Saturday, October 23, 2010

Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-1)

Posting tamu oleh : Dibya Kusyala

Catatan penulis: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari perjalanan 3 kota di China pada awal bulan Juli 2010. Sempat tertahan hampir dua bulan karena pekerjaan, akhirnya selesai juga... :)

Awalnya
Sekitar Januari 2010, selepas perjalanan ke utara Malaysia, kami menemukan penawaran penerbangan murah ke Hong Kong dengan rute KL-HK seharga RM99 atau sekitar Rp 270.000,- Kebetulan periode terbangnya bertepatan dengan libur semester pertengahan 2010. Kebetulan lagi, usut punya usut di tanggal yang sama sedang berlangsung World Expo di Shanghai. Baiknya dipasang! Sekalian nengokin beberapa preseden yang dulu, saat jaman sekolah, sempat dipelajari : Kowloon, high density living, transportasi, sub-ground-up connection *halah*...


Pemandangan di sekitar bandara HK.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Perjalanan ke Hong Kong
Tibalah hari-H, 1 Juli 2010, kami berangkat pada tengah hari. Penerbangan rute KL-HK memakan waktu 5 jam. Bandara di HK sekilas mirip Changi, tapi lebih besar dan lebih sibuk. Impresi pertama saat datang adalah penataan HK yang sangat kompak.

Sepanjang perjalanan di atas bus jemputan bandara, kami melewati apartemen-apartemen yang super jangkung, jembatan-jembatan gantung, dan pelabuhan luas dengan latar belakang garis langit kumpulan gedung-gedung yang memadati tepian selat HK yang sibuk. Namun tampak kontras pula perbukitan-perbukitan yang hijau di tepian area dan tengah pulau. Beberapa pulau-pulau kecil tampak dibiarkan hijau lebat oleh pepohonan. Saat itu matahari tenggelam mirip koin emas dengan saputan awan tipis berlangit jingga. Sunsetnya sempurna 9.5 dari skala 10, saya beri nilai A+!

Kedai, pertokoan, tempat makan dan ruangan hotel yang kami temui ga kalah kompak. Kamar saya tidur super duper mini. Agak ga biasa karena kamar mandi menyatu dengan pantry kecil. Di depan kloset ada pemanas air dan perkakas makan. Aishh macam mana ni?

Keluar dari apartemen yang disewa pun kami menemukan pemandangan unik. Billboard dengan huruf kanji dan roman berjejal di sepanjang tepi gedung-gedung tinggi berebut perhatian konsumen. Dan sesaat setelah petang, neon-neon mulai menyala berwarna-warni menjadi penerang pedestrian yang minim lampu jalan.

Di sela keremangan ini, mulailah pedagang kaki lima membuka lapak. Satu-dua dari mereka menumpah ke jalan utama. Pejalan kaki sangat ramai, mereka mengalir dan terus bergerak. Sepanjang tepi jalan ditawarkanlah oleh-oleh, makanan, sayuran, kaos dengan harga yang terjangkau, ga beda jauh di pasar-pasar kita.


Nathan Road, Kowloon.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Hong Kong, here we come!
Berbekal peta kawasan-kawasan utama kota (dalam bahasa Inggris) yang dibagi gratis di bandara, kami mendapatkan informasi lengkap tentang atraksi-atraksi utama di Kowloon dan HK Island disertai list akses-akses transportasi publiknya.

Dan kami pun mulai menyusuri jalur-jalur MTR, bus umum, atau Star Ferry menggunakan ‘Octopus Card’ yang bisa digunakan untuk semua moda. Octopus Card ini mirip EZlink di Singapore, tinggal tap saja, bahkan bisa digunakan untuk berbelanja di Seven Eleven atau beli makanan di beberapa kedai sepanjang perjalanan. Sisa kredit dalam kartu ini dapat diuangkan kembali saat kita meninggalkan HK .

Sepanjang perjalanan, pedestrian cukup padat dan ini berlangsung sampai menjelang tengah malam. Kawasan Nathan Road yang menghubungkan titik-titik MTR utama di Kowloon (Mongkok, Jordan, dan Tsi Tsam Sui) dijejali dengan tempat belanja-makan-penginapan2 dengan beragam harga. Di sana pula kami temukan banyak warga Indonesia (kebanyakan TKW). Mereka selalu ramah untuk membuka pembicaraan. Hampir sama dengan di Malaysia, mereka bercerita tentang pekerjaan, asal, dan berapa lama di HK. Dari tampilan fisiknya, nampak tak banyak masalah. Di Hong Kong, konon jatah libur untuk para TKI cukup layak dengan cuti akhir pekan dan gaji relatif lebih besar dibandingkan pekerjaan di Malaysia-Singapore.

Eksplorasi Hong Kong
HK memiliki empat area utama, namun titik-titik atraksi banyak tersebar pada area Kowloon dan HK Island. Masing-masing memiliki CBD di sepanjang tepian air yang dihubungkan dengan ferry dan MTR line. Star Ferry yang menghubungkan dua tepian air ini cukup murah, sekali jalan harganya HK$2.5 atau sekitar Rp 25.000,- saja. Dan sepanjang perjalanan di atasnya kita bisa menikmati garis langit tepian air Kowloon dan HK Island. Waktu terbaik untuk menaiki Star Ferry ini adalah saat sunset dan jam 8 malam, karena ada pertunjukan lighting di puncak-puncak gedung sepanjang selat gratis selama 30 menit.


Bangunan tertinggi di Kowloon,
dirancang dengan pertimbangan fengshui.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Pada area Kowloon terdapat Star Avenue, tempat memorabilia artis-artis HK, yang dapat dinikmati sambil menikmati garis langit HK Island. Ada juga Temple Market, Ladies Market, Sport Shoes Market yang bisa ditawar meski harganya relatif tinggi untuk ukuran normal orang kita.

Bagi muslim, di area station MTR Tsim Tsa Sui terdapat Masjid Besar Kowloon. Kalau kita pandai-pandai mencari, di sekitar masjid ini tersebar kedai-kedai makanan halal. Rekomendasi lain adalah Museum Sejarah Hongkong yang masih bisa diakses dengan berjalan kaki dari Tsim Tsa Sui Station.


The Peak at terminus.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Di area HK Island, atmosfernya lebih bersahaja dan terasa lebih ‘China’. Di sini atraksi yang menarik adalah The Peak yang bisa diakses dengan tram dari terminus di bawahnya. Untuk naik ke atas dan menikmati indahnya HK di malam hari dari ketinggian diperlukan biaya sekitar HK$30 dan naik ke atas bangunan pengamatan dengan harga yang hampir sama. Semua tinggal tap aja dengan Octopus Card.

Atraksi lain yang terkenal murah dan unik adalah tram di sepanjang jalanan di HK Island. Sekali naik harganya HK$2 untuk satu trayek penuh yang jaraknya lumayan jauh, ini bisa dianggap sebagai city tour murah meriah. Trem ini memiliki jendela kayu terbuka sehingga kita bisa menikmati pemandangan bangunan-bangunan arsitektural yangcukup terkenal, di antaranya HSBC dan Bank of China yang dirancang oleh Norman Foster dan IM Pei.

Akomodasi
Direkomendasikan Yesinn Hostel (di area HK Island). Harganya untuk tipe dorm sekitar Rp 120.000,-/bed/malam. Hotel ini berada di sebuah gedung flat mirip kebanyakan hotel di HK. Untuk masuk kita harus naik lift dan menuju lantai atas. Terkadang kamar kita berada di lantai yang berbeda dengan lokasi meja resepsionisnya dan harus diakses menggunakan lift lagi. Yessinn ini adalah standar hostel yang bersih dan nyaman. Meski tidak mendapatkan makan pagi, tapi kasurnya empuk banget, begitu leyehan langsung merem.

Makanan
Kawasan Tsim Tsa Tsui tetap menjadi pilihan kami. Di sana terdapat komunitas muslim sekitar Masjid Kowloon yang berasal dari Arab, Pakistan, India (berkumpul di Cungkin Mansion, 200 m dari stasiun Tsin Tsa Sui).

Memilih makanan halal menjadi tantangan sendiri, karena tidak semua resto yang menyatakan dirinya halal belum tentu betul-betul halal. Jadi pilihan amannya adalah makanan vegetarian, makanan laut, atau ikan. Di Kings Road yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi masjid terdapat Restoran Indonesia yang juga menyediakan menu-menu nusantara seperti Telur Bali dan Sayur Lodeh, termasuk Teh Botol Sosro. Tapi hati-hati disana pun mereka menjual menu pork (babi) ... :(

Hong Kong Disneyland!
Apabila Anda ada dana lebih sebesar HK$350 atau sekitar Rp 350.000,-, Anda bisa sekalian mengunjungi Disneyland di daerah Sunny Bay. Tiket itu bisa dipakai untuk mengunjungi semua atraksi di dalam kawasan theme park.

Beberapa atraksi yang ditawarkan adalah Adventure Land, Philharmagic, Tomorrow Land, (Live) Golden Mickey, Parade Karakter (4pm), dan Pesta Kembang Api (8pm). Bahasa yang digunakan mayoritas Cantonese dengan tambahan terjemahan inggris untuk pertunjukan-pertunjukan utamanya.


Golden Mickey at Hong Kong Disneyland.

Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Menuju Shanghai dengan China Railway
Setelah puas mengeksplorasi HK selama 4 hari, kami pun menuju China daratan dengan menggunakan kereta cepat. Dengan tujuan Shanghai, ada 2 pilihan dari stasiun Hunghorm, atau ke Shenzen dulu menggunakan jaringan China Railway. Praktisnya mah terus saja, tapi waktu itu, tiket Hunghorm-Shanghai dah habis dipesan sampai 1 bulan ke depan, jadinya kami bergerak keluar ke Shenzen. Si stasiun terakhir MTR HK, terdapat check point visa kunjungan ke China daratan, ternyata di stasiun itu pula tempat kita mulai bergerak ke arah Shanghai selama 23 jam.

Kereta memiliki fasilitas tempat tidur, yang terbagi menjadi dua jenis: (1) Hard, seharga Rp 400.000,-; dan (2) Soft, seharga Rp 600.000,-). Komunitas di HK yang tadinya multi ras dari berbagai negara mulai berganti dengan domerasa agak susah untuk memulai percakapan dengan orang-orang lokal ini karena kendala bahasa. Mayoritas mereka kurang menguasai bahasa Inggris. Maka perjalanan pun berlalu dengan berteman buku Sudoku.

Di luar kereta api, nampak lansekap daratan yang luas dengan pepohonan yang sejenis, jalanan dan infrastruktur yang besar dan lebar, serta rumah deret berketinggian 3-4 lantai yang tertutup samar-samar oleh kabut tipis. Bukan gambaran kota-kota China yang jorok dan miskin seperti cerita banyak orang selama ini, namun kota-kota yang sedang aktif membangun di sana-sini.


23 hours on a Misty Train.
Foto (c) Dibya Kusyala, 2010

Bersambung ke Perjalanan ke China: Hong Kong, Shanghai, Hangzhou (Part-2)


Profil Kontributor
Dibya, teman saya, adalah pecinta jalan-jalan yang kini bekerja sebagai lecturer di Kuantan, Malaysia. Profesi ini secara tidak langsung memberikannya banyak waktu untuk berjalan-jalan. Untuk tahun 2010, ia sudah menjadwalkan hari-harinya untuk agenda jalan-jalan sepanjang tahun (dengan berburu tiket pesawat promo murmer). Tulisan-tulisan Dibya lainnya dapat diikuti di Dibya Kusyala's Notes.

Wednesday, October 20, 2010

Photo(s) : Sulawesi Trip, 17 days on the road!

Foto oleh : Reno Raditya


(kiri) Monumen Yesus Memberkati;
(kanan)
Taipi Island, the best snorkeling spot so far.
Foto (c) Reno Raditya, 2010


Line Surgeonfish.
Foto (c) Reno Raditya, 2010



Private Pier and Sunset.
Foto (c) Reno Raditya, 2010


Patung-patung purbakala yang misterius di Lembah Bada.
(kiri) Our first megalith: Loga!;
(kanan) And here's the winner: Palindo (The Entertainer).

Foto (c) Reno Raditya, 2010


Tau Tau, patung kayu khas Sulawesi.
Foto (c) Reno Raditya, 2010



It took weeks for her to complete the weaving.
Foto (c) Reno Raditya, 2010



Torajan traditional cloths in To Barana.
Foto (c) Reno Raditya, 2010


Tambahan:
Saksikan kisah lengkapnya di "Indohoy: Stumble Into Indonesia's Unseen Places"! =)



Profil Kontributor
Reno Raditya, teman saya yang akrab dengan panggilan Tyo atau Reno ini, adalah seorang penikmat jalan-jalan yang mengklaim dirinya sebagai traveler, blogger, dan social media & trendings enthusiast. Saat ini salah satu kesibukannya adalah menjadi self-employed trip organizer. Foto-foto di posting ini adalah sebagian dari kumpulan jepretannya saat ia bersama teman-teman menjelajah Sulawesi selama 17 hari. Ingin jalan-jalan bersama Tyo? Silahkan mengunjungi Tustel Trip Indonesia: (We) Plan Your Trip.

[ Ingin turut menyumbang catatan perjalanan, artikel traveling, atau foto? ]

Monday, October 18, 2010

10 Pasar yang Patut Dikunjungi di Dunia

Saya suka sekali pasar, terutama pasar tradisional.

Setiap jalan-jalan ke tempat baru, salah satu tujuan utama saya adalah mengunjungi pasar lokalnya. Saya suka mengamati keramaian dan berbagai macam aktivitas yang terjadi di dalam pasar. Menurut saya, pasar adalah salah satu tempat di mana segala keunikan lokal berkumpul. Dan tidak melupakan satu hal juga, bahwa di pasar kita dapat berbelanja oleh-oleh secara murah meriah, ya toh? :)

Pasar-pasar di bawah ini merupakan pasar lokal yang patut menjadi destinasi wisata Anda berikutnya:

(1) Grand Bazaar, Istanbul, Turki


Grand Bazaar |
photo by varunshiv

Grand Bazaar yang berada di Istanbul, Turki, ini diklaim sebagai pasar tertutup yang tertua dan terbesar di dunia dengan detil arsitektural yang indah dan unik. Pasar ini terdiri dari lebih 58 jalan yang tertutup atap dan lebih dari 1.200 toko-toko yang menarik dengan tingkat kunjungan antara 250.000 dan 400.000 pengunjung perharinya. Pertama kali dibuka pada tahun 1461, pasar ini terkenal dengan perhiasan, tembikar, rempah-rempah, dan karpetnya.

(2) Dili Haat, Delhi, India


Dilli Haat |
photo by siresim

Dili Haat adalah kombinasi tempat makan dan pasar kerajinan yang terletak di jantung kota Delhi. Dili Haat memiliki kios makanan yang mewakili setiap negara bagian di India, menawarkan berbagai selera kuliner India yang lengkap.

(3) Ben Thanh Market, Ho Chi Minh City, Vietnam


Ben Thanh Market |
photo by Herajeng Gustiayu

Ben Thanh Market adalah sebuah pasar besar yang terletak di pusat kota Ho Chi Minh City (Saigon), Vietnam, di Dictrict 1. Pasar ini adalah salah satu struktur awal yang masih bertahan di Saigon dan dianggap sebagai salah satu simbol kota Ho Chi Minh City. Barang yang umum dicari di pasar ini adalah kerajinan lokal, tekstil, áo dài (baju tradisional Vietnam), dan souvenir, serta masakan lokal.

(4) Chatuchak Weekend Market, Bangkok, Thailand


Chatuchak Weekend Market | photo by antwerpenR


Chatuchak Weekend Market yang dikenal dengan sebutan J.J adalah pasar terbesar di Thailand. Berisi lebih dari 5.000 kios yang menjual berbagai macam barang, namun seperti namanya, kebanyakan kios di pasar ini hanya dibuka saat hari Sabtu dan Minggu.

(5) Izmailovsky Souvenir Market, Moscow, Russia


Izmailovsky Souvenir Market |
photo by DrBacchus

Izmailovsky Souvenir Market ini wajib dikunjungi apabila Anda sedang bertandang ke Moskow, Russia. Di sini Anda akan menemukan berbagai souvenir khas Russia yang unik. Dipagari oleh benteng kayu buatan, pasar yang begitu hidup dan ramai ini buka seharian penuh pada akhir pekan, tidak lupa disediakan banyak tempat untuk beristirahat apabila Anda sudah mulai merasa capai berkeliling.

(6) Temple Street Market, Hong Kong, China


Temple Street Market |
photo by S Baker

Temple Street Market adalah pasar yang berada di sepanjang jalan yang terletak di jalan Jordan dan Yau Ma Tei di Kowloon, Hong Kong. Terkenal juga sebagai Men's Street karena kebanyakan barang yang dijual adalah barang kebutuhan pria. Pasar ini dibuka pada pukul 2 siang, lalu lintas ditutup pada jam tersebut dan pengunjung akan mulai berdatangan. Pasar menjadi lebih ramai dan hidup saat hari menjelang malam ke subuh.

(7) Faneuil Hall Marketplace, Boston, Amerika Serikat


Faneuil Hall Marketplace |
photo by BostonPhotoSphere

Faneuil Hall Marketplace adalah sekumpulan bangunan bersejarah (Faneuil Hall, Quincy Market, North Market, dan South Market) yang berlokasi pada satu tempat dan kini berfungsi sebagai pasar festival. Pasar ini mengelilingi promenade di mana para street entertainer seperti juggler, pesulap, dan pemusik menghibur para pengunjung yang datang.

(8) Covent Garden Market, London, Inggris


Covent Garden Market |
photo by Thomas Euler

Covent Garden yang terletak di kota London, Inggris, merupakan area wisata yang terkenal oleh keberagaman aktivitas perdagangannya. Covent Garden sendiri adalah sebuah piazza bergaya Italia yang dikemas dengan berbagai restoran, bar, dan butik-butik ternama. Pada piazza terbuka ini, seringkali diadakan pertunjukan juggler, pantomim, berbagai variasi pertunjukan drama serta musik menghidupkan dan mengagumkan para penontonnya. Restoran, kafe, dan bar di sekeliling piazza ini menawarkan pemandangan menarik pada kesehariannya.

(9) Queen Victoria Market, Melbourne, Australia


Crowds in the Deli Hall - Queen Victoria Market |
photo by avlxyz

Queen Victoria Market di Melbourne, Australia, merupakan pasar terbuka yang digunakan bukan hanya digunakan sebagai tempat berbelanja, namun juga sebagai objek wisata yang menarik bagi penduduk lokal Australia dan turis-turis mancanegara. Denah pasar ini dibagi menjadi beberapa area sesuai dengan jenis produk yang dijual: "the Deli Hall", "Elizabeth Street Shops", "Fished Laneway", "Vic Market Place Food Court", "Fruit and Vegetables", "the Meat Hall", "Organics", "General Merchandise", "Victoria Street Shops", dan "the Wine Market".

(10)
Le Puces, Saint Ouen (Paris), Perancis


Les Puces |
photo by Trends Magazine Paris

Les Puces atau dalam arti harfiahnya, "the fleas" (Flea Market atau Pasar Loak) yang berlokasi di Saint Ouen, Paris, adalah salah satu pasar loak terbesar di Eropa yang memiliki lebih dari 2.000 toko yang menjual barang apa pun yang dapat Anda pikirkan. If you can imagine it, it's probably on sale here—somewhere!

+ + + + +

Tambahan Referensi (Pasar Sebagai Destinasi Wisata)
- Woman's Day: Flea Markets from Around the World
- National Geographic Traveler: Top 10 Shopping Streets

Sunday, October 17, 2010

Lovina Hotesl



Aneka Bagus Lovina Hotel

Aneka Bagus Resort and Spa is located on Pemuteran Beach at the Norwest coast of Bali, which are three hours from Ngurah Rai International Airport. The resort is close to Menjangan Island (considered to be the most beautiful diving spot in Bali), Bali Barat National Park, Banyuwedang Natural Hot Spring and other point of interest in Bali.
2 Royal Suite Villas with private swimming pool (each villa consist of two bedrooms).
14 Villas (each with indoor and out door bathrooms).
12 Lanai Rooms.
Self-adjusting air-conditioning system, IDD telephone, Mini Bar, Coffee and tea maker, Hairdryer, Hot and cold water, Bath-tub and outdoor shower, Cabled colour TV/Indovision, Private Safe Deposit Box, Private terrace

Service & Facilities
Swimming Pool, Restaurant, Bar, Drugstore, Library, Spa, Airport-Hotel transfer, Money Changer, Water Sports/Recreation, Laundry, Room Service, Doctor-on-Call, Parking Lot,

Sanur Hotels

Inna Grand Bali Beach Hotel

Welcome to The Grand Bali Beach, the island of Bali's original - and now newest - resort destination. The Grand Bali Beach located on the site of Bali's first five-star hotel - the Hotel Bali Beach founded in 1966 - is the most complete resort complex in Bali, featuring state-of-the-art visitor facilities, but also numerous artistic amenities that bring to life the cultural excellence of the Balinese people and their many talented neighbors.
Location: On the long, white sandy beach of Sanur from the luxurious ten-storey central tower building, the highest in Bali, landscaped tropical gardens spread out over 45 hectares, with a wide range of recreational facilities & the modern SPA.
TRANSPORTATION
From Kilometers Minutes By :
* Airport 15 20 Car
* Denpasar 5 10 Car
* Benoa Harbour 8 15 Car




Service & Facilities
There are 574 rooms in 3 types of accommodation: 111 rooms of Cottages, 208 rooms of 4 blocks two-stores buildings and 255 rooms of a ten-stores tower wing including a Presidential Suite and 24 Executive Suites.

All rooms have individually controllable air conditioning, humidity control, private bath/shower, radio, Satellite TV, fridge/mini-bar, hair dryer, coffee maker, in-house Movie channel, international direct dial telephone. Tower wing rooms also have in room safes and Card Key door locks.

Jimbaran Hotesl

Keraton Jimabaran Hotel

Keraton Jimabaran Hotel

Keraton Bali have 99 cottages and suites. All cottages have private bathrooms and balconies, individually controlled air-conditioning, in-house audio, video and television with parabola, direct dial telephone with IDD, hair dryer, fridge and 24 hour room service.
Each spacious room at the Keraton Bali has a lovely garden view. At the luxurious suites are fit for a king and queen. Indulge in a royal fantasy with the special added conveniences of a balcony, sitting room and jacuzzi.
Enjoy the pleasures of dining at the Keraton Bali.
Excellent service and delectable Chinese Cuisine are yours at the Singgasana Restaurant.
The Rajapala Coffee Shop offers an international menu to delight every taste. Delicious snacks are presented in baskets at the poolside or on the beachfront.
Keraton Bali provides excellent meeting and dining facilities for up to a hundred persons.
"A really unique, superb choice for meetings and banquets!" Put your mind at ease and impress your professional asociates in style at the the Puri Raja Conference and Banquet Room.






Facilities & Service
Airport Transfer, Tour / Travel Desk, Car rental, Doctor / Clinic, Beauty Salon, Baby Sitting Service, Baby Cots, Boutique, Shopping Arcade, Tarian Open Air Stage, Conference & Banquet Room, for up to 100 person, Laundry and Valet, 24 hours,
Recreational Facilities
Swimming Pool, Tennis Court, Table Tennis, Billiard, Games Room, Windsurfing, Fishing, Outrigger Sailing, Canoeing, Beach Volleyball, > Massage,
Recreational Facilities
  • Rajapala Coffee Shop
    - International Dishes, open 24 hours
  • Singgasana Restaurant
    - Chinese Cuisine
  • The Monkey Bar
    - a poll sunken bar
  • Teluk Jimbaran Bar
    - looking the bay
  • Putri Anjasmara Lobby Bar
    - entertained by live music and karaoke
  • Pizza Corner
    - located at pool side

Puri Bamboo Hotel

The hotel consists of 22 Standard Rooms, 17 Superior Rooms, 8 Deluxe Rooms and 3 Villas. All rooms are large, well designed and furnished with modern ethnic furniture.
Standard Rooms
Simple large rooms with private balcony located in three stories building overlooking the garden and the pool.
Superior Rooms
Traditional Balinese architecture rooms and private balcony with its modern ethnic interior and exterior.
Deluxe Rooms
Traditional Balinese architecture rooms with its modern ethnic interior and exterior make you enable to relax with your family in private family room or in your private balcony.
Villas
Private building in a private area with an open roof bathroom and private gazebo that bring you to feel a real Balinese house within the hotel.



Room Facilities
Air conditioner, Mini Bar, Colour TV, IDD Telephone, Bathtub and shower with hot and cold water, Private balcony

Our room service providing the most favourite dishes from international to local when you would like to have your meal in your room, open from 07.00 to 23.00

Facilities & Service
Safe deposit box in the deep trust, Cyber corner, Laundry and dry cleaning, Free shuttle to and from Kuta 3 times a day, Massage, Money changer, Souvenir shop and boutique, Child care service, Doctor on call (24 hours), Tour information and booking services, Taxi service

You may relax at our outdoor pool with its sunken bar for your favorite drink or sun- bathing.


The Winged Hotel





Hotel Facilities :

  1. Gues Room 
  2. Meeting Room
  3. Cozy Lobby
  4. Restaurant
  5. Laundry
  6. Harbor View Hall
  7. Swimming Pool
  8. Free Internet Service
Room

  • Superior
  • Deluxe
  • Suite




 





 

Nusa Dua Hotels

Nusa Dua and nearby Tanjung Benoa are in a world of their own, where the idea of tourism insulated from the Balinese environment has been implemented. Some of the most famous hotels in Asia are to be found here. Their neo Balinese architecture (giant split gates, huge statues and halls) complements the beautiful natural surroundings palm trees, to provide all the ingredients of a tropical paradise.

Nusa Dua differs from the rest of the Bukit Peninsula. In place of cliffs, sandy soil descends to a long white beach stretching from Nusa Dua proper all the way to Tanjung Benoa harbour, five kilometres to the north. The beach at Nusa Dua is sheltered by coral reef, creating an ideal family beach, while Tanjung Benoa specializes in water sports.

The Bukit peninsula is connected to the rest of Bali by a narrow neck of land. Here, the Jimbaran by area has one of the safest and most tranquil white beaches on the whole island. Jimbaran is renowned for the Barong (trance) dance. It also has Pura Ulun Siwi, a beautiful temple made of brick.

Swiss Belhotel Bali Age

Bali Aga means the original Balinese hidden in the hills of East Bali, near Karangasem, the village of Tenganan, where the most conservative of Bali preserves the old tradition with the greatest zeal.
An interesting legend indeed.
Now, Swiss-Belhotel Resort Bali Aga, a boutique hotel, has reintroduces the legend at Nusa Dua, Bali; where the exquisite and luxuriously appointed rooms captivate the magic; where the traditionally-designed marble lobby enhances the air of luxury; where the smile and warmth of our care and service revive the cultural characteristics that have long been preserved zealously; where the stone and wood carvings depict the cultural story and please the sense of sight and culture; where the magical feeling of Bali brings the happiness to the soul and mind of travelers; where your stay shall always leave a smile on your face and in your heart






Inna Putri Bali



Room

  •   Superior
  • Deluxe Room 
  •   Junior Suite  
  •   Beach Cottage 
  •   One Bedroom Suite 
  •   Two Bedrooms Suite    
  •   Garden Cottage

    From the moment you pass through the gates of Putri Bali towering palms and wide grassy avenues seem to call you wander their shady glades. Touches of traditional Balinese architecture enhance the strong modern lines of the property set amongst this verdant greenery, giving Putri Bali a charm of its own.
    The Large outdoor pool with its sunken bar attracts most guests to cool off during the heat of the day. The 384 rooms are large, well-appointed and comfortably furnished with luxurious simplicity overlooking the vast gardens to the sea.
    Spacious atriums and walls of hanging vines over secluded gardens give the walkways a peaceful feeling in harmony with nature. The warm smiles and "family-like" service offered by Putri Bali staff never fail to win a heart. Guests are encouraged to join in with traditional activities, and experience true Balinese culture.


    A short stroll through lush gardens to the Beach Club, just next to the pool, brings you mediterranean al fresco style dining in a casual atmosphere enhanced by sea breezes. At Taman Tirta Cafe-Restaurant you may dine in an air-conditioned interior, or a shaded garden setting, Choose from a lavish beffet, or a wide selection of International delights a la carte.
    Leisure and pleasure are mode easy at Inna Putri Bali. Enjoy a wide range of water sports from sailing, wind-surfing, and skin diving. Anyone for tennis ? Or why not take a bicycle ride around the resort ? or spoil yourself at the Spa. Unique to Putri Bali is the opportunity to join in with our cultural activities. It's fun for all and provides an insight to traditional Balinese arts and crafts.
For those who wish to combine business with pleasure, Putri Bali offers a choice of Conference and Banquet facilities, comfortably accommodating from 50 to 300 people.. And why not a round of golf before your morning meeting? The Bali Golf and Country Club is an invigorating 5 minute buggy ride from the resort

Melia Benoa Bali




 
A total of 128 rooms and suites: 34 Deluxe Rooms, 56 Premium Rooms, 28 Executive Jr. Suite, 4 Honeymoon Suites and 6 Grand Suites that mirror Bali's graceful elegance and allure. Direct-dial Telephone. Satellite TV. Safe Deposit Box. Wi-Fi and modem Internet access. Private Balcony with most of rooms having views of rustic gardens and vast Indian  Ocean.

Rooms
  • Occupancy
  • Twin Sharing
  • Single
  • Family Suite (max.4 pax)
 Hotel Facilities
  • PASEBAN BALLROOM

  • FUN AND GAMES ROOM

  • KARAOKE ROOM

  • KIDS CLUB

  • SPA AND FITNESS CENTER

  • ENTERTAINMENT AND SPORT CENTER

  • CLINIC

  • INTERNET CORNER

  • WATER SPORT

  • SWIMMING POOL

 

 

 

 

 

 

 

 

 








 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting