Showing posts with label Shanghai. Show all posts
Showing posts with label Shanghai. Show all posts

Thursday, November 4, 2010

Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-2)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala





Catatan penulis: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari perjalanan 3 kota di China pada awal bulan Juli 2010.

Menuju Shanghai

Kami keluar HK melalui jalur MTR ke arah Senzhen. Sebetulnya ada kesempatan setengah hari untuk melihat-lihat kota yang konon terkenal sebagai pusat belanja murah ini (karena sudah bagian dari China Daratan). Tapi kondisinya kurang memungkinkan karena orang-orang lokal kurang paham apabila kita ber-Bahasa Inggris.

Di sini semua signage menggunakan kanji. Dan pengumuman Bahasa Inggris pun terdengar kurang jelas. Daripada tertinggal jadwal kereta api, kami putuskan menunggu saja dalam stasiun. Beruntung ada Volunteer Expo Shanghai, seorang pelajar HK, yang menunjukkan arah platform kereta api kami. Juga ada informasi penting bahwa kereta api yang kita naiki nanti berhenti di Shanghai-Nan (Nan artinya selatan), yang merupakan stasiun kereta api kedua terbesar di Shanghai.

Di atas kereta api, saya tidur di kelas hard sleeper seorang diri. Lainnya beruntung kebagian soft sleeper (¥400-hard sleeper dan ¥600-soft sleeper). Untuk kelas hard sleeper, sepetak 1.5x2m diisi oleh 6 orang dengan 3 kompartemen di sisi kiri kanan. Mood saya untuk berbincang sudah habis setelah mendengar percakapan orang lokal yang tiada henti. Entah mereka saja atau memang budaya lokal yang kurang ramah, karena mereka sama sekali tak menyapa, bahkan melihat orang-orang asing yang ada dalam kereta api dengan tatapan waspada. Untungnya saya membawa buku Sudoku sehingga bisa mengisi perjalanan sambil sesekali melihat pemandangan di luar kereta. Lansekap kota-kota di China nampak sekilas lebar-lebar dan luas-luas. Warna-warna pastel tua dan material dengan warna tanah-matang mendominasi pemandangan sepanjang perjalanan.



Shanghai-Nan train station.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Shanghai-Nan, Stasiun Kereta Api Berskala Bandara

Setelah 23 jam lebih sedikit, akhirnya sampai juga di Stasiun Kereta Api Shanghai-Nan. Di sana saya cukup kaget dengan skala stasiunnya yang gigantis. Sekilas lebih mirip sebuah bandara daripada stasiun kereta api. Bangunannya bertingkat 4 dengan ruang tunggu yang besar mirip tempat boarding pesawat.

Di area tunggu ini juga terdapat taman-taman artifisial yang lumayan sukses meredam struktur logam exposed yang mendominasi tampilan interiornya. Sama juga semua tulisan dalam bahasa kanji. Customer Service untuk informasi yang bisa berbahasa Inggris pun hanya 1 dari puluhan loket yang berderet melayani orang yang terus berdesakan di sana-sini.

Jaringan transportasi publiknya ada 2: untuk kereta disebut Metro Line dan Metro Bus. Semua terkoneksi dengan baik, hanya sayangnya informasi dalam bahasa Inggris cenderung kurang sehingga kita terus bertanya ke bagian informasi. Itu juga baru dapat jawaban kalau si penjaganya bisa ber-Bahasa Inggris juga.

Dari stasiun ini menuju ke hotel bisa menggunakan Metro Line (Subway). Pagi saat kita datang adalah jam padat dimana pengguna berjejal hingga tak berjarak. Bahkan cenderung saling menekan dan teriakan-teriakan complain terdengar di kiri-kanan. Atuh lah... maap abdi ge teu teurang maneh teh nyarios naon...

Shanghai masih belum seheterogen HK, jadi banyak anak dan orang yang mencuri pandang ke arah kami. Mungkin ras Melanesia kurang familiar untuk obyek visual mereka. Cukup antik sehingga mengundang perhatian banyak orang. Tapi kita enjoy-geboy jadi pusat perhatian... *halah*



Yuyuan Garden.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010



Shanghai, Sang Surga Belanja

Shanghai merupakan titik ekonomi terkuat di China. Dan bagi penggemar fashion, Shanghai merupakan surga belanja barang berkualitas dan murah. Bisnis distro seperti di Bandungserta gerai merk-merk terkenal tersebar di sepanjang jalan. Harga sepertinya sudah disesuaikan dengan daya beli masyarakat China. Sudah serupa harga FO di Bandung lah. Kaos-kaos sekitar ¥50an, sedang yang polos ¥35an.



Untuk souvenir khas China dapat dibeli di sepanjang Nanjing Road (East Nanjing, West Nanjing, dan area People Square) atau di kawasan Yuyuan Garden. Stigma China yang kotor dan jorok tidak ditemui di kawasan ini. Jadi lumayan nyaman untuk jalan-jalan sambil melihat ruang-ruang kotanya yang ditata dengan pedestrian yang lega dan lebar-lebar.



Sleepy Pu Dong.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Berkeliling Shanghai

Di ujung Nanjing Road, terdapat kawasan The Bund yang sepertinya sengaja dikekalkan garis langitnya (sepanjang tepi air Sungai Dau Pu), dengan deretan bangunan kolonial. Sepanjang tepi Bund ini pula, sekarang terdapat ruang publik tepi air yang luas dan panjaangg untuk mengamati kawasan Pudong di seberangnya yang dibangun dengan agresif 15 tahun terakhir.

Pu Dong yang terletak di seberang The Bund merupakan garis langit Shanghai yang modern, yang secara visual mengundang banyak turis antar bangsa untuk datang dan melihat pesatnya pembangunan di China. Ada Oriental Pearl TV Tower, Jingmao Tower, Asia Financial Centre dan gedung-gedung lain. Nampak sangat kontras antara The Bund yang semiklasik dan Pu Dong yang modern. Keduanya dipisahkan Sungai Dau Pu yang lebar. Di atas sungai ini pula, berlalu lalang ferry, tongkang pengangkut peti kemas, dan kapal-kapal wisata yang saat malam berwarna-warni dengan neon di sepanjang badannya.

Kita bisa juga menuju ke area tengah CBD Pu Dong dengan Metro Line yang sama dengan area Nanjing (kalo ga salah Line 10). Metro Line benar-benar merupakan line terpadat karena sekitar 4 stasiunnya dikelilingi atraksi-atraksi menarik di pusat Shanghai.



The Bund around midnite.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Dari Shanghai ini pula lumayan dekat (30 menit menggunakan mobil) ke arah Suzhou yang beken setelah dijadikan setting film James Bond yang kejar-kejaran dengan boat di sungai-sungainya. Banyak yang bilang Suzhou ini Venesia-nya Asia. Sambil naik boat kita bisa lihat penjual teh dan pembuat mie ala China yang unik. Kedai-kedai sepanjang sungai ini pun diolah dengan desain ekletik (klasik China, modern, dan kontemporer). Juga terdapat Suzhou Museum yang didesain oleh IM Pei yang sengaja menangkap siluet perkampungan China. Namun diolah kembali menggunakan kosakata modern yang didominasi oleh bentuk geometris segitiga dan petak dengan warna putih-kelabu.

Atraksi menarik lainnya di Suzhou adalah keliling kota menggunakan boat tradisional atau becak dengan harga ¥30 untuk berdua selama setengah hari. Di banyak titik, gang-gang ruko lama sudah dikembangkan menjadi pedestrian mall yang leluasa dengan menghilangkan pagar-pagar pembatas. Kemudian merancangnya kembali menggunakan vegetasi dan tempat-tempat peristirahatan sepanjang jalur laluan orang. Desain ruko-ruko sepanjang pedestrian ini pula direkonstruksi lagi menonjolkan desain-kontemporer atau beberapa masih mengekalkan arsitektur tradisional China dengan warna-warna matang dan sambungan-sambungan yang rumit. Sangat unik, dan perencananya seperti paham dengan potensi arsitektur setempat sebagai bagian daya tarik wisata.



Ingin bepergian ke Shanghai?

  1. VISA. Sebelum pergi perlu disiapkan dulu pengurusan Visa kunjungan ke China Dokumen Visa ini bisa diurus di lembaga yang ditunjuk kedubes China yang bekerja sama dengan Bank of China. Di Jakarta kalau tidak salah ada di daerah Kuningan. Bayarnya beda-beda tergantung proses pengurusan (reguler 4 hari/ekspres 1 hari/super ekspres dalam hitungan jam) juga jumlah keluar masuk China dalam 1 period tertentu (single entry/double entry/multiple entry within a year/multiple entry within 2 years). Biayanya untuk yang paling ekonomis sekitar Rp 300.000,- dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratannya. Tidak perlu pakai calo deh, bisa ngurus sendiri kok. Sekalian belajar mengajukan visa kalo mau bepergian ke negara lain lagi.



  2. HOTEL. Selama di Shanghai kami tinggal di Blue Mountain Expo Youth Hostel . Dipilih karena memang deket dari venue World Expo di deket Dau Pu River. Di hostel ini pula dekat dengan exit gate Metro Line 4 (Luban Road Station) yang terkoneksi dengan semua jaringan metro di seluruh penjuru Shanghai. Jadi kemana-mana cukup mudah. Harganya pula sangat murah, sekitar Rp 120.000,-/bed/malam untuk tipe Dorm. Di sepanjang jalan menuju Blue Mountain ini kita bisa temukan penjual buah (untuk makanan yang pasti halal), dan aktivitas harian warga yang unik, kalo petang ada sekumpulan orang-orang tua yang belajar Tango dan Salsa di ruang-ruang publiknya, dekat juga dengan Pasar Luban Road yang kalau pagi bertebaran atraksi membuat makanan khas China. Ada yang bikin Bakpao, makanan ala martabak, onde-onde dan kegiatan menarik lainnya.



  3. TRANSPORTASI. Di Shanghai, tidak ada kartu multiple travel semacam Octopus Card (HK), jadi belinya ketengan per trayek. Ada multiple trip tapi hanya untuk 1 hari saja (¥80). Itu terhitung mahal karena sekali pergi harganya sekitar ¥3-4. Masih mending pake single travel ticket kayaknya. Hampir semua atraksi kunjungan boleh diakses menggunakan Metro Line ini, jadi sangat memudahkan tinggal liat brosur wisata dan cek stasiun Metro terdekat, murah dan mudah. Jaringan Metro ini jauh lebih kompleks dibanding di HK, kalo tidak salah ada belasan line yang terkoneksi satu dengan yang lain. sebelum naik Metro sebaiknya dipelajari jarak terdekat, karena saat berpindah stasiunnya besar banget. Lumayan exercise untuk berpindah dari 1 line ke line lain.



  4. MAKAN. Di Shanghai komunitas muslim terbatas, entah sedikit atau banyak karena selama di sana belum menemukan masjid, juga makanan yang dinyatakan halal. Jadinya seringnya makan buah. Leci dan apel lumayan standar. Cherry merah juga sangat murah. Untuk pilihan nasi kami membeli Nori (sejenis nasi Jepang yang dibungkus lembaran rumput laut dengan isi tuna-sardine), seharga ¥2 (atau Rp 2.000,-/bungkusnya). Tapi konon ada yang bilang makanan halal tersedia di sekitar People Square, di situ pula ada masjid dan komunitas muslim Shanghai.



Penutup


Menurut saya, Shanghai adalah kota yang cukup menarik untuk dikunjungi. Konon ada dosen di Bandung yang bercerita bahwa kota-kota besar di China dibuat dengan sangat metropolis untuk dijadikan show-case bahwa sistem komunis pun bisa berhasil dalam pembangunan. Wallahualam bissawab.

Yang menyenangkan adalah semua serba murah serta atraksi kotanya sangat banyak untuk dieksplor, baik dari peninggalan China klasik, masa pembangunan, sampai kawasan modernnya. Apalagi di Shanghai terdapat beragam pilihan transportasi publik yang bisa kita gunakan. Walaupun dalam Lonely Planet China disebutkan "Comfortness on public transport is a dream in Shanghai", namun saya kurang setuju. Meski pada peak hour iya, namun setidaknya pemerintah Shanghai serius membangun infrastruktur transportasi sehingga warga memiliki pilihan untuk bepergian.

Bersambung ke Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-3)


Profil Kontributor

Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.



Saturday, October 23, 2010

Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-1)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Catatan penulis: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari perjalanan 3 kota di China pada awal bulan Juli 2010. Sempat tertahan hampir dua bulan karena pekerjaan, akhirnya selesai juga... :)

Awalnya
Sekitar Januari 2010, selepas perjalanan ke utara Malaysia, kami menemukan penawaran penerbangan murah ke Hong Kong dengan rute KL-HK seharga RM99 atau sekitar Rp 270.000,- Kebetulan periode terbangnya bertepatan dengan libur semester pertengahan 2010. Kebetulan lagi, usut punya usut di tanggal yang sama sedang berlangsung World Expo di Shanghai. Baiknya dipasang! Sekalian nengokin beberapa preseden yang dulu, saat jaman sekolah, sempat dipelajari : Kowloon, high density living, transportasi, sub-ground-up connection *halah*...


Pemandangan di sekitar bandara HK.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Perjalanan ke Hong Kong
Tibalah hari-H, 1 Juli 2010, kami berangkat pada tengah hari. Penerbangan rute KL-HK memakan waktu 5 jam. Bandara di HK sekilas mirip Changi, tapi lebih besar dan lebih sibuk. Impresi pertama saat datang adalah penataan HK yang sangat kompak.

Sepanjang perjalanan di atas bus jemputan bandara, kami melewati apartemen-apartemen yang super jangkung, jembatan-jembatan gantung, dan pelabuhan luas dengan latar belakang garis langit kumpulan gedung-gedung yang memadati tepian selat HK yang sibuk. Namun tampak kontras pula perbukitan-perbukitan yang hijau di tepian area dan tengah pulau. Beberapa pulau-pulau kecil tampak dibiarkan hijau lebat oleh pepohonan. Saat itu matahari tenggelam mirip koin emas dengan saputan awan tipis berlangit jingga. Sunsetnya sempurna 9.5 dari skala 10, saya beri nilai A+!

Kedai, pertokoan, tempat makan dan ruangan hotel yang kami temui ga kalah kompak. Kamar saya tidur super duper mini. Agak ga biasa karena kamar mandi menyatu dengan pantry kecil. Di depan kloset ada pemanas air dan perkakas makan. Aishh macam mana ni?

Keluar dari apartemen yang disewa pun kami menemukan pemandangan unik. Billboard dengan huruf kanji dan roman berjejal di sepanjang tepi gedung-gedung tinggi berebut perhatian konsumen. Dan sesaat setelah petang, neon-neon mulai menyala berwarna-warni menjadi penerang pedestrian yang minim lampu jalan.

Di sela keremangan ini, mulailah pedagang kaki lima membuka lapak. Satu-dua dari mereka menumpah ke jalan utama. Pejalan kaki sangat ramai, mereka mengalir dan terus bergerak. Sepanjang tepi jalan ditawarkanlah oleh-oleh, makanan, sayuran, kaos dengan harga yang terjangkau, ga beda jauh di pasar-pasar kita.


Nathan Road, Kowloon.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Hong Kong, here we come!
Berbekal peta kawasan-kawasan utama kota (dalam bahasa Inggris) yang dibagi gratis di bandara, kami mendapatkan informasi lengkap tentang atraksi-atraksi utama di Kowloon dan HK Island disertai list akses-akses transportasi publiknya.

Dan kami pun mulai menyusuri jalur-jalur MTR, bus umum, atau Star Ferry menggunakan ‘Octopus Card’ yang bisa digunakan untuk semua moda. Octopus Card ini mirip EZlink di Singapore, tinggal tap saja, bahkan bisa digunakan untuk berbelanja di Seven Eleven atau beli makanan di beberapa kedai sepanjang perjalanan. Sisa kredit dalam kartu ini dapat diuangkan kembali saat kita meninggalkan HK .

Sepanjang perjalanan, pedestrian cukup padat dan ini berlangsung sampai menjelang tengah malam. Kawasan Nathan Road yang menghubungkan titik-titik MTR utama di Kowloon (Mongkok, Jordan, dan Tsi Tsam Sui) dijejali dengan tempat belanja-makan-penginapan2 dengan beragam harga. Di sana pula kami temukan banyak warga Indonesia (kebanyakan TKW). Mereka selalu ramah untuk membuka pembicaraan. Hampir sama dengan di Malaysia, mereka bercerita tentang pekerjaan, asal, dan berapa lama di HK. Dari tampilan fisiknya, nampak tak banyak masalah. Di Hong Kong, konon jatah libur untuk para TKI cukup layak dengan cuti akhir pekan dan gaji relatif lebih besar dibandingkan pekerjaan di Malaysia-Singapore.

Eksplorasi Hong Kong
HK memiliki empat area utama, namun titik-titik atraksi banyak tersebar pada area Kowloon dan HK Island. Masing-masing memiliki CBD di sepanjang tepian air yang dihubungkan dengan ferry dan MTR line. Star Ferry yang menghubungkan dua tepian air ini cukup murah, sekali jalan harganya HK$2.5 atau sekitar Rp 25.000,- saja. Dan sepanjang perjalanan di atasnya kita bisa menikmati garis langit tepian air Kowloon dan HK Island. Waktu terbaik untuk menaiki Star Ferry ini adalah saat sunset dan jam 8 malam, karena ada pertunjukan lighting di puncak-puncak gedung sepanjang selat gratis selama 30 menit.


Bangunan tertinggi di Kowloon,
dirancang dengan pertimbangan fengshui.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Pada area Kowloon terdapat Star Avenue, tempat memorabilia artis-artis HK, yang dapat dinikmati sambil menikmati garis langit HK Island. Ada juga Temple Market, Ladies Market, Sport Shoes Market yang bisa ditawar meski harganya relatif tinggi untuk ukuran normal orang kita.

Bagi muslim, di area station MTR Tsim Tsa Sui terdapat Masjid Besar Kowloon. Kalau kita pandai-pandai mencari, di sekitar masjid ini tersebar kedai-kedai makanan halal. Rekomendasi lain adalah Museum Sejarah Hongkong yang masih bisa diakses dengan berjalan kaki dari Tsim Tsa Sui Station.


The Peak at terminus.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Di area HK Island, atmosfernya lebih bersahaja dan terasa lebih ‘China’. Di sini atraksi yang menarik adalah The Peak yang bisa diakses dengan tram dari terminus di bawahnya. Untuk naik ke atas dan menikmati indahnya HK di malam hari dari ketinggian diperlukan biaya sekitar HK$30 dan naik ke atas bangunan pengamatan dengan harga yang hampir sama. Semua tinggal tap aja dengan Octopus Card.

Atraksi lain yang terkenal murah dan unik adalah tram di sepanjang jalanan di HK Island. Sekali naik harganya HK$2 untuk satu trayek penuh yang jaraknya lumayan jauh, ini bisa dianggap sebagai city tour murah meriah. Trem ini memiliki jendela kayu terbuka sehingga kita bisa menikmati pemandangan bangunan-bangunan arsitektural yangcukup terkenal, di antaranya HSBC dan Bank of China yang dirancang oleh Norman Foster dan IM Pei.

Akomodasi
Direkomendasikan Yesinn Hostel (di area HK Island). Harganya untuk tipe dorm sekitar Rp 120.000,-/bed/malam. Hotel ini berada di sebuah gedung flat mirip kebanyakan hotel di HK. Untuk masuk kita harus naik lift dan menuju lantai atas. Terkadang kamar kita berada di lantai yang berbeda dengan lokasi meja resepsionisnya dan harus diakses menggunakan lift lagi. Yessinn ini adalah standar hostel yang bersih dan nyaman. Meski tidak mendapatkan makan pagi, tapi kasurnya empuk banget, begitu leyehan langsung merem.

Makanan
Kawasan Tsim Tsa Tsui tetap menjadi pilihan kami. Di sana terdapat komunitas muslim sekitar Masjid Kowloon yang berasal dari Arab, Pakistan, India (berkumpul di Cungkin Mansion, 200 m dari stasiun Tsin Tsa Sui).

Memilih makanan halal menjadi tantangan sendiri, karena tidak semua resto yang menyatakan dirinya halal belum tentu betul-betul halal. Jadi pilihan amannya adalah makanan vegetarian, makanan laut, atau ikan. Di Kings Road yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi masjid terdapat Restoran Indonesia yang juga menyediakan menu-menu nusantara seperti Telur Bali dan Sayur Lodeh, termasuk Teh Botol Sosro. Tapi hati-hati disana pun mereka menjual menu pork (babi) ... :(

Hong Kong Disneyland!
Apabila Anda ada dana lebih sebesar HK$350 atau sekitar Rp 350.000,-, Anda bisa sekalian mengunjungi Disneyland di daerah Sunny Bay. Tiket itu bisa dipakai untuk mengunjungi semua atraksi di dalam kawasan theme park.

Beberapa atraksi yang ditawarkan adalah Adventure Land, Philharmagic, Tomorrow Land, (Live) Golden Mickey, Parade Karakter (4pm), dan Pesta Kembang Api (8pm). Bahasa yang digunakan mayoritas Cantonese dengan tambahan terjemahan inggris untuk pertunjukan-pertunjukan utamanya.


Golden Mickey at Hong Kong Disneyland.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Menuju Shanghai dengan China Railway
Setelah puas mengeksplorasi HK selama 4 hari, kami pun menuju China daratan dengan menggunakan kereta cepat. Dengan tujuan Shanghai, ada 2 pilihan dari stasiun Hunghorm, atau ke Shenzen dulu menggunakan jaringan China Railway. Praktisnya mah terus saja, tapi waktu itu, tiket Hunghorm-Shanghai dah habis dipesan sampai 1 bulan ke depan, jadinya kami bergerak keluar ke Shenzen. Si stasiun terakhir MTR HK, terdapat check point visa kunjungan ke China daratan, ternyata di stasiun itu pula tempat kita mulai bergerak ke arah Shanghai selama 23 jam.

Kereta memiliki fasilitas tempat tidur, yang terbagi menjadi dua jenis: (1) Hard, seharga Rp 400.000,-; dan (2) Soft, seharga Rp 600.000,-). Komunitas di HK yang tadinya multi ras dari berbagai negara mulai berganti dengan domerasa agak susah untuk memulai percakapan dengan orang-orang lokal ini karena kendala bahasa. Mayoritas mereka kurang menguasai bahasa Inggris. Maka perjalanan pun berlalu dengan berteman buku Sudoku.

Di luar kereta api, nampak lansekap daratan yang luas dengan pepohonan yang sejenis, jalanan dan infrastruktur yang besar dan lebar, serta rumah deret berketinggian 3-4 lantai yang tertutup samar-samar oleh kabut tipis. Bukan gambaran kota-kota China yang jorok dan miskin seperti cerita banyak orang selama ini, namun kota-kota yang sedang aktif membangun di sana-sini.


23 hours on a Misty Train.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Bersambung ke Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-2)


Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting