Saturday, April 17, 2010

East Java Trip : Journey to Surabaya - Sidoarjo - Sempu - Bromo - Malang - Batu (Part-2)

Posting tamu oleh : Effendy Siawira

Sambungan dari East Java Trip : Journey to Surabaya - Sidoarjo - Sempu - Bromo - Malang - Batu (Part-1)

Hari ke-2 : Lumpur Lapindo Sidoarjo dan Pulau Sempu
Hari kedua merupakan perjalanan yang sangat panjang, oleh karena itu jam 5 subuh sudah dimulai antrian mandi. Pukul 06.30 WIB kami telah mendapatkan tempat sarapan yang enak di G-Walk, salah satu bagian dari Ciputraland.

Makanan khas Medan yang dijual di Surabaya ini yang menjadi pilihan kami: nasi campur dan lontong sayur. Maknyusss dengan harga Rp 12.000/porsi sudah memberikan kepuasan tersendiri bagi perut kami.


Menu Sarapan Kami: Nasi Campur dan Lontong Sayur.

Foto (c) Effendy Siawira, 2009


Pukul 8 pagi, dengan Innova yang berisi 9 orang (including supir), perjalanan pun dimulai dari kota Surabaya. Melalui jalan tol Porong, kami sempat singgah sebentar di bendungan lumpur Lapindo atau yang sering disebut sebagai Lusi (Lumpur Sidoarjo).

Di sekeliling jalan terdapat bendungan tinggi yang berfungsi untuk membendung si lumpur. Ternyata bencana ini tidak menghilangkan ide dari penduduk setempat untuk berbisnis. Beberapa spot di sepanjang bendungan, dibangunlah tangga-tangga dari bambu untuk menuju puncak bendungan. Sekali naik dikenakan tarif Rp 3000/orang.

Sejauh mata memandang, yang terlihat cuma lumpur, asap dan atap pabrik yang sudah tertimbun. Kami ditawarkan oleh warga di sana untuk menuju pusat semburan dengan ojek yang +/-10 menit dari tempat kami berdiri sekarang dengan harga Rp 15.000/ojek. Mengingat rencana perjalanan kami masih panjang untuk hari ini, maka kami memutuskan untuk langsung berangkat lagi.

Perjalanan terus berlanjut ke arah Selatan dengan melewati Kota Lawang. Sepanjang perjalanan kami tidak bermaksud untuk makan siang --dengan PD-- karena yakin akan menemukan tempat makan di lokasi tujuan.

Pukul 12 tepat, kami sampai di Sendang Biru. Sungguh bagus pemandangannya. Sesuai dengan namanya, air di tempat itu bener-bener biru. Di seberang posisi tempat saya berdiri ini ada satu pulau yang dinamakan Pulau Sempu. Pulau kecil ini terletak terpisah dengan Pulau Jawa.

Sempu Map
Lokasi Sendang Biru, Teluk Semut, dan Segara Anakan.
Foto (c) Effendy Siawira, 2009

Perut mulai minta jatah, mengintai ke kiri dan kanan dengan gaya “monkey king” --hehe, lebay-- Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda restoran disini. Akhirnya ketemu satu warung kecil di pintu masuk, dan ternyaaataaa… warung itu juga tidak ada makanan, yang ada cuma indomie. Ya sutralah, akhirnya pesan indomie pake telur.


Pantai Sendang Biru, Jawa Timur.
Foto (c) Effendy Siawira, 2009

Selesai makan, kami berencana untuk menyebrang ke Pulau Sempu. Si empunya kapal menawarkan harga Rp 350.000 untuk keliling Pulau Sempu, dengan kapal kecil dalam waktu +/- 2 jam. Tetapi tujuan kami adalah ke Segara Anakan.

Segara Anakan ini adalah lagoon kecil yang terletak di tengah-pulau Pulau Sempu. Dapat ditempuh dengan kapal dan berjalan kaki memasuki hutan. Akhirnya kami menyewa kapal dengan harga Rp 100.000 PP menuju Pulau Sempu.

Perjalanan kapal ditempuh dalam waktu 15 menit. Sampailah kami di pinggiran Pulau Sempu yang dinamakan Teluk Semut. Dari sinilah perjalanan dimulai (pukul 13.00 wib).

Segara Anakan, tak kalah dengan Ko Phi Phi di Thailand
Baru saja berjalan sekitar 50 meter, kami ketemu jalan bercabang. Sebelah kiri terhalang oleh pohon yang tumbang, sedangkan sebelah kanan lumayan clear. Kami memilih jalan yang kanan. Setelah berjalan sekitar 20 menit, jalanan semakin aneh, jalan setapak mulai gak jelas, jalan daritadi menanjak, dan kami merasa bukan menerobos hutan, tetapi malah berjalan-jalan mengelilingi samping pulau.

Kami memutuskan untuk kembali ke jalan bercabang dan memilih jalan yang satunya lagi. Pukul 13.45 kami kembali sampai ke jalan bercabang. Nekad melangkahi batang pohon tumbang, ternyata jalan ini lebih manusiawi, walaupun jalanan penuh lumpur tapi setidaknya tanjakan tidak terlalu curam. Perjalanan satu setengah jam, tapi belum ada tanda-tanda akan sampai.

Akhirnya kami menyetujui akan balik jika jam 4 juga belum ketemu Segara Arakan, mengingat letak geografis di daerah ini yang lebih ke arah timur Indonesia yang artinya matahari akan terbenam lebih cepat dari biasanya. Untungnya jam 4 tepat kami sudah melihat air di Segara Anakan yang berwarna biru. Wuih, keren dah...


Segara Anakan.
Foto (c) Effendy Siawira, 2009

Setelah sampai, sempat foto-foto dan istirahat sejenak termasuk mencuci kaki yang sudah dipenuhi lumpur. Lagoon ini bentuknya bagus, dikelilingi oleh tebing, dan salah satu tebing itu ada membentuk lingkaran besar dengan ombak yang selalu menghempas dari arah Laut Selatan. Pokoknya setelah sampai disini, serasa tidak percaya bahwa ada tempat yang sebagus ini di Indonesia. Ada beberapa orang yang menyebutkan bahwa lokasi ini lebih bagus daripada PhiPhi Island di film “The Beach” Leonardo DiCaprio.

Kembali ke Pulau Sempu
Setelah ber-narsis ria sesaat walaupun belum puas, apapun yang terjadi, jam 5 kurang ¼ kami harus balik. Mengingat langit yang semakin gelap, dan kami ke pulau ini tanpa persiapan yang memadai (dengan pakaian wisata, sandal casual, tanpa air minum dan makan siang sekedarnya). Perjalanan dipercepat untuk menghindari gelap. Perjalanan cuma beberapa menit, langit sudah menunjukkan kondisi gelap. Dan terjadilah accident kecil.

Salah satu teman terperosok di jembatan kayu yang menyebabkan kaki luka dan sandal hilang, akhirnya si teman berjalan dengan nyeker (tanpa alas kaki). Langit semakin gelap, dan kami yang tadinya ber-8 berjalan bersama semakin terpencar. Tinggallah saya dan 2 orang teman lainnya di paling belakang.

Perjalanan terasa sangat lama dan tanpa penerangan memadai, untung saja ingat bahwa HP-saya ini bisa membantu sedikit penerangannya. Dalam kondisi seperti itu, jalanan di depan hanya berbayang-bayang. Kubangan lumpur yang seharusnya bisa dihindari di kala terang, menjadi korban kaki saya. Sandal yang semula dipakai untuk membantu melindungi tapak kaki malah menjadi hambatan karena licin dan sering tertinggal di dalam lumpur. Akhirnya saya ikutan nyeker juga.

Di tengah perjalanan, muncul seorang bapak dari belakang dengan obor dan sebuah tangkapan ikan yang besar sekali dan meminta izin untuk lewat. Dengan obor itu, lumayan sedikit terbantu melihat jalan. Tapi ternyata si Bapak berlalu dengan cepat dan akhirnya kami ditinggal dalam kegelapan kembali.

Pukul 19.15
: Ternyata kami sudah mendapatkan sinyal HP, langsung saja kami menghubungi teman yang sudah duluan sampai di Teluk Semut untuk menghubungi Bapak Perahu untuk menjemput dari seberang. Ternyata Bapak Perahu sudah di Teluk Semut sejak setengah jam yang lalu karena sedikit khawatir dengan keberadaan kita. Setelah mendapatkan info bahwa kami akan segera sampai, si Bapak Perahu langsung menerobos ke dalam hutan untuk menjemput kami dengan senter yang agak mumpuni.

Pukul 19.30:
Akhirnya kami sampai juga di Teluk Semut bersama si Bapak Perahu, kemudian kami dianter balik ke Pulau Sempu dengan kapalnya. Selama perjalanan, si Bapak menyuruh kami tidak boleh menyalahkan lampu apa pun, termasuk HP. Kami tidak mengerti apa maksudnya, dan kami hanya menurutinya.

Pukul 19.45: Kami kembali menginjakkan kaki di Pulau Sempu. Haus yang luar biasa mengarahkan kaki kami secara otomatis langsung menuju rumah penghuni sana yang menjual teh botol. Ntah berapa botol yang diminum oleh kami-kami. Setelah itu beristirahat sebentar dan gantian mandi. Setelah mandi, sekitar jam 21.00 WIB kami berangkat kembali menuju tujuan selanjutnya, yaitu Gunung Bromo.

Menuju Bromo
Di mobil kami mulai bercerita tentang perjalanan, dan mulai merasakan lapernya perut. Yah berhubung ini termasuk desa kecil dan masih hutan environment, maka kami agak susah menemukan warung di pinggir jalan.

Akhirnya kami tertidur dan jam 11 malam sampai di kota Malang. Segera saja kami mencari restoran McD yang kemungkinan besar buka 24 jam. Untung ada teman yang pernah bekerja di Malang dan mengetahui lokasi pasti dari si McD. Selanjutnya kami tertidur lagi di mobil dan membiarkan Pak Supir membawa kami ke Gunung Bromo.

Hari ke-3: Mendaki Gunung Bromo
Sekitar pukul 1 pagi, akhirnya kami sampai di hotel di Bromo (lupa euy nama hotelnya). Yang pasti hotel ini sudah di-booking sebelumnya lewat telepon. Suasana dingin sudah mulai menusuk tulang. Masuk kamar langsung tidur dah, walopun ada beberapa teman yang masih sibuk mengeluarkan duri pohon-pohon yang tersangkut di kaki hasil warisan dari Pulau Sempu.

Pukul 03.30 WIB kami harus bangun lagi untuk menikmati indahnya sunrise. Serasa belum puas nih tidurnya. Tapi tetap aja harus bangun, gosok gigi dan berangkat dengan Jeep yang telah disewa sebelumnya. Kami menyewa Jeep 2 biji (masing-masing berisi 4 orang).

Di kamar hotel ini telah berkumpul penjual-penjual sarung tangan, kupluk, dan menyewakan mantel dsb. Tapi tidak disarankan membeli disini. Sebab harganya bisa 3-4 kali lebih mahal daripada toko-toko di daerah Gunung Bromo.

Tidak ingat lagi perjalanan dengan Jeep ini berapa lama, yang pasti semua penumpang sudah tertidur lagi. Pas bangun sudah berada di daerah Penanjakan. Udara dingin di Bromo cukup membuat tangan menggigil. Ini merupakan tempat yang sangat favorit bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan moment matahari terbit.


Gunung Batok.

Foto (c) Effendy Siawira, 2009

Setelah ini adalah waktunya sarapan dan kemudian dilanjutkan menuju kaki kawah Bromo. Jeep 4WD yang kami sewa ternyata tidak bisa membawa kami hingga ke tujuan. Untuk mencapai kaki Gunung Bromo masih berjarak sekitar 500 meter. Saat itu kami menyewa kuda dengan harga Rp 35.000,- bolak-balik. Cukup seru! Dari kaki kawah, kami harus memanjat anak tangga sebanyak 250 step untuk mencapai puncak Gunung Bromo.


Stairway to Mount Bromo.
Foto (c) Effendy Siawira, 2009

Setelah itu waktunya kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan mengepack barang bawaan untuk check out.

Jam 12 tepat, kami keluar dari hotel dan melaju menuju Malang. Lokasi wisata di Malang adalah Jatim Park. Tempat ini seperti Dufan-nya Jakarta. Tapi alangkah suramnya, tempat wisata ini tutup pada pukul 5 sore. Akhirnya kami hanya duduk dan foto-foto sesaat dan memutuskan untuk kembali ke Surabaya.

Hari ke-4: Pulang deh ke lokasi asal... Balikpapan, I’m coming! :)


Profil Kontributor
Effendy Siawira, geoscientist di sebuah perusahaan. Memiliki hobby travelling, petualang mengunjungi tempat baru, dan mencoba hal-hal yang baru. Tipe manusia yang tidak suka terikat dan melakukan sesuatu semaunya (dengan catatan tidak merugikan org lain, syukur-syukur kalau orang itu bisa ikut senang ^^). Paling senang berburu tiket promo dan merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, walaupun pada akhirnya belum tentu tiketnya dipakai. Motto hidup: "tidak ada yang lebih penting selain membangun networking". Tulisan Effendy lainnya dapat dikunjungi di blog pribadinya: UNEQ – ONUQ by effendy siawira.

Thursday, April 15, 2010

Mengapa Harus ke Luar Negeri?

Posting tamu oleh : Okvina Nur Alvita


“Ngapain sih buang-buang duit ke luar negeri? Di Indonesia juga banyak tempat bagus kok.”

“Ngelilingi seluruh Indonesia aja belum, ngapain harus ke luar negeri?”
Komentar seperti itu sering saya dengar dari beberapa orang saat saya sedang semangat-semangatnya ‘mengompori’ mereka untuk merencanakan traveling ke luar negeri. Syukur-syukur kalau mau traveling ala ‘gembel’ bersama saya. Bahkan ada yang bilang begini ke saya,
“Aku nggak bakalan ke luar negeri kecuali hanya untuk naik haji atau umroh.”
Saya tidak tahu apa alasan mendasar mereka sehingga tidak ingin pergi ke luar negeri. Kalau dari segi finansial sih rasanya bukan, karena yang bilang begitu rata-rata cukup mapan secara finansial. Cinta Indonesia? Mungkin. Tapi saya nggak yakin kecintaan mereka pada Indonesia melebihi saya (bangga nih ye… :D)

Memang, hanya sebagian kecil dari Indonesia yang sudah pernah saya jelajahi. Tapi itupun tidak mengurangi kecintaan saya pada Indonesia. Bisa dikatakan kalau saya salah satu orang Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Saya salah seorang batik lovers, saya sedang berusaha untuk memakai produk-produk dalam negeri, dan saya juga gencar ‘mengompori’ kawan-kawan saya untuk memakai produk dalam negeri juga. Namun demikian, saya selalu tertarik untuk pergi ke luar negeri. Entah itu untuk program pertukaran pelajar, student conference, melanjutkan jenjang pendidikan ataupun sekedar traveling saja.

Ada yang bilang kalau saya itu “luar negeri minded”. Tidak masalah bagi saya dengan sebutan itu karena saya memiliki beberapa alasan yang sangat make sense mengapa saya suka sekali dengan yang namanya luar negeri.

Saya akui, kalau hanya untuk menikmati alam dan ke tempat-tempat wisata saja, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Indonesia tercinta kita ini memiliki semuanya. Laut yang biru, pantai dengan pasir yang putih bahkan pink, gunung, hutan dengan berbagai vegetasinya, air terjun, danau, ngarai, panorama bawah laut, semuanya ada di Indonesia. Salju? Ada kok, tapi musti naik gunung Jayawijaya dulu. Hehehe… :D

Selain kekayaan alam, apa lagi yang dimiliki oleh Indonesia? Ya pastilah kekayaan budayanya. Kita memiliki identitas sebagai suatu negara dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Kita sangat kaya dengan warisan budaya yang berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke dan kita masih bisa mempertahankannya. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik kita bagi wisatawan asing. Lalu kalau semuanya Indonesia sudah punya, mengapa masih harus ke luar negeri? Inilah yang akan saya jelaskan.

Mengapa saya suka sekali ke luar negeri? Karena banyak sekali yang saya pelajari saat saya ke luar negeri. Berikut ini adalah daftar alasannya:
  1. Saya belajar memahami kebudayaan dan kebiasaan orang setempat. Saya memperhatikan bagaimana mereka bergaul, bagaimana mereka melakukan kegiatan sehari-hari dan bagaimana mereka beraktifitas. Semua hal itu tentunya berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh orang Indonesia pada umumnya.

  2. Saya belajar etos kerja negara lain. Saya belajar tentang bagaimana negara-negara maju sangat menghargai waktu dan bagaimana semuanya harus terjadwal dengan baik sekaligus dibarengi dengan disiplin yang tinggi.

  3. Saya mengagumi ke-"modern”-an negara yang lebih maju dari Indonesia dan selalu berpikir, kapan ya Indonesia bisa seperti itu? Ini bisa jadi pemicu bagi kita untuk berkotribusi demi kemajuan bangsa ini.

  4. Saya bersyukur jadi orang Indonesia saat berada di negara yang di bawah (lebih miskin dari) Indonesia. Walaupun dengan semua permasalahan yang sedang membelenggu negeri kita tercinta ini, tapi saya bersyukur menjadi warga negara Indonesia, bukan warga negara lain.

  5. Saya memperhatikan penduduk lokal dan ekspresi-ekspresi muka mereka. Saya suka sekali melihat wajah-wajah penduduk lokal dan ekspresi-ekpresi wajah yang mereka tunjukkan karena itu merupakan cerminan dari negara mereka.

  6. Saya membandingkan apa yang negara lain punya dan apa yang tidak Indonesia punya serta bagaimana cara mereka (negara lain) meraih itu. Emang dasar saya orangnya suka memperhatikan segala sesuatu, sekecil apapun itu, saya jadi suka membandingkan Indonesia dengan negara yang saya kunjungi. Saya membandingkan Indonesia bukan untuk mengejek ketertinggalan kita, tapi untuk mencari tahu bagaimana caranya negara tersebut bisa meraih sesuatu yang kita belum mampu meraihnya?

  7. Saya menjadi lebih bangga jadi orang Indonesia dengan semua keunikan yang dimiliki oleh Indonesia.

  8. Di luar semua itu, banyak sekali pengalaman berharga yang akan kita dapat saat kita di luar negeri.
Intinya, ke luar negeri nggak hanya sekedar jalan-jalan, tapi otak dan pemikiran kita juga ikut “jalan-jalan”. It change our mind set and our point of view of life. Inilah yang mahal harganya dan tidak bisa dibayar dengan nominal angka, tapi dengan pemahaman yang lebih holistik tentang kehidupan.

Bogor, 27 Maret 2010 20:12
~Okvina Nur Alvita

+ + + + +

Image credit (c) Aneta Blaszczyk


Profil Kontributor
Okvina Nur Alvita, akrab disapa Vina, seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah institusi negeri di Bogor dan ingin melanjutkan studi S2 di bidang child and youth studies. Salah satu keinginannya adalah mengembangkan pendidikan holistik berbasis karakter di sekolah konvensional yang ada di Indonesia. Dua hal yang paling disukai oleh Vina adalah menulis dan traveling. Yang pasti, menurutnya hidup haruslah bermanfaat untuk orang lain. Tulisan Vina lainnya dapat disimak di blog pribadinya: Ladies Traveler - all about my travel experiences.

Wednesday, April 14, 2010

Tirtosari Waterfall, Sarangan

Close with Lake of Sarangan, there is the entrance to the waterfall. There are three waterfalls that you can visit here is a waterfall called Watu Ondo, Kiwo shoulders, and Jarakan. Near the entrance to one of these waterfalls, a former aircraft used as a monument to remember Sarangan Regency Madiun neighbor who is a Main Air Force Base.

The road to the waterfall is not difficult, even half-way could be done by car. The trip to the waterfall will be a fun trip. You will pass the mountain slopes are used for plantation. You can see a variety of vegetables that are probably rare in the city. You can also dip your toes into the cool clear water and fresh which is used for irrigating crops. This could be an interesting means of learning for your child.

Rabbit Satay Sarangan

After being around, you can order rabbit satay and rice cake that many offered around this lake. Satay is rarely encountered in other areas worthy of you try this, because with a soft and tender meat that can make you addicted. The price offered Rp 7,000 / share, the price is quite affordable for your pockets. Other foods that can be enjoyed here ispecel rice . Sarangan areas neighboring the famous Madiun with herbs and chilli pecel. this Pecel be special because peanut flavor plus a variety of fried delights as complementary.

Tuesday, April 13, 2010

Daftar Negara Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Salah satu hal yang saya dan teman-teman perhatikan saat merencanakan backpacking ke luar negeri adalah: Mencaritahu mana saja negara-negara BEBAS VISA bagi pemegang paspor Indonesia.



Tujuannya? Supaya tidak ada biaya pengurusan visa, tentunya. Lumayan, kan budget jalan-jalan jadi lebih gede. Hehehe...



Catatan Penulis : Berhubung saya belum pernah mengurus visa, jadi artikel ini tolong diralat aja ya kalau ada yang salah. Masih amatiran nih, hehehe. Ini penangkapan saya saja dari baca-baca informasi di internet.





Visas on a Passport.

sumber : fotosearch.com



Pertama, apa sih "Visa"?

"Visa adalah sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh sebuah negara memberikan seseorang izin untuk masuk ke negara tersebut dalam suatu periode waktu dan tujuan tertentu." - Wikipedia



Kemudian ada istilah "bebas visa" dan ada "visa on arrival".



Bebas visa, artinya hanya perlu paspor saja untuk masuk ke negara tersebut.



Visa on Arrival (VoA), artinya setelah pemegang paspor tiba di bandara negara yang menerapkan VoA, pemegang paspor diwajibkan untuk mengurus visa dan membayar sejumlah biaya administrasi untuk bisa masuk ke dalam negara tersebut. Jadi, tidak perlu mengajukan permohonan visa ke Kedubes di negara asal, karena bisa langsung mengurus di negara tujuan. Biasanya VoA ini diperbolehkan untuk kunjungan singkat saja, seperti berlibur atau kunjungan sosial.



Dari berbagai sumber yang saya temukan, ada beberapa negara BEBAS VISA bagi pemegang paspor Indonesia (telah ditandai dengan cetak tebal):



Asia

  1. Brunei : 14 hari
  2. Kamboja : 30 hari (VoA)

  3. Hong Kong : 30 hari
  4. Iran : 7-15 hari (VoA dengan Surat Sponsor)
  5. Yordania : 30 hari (VoA)
  6. Laos : 15-30 hari (VoA)
  7. Macau : 30 hari
  8. Malaysia : 30 hari
  9. Maladewa/Maldives : 30 hari (VoA)
  10. Nepal : 30-60 hari (VoA)
  11. Oman : 30 hari (VoA)

  12. Filipina : 21 hari
  13. Singapura: 30 hari
  14. Sri Lanka : 30 hari (VoA)
  15. Thailand : 30 hari
  16. Timor Leste : 30 hari (VoA)
  17. Vietnam : 30 hari
Afrika

  1. Maroko : 90 hari
  2. Mozambique : 30 hari (VoA)

  3. Seychelles : 30 hari
  4. Tanzania : 3 bulan (VoA)

  5. Tazmania : 3 bulan (VoA)
  6. Zimbabwe : 3 bulan (VoA)
Oseania

  1. Kepulauan Cook : 31 hari

  2. Fiji : 120 hari
  3. Mikronesia : 30 hari

  4. Niue : 30 hari (VoA)

  5. Palau : 30 hari (VoA)
  6. Samoa : 60 hari
Amerika Selatan

  1. Chile : 90 hari
  2. Kolombia : 90 hari
  3. Ekuador : 90 hari

  4. Haiti : 3 bulan

  5. Peru : 90 hari

Amerika Utara

  1. Bermuda : 90 hari
  2. Saint Vincent & Grenadines : 1 bulan
Eropa

  1. Armenia : 120 hari (VoA)

  2. Georgia : 90 hari (VoA)

  3. Kosovo : 90 hari
  4. Turki : 30 hari



Yak! Ternyata banyak juga ya?? Mudah-mudahan informasinya bener nih. Karena dari berbagai sumber jadi banyak yang beda-beda juga informasinya. Jadi nanti dicek ulang lagi aja ke website negaranya ya.



Sebagai catatan, pastikan paspor Anda memiliki masa berlaku minimal 6 bulan sebelum hari keberangkatan. Seringkali imigrasi menolak paspor yang masa berlakunya sebentar lagi habis.



Ada yang mau menambahkan informasi?



Kredit: Beberapa gambar dipinjam dari dreamstime.




+ + + + +



Referensi:

Bogani Nani Wartabone National Park



Sulawesi land full of the variety of beauty and natural wealth of potential to develop as a natural tourist attraction like the Province of Gorontalo. On the border of Gorontalo and North Sulawesi, there is a National Park that holds a variety of natural wealth of Sulawesi having a typical beauty. National Park was named the National Park of Bogani  Nani Wartabone(TNBNW).

National Park,Bogani Nani Wartabone in Gorontalo previously named Dumoga Bone, having many Nature Tours such Kosinggolan, Toraut, Lombongo, Tambun, Matayangan and various ecological uniqueness as a transitional geographic area Indomalayan at the west and Papua-east Australia (Wallaceae Area) .

National Park,Bogani Nani Wartabone (TNBNW) Area is for about 287,117 hectares with 177,115 hectares in Bolaang Mongondow and 110,000 hectares in Gorontalo. TNBNW located at an altitude between 1500-2000 meters above sea level and has a high rainfall between 1700 -2200 mm / year. Significant height range  makes TNBNW has four types of ecosystem, such as secondary forests, lowland rain forest, rainforest and mountain moss forest. TNBNW region upstream area  of 2 important rivers in the area, namely the Onggak Dumoga River  and Bone-Bolango.

Unique and rare plants in the National Park Bogani Nani Wartabone  which is matayangan palm  (Pholidocarpus ihur), ebony (Diospyros celebica), ironwood (Intsia spp.), Yellow wood (Arcangelisia flava) and carrion flower (Amorphophallus companulatus). While the common plants are such as Piper aduncum, Trema orientalis, Macaranga sp., Chrysolite, agathis, Cananga, various types of orchids, and ornamental plants.

the National Park Bogani Nani Wartabone has 24 species of mammals, 125 aves species, 11 species of reptile, 2 amphibian species, 38 species of butterflies, 200 species of beetles, and 19 species of fish.
Most of the existing wildlife in national parks are a typical animal / endemic of Sulawesi island, such as black  crested black / macaques (Macaca nigra nigra),Dumoga bone monkeys (M. nigrescens), Tangkasi (spectrum Tarsius spectrum), Sulawesi civet (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii) big buffalo (Bubalus depressicornis), small buffalo (B. quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa celebensis), and various species of birds.

Bird wildlife into the park's mascot is maleo (Macrocephalon maleo), and bone kelelewar (Bonea bidens) as endemic wildlife park.

Maleo body size is similar to the chicken, but the eggs weight 6 times of chicken eggs. Maleo laying their eggs in the soil / sand 30-40 cm, and usually located adjacent to the hot springs. With this geothermal maleo eggs hatch. The exit of the maleo child  from the sand, running into maleo child to the wild ( one day age),peep the parent which was digging hole; is one interesting animal attractions for tourists.


The route to get the National Park Bogani Nani Wartabone from Gorontalo city are 20 km . This distance can be traveled in less than 1 hour by car 4 wheels . Although not available yet complete supporting facilities, TNBNW area already has several facilities including the guest house, laboratory researcher homestead, a path, the cottage work, guardhouse, camping ground, research stations, shelters. Are you interested?

Monday, April 12, 2010

Waterfall and Rabbit Satay Sarangan

Close with Lake of Sarangan, there is the entrance to the waterfall. There are three waterfalls that you can visit here is a waterfall called Watu Ondo, Kiwo shoulders, and Jarakan. Near the entrance to one of these waterfalls, a former aircraft used as a monument to remember Sarangan Regency Madiun neighbor who is a Main Air Force Base.

The road to the waterfall is not difficult, even half-way could be done by car. The trip to the waterfall will be a fun trip. You will pass the mountain slopes are used for plantation. You can see a variety of vegetables that are probably rare in the city. You can also dip your toes into the cool clear water and fresh which is used for irrigating crops. This could be an interesting means of learning for your child.

Rabbit Satay Sarangan

After being around, you can order rabbit satay and rice cake that many offered around this lake. Satay is rarely encountered in other areas worthy of you try this, because with a soft and tender meat that can make you addicted. The price offered Rp 7,000 / share, the price is quite affordable for your pockets. Other foods that can be enjoyed here ispecel rice . Sarangan areas neighboring the famous Madiun with herbs and chilli pecel. this Pecel be special because peanut flavor plus a variety of fried delights as complementary.

Sunday, April 11, 2010

East Java Trip : Journey to Surabaya - Sidoarjo - Sempu - Bromo - Malang - Batu (Part-1)

Posting tamu oleh : Effendy Siawira

Long weekend telah tiba. Tanggal merah di hari Kamis disusul oleh hari kerja kejepit akan menggoda setiap orang untuk mengambil cuti dan menghilang dari kantor sejak Kamis hingga Minggu.

Perjalanan saya dimulai dari Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Hiruk pikuk di bandara sudah mulai terlihat pada pukul 09.00 WITA tanggal 26 Maret 2009, mencerminkan bahwa para manusia di kota itu telah bersiap-siap untuk menikmati liburannya.

Setelah menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya pesawat yang akan saya tumpangi telah siap untuk diberangkatkan. Para penumpang dipersilahkan masuk dengan menunjukkan boarding pass + kartu pengenal (KTP/SIM/Paspor).

Durasi penerbangan 1,5 jam dan berhubung waktu di Surabaya adalah 1 jam lebih lambat dari Balikpapan, maka saya tiba di Bandara Juanda, Surabaya pada pukul 10.30 WIB. Suhu di darat dilaporkan 29 derajat Celcius seolah-olah memberi peringatan bahwa jika tidak ada kepentingan di luar, maka cukup stay saja di dalam ruangan ber-AC.

Perjalanan kali ini diikuti oleh 8 orang dengan komposisi: 5 orang dari Jakarta, 1 orang dari Balikpapan, dan 2 orang adalah tuan rumah di Surabaya, dengan rute yang telah disepakati: Surabaya – Sidoardjo – Malang – Pulau Sempu - Gunung Bromo – Batu – Surabaya.

east java trip
Rute : Surabaya - Lumpur Sidoarjo - Pulau Sempu -
Gunung Bromo - Malang - Batu.


Suasana Bandara Juanda juga ramai tanpa terpengaruh Hari Raya Nyepi yang jatuh pada hari tersebut, tetapi kondisi masih bisa diimbangi dengan luasnya gedung terminal sehingga tidak terasa sumpek. Kalau mau dinilai, bandara ini lebih bagus dari Polonia Medan loh… :)

Untuk memastikan waktu kedatangan team dari Jakarta, saya menghubungi si H, eh ternyata pesawat mereka delay 20 menit dari waktu yang seharusnya jam 11.30 WIB. Yang artinya saya harus menunggu +/- 3 jam dari waktu sekarang. Kartu kredit baru di-downgrade to silver, lagi. Jadinya gak bisa menumpang di airport lounge.

Akhirnya cuma bisa muter-muter di ruang tunggu saja sambil menunggu A dan R yang sudah dalam perjalanan menuju airport. Suasana menunggu tidak terasa lama, sebab ada teman, si F, yang berbaik hati menemaniku di telepon, hehe… Thanks.

A & R datang sekitar pukul 1 siang dan memutuskan untuk makan di RM Padang sambil menunggu team dari Jakarta. Setelah menunggu cukup lama, sekitar 14.10 terdengar informasi bahwa pesawat GA xx dari Jakarta telah mendarat. Akhirnya penantian kami berakhir sekitar pukul 3 siang. Team telah lengkap!

Dengan menumpang Innova milik A & R. Oiya, si A & R ini adalah pasangan baru, SELAMAT yahh! Kami meluncur untuk makan siang lagi di Mie 55. (Teman-teman dari Jakarta belum makan nih. Kasian!)

Hari ke-1 : Berkeliling Kota Surabaya

Jadwal hari pertama ini adalah seputaran kota Surabaya. Demi menghormati para “pahlawan devisa” yang telah berkontribusi besar dalam pembayaran cukai, maka kami mengunjungi Museum Sampoerna.

Sesaat gerbang masuk museum dibuka, sudah tercium bau tembakau yang menyengat. Bagi yang bukan ahlinya pasti akan sulit membedakan mana yang dipakai untuk “Sejarah Cita Rasa Tinggi” ato “How Low Can You Go”. Dalam ruangan terdapat berbagai jenis tembakau, cengkih, sepeda zaman kuno, sado/delman tanpa kuda, becak, warung-warung pinggir jalan yang dilengkapi dengan barang-barang kelontong, timbangan sampai dengan kotak korek api dari zaman dahulu.

Bangunan ini berlantai 2, di mana lantai atas ini digunakan untuk menjual souvenir. Di lantai atas kita bisa melihat ruang kerja para pemelintir rokok. Sangat disayangkan kami datang pada saat hari libur, dimana para karyawan sedang libur. Keinginan untuk melihat cara memelintir rokok tidak terkabul!

Selanjutnya menuju ke Sanggar Agung yang terletak di Surabaya Timur. Tempat ini berada di dalam Kompleks Kenjeran Park yang konon merupakan stadion olahraga yang bagus puluhan tahun yg lalu.

Di Sanggar Agung terdapat “Four Faced Buddha” yang gede banget, dan di sampingnya ada Dewa Ganesha. Tentu saja, teman-teman (termasuk saya) tidak mau ketinggalan untuk berfoto bersama Sang Ganesha yang sudah tidak asing lagi dan juga merupakan sosok yang telah menemani masa-masa kami menimba ilmu.

Lokasi yang dekat dengan laut ini terdapat arca Dewi Kwan Im yang sangat besar dan letaknya sangat tinggi, seolah-olah sang dewi datang dari khayangan menghampiri Sanggar Agung. Keren! Sayangnya langit telah gelap, sehingga kami tidak mendapatkan foto yang bagus untuk lokasi ini.

Jam di tangan telah menunjukkan 19.30, artinya waktu yang tepat untuk makan malam. Sesuai dengan ritual orang yang baru mengunjungi Surabaya, maka kami makan bebek goreng di BKT (Bebek Kayu Tangan), Jl. Bratang Gede. Disini menyediakan bebek/ayam dengan harga Rp12.000/potong ato Rp50.000/ekor. Harga yang cukup kompetitif.

Nah, tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi di sini adalah adalah Gang Dolly. Penasaran dengan sebutannya yang merupakan red district terbesar se-Asia Tenggara, membuat kami tidak sabaran untuk segera membuktikan kebenaran apa yang telah disebut-sebut orang selama ini.

Waktu masih terlalu sore untuk melihat aktivitas di sana, jadi kami memutuskan untuk singgah di Sutos (Surabaya Town Square). Ini merupakan salah satu mall dengan konsep semi-outdoor. Kata salah seorang teman, ini mirip-mirip ama Paris Van Java Mall di Bandung. Kami cuma berkeliling sebentar dan kemudian sudah waktunya untuk menuju red district. Cabuttzz..

Satu belokan lagi menuju lokasi target. Kami telah siap dengan kondisi mata yang sigap. Wow… sangat-sangat menakjubkan. Di sepanjang kiri-kanan tertampang etalase-etalase yang berisi kaum hawa. Tadinya mau foto dari dalam mobil, tapi serem juga kalo para bodyguard di sana berang. Mana jalanan sempit lagi.

Akhirnya kami cuma lewatin jalan itu sebanyak 2 kali dan kemudian pulang ke rumah A&R di Ciputraland “The Singapore of Surabaya” untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk berpetualang esok harinya.

Bersambung ke East Java Trip : Journey to Surabaya - Sidoarjo - Sempu - Bromo - Malang - Batu (Part-2)

+ + + + +

Kredit: Beberapa foto dipinjam dari House of Sampoerna dan EastJava.com



Profil Kontributor
Effendy Siawira, geoscientist di sebuah perusahaan. Memiliki hobby travelling, petualang mengunjungi tempat baru, dan mencoba hal-hal yang baru. Tipe manusia yang tidak suka terikat dan melakukan sesuatu semaunya (dengan catatan tidak merugikan org lain, syukur-syukur kalau orang itu bisa ikut senang ^^). Paling senang berburu tiket promo dan merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, walaupun pada akhirnya belum tentu tiketnya dipakai. Motto hidup: "tidak ada yang lebih penting selain membangun networking". Tulisan Effendy lainnya dapat dikunjungi di blog pribadinya: UNEQ – ONUQ by effendy siawira.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting