Monday, May 31, 2010

Arti "Traveling" Bagi Saya

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.
- Henry Miller


Hobi saya setahun belakangan ini adalah berburu tiket pesawat murah. Apalagi dipacu dengan adanya promo-promo 0 rupiah sebuah maskapai penerbangan asal Malaysia, hobi saya terasa makin dipuaskan saja.

Bagi yang memiliki hobi traveling seperti saya, booking tiket promo bagaikan bermain online game. Bikin ketagihan!

Rasanya puas sekali apabila berhasil mendapat tiket murah, apalagi setelah berhasil melewati beberapa "tantangan". Tantangan tersebut antara lain adalah website maskapai penerbangan yang seringkali down karena padatnya traffic akibat perburuan tiket, gagalnya booking karena kartu kredit yang melewati limit, dan sebagainya. Dapat dibilang kami adalah shopaholic khusus tiket, hehehe... Sederhana sebenarnya, kalau orang lain beli gadget terbaru, kami beli tiket.

Sementara ini budget saya untuk membeli tiket dibatasi hingga maksimal 2 juta rupiah untuk sekali perjalanan ke LN. Perjalanan (ke LN) saya biasanya 1-2x/tahun, tergantung sikon. Masih realistis kan? Anggap saja reward setelah capai bekerja.

Tiket termurah yang pernah saya beli dengan pengalaman terbanyak dan paling menyenangkan adalah tiket dengan rute Jakarta - Singapore - KL - Ho Chi Minh City - Bangkok - Jakarta, dengan total biaya sekitar 1,5 juta. Dan yang terakhir adalah tiket perjalanan ke Macau - Hong Kong dengan total biaya sekitar 1,6 juta. Sangat murah jika dibandingkan dengan harga tiket normal. Ngomong-ngomong, teman saya pernah mendapatkan tiket one way ke Singapore seharga Rp 30.000,-!

Benar-benar kita beruntung hidup di masa ini, di mana biaya transportasi ke LN semakin murah. Informasi tentang tujuan wisata pun melimpah di internet, sehingga aktivitas traveling terasa semakin mudah. Ha! It's rhymed! Murah, melimpah, mudah. Hehehe...

Saya ingat, dahulu waktu saya kecil, tampaknya hanya orang yang benar-benar "makmur" yang dapat berjalan-jalan ke luar negeri, namun sekarang tampaknya siapa pun mungkin. Meminjam tagline maskapai penerbangan favorit saya, "Now Everyone Can Fly!"

Arti Traveling Bagi Saya
Seiring dengan berjalannya waktu, tampaknya tipe traveling saya mulai berubah. Apabila dulu saya seperti berlomba untuk sebanyak-banyaknya mendatangi dan melihat beberapa tempat sekaligus dalam waktu singkat, kini saya lebih memilih untuk "menyelami" dan menikmati keindahan lokal dengan rentang waktu yang lebih panjang. Rupanya tipe traveling saya mulai beralih ke tipe "slow travel". Mudah-mudahan ini adalah perubahan ke arah yang lebih baik.

Traveling itu sendiri secara tidak langsung membuat saya belajar banyak dan melatih saya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, menerima keadaan seperti apa adanya, melihat perbedaan sebagai keindahan, serta membuat saya lebih mengenali diri saya sendiri dan orang lain.

Dengan traveling saya juga dituntut untuk cepat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan baru termasuk beradaptasi dan bertoleransi dengan teman jalan saya, khususnya apabila itu kali pertama kami backpacking bareng.

Saya belajar bahwa tidak semua orang cocok dengan gaya jalan saya yang dapat dibilang ngirit abis dan whatever will be will be, jadi jangan salahkan saya apabila kini saya cukup pemilih dalam mencari teman jalan. Kan kasihan kalau teman jalan saya nanti harus "menderita" seperti saya, hehehe... (Memang ternyata teman jalan harus cocok-cocokan seperti kata Trinity.)

Lama kelamaan saya juga menyadari bahwa dalam traveling, rupanya saya lebih menyukai unsur petualangan dalam "perjalanan" menuju ke sana, bukan destinasinya. Destinasi yang indah dan menarik "hanyalah" reward dari "perjuangan" yang telah saya hadapi untuk mencapainya. Proses perjalanan yang menariklah yang membuat saya lebih menikmati dan menghargai destinasi tersebut.

Ada orang yang bilang, traveling mengajarkan kita tentang hidup jauh lebih banyak daripada bertahun-tahun belajar di bangku sekolah. Menurut saya pendapat tersebut ada benarnya juga. Walaupun saya memang masih termasuk amatir dalam urusan traveling, namun dari "petualangan-petualangan" saya yang tidak seberapa itu saya sudah mendapatkan banyak pengalaman baru (dan teman baru) yang unik-unik dan senantiasa menginspirasi saya.

Tips saya untuk para calon traveler:
Sebuah buku yang sedang saya pinjam dari sepupu saya* memberikan tips sebagai berikut, "Remember, you only need three things to have a great trip: your passport, your money, and, above all, your sense of humor." - Gutsy Women, oleh Maribeth Bond.

Bon voyage! :)

Gambar © Saniphoto | Dreamstime.com
*Thanks ya May buat pinjeman bukunya, hehehe...

Monday, May 24, 2010

Photo(s) : Malacca, Malaysia

Foto oleh : Herajeng Gustiayu
"Malacca (Malay: Melaka) is the capital of the state of Malacca, on the west coast of peninsular Malaysia. Modern-day Malacca is a vibrant old city that believes its wealth of history. Visiting Malacca is a unique experience; its rich historical background earned it a World Heritage Site designation in July 2008." - Wikitravel


Becak warna-warni di Melaka.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Christ Church at Stadthuys Square.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Ruins of Fort A Famosa.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Bapak penjual sketsa tangan.
Kirain dia senimannya, kirain sketsanya asli, ehh ternyata
bapak ini cuma jualan sketsa cetakan. Tapi emang keren-keren sih.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Friday, May 21, 2010

9 Barang Multifungsi untuk Backpacking



Sembilan barang di bawah ini adalah barang-barang yang wajib saya bawa saat traveling. Memang sekilas terlihat kurang berguna, namun ternyata amat multifungsi pada prakteknya:

(1) Senter kecil

Berguna saat mati lampu atau di saat tidak tersedia penerangan yang memadai di lokasi yang bersangkutan. Waktu ke Ujunggenteng, saya sempat menggunakan senter kecil ini saat mencari jalan ke tempat penangkaran penyu, karena memang lokasi penangkaran penyu tidak boleh ada alat penerangan, tujuannya agar tidak mengganggu penyu bertelur. Tapi tentu saja, setelah mencapai daerah krusial tempat penyu bertelur, saya matikan senter saya agar tidak ada polusi cahaya.

(2) Sarung Bali

Berulangkali sarung Bali milik saya berguna untuk berbagai macam keperluan saat di perjalanan. Saya bagi jadi dua sisi, sisi bersih dan sisi kotor. Lupa bawa sajadah, gunakan sarung ini untuk alas sholat. Tempat tidur hostel terlihat kurang bersih? Jadikan sarung ini sebagai seprei. Menginap di bandara? Gunakan sarung ini sebagai selimut. Hehehe... Multifungsi!

(3) Scarf
Berguna untuk bad hair day, sebagai kerudung, atau tambahan selimut di pesawat/bus/kereta. Kalau terpaksa, bisa dijadikan sebagai handuk darurat.

(4) Tissue basah & tissue kering

Sangat berguna apabila ternyata di toilet umum tidak tersedia air, untuk cuci tangan sebelum makan, dan sebagainya.

(5) Buku/notes kecil & bolpen

Selain untuk menulis dokumen imigrasi, buku saku & bolpen ini bisa digunakan untuk mencatat ide dadakan atau sekedar untuk mencatat pengeluaran traveling. Mendapat kenalan baru di perjalanan? Jangan lupa untuk menuliskan info Facebook atau email mereka di sini untuk keep in touch.

(6) Kantong plastik/
kresek
Berguna untuk packing. Baju kotor, sampah, oleh-oleh, dan sebagainya, bisa dipisah-pisahkan dengan kantong kresek. One is never enough! :)

(7) Karet gelang
Digunakan bersama kantong kresek, karet gelang ini berguna untuk packing.

(8) Balsem, permen jahe, tolak angin
Apabila badan terasa mulai tidak enak karena diforsir terus untuk berjalan-jalan & selalu pulang larut malam, gunakan piranti pembantu ini untuk menangkalnya. Hehehe, it works fine for me...

(9) Lakban a.k.a duct tape
Berguna untuk memperbaiki barang-barang rusak secara darurat. Membawa lakban untuk keperluan traveling telah disarankan oleh banyak backpacker profesional, ini list lengkapnya: 101 Uses for Duct Tape & MacGyver Traveler: 14 Ways to Use Duct Tape in Your Travels .

Ada yang mau menambahkan?


*gambar dipinjam dari dreamstime.com

Wednesday, May 19, 2010

Event Tahunan di Kota Bristol, SW England

Posting tamu oleh: Dhitta Puti Sarasvati



Sebelumnya, saya tidak tahu menahu tentang kota Bristol. Saya hanya mendaftar di universitasnya karena universitasnya memiliki reputasi yang sangat baik di bidang ilmu pendidikan. Tapi ternyata saya jatuh hati pada kotanya karena suasananya mirip Bandung, hangat, banyak kegiatan, artistik, dan juga bukan kota besar --I hate big cities I might say!-- tapi juga bukan kota yang terlalu kecil.



Kalau ke Bristol, ada beberapa event tahunan yang menyenangkan. Di antaranya:


1) Bristol Balloon Fiesta

Kegiatan ini diadakan setiap tahun di musim panas, biasanya selama tiga hari berturut-turut di daerah bernama Ashton Court. Kalau cuaca sedang baik, biasanya balon akan diterbangkan pagi-pagi sekali (saat matahari terbit) atau sore (saat matahari terbenam). Biasanya event ini sangat penuh dan sangat menyenangkan. Tahun 2009 lalu saya datang di acara pembukaannya di sore hari. Balon-balonnya berkedap-kedip lampunya. Seru sekali! Lalu suatu hari saya sedang belajar di perpustakaan di lantai dua, ternyata saya masih bisa melihat balon-balon berterbangan di udara. It is great fun!



Editor's Note: You should see the beautiful photographs of Bristol Balloon Fiesta in this link! Captured by Daugirdas Tomas Racys from Long Lens Photography. You can see more of his awesome works on his flickr account. :)



2) Bristol Art Trail
Kebetulan tahun 2009 lalu saya ikut berpartisipasi di West Bristol Art Trail dengan berjualan kalung karya sahabat saya Aini, Manikam. Jadi, di daerah tempat saya tinggal, bukan hanya seniman profesional yang bisa ikut berpartisipasi, tetapi juga orang-orang biasa. Orang-orang yang merasa memiliki karya seni dapat mengadakan open house di rumahnya (ada juga yang di sekolahnya) dan memamerkan karya-karya seni yang ada di rumah mereka. Kebetulan, pemilik rumah saya setiap tahun selalu membuat kartu natal sendiri, jadi mereka memamerkan kartu-kartu natal yang mereka buat.



Ada juga karya-karya lain seperti gambar anak-anak mereka, hasil quilting, gambar-gambar bangunan di Bristol, dan juga lukisan dan fotografi karya keluarga. Selama seminggu saya ikut rapat bersama pemilik rumah, membersihkan rumah dan mengatur tata letak ruang agar terlihat bagus. Kami juga menyediakan teh dan biskuit bagi tamu di rumah. Saya bertemu banyak orang baru, dan beberapa tamu bahkan sudah pernah ke Indonesia!



Sayangnya, saya hanya sempat mengunjungi satu rumah tetangga untuk melihat karya seni mereka, karena jumlah tamu yang datang ke tempat tinggal saya banyak sekali. Sehingga kami tak sempat berjalan-jalan ke tempat lain. Ini adalah foto beberapa karya di tempat tinggal saya.






Beberapa karya seni warga Bristol

yang dipamerkan di Bristol Art Trail.


Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009




Ini juga event tahunan yang diadakan di pelabuhan Bristol. Tepatnya diadakan di Bristol Harbour, Queen Square, Millennium Square, Harbourside pada saat musim panas. Banyak kapal yang ada di pelabuhan, juga ada berbagai musik, bazaar, dan juga semacam fun fair. Saya dan teman saya naik sebuah wahana serupa di Dunia Fantasi, Ancol, Indonesia. Berhubung kami penakut --saya terutama--, saya hanya berani naik satu permainan, itu pun sudah teriak-teriak ketakutan. Haha! Tapi event ini menurut saya kalah seru dibandingkan Bristol Balloon Fiesta dan Bristol Art Trail.


Bristol Harbour Festival.

Foto (c) Dhitta Puti Sarasvati, 2009




4) Redland Mayfair

Sebenarnya event ini baru beberapa minggu lalu. Event ini diadakan setiap May Day, alias tanggal 1 Mei dan selalu diadakan di daerah yang disebut Redland, yang jaraknya hanya 20 menit berjalan kaki dari tempat saya tinggal. Saya tidak datang karena sedang sedikit sakit, padahal beberapa teman-teman saya dari Amnesty International Bristol membuka stand di sana.





Redland May Fair.

Source: flickr


Satu lagi event yang tampaknya tidak akan sempat saya kunjungi (beberapa minggu mendatang) adalah Bristol Vegan Fayre, yang konon merupakan vegan fair terbesar di dunia.





Bristol Vegan Fayre.

Sumber:
geometricapartments.com








Profil Kontributor

Puti, teman saya, seorang praktisi bidang pendidikan, menyelesaikan masternya di Bristol, England. Ini adalah salah satu postingnya tentang Bristol, kota yang ia tempati selama menjalani kuliahnya di sana. Anda dapat membaca tulisan-tulisan Puti lainnya di Warna Pastel & Mahkota Lima.



Monday, May 17, 2010

Free Download: “Contoh Surat Sponsor Permohonan Paspor Indonesia”



Berhubung banyak permintaan akan contoh Surat Sponsor Permohonan Paspor dari Wenny Rosliana, sekarang TBN akan bagi-bagi contoh surat tersebut secara gratis. Selamat mengunduh! :)

File Name: "100518 Contoh Surat Permohonan Paspor Indonesia.doc”
File Size: 24.0 KB
Format: Microsoft Word 2003 (di-setting untuk dicetak di atas kertas ukuran A4)

DOWNLOAD NOW!
---

Sunday, May 16, 2010

"I'm Indonesian" Project - Announced!


Wan Chai District, Hong Kong Island.

Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2010


Avenue of Stars, Kowloon Peninsula.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2010


Avenue of Stars, Kowloon Peninsula.
Photo (c) Herajeng Gustiayu, 2010


"I'm Indonesian" Project
- started in May 2010 -


Share the joy of travel with all Indonesian travelers!

Tag your favourite destinations to show us as Indonesian were there! Any tag with "I'm Indonesian" text are welcome. You can create your own tag using cardboard, teared paper, or anything. Be creative ... and have fun!

Then you can send it to us at
backpacker.notes(at)gmail.com

Don't forget to mention the location. We will publish the chosen photos in our website with your name (and your website, if you have any) as credit! Feel free to contribute!

Happy traveling! :)

+ + + + +

"I'm Indonesian" Project (c) The Backpacker's Notes, 2010

Hong Kong edition
Idea: Herajeng Gustiayu & Hanny Musytika
Property: Ronggo Ahmad Wikanswasto
Hand model: Hanny Musytika
Photograph by Herajeng Gustiayu


Wednesday, May 12, 2010

Peak District Journey (Part-2)

Posting tamu oleh: Yuke Listi

S
ambungan dari Peak District Journey (Part-1)

Minggu, 27 September 2009: Tujuan Selanjutnya, Haddon Hall
Kami berempat baru bangun pagi jam 8. Tinggal di hostel semuanya harus dilakuin sendiri, tempat tidur dibongkar dan pasang seprai nya sendiri, dan check out harus dilakukan sebelum jam 10 pagi.

Pada hari sebelumnya si pemilik hostel sudah menanyakan apakah kami mau bayar untuk sarapan atau tidak. Kami memlilih untuk tidak mengambil sarapan, abisnya harus bayar £5.00 lagi per-orang. Sebagai orang Asia kami rasa itu kelewat mahal buat sarapan. Akhirnya kami memesan kopi dan teh sebelum pergi. Cukup dengan £1.00/orang udah dapet 4 gelas minuman hangaat. Hmmm... :) Bekal sandwich dan cake kami juga belum habis, jadi bisa untuk mengganjal sedikit.

Hari ini kami menentukan untuk melakukan perjalanan ke Haddon Hall, katanya juga dipake sebagai lokasi syuting "Pride and Prejudice" (2005). Haddon Hall letaknya dekat dengan Bakewell yang ga gitu jauh dari Youlgrave tempat kami menginap.
"Haddon Hall is an English country house on the River Wye at Bakewell, Derbyshire, one of the seats of the Duke of Rutland, occupied by Lord Edward Manners and his family. In form a medieval manor house, it has been described as the most complete and most interesting house of [its] period." - Wikipedia
Menurut informasi, jalan dari Youlgrave ke Haddon Hall ga begitu jauh, sekitar 1 jam. Hmmm... Kalau dari hostel jam 10, berarti masih bisa brunch di Haddon Hall jam 11, berangkat!!

Perjalanan Menuju Haddon Hall
Akhirnya kami jalan kaki dari Yougrave ke Haddon Hall. Tidur di hostel ternyata cukup membuat tubuh kami nyaman, buktinya kami merasa sangat segar dan penuh energi hari ini. ;)

Berpetualanglah 4 wanita pemberani. Kenapa saya bilang pemberani? Karena kami punya peta tapi ga bisa mengartikannya, kami melangkah kemana kaki kami melangkah saja tanpa tau medan. Yang kami tau tujuan kami ke Haddon Hall.


4 Wanita Pemberani siap berangkat menuju Haddon Hall.
Fot0 (c) Yuke Listi, 2009


Perjalanan dari Youlgrave ke Haddon Hall super duper menakjubkan! Lahan hijau membentang, sungai yang dialiri air yang sangat jernih, domba dan sapi berada di lahan hijau yang luas, ditambah lagi orang-orang yang ramah ketika bertemu di jalan.

Pernah kami hampir tersesat (karena kami memilih jalan menurut perasaan dan mencoba-coba aja, hehe) lalu kami bertemu dengan salah seorang kakek, beliau lah yang menunjukkan jalan ke arah yang benar. Si kakek sendiri tinggal di Youlgrave bersama anjingnya, dan sangat menikmati masa pensiunnya. Begitulah hidup disini, mereka senang tinggal jauh dari kebisingan dan polusi kota.

Lanjuut! Di perjalanan salah seorang teman kami nyeletuk, "Wah, indah banget ya... Saya udah senang seandainya pun kita ga sampai ke Haddon Hall." Dan, sampailah kami di Haddon Hall setelah 2.5 jam jalan. Yang ternyata hari ini TUTUP!

Dari kemarin Haddon Hall ini dipakai untuk pesta pernikahan. Sedikit kecewa dan takjub! Kami melihat sedikit dari luar, sepertinya tamannya sangat indah. Dan gimana ga takjub kalau ada yang bisa menggelar pesta pernikahan di sana. Jadi penasaran gimana acara pernikahannya ya? Pasti unik dan sangat Inggris banget...

Yaaah, mau ga mau kami harus melanjutkan perjalanan ke Bakewell, perjalanannya ga terlalu jauh katanya, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan jalan kaki. Walaupun ga terlalu jauh, tapi ternyata ada medan yang harus di daki, aduuuh cape juga, tapi seneng sih. Lama-lama laper juga jadinya, tapi disini gada makanan selain rumput dan daging yang masih idup. Daging yang masih idup = Domba dan Sapi ;P

Pasar Kaget
& Cafe "Lantai Atas"
Ternyata perjalanannya memang tidak terlalu jauh, kira-kira 1.5 jam kami sudah sampai di Bakewell. Di tengah jalan kami menemukan pasar kaget, mereka jual barang-barang antik (dan second hand).


Pasar Kaget!

Fot0 (c) Yuke Listi, 2009

Banyak barang-barang yang menarik seperti buku cerita yang udah kuno, perhiasan jaman kerajaan Victoria, mainan anak-anak, sampe peralatan berkebun yang udah bekas juga ada. Saya sendiri udah sangat lapar, jadi saya tidak tertarik untuk melihat-lihat. Teman saya mendapatkan bros dan kalung vintage yang dijual cukup murah.

Dari pasar kaget kami langsung menuju ke tengah kota Bakewell dan langsung mencari tempat makan! Lapaaaar... Lalu ketemulah sebuah restoran yang bernama "Upstair Cafe". Emang letaknya di lantai atas, duuuh males mikir nama keknya yang punya, hehehe... Tadinya pengen makan fish and chips pinggir jalan aja, tapi berhubung dingin dan capek, rasanya gpp deh mengeluarkan sedikit uang untuk duduk dan menghangatkan tubuh, ;)


Makan siang kami di Upstair Cafe.
Fot0 (c) Yuke Listi, 2009

Tempat makannya sangat ramai sampe harus waiting list. Makanannya enak dan mengenyangkan, harganya juga tidak terlalu mahal, kami habis kira-kira £8.00, udah kuenyaaang banget.

Setelah makan kami melanjutkan untuk jalan-jalan di sekitar kota Bakewell, ternyata kotanya kecil, dalam setengah jam kami udah mengitari kotanya. Ada museum Old House tapi sayangnya kami tidak sempat masuk, walaupun udah sampe di depan museumnya, mengingat kami harus mengejar bus untuk ke Matlock sebelum kembali ke Loughborough.

FYI, hari Minggu gini semua public transportation tampak menurunkan jam terbangnya, jadi hati-hatilah kalau mau pake kendaraan umum, benar-benar di-cek jam keberangkatannya atau kamu harus menunggu 2 jam, paling apes kalau udah gada lagi bus yang beroperasi.

Berkeliling di Matlock

Berangkatlah kami dari Bakewell ke Matlock. BUSEEET... Mahal bener busnya! One way aja sampe £3.20. Ya emang jauh sih tempatnya, tapi tetep aja nyesek, huhuhu... Ya gpp deh, kalo disuruh jalan mungkin kami baru sampai di Matlock jam 7 malem, hehe...

Naek bus sampai di Matlock kira-kira 30 menit (tiba di sana jam 3 sore). Bingung mau ngapain lagi, akhirnya kami puter-puter Matlock. Rencana pengen ke Matlock Bath, katanya disana lebih banyak yang bisa didatengi, tapi aaah udah capek jalan.

Kami duduk-duduk di bangku taman, ada pagelaran musik klasik, lihat anak-anak bermain di playground, katanya sih taman ini ada sejak jaman Victoria (sejak Queen Victoria jadi ratu Inggris). Di dekat taman ada bukit kecil. Di atas bukitnya ada tugu perang, pas di bawah tugu ada taman makan pahlawan. Dari atas bukit sini kami bisa melihat kota Matlock.


Bersantai di taman Matlock.
Fot0 (c) Yuke Listi, 2009

Cukup perjalanan kali ini, waktunya pulang ke Loughborough. Berangkatlah kami ke Railway Station. Sampai di sana...

WHAAAT??!
Ternyata kami ketinggalan kereta 5 menit yang lalu!

Terpaksa menunggu 2 jam lagi untuk kereta selanjutnya, gini deh kalo hari Minggu. :( Akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah pub sebelum ngambil kereta yang jam 7. Sambil nunggu kami memesan teh hangat dan Nachos. Tidak terasa sampai juga waktu kami untuk pulang.

Selamat tinggal Peak District, semua pengalaman dan perjalanan bersama teman-teman disini bakal selalu membekas.

Y Cinantya
Loughborough, 6 Oktober 2009




Profil Kontributor
Yuke, lulusan salah satu universitas swasta favorit di Bandung ini kini sedang melanjutkan pendidikannya di Inggris. Tulisan Yuke lainnya dapat dibaca di blog pribadinya: Anakiyoek - yuke's Blog

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting