Saturday, January 23, 2010

Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-1)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Saat awal merencanakan liburan akhir tahun ini, terpikirnya langsung ke Thailand. Sudah lama pengen pergi ke sana. Karena tertarik dengan arsitektur dan publikasi obyek wisatanya yang bermunculan di berbagai media. Setelah ngoprek2 a*ras*a.com, akhirnya didapatkan penerbangan 24/12/09 tengah hari. Dari LCCT langsung ke Krabi!

Krabi dipilih bukan karena pengetahuan gw akan objeknya yang menarik. Tapi lebih karena harga tiket penerbangan yang masih normal untuk peak season. Apalagi liburan natal-tahun baru. *Penerbangan langsung ke Bangkok waktu itu melonjak hampir 3 kali lipat dari harga biasa..*

Sempet agak nyesel pas ngecek di peta karena posisi Krabi lebih deket ke Malaysia sedang Bangkok masih 200an km di arah tenggara (Semenanjung Asia).. *Artinya kita akan bulak-balik via darat karena perjalanan berikutnya menggunakan kereta malam dengan rute Krabi-Surathanni-Bangkok dan balik ke Malaysia melalui rute Bangkok-Butterworth [Pulau Penang]. Namun setelah diitung2 ulang perjalanan yang kami ambil ternyata lebih hemat. Karena tiket train pp masih lebih murah dibanding beli tiket pesawat langsung ke Bangkok saat peak season. Dengan spek train:second class-sleeper/bed+AC. Perjalanan malam hari ini kita pilih untuk mengakali biaya akomodasi hotel yang signifikan. Jadi untungnya berlipat, $_$*


Subhanallah.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Dilanjutkan surfing objek2 wisata di Krabi. Cukup kaget karena banyak sekali spot yang menarik. Ada pantai, goa, taman nasional, hutan, tebing2 dan sungai. Juga tawaran beragam kegiatan berkaitan dengan alam, seperti jungle track, kayak, kano, snorkeling, panjat tebing dan diving. Semua informasi mudah didapat. Bahkan beragam versi videonya bisa diunduh di Y**tube!

Berdasarkan informasi web juga, beberapa spot pernah dijadikan setting pembuatan film2 lokal-Thailand, Asia, bahkan Hollywood. Yang paling kondang tentu saja Aow Maya Beach di Phi Phi island [film The Beach], dan pulau2 yang menjadi tempat kejar2an Bond yang mengendarai boat tradisional (Longtail).

Pantai2 lain yang tidak kalah indah dengan pasir putih dan airnya yang jernih berwarna tosca letaknya saling berdekatan. Ada Phra Nang, Ao Nang, Rayley, dan banyak lagi dengan spelling yang sangat susah untuk dihapal.. [Googling sendiri y cuy..]


Aow Maya Beach at Koh Phi Phi island.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Karena banyaknya obyek wisata alam yang tersedia, banyak pula travel agent yang menawarkan jasa kunjungan dengan dengan sistem paket. Mungkin kalo dijumlah ada belasan jalur tour standar yang bisa kita ambil dengan sharing bersama turis lain. Bisa juga sih sewa speedboat atau Longtail untuk satu group sendiri. Tapi harganya untuk boat tradisional paling murah sekitar 5000an Baht (setara Rp.1.5jt) Paket yang menarik di antara semua itu pastinya paket Phi Phi Island. Sedang dua paket yang sepertinya juga bagus adalah 4 Islands Package [Phra Nang Bay, Tup Island, Chicken Island & Poda Island], ama James Bond Island package [menyusuri setting "The Man with the Golden Gun"]. Tour lain beragam, ada yang ke National Park, Jungle Track, Kayak, Snorkeling, dsb. kisarannya antara 450-2000 Baht per person [sharing boat, dan sudah termasuk lunch].

Untuk mendaftarkan diri pada paket2 tour ini kita bisa kontek tour service di hotel tempat menginap atau nyari sendiri di deret ruko berjejer sepanjang tepi pantai Ao Nang. Kalo buat bule harganya bisa satu setengah kali lipat dibanding paket yang sama untuk turis Asia Tenggara. Namun bila anda memiliki kemampuan berbahasa Melayu apalagi Thai, harganya bisa lebih rendah lagi.

Untuk perjalanan kami ke Phi Phi, kami dapat best deal dengan harga 1100 Baht. [Dibanding temen dari KL yang membayar 1400, atau bule yang dikenakan biaya mencapai 1700 atau 2000 Baht!] Gw rekomendasiin hunting biro travel di sisi Ao Nang daripada via hotel reservation, karena pasti layanan ini plus service tax.

*Kemarin kita dapatnya via Ismail yang jaga tour agennya Ao Nang Resort, lokasinya deket2 Seven-Eleven, di jalur pedestrian ruko Ao Nang. Ismail ini ngasih diskon lumayan karena nyangka kita orang Melayu. Tapi gw kagum dengan dia, meski jaga kios travel yang kecil kemampuan bahasanya trilingual [berbahasa Thai, Malay dan English :D]*


New hotels here have same typology
with Boutique hotels in Bali.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Untuk tempat tinggal bagi backpackers ada 2 pilihan lokasi, yaitu Ao Nang Beach dan Koh Phi Phi Island:

(1) Lokasi pertama hotel2 di Ao Nang. Settingnya sangat mirip dengan Legian-Seminyak kalo di daerah Kuta. di sini banyak penjual cenderamata, baju2 pantai, juga makanan buat turis. tapi ga serapi Legian.. lebih ramai dibanding Pangandaran. mm agak2 sekelas Pelabuhan Ratu lah [hyahh lieur]. *buat yang liburannya sekalian mau ke Bangkok, just save your money for shopping there. Harga di sini masih agak mahal (2 kali Bangkok).

Hotel2 di Ao Nang beragam mulai yang murah ala hostel sampai yang berbintang semua ada. Pengalaman gw tadinya nginep di hotel murah di lokasi yang agak jauh dari pantai (Ao Nang Cozy Resort). tapi karena toiletnya sedang bermasalah gw ditransfer ke hotel dengan owner yang sama ke tepi pantai dengan fasilitas setara bintang 4 (Ananta Burin Resort), hehe Arigatou ne Owner-San..

(2) Lokasi kedua di Phi Phi Islandnya. di sini settingnya mirip banget dengan Gili Trawangan yang di Lombok. Jalanannya belum beraspal. Juga huniannya ala kadarnya hanya untuk berteduh di malam hari. makanan didominasi seafood dengan sayuran yang minim. Prediksi gw, di lokasi ini, air bersih-segar langka karena mereka menyuling dari air laut atau air tanah yang pastinya payau. Hanya kelebihannya adalah pantainya yang sangat indah! Juga tebing alam menjulang bertekstur rustic, gigantic setinggi puluhan bahkan ratusan meter *すごい! Sugooiiii!!*

Buat temen2 yang tujuannya berbulan madu atau liburan keluarga, di Krabi tersedia hotel atau resort dengan sistem cottage yang harganya agak mahal sekitar 5000an Baht. Rata-rata hotel jenis ini menghadap langsung ke Laut Andaman dengan private pool atau bahkan private beach! *mantab*

Pengalaman group jalan2 gw kemaren mengambil paket Koh Phi Phi seharga 1100 Baht. Itu sudah termasuk tour seharian (9am-4pm), dengan lunch prasmanan tropical food [salad-seafood-tomyam-fruit], pembagian botol air mineral dan P*psi yang tidak terbatas selama di atas speedboat. Kegiatan yang kami lakukan antara lain 2 kali snorkeling di lokasi yang berbeda, mengamati Gua Bajak laut, melewati Chicken island, melewati celah2 sungai bertebing di 2 sisi di Phi Phi, beristirahat di Aow Maya Beach, dan berakhir dengan mandi serta acara bebas di Bamboo Island. Pantai2 ini rata2 sangat sepi dengan view yang sangat indah ke laut lepas Andaman. Selepas itu sambil mengantar pulang rekan satu boat selama perjalanan kami menelusuri resort2 di pulau2 yang terpisah. Rata-rata resort ini memiliki private jetty yang decknya menjorok ke laut dalam.. *Awesome..*


Krabi Local Cuisine.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Tentang makanan..
Krabi dominated by Buddhist, tapi masih ada 20%an Muslim. Jajanan tepi jalan beragam. Namun yang halal bisa dihitung dengan jari. Agak2 horor juga pas masuk restoran dengan label halal tapi tetep menjual minuman keras. Jadinya kita ragu dengan makanan berdaging yang mungkin belum sesuai dengan syariat saat penyembelihannya. Karena setelah ditelusuri mereka pun belum paham benar tentang definisi halal. Sepengamatan gw, mereka memaknai halal itu kalau tidak mengandung babi saja. Jadinya kemarin kami mencari resto dengan pedagangnya yang berjilbab dari Melayu, menjual all seafood, atau menu sayur-seafood kalo susah.


Our second class sleeper train, Shuratthani-Bangkok [11 hrs].
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Untuk perjalanan darat terdapat bus dan train [yang diakses dari main city terdekat yaitu Surathanni], tiket bus dan train bisa dipesan mendadak via tour travel setempat, karena bila pesen via internet mahalnya bisa 2 kali lipat.. fyi. dari Krabi ke Bangkok dapat ditempuh selama 12 jam via night train dengan kasur [sleeper] harganya berbeda atas-bawah untuk Second class harganya berkisar 300ribu rupiah [1000an Baht], tiket ini pun kita pesan via Ismail. Harganya lebih logis. Sebelumnya kita coba pesan via internet harga yang ditawarkan lebih mahal 100%, untungnya ga jadi dipesan karena dia mensyaratkan pembayaran yang verified by Vi*a.


More excited when we're feedin' them [taken by Ida Hamida].
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Secara keseluruhan liburan Krabi ini mengingatkan akan Bali dan Lombok. Namun dengan setting yang lebih alami dan paket2 tour yang menggunakan fasilitas bagus dengan harga yang lebih murah dibanding paket2 yang sama di Nusa Dua.

Selamat mencoba teman2..


Long Tail at Ao Nang.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2009

Bersambung ke Perjalanan Krabi, Bangkok, dan George Town (part-2)




Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

Thursday, January 21, 2010

Photo(s) : Phuket, Thailand

Foto oleh : Ronggo Ahmad Wikanswasto.




Foto (c) Ronggo Ahmad Wikanswasto, 2010.




Profil Kontributor
Ronggo, teman saya, kini bekerja sebagai professional di Bontang, Kaltim. Mempunyai hobi fotografi dan jalan-jalan. Ini adalah hasil jepretannya kala menghabiskan jatah cuti di Phuket (Thailand). Anda dapat melihat koleksi jepretan Ronggo lainnya di Ronggo130's Photostream.

Sunday, January 17, 2010

Menembus Hutan di Pulau Sempu (Jawa Timur)

Posting tamu oleh : Hanny Musytika

Perjalanan ke Pulau Sempu pada 23 September 2009 ini sebenarnya di luar rencana saya. Tadinya sembari berkunjung ke kediaman Pakdhe di Malang sebagai rangkaian tur lebaran (ceile...) saya hanya berniat ke Bromo. Namun saya mendapat ajakan menggiurkan dari seorang teman melalui status facebook-nya untuk jalan ke Sempu, langsung saja saya sambar “mauuuuuu....” =D

Akhirnya, di hari saat seharusnya saya istirahat sebelum malamnya ke Bromo, saya malah nge-trip ke Sempu. Saya tidak memikirkan dampaknya bagi kaki “kota” saya ini, singkat cerita selama 2 minggu kaki saya agak abnormal.

Total peserta perjalanan ini 5 orang (4 perempuan dan 1 laki-laki) dan semuanya bukan orang yang biasa tracking. Tapi kami sangat excited dengan perjalanan ini.

Perlengkapan yang dibawa:
  1. Backpack
  2. Air mineral 600 ml 3 botol (per orang)
  3. Baju ganti luar dalam
  4. Senter
  5. Bekal makan siang
  6. Camilan
  7. Sandal jepit cadangan
  8. Ponco

Pulau Sempu adalah pulau kecil yang termasuk cagar alam (artinya alamnya masih terjaga dan dibiarkan sebagaimana aslinya, tidak boleh ada pembangunan apapun) dan berada di seberang Pantai Sendang Biru. Sendang Biru berada kurang lebih 65 km di selatan Malang atau 38 km dari Turen.


Sumber: wikipedia

Perjalanan dimulai jam 8 pagi. Kami janjian di depan salah satu mal di Malang (saya lupa namanya apa), dari sana kita naik mobil APV sewaan plus Mas Oon sebagai supir menuju Sendang Biru. Mewah amat ya kita pake nyewa mobil? Hmmm...sebenarnya pertimbangannya banyak, selain karena keterbatasan waktu (sore hari kami harus kembali ke Malang), ternyata setelah dihitung-hitung perkiraan total biaya jika menggunakan mobil rental tidak terlalu mahal jika dibagi ber-5. Perincian biaya perjalanan ini bisa dilihat di akhir tulisan ini.

Jika ingin ke Sempu menggunakan angkutan umum, rute dan biayanya:
  • Arjosari - Gadang = 3.000 (30 menit) - disarankan pilih angkot AMG karena rutenya lebih dekat
  • Gadang - Pasar Turen = 4.000 (30 menit) - berupa bis/colt/elf
  • Pasar Turen - Sendang Biru = 12.000 (90 menit) - angkot ini akan ngetem cukup lama hingga penumpang penuh

Perjalanan kami dari kota Malang ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2 jam. Jalan yang ditempuh berliku-liku dan naik turun. Tapi banyak pemandangan bagus yang kami temui sepanjang jalan. Bagi orang Jakarta yang tiap hari bertemu deretan gedung dan perumahan, pemandangan ini benar-benar menyegarkan mata.

Sesampainya di Pantai Sendang Biru kami diminta untuk ijin dulu ke kantor polisi hutan (polhut). Perahu yang menyeberangkan kami ke Pulau Sempu tidak akan mau jalan sebelum kita mendapat ijin tersebut. Di dalam kantor polhut, kami diberi sedikit pengarahan, menandatangani surat perjanjian bahwa kita tidak akan menyakiti alam Sempu, termasuk membuang sampah selama disana, dan membayar biaya administrasi 20.000(yang ini saya ragukan ke-legal-annya). Kami juga ditawari jasa pemandu untuk menuju Segara Anakan dengan biaya 100.000, kami memilih tidak menggunakan pemandu karena sebelumnya sudah mendapat informasi bahwa untuk menuju Segara Anakan tidak sulit karena hanya ada satu jalan setapak sehingga kita tidak akan tersesat. Mereka juga memperingatkan kita untuk hati-hati karena malam sebelumnya hujan sehingga medan jalan di Pulau Sempu lebih sulit untuk dilalui.


Pantai Sendang Biru
Foto (c) Hanny Musytika, 2009

Bagi pengunjung yang sudah larut tiba di Sendang Biru, banyak rumah-rumah penduduk yang bisa disewa, harganya tergantung negosiasi. Penginapan yang cukup dikenal adalah Wisma Keluarga (0341 – 872 083)atau Mess Perhutani dengan tarif sekitar 75.000/kamar/malam.

Lalu kami menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Sempu dengan biaya 100.000 PP , sepertinya bisa dimuati 10 – 15 orang. Tampaknya semua pemilik perahu sudah kompak menetapkan harga sewa perahu ini, karena kami sudah tidak bisa menawar lagi. Semula kami mau berbagi perahu dengan rombongan lain, tapi saat celingak-celinguk tidak ada nemu rombongan lain yang akan menyeberang, ya sudah, daripada kesiangan akhirnya kita jalan sendiri saja. Pengunjung juga bisa mengelilingi pulau menggunakan perahu, tarifnya 250.000. Biasanya perahu akan memutari Pulau Sempu dan pengunjung bisa singgah di sisi lain Pulau Sempu yakni Pantai Waru-Waru yang menghadap Laut Jawa.

Senang sekali rasanya naik perahu menuju Sempu, pemandangan indah laut lepas dari perahu mengawali perjalanan seru di Pulau Sempu.. Sekitar 10 menit kemudian, kami tiba di pantai yang dipenuhi pohon bakau, kami turun dari perahu dan mulai berjalan mengikuti jalan setapak, sebelumnya kami mencatat nomor HP pemilik perahu, agar bisa dihubungi saat kami pulang nanti untuk dijemput. Gaya ya, hare gene mah di tengah hutan ada sinyal bo' =p.

Tujuan kami adalah Segara Anakan yang berada di ujung lain Pulau Sempu, sisi yang menghadap Samudera Hindia. Jarak dari bibir pantai Sempu ini ke Segara Anakan sekitar 4 km dan dalam kondisi jalan kering dan cuaca bersahabat bisa dilalui 1 jam dengan berjalan kaki.

Ada satu rombongan lagi yang datang tidak lama setelah kami turun dari perahu, kami sempat kenalan tapi mereka sepertinya sudah pro, dan mulai tracking tanpa basa-basi. Tadinya kami berharap mereka mau menjadi teman perjalanan kami, tapi ya sudahlah...akhirnya kami dengan PD menantang alam sebagai amatiran....dan...jeng jeng jeng....ternyata karena hujan deras malam sebelumnya, apa yang dinasehatkan polhut benar adanya, semakin ke dalam jalan semakin becek dan penuh dengan lumpur. Cuaca saat itu sebenarnya cukup terik, namun karena rimbunan pohon-pohon tinggi sehingga tanah di bawahnya masih basah. Sungguh sangat berat perjalanan kami, berjalan menggunakan sandal jepit pun percuma, pasti sering nyangkut di jalan berlumpur yang lengket, jadinya kami tenteng saja sandal jepitnya. Tracking menuju Segara Anakan yang kami lalui diwarnai dengan jatuh bangun dengan berbagai gaya dan posisi, heuheu.... dan jangan coba-coba memakai baju warna putih, pasti nanti berubah jadi coklat.


Baru mulai tracking, masih bisa pakai sandal =p
Foto (c) Hanny Musytika, 2009

Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan yang berlawanan arah, kebanyakan mereka hendak pulang setelah bermalam di Segara Anakan. Tiap bertemu rombongan kami selalu bertanya “masih jauh ga?” dan kebanyakan menjawab “sudah dekat mba, sebentar lagi”, tapi kok tidak sampai-sampai ya??? Kami juga sempat disusul oleh rombongan-rombongan lain. Kebanyakan anak-anak muda yang kelihatan sudah sering tracking tapi ada beberapa rombongan keluarga yang pesertanya ada yang masih anak-anak. Agak malu sih kalah sama anak-anak kecil, tapi alon-alon asal kelakon lah =D

Ketika sudah jalan selama 2,5 jam, terdengarlah bunyi ombak dan semburat kebiruan di tengah hijaunya dedaunan, rasanya sueneeeeng...wes bosen mlaku & tibo aku kiiii...! Lucunya, saat kami baru tiba di Segara Anakan, kami berpapasan dengan rombongan yang kami temui saat baru turun kapal tadi. Mereka heran dan bertanya “kemana aja mba kok baru sampai?”....aiiiih, capee deh.

Kaki yang sudah mati rasa dan badan pegel tiba-tiba tidak terasa, Segara Anakan ini bagus banget!! A place that you hope you could see everyday, so refreshing and beautiful....!! Segara Anakan ini seperti laguna yang dikelilingi batu karang tinggi yang membatasinya dengan laut selatan atau Samudera Hindia yang bergelombang besar sehingga tempat ini sungguh menyenangkan. Kita bisa berenang di lautan Hindia yang tenang ^_^.

Meskipun ada beberapa sampah berserakan di sisi pantai karena pengunjung tidak tahu diri, tapi bisa dibilang tempat ini masih lumayan perawan. Beberapa pengunjung ada yang mendirikan tenda, ada yang berenang, ada yang sedang sesi pemotretan (dari pertama saya datang sampai pulang tidak selesai-selesai foto-foto-annya). Kami pun langsung membasuh kaki dan merasakan dinginnya air laut. Sedikit-sedikit menyeburkan diri, namun tidak berenang sampai ke tengah. Pasir di sini pun menurut saya berbeda dengan pasir di Sendang Biru, warnanya kekuningan dengan butiran lebih besar tapi terasa halus dan sangat nyaman untuk dijejak.



Segara Anakan
Foto (c) Hanny Musytika, 2009

Selain Segara Anakan, sebenarnya ada lagi satu spot yang sering dikunjungi orang yaitu Telaga Lele. Tempat itu adalah sumber air tawar dan penduduk sekitar sering kesana untuk memancing. Karena keterbatasan waktu kami tidak sempat ke Telaga Lele.

Tidak sampai dua jam kami di Segara Anakan. Jam 4 sore kami pun mulai beranjak dari Segara Anakan untuk kembali ke Sendang Biru.

Perjalanan pulang menuju tepi Pulau Sempu untuk kembali ke pantai Sendang Biru cukup ditempuh dengan waktu 2 jam saja =D (lumayan lah bagi kami), itu juga karena terbantu oleh rombongan anak-anak SMA yang juga dalam perjalanan pulang dan banyak menolong kami sepanjang perjalanan. Mungkin mereka kasihan melihat penampakan kami yang sudah tidak karuan dan terlihat sekali jarang berkunjung ke hutan, hehehe.

Mereka menuntun kami jika medan jalan setapak yang dilalui cukup sulit, memberikan tangan saat kami terjatuh, menunggu kami yang lelet dan banyak berhenti untuk minum atau melemaskan kaki, dan menemani kami dengan obrolan-obrolan ringan sepanjang perjalanan. Tapi dasar anak SMA, mereka sempat juga mengolok-olok kami dalam bahasa Jawa, tapi kemudian mereka malu dan minta maaf saat tahu kami semua meski dari Jakarta tapi keturunan Jawa semua dan mengerti yang mereka omongin, hahahahaha, tapi tak apalah, toh mereka cuma bercanda.

Tiba di tepi Sempu sudah hampir Maghrib dan hujan rintik-rintik mulai turun. Kami sudah ditunggu oleh perahu kami. Namun karena air surut maka kami harus jalan cukup jauh menuju perahu, masalahnya untuk mendekati perahu itu kami harus melintasi karang-karang tajam, kalau terpeleset....perih.... Tadinya pak perahu kami mau menunggu rombongan lain, tapi karena hari sudah gelap kami memutuskan untuk pergi duluan. Toh perjalanan ke Sendang Biru tidak sampai 15 menit.

Kami kemudian berganti pakaian dan mandi di kamar mandi umum di Sendang Biru. Sekitar jam 7 malam kami meninggalkan Sendang Biru dan kembali ke kota Malang. Badan rasanya remuk, dan kaki terasa perih karena lecet atau tersayat-sayat akibat sepanjang jalan tadi tidak beralas kaki. Tapi hati senang karena tantangan ini bisa kami jalani dan ternyata sangat menyenangkan.

Saya tidak kapok untuk kembali ke Pulau Sempu, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat.

Rincian Biaya:
  • Rental mobil + supir = 275.000
  • Bensin = 100.000
  • Tiket masuk Pantai Sendang Biru = 10.000
  • Ijin masuk Pulau Sempu = 20.000
  • Perahu = 100.000
  • Total = 505.000 = 101.000/orang....cukup murah kan ^_^

+ + + + +
Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sempu
http://www.petawisata.net/2005/05/pulau-sempu.html
http://terasrumah.multiply.com/photos/album/49/Bag_I_Sendang_Biru_Pulau_Sempu


Profil Kontributor
Hanny, teman saya, juga adalah seorang pecinta jalan-jalan. Kini bekerja di sebuah lembaga pemerintah sebagai pharmacist. Ini adalah salah satu ceritanya saat ia berlibur ke Malang dan berkesempatan untuk mengunjungi Segara Anakan di Pulau Sempu, Jawa Timur. Tulisan Hanny lainnya dapat dilihat di blog pribadinya : Hanny's Suka Suka.

Friday, January 15, 2010

Cara Memperkirakan Budget Jalan-Jalan


Photo (c) Sharon Dominic, taken from gettyimages.com.

Banyak teman yang bertanya kepada saya, bagaimana cara memperkirakan budget jalan-jalan. Sebenarnya gampang saja, apalagi sekarang dengan adanya internet, semua info dengan mudahnya hadir di depan komputer Anda.

Untuk memperkirakan budget, pertama kita harus membagi budget dalam 3 kriteria besar: Transportasi, Akomodasi, dan Makanan. Perlu diperhatikan bahwa ini masih di luar biaya pembuatan dokumen-dokumen perjalanan (seperti paspor, visa, dsb).

TRANSPORTASI (mencakup tiket pesawat & transportasi dalam kota)
(1) Pertama totalkan semua harga tiket pesawat/bus/kereta (kendaraan yang dipilih), bisa di-cek lewat internet. Tidak perlu langsung booking, yang penting tahu harganya dulu.
(2) Kemudian jangan lupa untuk mencari info-info tentang transportasi alternatif yang mungkin jatuhnya akan lebih murah dibandingkan dengan naik pesawat. Contoh : Tiket bus Phuket-Krabi = 155 Baht, ternyata lebih murah dibanding tiket ferry Phuket-Krabi = 550 Baht. Mungkin waktu tiba akan lebih lama, namun semua ini kembali ke kebutuhan masing-masing traveler. Dari sini kita bisa mendapatkan simulasi biaya transportasi dengan beberapa alternatif moda.

AKOMODASI
(1) Pertama kita kumpulkan info dari internet, penginapan mana saja yang sesuai budget kita. Misalnya saya ingin jalan-jalan ke Kuta, maka biasanya saya googling : "penginapan murah di Kuta" atau "recommended hostel in Kuta". Perhatikan bahwa saya menggunakan 2 jenis bahasa, ini untuk mencari opini dari turis lokal dan turis asing.
(2) Atau cara lainnya adalah, mencari hostel lewat website hostelworld.com, hostelbookers.com, dan semacamnya. Di sini kita bisa memilih hostel yang sesuai dengan kebutuhan kita. Kemudian totalkan biaya akomodasi yang disesuaikan dengan berapa hari kita menginap.

MAKANAN (mencakup makan-minum selama di jalan dan jajan-jajan cemilan)
Budget makan juga harus kita tentukan. Biasanya secara kasar saya batasi sehari Rp 50.000,- sudah termasuk makan pagi, siang, malam dan cemilan. Tapi ini juga tergantung negara yang kita akan datangi, lebih baik cari-cari lagi info tentang biaya hidup sehari-hari di tempat yang akan kita tuju. Salah satu contoh perkiraan biaya hidup di berbagai negara bisa lihat di sini : "Budget Travel Costs of 94 Cities around the World" oleh Go Budget Travel.


+DOKUMEN PERJALANAN dan sebagainya
Setelah ketiga budget utama itu berhasil kita dapatkan, sekarang kita harus mencari info tentang biaya pembuatan dokumen-dokumen yang diperlukan (apabila kita berencana keluar negeri).

Setelah semua budget jalan-jalan tercatat dan terhitung secara kasar, lebihkan sekitar 30% untuk dana cadangan. Ini penting. Anda tentunya tidak mau liburan Anda berantakan karena kekurangan uang di tengah perjalanan bukan?

+ + + + +

Referensi
Kalau ingin membaca artikel tentang memperkirakan budget jalan-jalan yang lebih mendetail lagi, coba cek halaman yang ini :
"Tips for Drafting a Reliable Travel Budget" dari Budget Travel Tips.

Semoga membantu! :)

Monday, January 11, 2010

Backpacker's Notes di FotoKita.net



Baru saja saya mendaftarkan diri di Fotokita.net - Komunitas Fotografi National Geographic Indonesia (NGI). Anda dapat melihat beberapa hasil jepretan saya selama berjalan-jalan. Masih amatir memang, hehehe tapi akan terus belajar! :)

Lihat di sini: http://fotokita.net/browse/member/herajeng

Ayo ayo ikut daftar. GRATIS. Lumayan, kalau beruntung, fotonya bisa ditampilkan di majalah NatGeo Traveler, hehehe...

Saturday, January 9, 2010

"Travelling Differently" - Paulo Coelho

Menemukan tulisan di dinding hostel saat berada di Bangkok. Dan sampai saat ini selalu menjadi salah satu prinsip saya dalam berjalan-jalan:


Travelling Differently.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009
"Don’t compare anything – prices, standards of hygiene, quality of life, means of transport, nothing! You are not traveling in order to prove that you have a better life than other people – your aim is to find out how other people live, what they can teach you, how they deal with reality and with the extraordinary." — Paulo Coelho
Coelho memberikan 9 tips-nya dalam menikmati perjalanan:
1. Avoid museums.
2. Hang out in bars.
3. Be open.
4. Try to travel alone or – if you are married – with your spouse.
5. Don’t compare.
6. Understand that everyone understands you.
7. Don’t buy too much.
8. Don’t try to see the world in a month.
9. A journey is an adventure.

Baca artikel selengkapnya di sini:
Travelling Differently, by Paulo Coelho

Friday, January 8, 2010

Tentang Blog Ini...

Hai hai salam kenal! :)
Hello, Chào, ¡Hola, Bonjour, Olá, привет, สวัสดี! :)

Secara garis besar, isi dari The Backpacker's Notes ini adalah:
- Tips backpacking,
- Catatan & foto-foto perjalanan,
- Informasi tentang suatu destinasi,
- Ide & inspirasi untuk melakukan traveling,
- Berita-berita terbaru tentang traveling,
- dan apapun tentang backpacking...

Tentang Blog Ini
Awalnya, ketika pertamakali saya backpacking ke LN dan berusaha mencari info-info tentang backpacking, saya baru sadar bahwa ternyata jarang banget ada blog Indonesia yang khusus membahas & membagi informasi tentang backpacking yang well-designed. Informasinya mencar-mencar semua. Padahal di luar sana, ada banyak sekali blog-blog & majalah online tentang backpacking yang desainnya bagus-bagus serta informatif.

Dari sana saya terpikir untuk membuat sebuah blog yang khusus berisi dokumentasi jalan-jalan saya. Namun setelah dipikir-pikir lagi, pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan blog ini sebagai wadah berbagi informasi mengenai jalan-jalan dengan budget terbatas, dan kontributornya bisa siapa saja*.

Oh ya, kontributor awal-awal adalah teman-teman saya yang baik hati, tentunya. :) Thanks a lot guys!

Di Balik Blog Ini
Oh, maaf. Saya? Panggil saja saya : Ajeng.

"Brainworm" adalah nama pena saya --hayah, "nama pena"! hehehe-- untuk blog pribadi saya, yang sudah ada sejak tahun 2005.

Saya sendiri adalah orang yang suka jalan-jalan, tapi masih amatir! Baru memutuskan untuk lebih sering jalan-jalan saat saya berusia 25 tahun. Bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Agustinus Wibowo, Trinity, maupun Kang Ocon.

Saya juga hobi menulis dan senang membagikan pengalaman saya selama berjalan-jalan. Saya ingin blog ini dapat membantu (dan lebih baik lagi, menginspirasi) para amatir seperti saya dengan memberikan info tentang jalan-jalan MURAH.

Yup, jalan-jalan MURAH, dengan budget tertentu. Jalan-jalan ngga perlu mahal, yang penting menyenangkan dan dapat menyegarkan pikiran kita untuk kembali menghadapi rutinitas harian.

Perlu diketahui sebelumnya, mungkin website ini kurang cocok untuk tipe pejalan yang (sangat) mementingkan kenyamanan dalam jalan-jalannya. Namanya juga backpacking, jadi turis kere, hehehe. Namun, sejujurnya saya juga bukan (atau belum menjadi) tipe pejalan yang sangat berani jalan-jalan sendirian. Oleh karena itu biasanya saya mengajak saudara atau teman dekat untuk menemani perjalanan saya. Tapi suatu saat saya juga ingin mencoba CouchSurfing atau Hospitality Club. Yah... Tapi mungkin suatu saat nanti... --Belum PD, hehehe--

Sebagian posting awal dari blog ini merupakan posting lama saya di blog pribadi saya, yang mungkin tampak belum terlalu di-edit dan dibiarkan sesuai dengan posting asli. Apabila ada yang tertarik untuk membaca keseluruhannya, silahkan intip di sini, komentar dan saran amat dihargai. Menyadari bahwa dunia amat luas dan tidak mungkin saya kitari sendiri, ada banyak pula kontribusi posting dari teman-teman saya yang juga hobi jalan-jalan, sehingga anda pun dapat melihat dunia dari mata mereka. Terimakasih ya temans! :D

Singkat cerita, harapan saya sih mudah-mudahan isi blog ini dapat membantu para traveler (& para calon traveler) yang lagi kebingungan cari informasi. Hehehe...

Oia, kalau ingin mendapatkan update terbaru dari The Backpacker's Notes, bisa lewat form ini ya:

Get FREE travel tips, stories, news, and articles directly at your email!
Your best email address:

* We hate spam. Your email address will not be sold or shared with anyone else.


Follow Us on Another Social Media Websites!

Masih kurang? Silahkan mengirimkan pesan langsung kepada saya. Saya tunggu feedback dari Anda. :)

Okay, that's it. Terimakasih sudah menyempatkan membaca.


Selamat berjalan-jalan!
Dan semoga jalan-jalannya menyenangkan! :D

PS. Oh ya, apabila Anda menyukai dan ingin mendukung situs perjalanan The Backpacker's Notes ini, Anda dapat menyumbang kepada TBN melalui akun Paypal saya. Kalau tidak bisa atau tidak ingin juga tidak apa-apa, situs ini tetap akan berbagi informasi perjalanan secara cuma-cuma! Woo-hoo! :)


Mari berbagi pengalaman!
Ingin menjadi kontributor cerita atau foto?

The Backpacker's Notes menerima kontribusi tulisan dan/atau foto dari pembaca mengenai catatan perjalanan yang sesuai dengan pengalaman pribadi si penulis, dengan persyaratan sebagai berikut:

(1) Diketik maksimal 800-1000 kata dan dilengkapi 1 hingga 4 foto hasil jepretan pribadi.
(2) Diutamakan tulisan yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dengan ejaan yang benar.
(3) Tulisan dan foto dikirimkan ke backpacker.notes(at)gmail.com, jangan lupa untuk menuliskan profil singkat kontributor & sertakan alamat website Anda (apabila ada).

Kami akan memuat tulisan atau foto yang sesuai persyaratan dan akan berusaha merespon secepat mungkin. Terimakasih. :)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting