anda harus sedikit trekking masuk ke dalam hutan, tapi tidak selama saat menuju Tanjung Layar. Sekitar 15 menit, Anda akan menjumpai padang rumput yang luas menghijau. Anda dapat pula mengamati padang Cidaon ini dari atas menara pengawas, namun petugas yang menemani kami sempat mewanti-wanti agar jangan sampai ada lebih dari enam orang yang naik ke atas menara demi alasan keamanan.



Padang Penggembalaan Cidaon.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011.

Tak terasa petualangan kali ini sudah hampir selesai. Besok kami akan kembali ke Jakarta pagi-pagi dan kembali ke rutinitas masing-masing. Petualangan ini memang telah berakhir, namun pengalaman pertama saya mengunjungi salah satu Taman Nasional di Indonesia ini tentunya tidak akan terlupakan bagi saya. Apalagi dari perjalanan ini saya mendapatkan 20 teman baru! :)



Ingin tahu lebih jauh tentang Backpacker's Indonesia (BPI)?
Silahkan menengok facebook BPI di sini: BPI on Facebook. :)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting