Sunday, April 11, 2010

Lake Of Sarangan

Panorama of  Telaga Sarangan will pamper your eyes, because you can see a vast lake and Sidoramping green hills around Lawu Mount. Coupled with a calm lake water which is a mirror from the mountains and the mountains around it. Staring at a row of mountains and mountain here also make sense of calm and peace coupled with the cool mountain air with temperatures around 18-23 degrees Celsius. you can enjoy Cool mountain air as Sarangan Lake lies at an altitude of about 1000 meters above sea level.

 East Java Around the Lake of Sarangan

On the edge of the lake provided the water cycle that resembles a duck and a boat. This can be a means for you who want to round the lake through the water. Or you can go around by horse or cart offered locals people there. Surely this can be fun for your baby. Or for you who want to exercise, you can surround this lake by walking or running. You will also find a pine forest on the slopes of the mountains around Lake of Sarangan. The atmosphere is cool and beautiful will definitely make a fun sport.

Marchandise from Lake of Sarangan

After satisfied from the tour in the Telaga Sarangan , before back, you can shop souvenirs from Telaga Sarangan. You can buy bags, shirts or other crafts that are the result of art desaign of the local community.

From Telaga Sarangan, if you're heading west or central Java, you will find Karanganyar district, Central Java, which famous with its  natural attractions Grojogan Sewu. Meanwhile, if heading east, you can stop at the Madium City to buy souvenirs like typical Madison pecel brem and a delicious sauce.

a beautiful lake Sarangan is perfect for your holiday with family. Enjoy your vacation in Lake Sarangan, beautiful natural attractions and fascinating!

Saturday, April 10, 2010

Feels Like Snow in White Crater

The white crater is located on Mount of Patuha ,  a mountain in West Java. Altitude of this mountain is 2386 meters. The crater of Patuha Mount  is used as an attractive tourist object with a crater of White.

After parking the vehicle, we had to descend the stairs in order to be closer to the crater of this mountain. Our hearts will immediately chuckled amazed to see the whole of this place from above. In these places, we can indeed be closely located in the crater;  we could even touch the water.

When we go down, we will see incredible scenery in the crater. White soil which consists of sulfur is the reason why the crater is called the White Crater. How unique this white land is. Uneven ground surface as well so as to resemble the mounds the ground. Craters greenish water also attracts attention. All around, there are mountains that some of it is dry but there is also the still green trees.

We can climb  surrounding the mountains. In this mountain, we will find dry trees and many branches of the trees that fell with small stones. We can also see the crater from above.

craters is Sufficiently large  here. Water color can vary depending on the sunlight. The smoke arising from sulfur water sometimes blocking our view. The water also caused the smell of sulfur. When the wind is blowing, the smell of sulfur can pierce our noses and make us cough. So, there are several points on this crater is not fitted with a warning to avoid getting too close to the sulfur smoke poisoning.

This crater gives us a different experience. We are like being in the snow because the ground is white. Large craters and bluish-green water that makes us as if were on the beach. The trees are mostly only the stems are dry and participate in creating a different atmosphere. Here, there are big stones which are so beautiful. The beauty is what makes this place became a favorite place for prospective brides to make photo prewedding.

Friday, April 9, 2010

36 Cara Praktis Untuk Menghemat Biaya Jalan-Jalan



Jalan-jalan tidak perlu menghabiskan banyak uang, apalagi jika tujuannya adalah untuk mencari dan menemukan pengalaman baru. Di bawah ini ada beberapa tips untuk menghemat biaya jalan-jalan Anda:

36 Cara Praktis Untuk Menghemat Biaya Jalan-Jalan



PERSIAPAN DARI RUMAH
(1) Riset, riset, riset sebelum bepergian - Jangan sepelekan riset sebelum Anda bergerak untuk membeli tiket pesawat. Contohnya: Seorang teman telah berencana untuk berlibur ke Bali pada suatu akhir pekan, sesampainya di sana ternyata semua objek wisata tutup dan hanya bandara yang beroperasi. Tahukah Anda mengapa? Karena teman saya datang pada waktu Hari Raya Nyepi. Saat di mana selama 24 jam semua warga Bali dilarang untuk beraktivitas, bahkan untuk menyalakan lampu. Akhirnya liburan teman saya pun hanya dihabiskan di bandara saja. Meluangkan waktu untuk mencari informasi tentang destinasi wisata akan menghemat banyak waktu dan uang Anda.

(2) Tentukan budget jalan-jalan Anda - Satu hal yang penting untuk mengontrol pengeluaran yang tidak perlu adalah menentukan budget jalan-jalan Anda. Tentukan budget minimal yang diperlukan untuk transportasi, akomodasi, dan biaya makan sehari-hari, kemudian lebihkan sekitar 30% untuk jaga-jaga. Dengan adanya budget awal, Anda akan mendapat batasan dan terhindar dari biaya-biaya yang tidak perlu.

(3) Pantau harga dollar - Biasanya saya menggunakan www.xe.com untuk melihat kurs terbaru. Apabila kebetulan dollar sedang jatuh, ada baiknya Anda segera membeli dollar. Untuk penukaran dalam jumlah besar, satu sen pun amat berarti.

(4) Pantau promosi tiket pesawat murah - Sekarang ada banyak sekali penerbangan yang memberikan promo besar-besaran, bahkan hingga 0 rupiah. Tentunya 0 rupiah ini adalah taktik marketing, sehingga Anda perlu mencermati syarat-syaratnya agar tidak kecewa di kemudian hari. Apabila Anda telah sepakat dengan segala konsekuensinya, promo ini mungkin cocok untuk Anda. FYI, teman saya pernah mendapatkan tiket pesawat senilai total Rp30.000,- (termasuk pajak) untuk sekali jalan ke Singapura.


TRANSPORTASI

(5) Jadilah fleksibel terhadap waktu keberangkatan dan destinasi wisata - Untuk tiket transportasi biasanya lebih murah apabila kita berangkat/pulang di hari kerja daripada saat akhir pekan. Contoh: Berangkat pada hari Selasa biasanya lebih murah daripada berangkat di hari Sabtu.

(6) Pesan tiket di jauh-jauh hari DAN bandingkan harga tiket antara satu maskapai penerbangan dengan yang lainnya - Seringkali maskapai penerbangan memberikan diskon apabila kita booking tiket di jauh-jauh hari, lakukanlah ini dan kemudian cek harga antara penerbangan yang satu dengan lainnya.

(7) Gunakan transportasi publik untuk mengunjungi berbagai tempat wisata - Hindari taksi sebisa mungkin, gunakan moda transportasi lokal untuk mendapatkan pengalaman hidup seperti warga setempat.

(8) Gunakan kaki sebagai alat transportasi jika masih memungkinkan - Datangi objek-objek wisata yang dekat dengan penginapan Anda dengan berjalan kaki, oleh karena itu pesanlah penginapan yang strategis dan dekat dengan objek wisata yang ingin Anda datangi.

(9) Gunakan kereta atau bus untuk perjalanan jauh - Apabila Anda memiliki banyak waktu Anda dapat memilih opsi ini. Daripada menggunakan pesawat, lebih baik Anda menggunakan kereta atau bus yang biasanya lebih murah dari tiket pesawat. Dengan menggunakan kereta/bus, Anda sekaligus dapat menikmati pemandangan di luar sana.

(10) Gunakan transportasi malam - Anda dapat tidur di dalam kereta/bus malam, untuk menghemat biaya menginap. Efektif apabila diterapkan untuk perjalanan jauh yang menghabiskan waktu berjam-jam.

(11) Bertanyalah kepada staf hostel/guesthouse - Tanyalah kepada mereka mengenai biaya standar transportasi dalam kota, dengan begitu Anda akan menghindari penipuan yang sering dilakukan oleh pengemudi kendaraan umum terhadap turis.

(12) Hindari bagasi dan biaya porter dengan travel light - Hindari membayar lebih untuk ekstra bagasi dengan membawa barang seperlunya saja, sehingga muat untuk dibawa ke dalam kabin. Anda pun terbebas dari antrian untuk check-in bagasi dan tidak perlu repot-repot menggunakan bantuan porter.

(13) Gunakan kartu berlangganan - Kartu berlangganan (contoh: EZlink untuk MRT di Singapore) amat berguna apabila Anda akan sering menggunakan transportasi publik. Hal ini pun akan mengatasi kerepotan karena perlunya menukarkan uang kecil untuk transportasi.


AKOMODASI

(14) Cari penginapan murah yang layak, kemudian bandingkan harga booking online DAN booking langsung dari website aslinya - Gunakan hostelworld.com dan website sejenis untuk mencari penginapan murah. Sebelumnya jangan lupa untuk memeriksa website penginapan yang telah kita pilih, karena terkadang lebih murah apabila kita booking langsung dari website aslinya. Ada pula beberapa situs yang menawarkan potongan harga sampai setengahnya jika Anda memesan lewat situs tersebut, termasuk untuk hotel di Bali. Kemudian lebih bagus lagi jika Anda mendapatkan penginapan yang menyediakan sarapan gratis untuk menghemat biaya makan. Anda dapat melihat beberapa review akomodasi di website ini.

(15) Cari penginapan yang strategis - Penginapan yang dekat dengan berbagai objek wisata akan tentunya menghemat biaya transportasi.

(16) Coba Couchsurfing - Apabila Anda tertarik untuk melebur dengan warga lokal dan mencoba mengikuti gaya hidup mereka, Anda dapat mencoba Couchsurfing.

(17) Bermalam di bandara - Opsi ini dapat dilakukan apabila Anda memiliki waktu transit yang lama ke penerbangan lanjutan. Lihat website Sleeping in Airports untuk tips-tips bermalam di bandara beserta informasi detailnya.


MAKANAN
(18) Belanja makanan dan minuman di toko kelontong lokal - Belilah cemilan, bahan masakan, maupun buah-buahan dari warung maupun toko kecil, daripada membelinya di toko yang lebih besar ataupun 7-11. Belilah air mineral dalam botol besar daripada membeli banyak dalam botol kecil.

(19) Bawalah makanan & botol air minum Anda sendiri - Saya dan teman-teman biasanya membawa snack, makanan (abon, selai, sambal sachet, dan sebagainya) dari rumah, ternyata hal ini amat menghemat biaya jalan-jalan kami.

(20) Makanlah di restoran lokal atau kaki lima - Terkadang tempat makan unik dan favorit hanya diketahui oleh penduduk lokal. Tanyalah kepada warga lokal yang Anda temui di jalan.

(21) Hindari minibar - Apabila Anda menginap di hotel yang memiliki minibar, pastikan Anda tidak mengambil apapun dari dalam kulkas, pajak hotel biasanya amat besar. Lebih baik Anda beli langsung dari supermarket lokal.


TUJUAN WISATA
(22) Rencanakan rute secara efektif dan efisien - Menggunakan Google Earth untuk merencanakan rute perjalanan akan menghemat waktu dan uang Anda.

(23) Jadilah tour-guide Anda sendiri - Buat buku panduan wisata Anda sendiri dengan mengandalkan internet.

(24) Ambil peta gratis di tourist information center - Banyak disediakan peta gratis di bandara internasional maupun hotel, informasinya pun tidak kalah lengkap dengan peta yang dijual di toko. Sebagai gantinya, biasanya peta gratis ini berisi banyak iklan.

(25) Cari info objek wisata gratis - Banyak objek wisata menarik yang tidak memerlukan biaya tiket masuk (entrance fee). Googling dan mencari info mengenai hal ini akan menghemat uang Anda cukup besar.

(26) Prioritaskan objek wisata yang ingin didatangi - Seringkali objek wisata terkenal menetapkan tarif masuk yang tinggi. Tidak ada salahnya apabila Anda amat ingin mendatangi objek wisata tersebut, yang perlu Anda lakukan adalah mengimbanginya sesuai dengan budget jalan-jalan Anda.

(27) Hindari tourist spot sebisa mungkin - Semua yang ada di tourist spot pada umumnya mahal. Batasi pengeluaran Anda semaksimal mungkin dengan membawa sendiri bekal dari rumah dan tahan keinginan Anda untuk membeli souvenir di dalam tourist spot ini, karena dapat dipastikan harganya akan sangat mahal dibandingkan Anda membelinya di tempat lain.

(28) Hindari paket wisata jika memungkinkan - Paket tur terkadang hanya melelahkan dibanding menyenangkan, karena jatah waktu untuk menjelajahi sebuah objek wisata seringkali dibatasi, sehingga terkadang kita merasa kurang puas. Untuk itu, sewalah kendaraan lokal untuk menjelajahi lingkungan tempat Anda berada, contohnya seperti sepeda, sepeda motor, tuk-tuk, atau angkot.


BELANJA
(29) Definisikan ulang konsep Anda tentang "oleh-oleh" - Oleh-oleh tidak perlu mahal, yang penting berkesan. Beberapa oleh-oleh yang murah namun tetap unik adalah kartu pos, bros, gantungan kunci, T-Shirt, scarf, coklat, cemilan tradisional. Carilah oleh-oleh yang mencerminkan lokalitas daerah setempat. Jadilah kreatif.

(30) Belilah oleh-oleh di pasar tradisional DAN tawar harga semurah mungkin - Menawar harga di pasar tradisional adalah hal yang wajar, gunakan keahlian menawar terbaik Anda dan Anda tidak akan menyesal. Tips untuk menawar: Tawarlah 50% dari harga awal. Tapi lihat juga dari kualitas dan harga awal barangnya, jangan sampai Anda menawar keterlaluan karena akan menyinggung si penjual.


KOMUNIKASI
(31) Cari lokasi yang menyediakan internet gratis atau WiFi - Pilihlah penginapan yang menyediakan layanan internet gratis, atau apabila tidak ada, biasanya fasilitas internet gratis tersedia pula di kafe atau kedai kopi (seharga satu cangkir kopi). Carilah penawaran terbaik sebelum Anda login internet.

(32) Gunakan Skype - Untuk telepon keluar kota maupun negeri, gunakanlah Skype untuk menghemat biaya komunikasi.

(33) Belilah SIM Card dengan nomer lokal - Apabila Anda akan sering menggunakan telepon selular, membeli SIM Card dengan nomer lokal merupakan keputusan bijak. Dengan demikian Anda akan menghemat biaya untuk penggunaan telepon domestik.


CARA HEMAT LAINNYA
(34) Hindari menukar uang di bandara dan spot wisata terkenal - Biasanya money changer di dalam bandara akan memberikan kurs terendah, maka lebih baik Anda mencari bank atau money changer di dalam kota untuk menukar mata uang.

(35) Cucilah baju Anda sendiri - Bawalah deterjen dari rumah dan cuci baju Anda sendiri, daripada menggunakan laundry service selama di perjalanan.

(36) Gunakan kartu identitas mahasiswa/i dan tanyakan potongan harga untuk manula - Apabila Anda masih pelajar, Anda beruntung, banyak tempat yang menawarkan potongan harga untuk pelajar. Apabila Anda traveling dengan manula, Anda pun mungkin akan mendapatkan senior discount juga. Pastikan Anda menanyakan mengenai hal ini.


+1 TIPS TAMBAHAN...
Ada satu tips tambahan yang saya kutip dari NPR: "Nine Tips To Travel Cheap (But Not Stupid)":

(37) Don't Be Too Cheap - Jangan kelewat murahan ataupun keterlaluan dalam berhemat, karena nantinya Anda sendiri yang akan menyesal. Jangan lupakan bahwa konsep backpacking adalah "membeli pengalaman".
"You can go through a lifetime of regret for being too cheap," Weissmann says.

He knows from experience. He says he was backpacking in Egypt when he found himself in Luxor, near the Valley of the Kings. The admission price was $20, which was his entire budget for the day.

"There were budget travelers saying, '$20? What a ripoff,'" he remembers.

But Weissmann says he paid the fee. "I was cheap, but I wasn't stupid," he says.

Prepare Budget Carefully.
sumber: inmagine


Last but not least:
Nikmatilah perjalanan Anda.
:)

Ada yang mau menambahkan?


Catatan penulis: Artikel di atas memiliki beberapa tautan dengan tujuan advertorial sebagai bentuk support terhadap situs TBN.


Kredit: Gambar dipinjam dari dreamstime, bigstock, dan inmagine.

The Beautiful Sun Rise in Bromo Mountain

Cold, so you'll feel when you first get out of the car. The temperature here reached 10 degrees to 0 degrees Celsius even during the night untill morning. So, you should prepare for cool clothes, kupluk hats, gloves, socks, scarves to cope. But, if you forget about the equipment, there are many sellers that offer merchandise such as hats, gloves, or scarves.

 The beautiful Sunrise view of Bromo
Regular visitors visiting this area since the early days with the aim of seeing the rising sun. To view them, you have to climb Pananjakan Mount which is the highest mountain in the region. The area which should pass to get Pananjakan Mount is a heavy field. To reach the foot of Mount of  Pananjakan, you have to go through the desert-like area that can make you get lost. We had to climb Mount of Pananjakan, narrow roads and lots of sharp turns would require a high driving skill. For that reason, many visitors who choose to rent a car Hardtop (jeep type) driven by the community. Surrounding communities come from Tengger tribe which so  friendly with the visitors.

above, there are many shops serving coffee or hot tea and a bonfire to warm our bodies while waiting for the sun. There are also stores that rent warm clothing. Watching the sunrise is an interesting event. The proof, the visitors are willing to wait since 5 o'clock in the morning facing east so as not to lose this moment. You were not always able to see this event, because if the sky is cloudy , the appearance of the sun is not seen clearly. However, when the sky is clear, you can see the roundness of the sun in the first place only as small as a match pins, slowly enlarge and eventually form a full circle and give information so that we can see mountains scenery in this area. Among others, Mount of Bromo, Mount of Batok, or Mount of Semeru is the highest mountain in Java Island.
 
Bromo crater and Ocean Sand


After  seeing the sunrise, you can go back down and headed Pananjakan to Mount of Bromo. Sunlight can make you see the scenery around. Apparently you go through the sea of sand which is for about 10 km ². Arid areas filled with sand and only a little overgrown with dried grasses. Gust of wind, making the sand fly and can be difficult for you to breathe.

To reach the foot of Mount of Bromo, you can not use the vehicle. Instead, you must hire a horse with a price of Rp 70.000, - or if you feel strong, you can choose to walk. But, it should be noted that walking is not easy, because of the scorching sun, long distance, the flying dust can make travel more difficult.

Now, you have to climb the stairs that number reached 250 stairs to see the crater of  Bromo. At the top of Bromo is 2392 m high above sea level, you can see the crater of Mount Bromo that emits smoke. You also can post your views down, and saw the sea of sand with a temple in the middle. It's really incredibly rare and unusual that we can enjoy.

Tuesday, April 6, 2010

Ayutthaya, Thailand : Candi dan Lagi-Lagi Candi...

Ayutthaya Historical Park adalah situs peninggalan kerajaan Ayutthaya di Thailand dan merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site. Inilah surganya bagi orang-orang yang menyukai candi-candi dan wisata ke situs bersejarah, hehehe...

Untuk mencapai kota Ayutthaya sendiri, dibutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam dari Stasiun Hua Lam Phong, Bangkok. Kami menggunakan 3rd class train (non-AC/kipas angin), dengan harga tiket 15 - 20 Baht. Berangkat dari Stasiun Hua Lam Phong sekitar jam 09:30 pagi, kami tiba di Ayutthaya sekitar jam 11:00 siang. Keretanya benar-benar tepat waktu, hebat!


Stasiun Ayutthaya.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Begitu sampai di Stasiun Ayutthaya, kami langsung menuju tourist center untuk meminta peta gratis (yang diharuskan hanyalah menulis nama dan daerah asal kita untuk catatan mereka). Dari peta itulah kami memperhatikan bahwa di Ayutthaya ini banyak sekali Wat --alias temple/candi/kuil, you name it-- yang tersebar, untuk mencapainya satu persatu disarankan untuk menggunakan sepeda atau menyewa "tuk-tuk" (bemo ala Thailand) karena lokasi Wat yang saling berjauhan.


Ayutthaya City Map.
Sumber: Booking to Thailand


Pada bulan Desember, Ayutthaya ini panasnya bukan main. Rencana awalnya sih kami mau keliling Ayutthaya dengan bersepeda, tetapi berhubung kami sampai di sananya siang, cuaca sudah terlalu terik dan tidak nyaman untuk bersepeda keliling-keliling kota. Kami memperhatikan bahwa pepohonan di jalan-jalan besarnya juga jarang-jarang, jalanan aspal pun menjadi lebih panas dan tidak teduh. Oleh karena itu, akhirnya kami menyewa tuk-tuk untuk berkeliling Ayutthaya.

Setelah negosiasi alot dengan seorang pengemudi tuk-tuk, kami sepakat untuk menyewa tuk-tuk selama 3 jam sebesar 550 Baht (tarif aslinya 600 Baht). Tuk-tuk ini berkapasitas sekitar 7 orang penumpang (padahal kami cuma bertiga, jadi kami bisa duduk selonjoran sesuka hati, hehehe).


Tuk-tuk, teman kami berkeliling Ayutthaya: "Tony Service!"
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Pengemudi tuk-tuk kami bernama Tony, berperawakan besar dan berjenggot dengan rambut yang mulai memutih dikuncir satu. Menggunakan kaus kutang dan celana panjang kain, terkadang kalau ia tertawa terlihat giginya yang sudah tidak lengkap. Walaupun terlihat seperti preman, Mr. Tony ini orang yang baik dan sangat membantu kami dalam menentukan spot jalan-jalan. Dan tuk-tuknya berwarna merah muda! Manisnya... si tuk-tuk. Setelah berjalan-jalan lumayan jauh kami baru menyadari bahwa tuk-tuk merah muda milik Mr. Tony ini pun dinamakan Tony Service, hehehe...

Di sini kami hanya mengunjungi beberapa Wat yang terkenal saja, seperti "Sleeping Buddha" di Wat Chaimongkhon dan "Buddha Head in Tree" di Wat Maha That.

Sleeping Buddha di Wat Chaimongkhon.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Wat Chaimongkhon.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Wat Maha That.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Setelah mengunjungi Wat Maha That, perut pun mulai terasa lapar. Berdasarkan referensi di internet, kami mencari Roti Sai Mai. Tadinya kami mengira ini adalah makanan yang berat, bisa untuk makan siang. Ternyataaa... Roti Sai Mai ini adalah cemilan tradisional khas Thailand. Cemilan ini mirip-mirip gulali "rambut nenek" yang banyak dijual di Indonesia, namun bedanya kalau di Indonesia kita menggunakan kepingan mirip kerupuk untuk menangkup si gulali, mereka menggunakan adonan pancake. Bentuk Roti Sai Mai mirip pancake yang diisi gulali, rasanya manis namun terimbangi dengan hambarnya adonan pancake. Lumayan juga sih untuk mengganjal perut yang kosong.


Roti Sai Mai, cemilan tradisional khas Thailand.

Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Selesai menghabiskan satu bungkus Roti Sai Mai seharga 25 Baht, kami memutuskan untuk melanjutkan makan siang di tempat yang direkomendasikan Tony --hahaha ternyata belom kenyang euy!-- Tempat ini mirip warung-warung di Indonesia. Berhubung kami kurang yakin apakah makanan sana halal atau tidak, akhirnya kami membeli semacam pempek ikan ala Thailand dan memesan nasi untuk 3 orang. Yep, kita harus benar-benar kreatif untuk mencari makanan halal di Thailand, sekaligus untuk menghemat biaya, tentunya, hehehe...

Perut kenyang, kami lalu mencari tempat belanja oleh-oleh. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Tony, kami pun dibawa Tony ke sebuah department store. Tapi ternyata barang-barangnya biasa saja, masih serupa dengan ITC di Indonesia. Kami pun langsung mencari musholla.

Dari hasil ngobrol-ngobrol antara teman saya dan Tony, tampaknya Tony tidak mengerti arti "mosque", "masjid", "musholla", ataupun tempat beribadah orang Muslim. Heran juga, sebab di Bangkok sendiri, musholla bertebaran di mana-mana, termasuk di Stasiun Hua Lam Phong. Yo wis lah, akhirnya kami semua memutuskan untuk sholat di atas bangku depan toilet Stasiun Ayutthaya, hehehe... Oia, perlu dicatat bahwa di sini toiletnya bersih! Two thumbs up!

Selesai sholat dan cuci muka, kami pun kembali ke Bangkok sekitar pukul 3 siang dan tiba di Hua Lam Phong sekitar jam 5 sore. Biarpun capai dan kulit menggosong, kami puas telah berhasil mencapai Ayutthaya dengan kereta ekonomi, mencoba tuk-tuk, dan mencicipi Roti Sai Mai. Seru! :)

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Ayutthaya_Historical_Park
http://wikitravel.org/en/Ayutthaya


Sunday, April 4, 2010

Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-4)

Posting tamu oleh: Arlinda Wibiayu

Sambungan dari Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-3)

Last Day in Singapore

Hari ini merupakan hari terakhir saya di Singapore, pastinya harus beli oleh-oleh dong. Kami putusin untuk check-out dan titip tas di hostel, karena batas check-out jam 12. Daripada kami buru-buru, mendingan check-out langsung aja.

Saya putusin untuk lihat-lihat ke Bugis Street, yang kata orang pusatnya oleh-oleh murah di Singapura. Ternyata memang bener sih, tapi jangan segen untuk nawar deh. Lumayan kok jadi bisa beli lebih banyak kan. Karena temen saya ada yang bisa bahasa mandarin, jadinya dialah yang diminta untuk jadi jubir tawar-menawar.

Selese lihat-lihat ke Bugis Street dan Bugis Junction, kami putusin cari makan. Kami ngeliat kedai nasi lemak di pinggir jalan North Bridge. Ternyata disinilah kami ngeliat Cozy Corner Hostel yang direkomendasikan oleh Kang Ocon. Kami pesen nasi lemak seharga 2 dollar dan teh tarik pastinya. Selese makan kami masih pengen jalan-jalan ke Vivo City sekalian nuker dollar sama mau beli SD card 4 giga yang saat itu cuma 14,5 dolar (saat itu berasa murah banget, ternyata harganya sama aja kayak di Jakarta ding).

Setelah dari Vivo City kami putusin untuk balik ambil tas biar gak ketinggalan pesawat yang akan membawa kami ke Phuket. Karena belum sempet lihat-lihat di sekitar Little India kami putusin untuk lihat-lihat daerah sekitar situ sambil mau beli air minum. Ternyata souvenir yang kami beli di Bugis Street bisa lebih murah di Little India, sebel deh. Tapi ya sudah lah…

To Phuket by Tiger Airways
Pesawat kami akan berangkat jam 18.30 dari Singapura, maka kami harus segera berangkat biar gak ketinggalan pesawat. Biar cepet kami putusin untuk naik MRT aja.

Saya pesen tiket ke Phuket melalui maskapai Tiger Airways, seperti yang dibilang Ikman, Tiger itu salah satu budget airlines Singapura. Jadi terminalnya pun tersendiri di Budget Terminal. Jadi dari Changi terminal 2 ada free-shuttle bus yang membawa ke budget terminal. Gampang kok karena di sini banyak plang petunjuk arah.

Nah untuk ke Changi by MRT jangan lupa untuk ambil MRT East-West tujuan Pasir Ris/Changi, trus harus turun di Tanah Merah lalu ganti MRT yang ke Changi. Trus karena gak mau rugi kami ambil deposit yang ada di EZ Link card kami dulu dong, lumayan.

Walaupun budget airlines, tapi pilotnya bule euy. Jadi tenang naiknya.

No liquid more than 100mL, please!
Iya gara-gara saya gak sempet cari cairan pencuci contact-lens yang volume kecil, saya bawa yang gede (kalo gak salah 300mL). Ternyata gak boleh masuk cabin, jadi saya harus buang deh padahal masih baru. Tapi katanya kalo masuk bagasi boleh-boleh aja kok. Padahal di Jakarta lolos aja ya.

Phuket, here I come…
Penerbangan Sing-Phuket cuma butuh waktu 1 jam. Begitu sampe di Phuket International Airport, kami kembali harus antri di tempat pemeriksaan passport. Saya pikir akan susah nih bahasa Inggrisnya. Ternyata pada bisa bahasa melayu lho. Mungkin karena Phuket termasuk Thailand Selatan yang lebih deket ke Malaysia ya. Trus mereka bilang “Di sini banyak yang kaya kamu,” sambil nunjuk kerudung saya. Alhamdulillah deh kalo gitu. Gak akan susah cari makan deh.

Selepas pemeriksaan passport, saya lihat banyak agen tour wisata yang nawarin jasanya. Karena dari hasil browsing katanya Sea Angel bagus, kami putusin langsung booked untuk keesokan harinya. Dan gak tau kenapa tertulis 1800 bath, tapi jadi diskon 900 bath. Udah 900 bath tapi pengen nyoba nawar lagi sih, walaupun gak sukses.

Dari airport kami putusin pake taxi meter biar aman aja. Taxi meter ada di sebelah kanan pintu keluar. Kami cukup beli semacam kupon di loket sambil nunjukin alamat penginapan. Saya kasih aja alamat penginapan yang diemail ke email saya dengan versi Thai dan Latin.

Karena udah malem kami gak bisa lihat pemandangan pulau ini. Penginapan kami ada di daerah Patong dan ternyata penginapan kami gak jauh sama Banzaan Mall yang ada jaringan swalayan besar asal Perancis. Ya ampyun tetep ya.

I only speak English little...
Begitu sampe di Sea Blue Phuket Guesthouse (nama penginapan kami), saya seneng banget karena tempatnya jadi satu sama pharmacy. Berhubung saya harus beli cairan pencuci contact-lens. Saya dapet, tapi merek lokal gitu deh. --Later on, saya baru tau kalo mata saya infeksi gara-gara pake produk ini. Jadi saran saya, beli yang mereknya jelas deh--

Begitu masuk kami langsung disambut pengurus penginapan yang dengan sigap langsung bawain tas kami yang segede-gede gaban ke kamar kami di lantai 3. (Gila deh, sekali angkat 3 tas, ke lantai 3 pula, ckckck) Ternyata mereka gak begitu bisa bahasa Inggris (tapi kok dari email, kayak yang bisa lancar ngomong ya. Saya juga heran) Rada bingung juga mau tanya-tanya, tapi ya sudah lah. Nanti tanya-tanya sama orang aja.

Nicest Room
Kami pesen kamar yang bisa untuk 3 orang, yang katanya sih ‘our nicest room’ dan memang kamarnya very spacious and comfortable (ada TV and kulkasnya gitu, jadi gak berasa backpacking). Karena masih excited kami putusin jalan-jalan sebentar di sekitar penginapan. Kami ke mall, untuk lihat-lihat sekalian beli makanan untuk besok pagi karena kami akan dijemput jam 7 pagi.

Patong Beach : "Good man goes to heaven, and bad man goes to Patong"
Ada tulisan di kaos souvenir yang dijual di Patong yang berbunyi ‘Good man goes to heaven, and bad man goes to Patong’. Jadi kebayang kan suasana di Patong, bikin saya merinding ngeliatnya. Local girl bergandengan dengan turis yang udah tua-tua adalah hal yang biasa dilihat di sepanjang jalan.

Karena kaki udah mulai pegel, kami putusin untuk balik ke kamar dan istirahat biar besok siap melanjutkan perjalanan kami.

Bersambung ke Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-5) - coming soon

*Gambar dipinjam dari fotosearch.com




Profil Kontributor
Ayu, kini bekerja di sebuah lembaga pemerintah dengan latar belakang bidang farmasi. Gaya backpackingnya adalah mengunjungi beberapa tempat sekaligus dan (tampaknya) sudah berencana untuk backpacking lagi dalam waktu dekat. :) Tulisan Ayu lainnya dapat ditengok di Arlinda's Site.

Friday, April 2, 2010

Berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Posting tamu oleh : Effendy Siawira

The First Day in This Wonderful Year

Abang taksi datang menjemput pukul 05.30 WIB. “Bang, ke pelabuhan Muara Angke yah! Cepetan dan jangan tersesat, sebab kapal akan berangkat pukul 07.00 WIB,” demikian kata salah seorang teman.


Suasana di Muara Angke.
Foto (c) Effendy Siawira, 2010


Yups, perjalanan dimulai dari pelabuhan Muara Angke. Apik dan kacau keadaan pelabuhan ini. Tapi gak terlalu masalah, yang terpenting adalah motivasi untuk menuju tempat tujuan yang menarik. Satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di pelabuhan tersebut.

X : “Mas, ke Pulau Pramuka dong untuk 10 orang.”
Y (mas yg di pelabuhan): "Pulau Pramuka? Ow, kapalnya yang itu nah… Tunggu saja di sini, ntar kapalnya merapat."

Jam 7 tepat, si kapal berangkat. Kapal ini terbuat dari kayu, dan merupakan salah satu alat transportasi yang menuju ke Pulau Pramuka dengan jadwal 2x sehari (jam 07.00 dan 13.00 WIB, demikian sebaliknya). Semua penumpang bakalan lesehan di dalam kapal yang berlantai 2 tersebut. Agak riskan, sebab life jacket yang tersedia di kapal dipastikan tidak cukup untuk seluruh penumpang yang berada di kapal pada pagi itu. Perjalanan selama 2,5 jam ini kami isi dengan tidur-tiduran, dan bermain kartu.

Singkat cerita, kami sampai di Pulau Pramuka dan kemudian dijemput oleh Mbak Novi (pemilik pondokan yang kami sewa). Kami dibawa ke rumahnya. Sangat ekonomis, dengan harga Rp 400.000/rumah yang terdiri dari 2 kamar + 1 kamar mandi, dapat kami isi dengan 10 makhluk. Kemudian kami dibawa Mbak Novi menuju tempat makan.

Makanan di sini lumayan murah. Harga ikan bandeng per kilo-nya hanya Rp 30.000, dan Rp 50.000 jika telah dipanggang dan siap makan. Hanya dengan Rp 20.000 kami sudah bisa makan dengan cukup kenyang dan enak.

Setelah makan, kami berangkat untuk menuntaskan tujuan kami kesini, yaitu: Snorkling. Sewa peralatan snorkling bisa dilakukan disini. Kemudian, kami dijemput dengan kapal nelayan untuk menuju lokasi karang-karang yang indah.

Ada 4 spot yang dikunjungi selama acara snorkling ini. Dimulai dari Semak Daun hingga ke lokasi tempat beternak karang (haha.. lucu namanya, tapi emang bener, lokasi ini digunakan untuk mengembangbiakan coral) dan kemudian diakhiri di Nusa Krambangan. Di tempat ini merupakan tempat peternakan ikan. Banyak banget loh jenis ikan-ikan di sini. Ada bandeng, bawal, kerapu, kuwe , hingga ikan hiu. Konsep penangkaran ini adalah dengan membangun jaring-jaring di dalam laut. Tempat yang sangat indah dan inspiring!

Menjelang maghrib, kami balik ke Pulau Pramuka yang hanya berjarak 10 menit dari Nusa Krambangan. Sampai di Pulau Pramuka, langsung saja mencari tempat makan. Sebab setengah harian di laut dan berendam membuat cacing di perut minta jatah. Seafood again... dengan harga Rp 30.000 bisa dinner dengan nasi goreng + ikan bandeng + telur + minum. Kenyang dan puas!

Acara selanjutnya mulai muncul masalah, yaitu MANDI. 10 orang mandi dengan 1 kamar mandi? Bisa dibayangkan. Siapa yang duluan yah? Akhirnya dengan permainan undian, gw mendapat giliran yang cukup akhir. Akhirnya bersama si Markus --nama sebenarnya, bukan makelar kasus-- kami berkeliling dulu ke pulau, sekalian mengenal pulau lebih dalam.

Akhirnya kami sampai ke satu resort yang cukup bagus. Ada si bapak penjaga yang sangat ramah tempat kami bertanya. Ternyata resort itu harganya cukup terjangkau, Rp 350.000 / hari untuk kapasitas 2 orang (+ extra bed charge jika lebih dari 2 orang). Fasilitas: Kamar ukuran 5×4 m , kamar mandi air hangat/dingin, AC, TV. Ngobrol-ngobrol sesaat dapat informasi bahwa pulau ini semakin hari semakin bertambah pengunjungnya terutama yang berasal dari Jakarta. Mungkin ini karena jaraknya yang cukup dekat dari Jakarta.

Untuk suasana malam, alangkah lebih asik jika diadakan acara seperti BBQ. Berhubung kami cukup lelah setelah bangun subuh dan snorkling selama setengah hari, akhirnya kami tidur. Keesokan harinya, pukul 7 WIB, kami kembali ke Jakarta.

Synopsis
05.30 : Berangkat dari Jaksel menuju pelabuhan Muara Angke
07.00 – 09.45 : Tiba di Pulau Pramuka (salah satu di antara seribu pulau)
09.45 – 11.00 : Check-in pondokan, istirahat sesaat, foto-foto
11.00 – 12.15 : Makan siang dan nge-pas alat snorkling
12.15 – 17.00: Snorkling Time
18.00 – 20.00: Makan malam
20.00 – 22.30 : Mandi, main, nonton
22.30 – 23.30 : Supper (tongseng indomie, dll)
24.00 : Tidur
07.00 (keesokan harinya) : Kembali ke Jakarta

Rincian Biaya
Ongkos kapal : Rp 30.000 – one way
Sewa Pondokan: Rp 350.000 – Rp 400.000
Sewa alat snorkling: Rp 40.000
Sewa kapal buat snorkling :Rp 300.000
Tips utk perahu-man : Rp 75.000

Overall untuk perjalanan kali ini , kira-kira dikenakan Rp 300.000,- /orang.


Profil Kontributor
Effendy Siawira, geoscientist di sebuah perusahaan. Memiliki hobby travelling, petualang mengunjungi tempat baru, dan mencoba hal-hal yang baru. Tipe manusia yang tidak suka terikat dan melakukan sesuatu semaunya (dengan catatan tidak merugikan org lain, syukur-syukur kalau orang itu bisa ikut senang ^^). Paling senang berburu tiket promo dan merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, walaupun pada akhirnya belum tentu tiketnya dipakai. Motto hidup: "tidak ada yang lebih penting selain membangun networking". Tulisan Effendy lainnya dapat dikunjungi di blog pribadinya: UNEQ – ONUQ by effendy siawira.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting