Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Monday, October 25, 2010

Eat, Pray, Love: Solo Travel Tips for Women (and Men)

Baru-baru ini saya menonton "Eat, Pray, Love", sebuah film tahun 2010 yang diangkat dari novel memoar laris berjudul serupa (saya belum baca novelnya).

Inti cerita dari film ini adalah tentang seorang wanita sukses (punya karir yang bagus, suami ideal, dan seterusnya) yang pada suatu titik dalam hidupnya tiba-tiba merasa "kosong" dan patah hati.

Ia kemudian melakukan perjalanan seorang diri ke tiga negara dalam upaya untuk mengisi kekosongan dirinya dan mencari tahu apa yang sebenarnya ia inginkan di hidupnya. Negara yang dikunjunginya adalah Italia (Roma), India (Pataudi), dan Indonesia (Bali).

Filmnya sendiri menurut saya cukup bagus. Walaupun waktu awal-awal agak terasa membosankan, namun pada akhirnya bisa saya nikmati juga.

Film ini, selain penuh dengan kata-kata bijak menenangkan untuk yang sedang patah hati, membuat saya banyak berpikir dan bertanya kepada diri sendiri:
"Asik banget jalan-jalan sendirian gitu, gw bisa ngga ya?"
"Tapi duitnya darimana ya? Musti nabung banyak-banyak dulu..."
"Eh apa dia sekaligus kerja ya pas lagi jalan-jalan?"

"Lucu juga tuh penginapannya, sebulan bayarnya berapa ya?"
"Wuaaa, pizza segede itu porsi buat satu orang??"

"Italiii, indah banget!"

"Indiaaa, unik banget!"

"Baliii, tunggu saya!"

"..."
"Lhooo, ada Christine Hakim!" (ya, saya memang ketinggalan berita)


Hehehe... Jujur, pikiran saya kebanyakan hanya ke bagian makan dan jalan-jalannya aja. Menurut saya, sang tokoh utama tampaknya lebih berfokus kepada hubungan cintanya ketimbang menikmati "the joy of being alone" dan kebebasan dalam menikmati "me-time" nya sendiri. Sayangnya lagi, ia tidak terlalu banyak mengeksplorasi budaya dan tempat-tempat baru di negara-negara yang dikunjunginya, kecuali waktu di Italia mungkin.

Yah, itu sih pendapat saya, tapi sekarang saya bukan mau membahas film itu, tapi mau membahas tentang solo traveling.

Apa sih solo traveling itu?
Solo traveling alias jalan-jalan seorang diri tanpa teman jalan memang punya trik-triknya sendiri, terutama untuk pejalan wanita. Keselamatan dan keamanan adalah salah satu poin yang paling diperhatikan bagi para pejalan wanita.

Catatan penulis: Saya sendiri belum pernah mencobanya, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan solo traveling suatu saat nanti. ... Nanti.

Menurut para solo traveler wanita yang sudah berpengalaman, rasa takut pasti ada pada saat pertama kali mereka bepergian sendirian tanpa teman jalan. Namun semakin lama kita bepergian, maka semakin beranilah kita. Merasa kesepian? Itu biasa, tapi dalam perjalanan pasti ada saja teman baru yang kita temukan.


Solo traveling: A way to learn better about yourself. | photo by AlicePopkorn

Banyak yang berpendapat bahwa dengan solo traveling kita akan lebih mengenal diri kita sendiri, karena selama perjalanan kita akan lebih banyak berkomunikasi ke diri sendiri dan hanya dapat bergantung dengan diri kita sendiri.

Mungkin hal itulah yang akhirnya ditemukan Elizabeth Gilbert, tokoh utama dalam film "Eat, Pray, Love" (diperankan oleh Julia Roberts). Pada akhir cerita, dengan banyak dukungan dari teman-teman barunya, Gilbert menemukan satu titik pencerahan saat ia berhasil berkomunikasi kepada dirinya sendiri dan berhasil menciptakan rasa percaya dirinya untuk menjalani sesuatu (hubungan cinta) yang baru. Oh, the power of traveling!

20 Solo Travel Tips for Women (and Men)
Ingin mencoba solo traveling (dan menemukan Felipe Anda, jika beruntung)? Merangkum dari berbagai sumber, di bawah ini ada beberapa tips untuk para solo traveler pemula:

Keselamatan dan Keamanan
(1) Selalu cari tahu lebih dahulu tentang budaya yang terdapat di daerah tersebut.
(2) Cobalah bersikap seperti warga lokal.
(3) Hindari menggunakan pakaian yang terlalu terbuka dan gadget yang terlihat mahal, bersikaplah konservatif dan sederhana.
(4) Yakinkan bahwa ada seseorang yang tahu di mana Anda berada, baik itu resepsionis hostel maupun teman Anda. Jangan lupa tinggalkan draft itinerary Anda kepada orang rumah.
(5) Ketahui dan pelajari bahasa percakapan lokal mendasar. Atau selalu bawalah buku percakapan dasar ke manapun Anda pergi.
(6) Gunakan cincin kawin (walaupun Anda belum menikah), ini berguna untuk mencegah datangnya gangguan tertentu untuk para solo traveler wanita.
(7) Percayai insting Anda. Apabila insting Anda mengatakan bahwa sesuatu itu berbahaya, hindari secepat mungkin.
(8) Gunakan tanda "Do Not Disturb" ("Jangan Diganggu") di pintu kamar Anda.

The Joy of Being Alone
(9) Saat makan di luar, ambillah tempat duduk di pojok cafe/restoran yang memiliki pemandangan keluar.
(10) Bawalah bacaan atau jurnal untuk menulis sebagai pengisi waktu saat Anda menunggu sesuatu maupun sedang bersantai.
(11) Nikmatilah mengamati orang yang lalu lalang beserta kesibukannya masing-masing, juga asahlah "the fine art of eavesdropping" (seni mencuri dengar) Anda.

Merasa kesepian?
(12) Teleponlah keluarga atau teman Anda di rumah.
(13) Cari sambungan internet dan buka akun Facebook Anda untuk berinteraksi dengan keluarga atau teman di rumah.
(14) Sebelum berangkat jalan-jalan, bawalah sarung bantal Anda dari rumah dan gunakan di kamar tempat Anda menginap. Terkadang membawa satu benda yang familiar dengan tempat asal Anda akan sedikit mengobati homesick.
(15) Buatlah network sebelum Anda bepergian, baik itu dari temannya teman, kenalan orangtua Anda, dan semacamnya. Paling tidak Anda akan merasa aman apabila di tempat tujuan ada seseorang yang bisa Anda hubungi segera bila terjadi sesuatu.
(16) Keluar dari kamar Anda dan buatlah teman baru.

Mari Berteman
(17) Siap-siap untuk nongkrong di common room hostel Anda dan mulailah mencari teman mengobrol, carilah para backpacker yang terlihat santai dan ramah untuk diajak mengobrol.
(18) Bergabunglah dengan guided tour agar bertemu dengan traveler lainnya.
(19) Ikuti kelas yang terkadang disediakan oleh pihak hostel, contohnya: kelas memasak makanan Thailand, kelas yoga di India, dan sejenisnya.
(20) Senyum dan bertanyalah. Terkadang satu pertanyaan akan menjadi awal dari sebuah percakapan yang menyenangkan dengan seorang teman baru.

Akhir kata, mengutip Marybeth Bond, seorang travel writer dan female solo traveler berpengalaman:
"Be brave and take the plunge - try traveling solo, you may become a convert. Remember, it is better to BE alone than to wish you WERE alone."


Explore. Dream. Discover. | photo by [Satbir]

+ + + + +

Referensi lebih lanjut:

- Solo Travel: 6 Reasons To Wander Alone
- How to Prepare for Solo Travel
- Solo Travel: 10 Tips to Get You Started
- The Best Destinations for Women Traveling Solo
- Travel Alone and Love it: 50 tips
- 12 Ways to Combat the Solo Traveler Blues
- How Solo Travel for Women Changes You


Bacaan lebih lanjut:
[FREE e-Book] Glad You’re Not Here: A solo traveler’s manifesto(1) Free eBook - Glad You’re Not Here: A solo traveler’s manifesto
eBook gratis tulisan Janice Wough ini berisi alasan-alasan untuk melakukan
solo travel dan manfaat-manfaat yang diperoleh saat Anda melakukan solo travel. Anda akan lebih yakin untuk melakukan solo travel setelah membaca eBook ini!

[E-Book] The Art of Solo Travel: A Girls' Guide for women traveling solo(2) The Art of Solo Travel: the Premier Guide for Women Traveling Solo
Ini adalah eBook yang menjabarkan Solo Travel untuk para pejalan wanita. eBook yang ditulis oleh Stephanie Lee,
seorang solo traveler wanita berpengalaman, ini berisi semua pengetahuan dasar yang Anda butuhkan dalam memulai perjalanan solo Anda sendiri.

[Book] Gutsy  Women: More Travel Tips and Wisdom for the Road (Travelers' Tales)(3) Gutsy Women: More Travel Tips and Wisdom for the Road (Travelers' Tales)
Kebetulan saya lagi dipinjami sebuah buku oleh sepupu saya (yang juga pernah menulis posting ini). Buku ini berjudul: Gutsy Women: More Travel Tips and Wisdom for the Road (Travelers' Tales). Buku karya Marybeth Bond ini berisi banyak tips dan trik untuk bepergian sendirian, ditujukan lebih khusus untuk wanita, walau dapat diterapkan juga untuk pejalan pria. Banyak pula pengalaman dan kebijakan yang dapat kita temukan di buku ini. Salah satu kutipan yang saya suka dari buku ini adalah: "Remember, you only need three things to have a great trip: your passport, your money, and, above all, your sense of humor."

(4) Travel Hemat - Panduan Praktis Bagaimana Merencanakan dan Melakukan Perjalanan Hemat Keliling Dunia
[e-Book] Panduan Praktis Melakukan Perjalanan Hemat Keliling DuniaTampaknya tidak lengkap jika saya tidak memasukkan eBook karya Agung Basuki ini dalam daftar bacaan lebih lanjut. Ditulis dalam Bahasa Indonesia yang ditujukan khusus untuk orang Indonesia, eBook setebal 148 halaman ini sarat dengan informasi bagaimana mempersiapkan dan melakukan perjalanan keliling dunia dengan hemat, baik secara perorangan maupun bersama-sama dengan teman. Dicantumkan pula bagaimana cara menghasilkan uang saat kita sedang berjalan-jalan, sehingga biaya perjalanan kita dapat ditutup dengan penghasilan yang kita dapatkan.

Sunday, July 25, 2010

Indiana Jones, Pejalan Idola Saya

Ketika saya masih kecil --seperti banyak anak kecil lainnya-- saya selalu terkagum-kagum saat menonton kisah petualangan Indiana Jones, seorang profesor arkeologi yang gemar berpetualang, tokoh fiktif ciptaan George Lucas.

Walaupun ada pula pejalan yang terinspirasi oleh kisah petualangan Tintin (seperti Kang Ocon), atau kisah petualangan Old Shatterhand (seperti Seno Gumira Ajidarma), namun idola saya tetap Indiana Jones alias Indy. Ada yang tahu kalau nama "Indiana" itu sebenarnya diambil dari nama anjing peliharaan keluarga Indy?

Indiana Jones and the Last Crusade's Movie Poster
Indiana Jones and the Last Crusade's Movie Poster
| from spleenworld

Saat masih kecil, saya dan kakak-kakak saya sering pura-pura berpetualang ke suatu tempat baru yang belum terjamah manusia. Kami berpura-pura terdampar di sebuah pulau terpencil, menjadi bajak laut atau seorang Robinson Crusoe.

Ingin tertawa saya membayangkan kelakuan kami saat itu, memanjat "tebing" alias jendela kamar untuk (ceritanya) menangkap ayam hutan; meniti "tebing" alias railing tangga rumah yang cukup membuat ibu saya menjerit-jerit panik; membakar ikan mas peliharaan (yang sudah mati) dengan "api unggun" alias api lilin. Begitulah tingkah anak yang besar di kota dan ingin menjadi petualang, sungguh kasihan...

Indiana JonesSaya ingat saya pernah bercita-cita menjadi seorang arkeolog, yang saya kira pekerjaannya seru: masuk ke piramid, membongkar makam Firaun, menggali tulang-tulang dinosaurus serta makhluk-makhluk purbakala dan lain sebagainya. Namun saat saya mulai besar, banyak yang berkata bahwa pekerjaan arkeolog di Indonesia "cuma" menggali candi-candi, dan tidak seseru pekerjaan si tokoh Indy ini. Cita-cita saya untuk berpetualang keliling dunia dengan menjadi arkeolog pun kandas di tengah jalan.

Saya harus jujur, saya ini sebenarnya penakut. Waktu kecil saya cengeng sekali, sedikit-sedikit menangis dan merengek ingin pulang ke rumah saat sudah berada di sekolah. Kasihan juga ibu saya waktu itu. Kalau saya ingat-ingat lagi, benar-benar tak tahu diri kalau cita-cita saya ingin menjadi seorang Indy.

Setelah menjalani perkuliahan yang kebetulan sering dituntut untuk survei lokasi, jiwa petualang amatiran saya tampaknya mulai bangkit kembali secara perlahan. Saat selesai kuliah dan mulai bekerja kantoran, saya merasa saya kehilangan momen "survei" dan pengalaman dalam mempelajari sebuah tempat. Saya kangen survei dan suasana jalan-jalan bersama teman-teman.

Saat itulah saya memutuskan untuk lebih sering jalan-jalan, minimal dua kali setahun saya harus pergi jalan-jalan ke sebuah tempat baru, tak masalah dekat maupun jauh. Apalagi waktu untuk berjalan-jalan saya semakin fleksibel setelah saya resign dari bekerja kantoran, yang salah satu alasannya karena ingin mulai mencoba bekerja mandiri. Rasanya bebasss! :)
PS. Oh ya, apabila Anda menyukai dan ingin mendukung situs perjalanan The Backpacker's Notes ini, Anda dapat mentraktir saya semangkuk bakso atau segelas es campur melalui akun Paypal saya. Kalau tidak bisa atau tidak ingin juga tidak apa-apa, situs ini tetap akan berbagi informasi perjalanan secara cuma-cuma! Woo-hoo! :)
Pernahkah Anda terpikir bahwa dunia kita ini amat luas? Beragam kekayaan alam dan budaya dengan segala keunikannya tersebar di setiap sudut belahan dunia. Apabila seseorang menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk mengeksplorasi dunia, mungkin ia tidak akan pernah selesai untuk melihat semua keunikan yang ada. Yah, paling tidak saya akan mencoba untuk melihat sebanyak-banyaknya semampu saya.


PC Game: Indiana Jones and the Fate of Atlantis| from PC Games Hardware

Dalam belajar menjadi "petualang", saat saya melakukan perjalanan ke sebuah tempat baru, saya berprinsip untuk selalu mencoba tidak membandingkan apa pun dengan tempat asal muasal saya, karena setiap tempat unik dan memiliki kekurangan serta kelebihannya masing-masing. Selain itu, saya juga mencoba melihat perjalanan sebagai sebuah tantangan dan petualangan baru. Sebisa mungkin saya mencoba untuk berpikiran terbuka dan tidak mengeluh akan hal-hal kecil yang mungkin tidak sesuai dengan kebiasaan saya di rumah. Kan saya ingin menjadi petualang, gengsi dong kalau cengeng. Hehehe... Apalagi kalau saya ingat: mana ada Indiana Jones mengeluhkan hal-hal yang tidak penting?

Kalau Anda sendiri, siapakah tokoh idola masa kecil yang menginspirasi Anda dalam menjadi seorang pejalan?

+ + + + +

PENUTUP

Diambil dari percakapan Indy, ayahnya (Henry), dan teman Indy (Sallah), pada film Indiana Jones and The Last Crusade (1989):
Henry: Come on, Junior.
Indiana: Dad, will you stop calling me Junior?
Sallah: I don't understand. What is this Junior?
Henry: That's his name: Junior! Henry Jones, Junior.
Sallah: I thought his name was Indiana.
Indiana: I like "Indiana".
Henry: We named the dog "Indiana"!
Marcus: Can we go home please?
Sallah: The dog?
Haha! You are named after the DOG?
Indiana: I have a lot of fond memories of that dog.
(sumber: Indiana Jones and The Last Crusade's Movie Quotes)

Monday, May 31, 2010

Arti "Traveling" Bagi Saya

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.”
- Henry Miller


Hobi saya setahun belakangan ini adalah berburu tiket pesawat murah. Apalagi dipacu dengan adanya promo-promo 0 rupiah sebuah maskapai penerbangan asal Malaysia, hobi saya terasa makin dipuaskan saja.

Bagi yang memiliki hobi traveling seperti saya, booking tiket promo bagaikan bermain online game. Bikin ketagihan!

Rasanya puas sekali apabila berhasil mendapat tiket murah, apalagi setelah berhasil melewati beberapa "tantangan". Tantangan tersebut antara lain adalah website maskapai penerbangan yang seringkali down karena padatnya traffic akibat perburuan tiket, gagalnya booking karena kartu kredit yang melewati limit, dan sebagainya. Dapat dibilang kami adalah shopaholic khusus tiket, hehehe... Sederhana sebenarnya, kalau orang lain beli gadget terbaru, kami beli tiket.

Sementara ini budget saya untuk membeli tiket dibatasi hingga maksimal 2 juta rupiah untuk sekali perjalanan ke LN. Perjalanan (ke LN) saya biasanya 1-2x/tahun, tergantung sikon. Masih realistis kan? Anggap saja reward setelah capai bekerja.

Tiket termurah yang pernah saya beli dengan pengalaman terbanyak dan paling menyenangkan adalah tiket dengan rute Jakarta - Singapore - KL - Ho Chi Minh City - Bangkok - Jakarta, dengan total biaya sekitar 1,5 juta. Dan yang terakhir adalah tiket perjalanan ke Macau - Hong Kong dengan total biaya sekitar 1,6 juta. Sangat murah jika dibandingkan dengan harga tiket normal. Ngomong-ngomong, teman saya pernah mendapatkan tiket one way ke Singapore seharga Rp 30.000,-!

Benar-benar kita beruntung hidup di masa ini, di mana biaya transportasi ke LN semakin murah. Informasi tentang tujuan wisata pun melimpah di internet, sehingga aktivitas traveling terasa semakin mudah. Ha! It's rhymed! Murah, melimpah, mudah. Hehehe...

Saya ingat, dahulu waktu saya kecil, tampaknya hanya orang yang benar-benar "makmur" yang dapat berjalan-jalan ke luar negeri, namun sekarang tampaknya siapa pun mungkin. Meminjam tagline maskapai penerbangan favorit saya, "Now Everyone Can Fly!"

Arti Traveling Bagi Saya
Seiring dengan berjalannya waktu, tampaknya tipe traveling saya mulai berubah. Apabila dulu saya seperti berlomba untuk sebanyak-banyaknya mendatangi dan melihat beberapa tempat sekaligus dalam waktu singkat, kini saya lebih memilih untuk "menyelami" dan menikmati keindahan lokal dengan rentang waktu yang lebih panjang. Rupanya tipe traveling saya mulai beralih ke tipe "slow travel". Mudah-mudahan ini adalah perubahan ke arah yang lebih baik.

Traveling itu sendiri secara tidak langsung membuat saya belajar banyak dan melatih saya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, menerima keadaan seperti apa adanya, melihat perbedaan sebagai keindahan, serta membuat saya lebih mengenali diri saya sendiri dan orang lain.

Dengan traveling saya juga dituntut untuk cepat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan baru termasuk beradaptasi dan bertoleransi dengan teman jalan saya, khususnya apabila itu kali pertama kami backpacking bareng.

Saya belajar bahwa tidak semua orang cocok dengan gaya jalan saya yang dapat dibilang ngirit abis dan whatever will be will be, jadi jangan salahkan saya apabila kini saya cukup pemilih dalam mencari teman jalan. Kan kasihan kalau teman jalan saya nanti harus "menderita" seperti saya, hehehe... (Memang ternyata teman jalan harus cocok-cocokan seperti kata Trinity.)

Lama kelamaan saya juga menyadari bahwa dalam traveling, rupanya saya lebih menyukai unsur petualangan dalam "perjalanan" menuju ke sana, bukan destinasinya. Destinasi yang indah dan menarik "hanyalah" reward dari "perjuangan" yang telah saya hadapi untuk mencapainya. Proses perjalanan yang menariklah yang membuat saya lebih menikmati dan menghargai destinasi tersebut.

Ada orang yang bilang, traveling mengajarkan kita tentang hidup jauh lebih banyak daripada bertahun-tahun belajar di bangku sekolah. Menurut saya pendapat tersebut ada benarnya juga. Walaupun saya memang masih termasuk amatir dalam urusan traveling, namun dari "petualangan-petualangan" saya yang tidak seberapa itu saya sudah mendapatkan banyak pengalaman baru (dan teman baru) yang unik-unik dan senantiasa menginspirasi saya.

Tips saya untuk para calon traveler:
Sebuah buku yang sedang saya pinjam dari sepupu saya* memberikan tips sebagai berikut, "Remember, you only need three things to have a great trip: your passport, your money, and, above all, your sense of humor." - Gutsy Women, oleh Maribeth Bond.

Bon voyage! :)

Gambar © Saniphoto | Dreamstime.com
*Thanks ya May buat pinjeman bukunya, hehehe...

Thursday, April 15, 2010

Mengapa Harus ke Luar Negeri?

Posting tamu oleh : Okvina Nur Alvita


“Ngapain sih buang-buang duit ke luar negeri? Di Indonesia juga banyak tempat bagus kok.”

“Ngelilingi seluruh Indonesia aja belum, ngapain harus ke luar negeri?”
Komentar seperti itu sering saya dengar dari beberapa orang saat saya sedang semangat-semangatnya ‘mengompori’ mereka untuk merencanakan traveling ke luar negeri. Syukur-syukur kalau mau traveling ala ‘gembel’ bersama saya. Bahkan ada yang bilang begini ke saya,
“Aku nggak bakalan ke luar negeri kecuali hanya untuk naik haji atau umroh.”
Saya tidak tahu apa alasan mendasar mereka sehingga tidak ingin pergi ke luar negeri. Kalau dari segi finansial sih rasanya bukan, karena yang bilang begitu rata-rata cukup mapan secara finansial. Cinta Indonesia? Mungkin. Tapi saya nggak yakin kecintaan mereka pada Indonesia melebihi saya (bangga nih ye… :D)

Memang, hanya sebagian kecil dari Indonesia yang sudah pernah saya jelajahi. Tapi itupun tidak mengurangi kecintaan saya pada Indonesia. Bisa dikatakan kalau saya salah satu orang Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Saya salah seorang batik lovers, saya sedang berusaha untuk memakai produk-produk dalam negeri, dan saya juga gencar ‘mengompori’ kawan-kawan saya untuk memakai produk dalam negeri juga. Namun demikian, saya selalu tertarik untuk pergi ke luar negeri. Entah itu untuk program pertukaran pelajar, student conference, melanjutkan jenjang pendidikan ataupun sekedar traveling saja.

Ada yang bilang kalau saya itu “luar negeri minded”. Tidak masalah bagi saya dengan sebutan itu karena saya memiliki beberapa alasan yang sangat make sense mengapa saya suka sekali dengan yang namanya luar negeri.

Saya akui, kalau hanya untuk menikmati alam dan ke tempat-tempat wisata saja, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Indonesia tercinta kita ini memiliki semuanya. Laut yang biru, pantai dengan pasir yang putih bahkan pink, gunung, hutan dengan berbagai vegetasinya, air terjun, danau, ngarai, panorama bawah laut, semuanya ada di Indonesia. Salju? Ada kok, tapi musti naik gunung Jayawijaya dulu. Hehehe… :D

Selain kekayaan alam, apa lagi yang dimiliki oleh Indonesia? Ya pastilah kekayaan budayanya. Kita memiliki identitas sebagai suatu negara dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Kita sangat kaya dengan warisan budaya yang berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke dan kita masih bisa mempertahankannya. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik kita bagi wisatawan asing. Lalu kalau semuanya Indonesia sudah punya, mengapa masih harus ke luar negeri? Inilah yang akan saya jelaskan.

Mengapa saya suka sekali ke luar negeri? Karena banyak sekali yang saya pelajari saat saya ke luar negeri. Berikut ini adalah daftar alasannya:
  1. Saya belajar memahami kebudayaan dan kebiasaan orang setempat. Saya memperhatikan bagaimana mereka bergaul, bagaimana mereka melakukan kegiatan sehari-hari dan bagaimana mereka beraktifitas. Semua hal itu tentunya berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh orang Indonesia pada umumnya.

  2. Saya belajar etos kerja negara lain. Saya belajar tentang bagaimana negara-negara maju sangat menghargai waktu dan bagaimana semuanya harus terjadwal dengan baik sekaligus dibarengi dengan disiplin yang tinggi.

  3. Saya mengagumi ke-"modern”-an negara yang lebih maju dari Indonesia dan selalu berpikir, kapan ya Indonesia bisa seperti itu? Ini bisa jadi pemicu bagi kita untuk berkotribusi demi kemajuan bangsa ini.

  4. Saya bersyukur jadi orang Indonesia saat berada di negara yang di bawah (lebih miskin dari) Indonesia. Walaupun dengan semua permasalahan yang sedang membelenggu negeri kita tercinta ini, tapi saya bersyukur menjadi warga negara Indonesia, bukan warga negara lain.

  5. Saya memperhatikan penduduk lokal dan ekspresi-ekspresi muka mereka. Saya suka sekali melihat wajah-wajah penduduk lokal dan ekspresi-ekpresi wajah yang mereka tunjukkan karena itu merupakan cerminan dari negara mereka.

  6. Saya membandingkan apa yang negara lain punya dan apa yang tidak Indonesia punya serta bagaimana cara mereka (negara lain) meraih itu. Emang dasar saya orangnya suka memperhatikan segala sesuatu, sekecil apapun itu, saya jadi suka membandingkan Indonesia dengan negara yang saya kunjungi. Saya membandingkan Indonesia bukan untuk mengejek ketertinggalan kita, tapi untuk mencari tahu bagaimana caranya negara tersebut bisa meraih sesuatu yang kita belum mampu meraihnya?

  7. Saya menjadi lebih bangga jadi orang Indonesia dengan semua keunikan yang dimiliki oleh Indonesia.

  8. Di luar semua itu, banyak sekali pengalaman berharga yang akan kita dapat saat kita di luar negeri.
Intinya, ke luar negeri nggak hanya sekedar jalan-jalan, tapi otak dan pemikiran kita juga ikut “jalan-jalan”. It change our mind set and our point of view of life. Inilah yang mahal harganya dan tidak bisa dibayar dengan nominal angka, tapi dengan pemahaman yang lebih holistik tentang kehidupan.

Bogor, 27 Maret 2010 20:12
~Okvina Nur Alvita

+ + + + +

Image credit (c) Aneta Blaszczyk


Profil Kontributor
Okvina Nur Alvita, akrab disapa Vina, seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah institusi negeri di Bogor dan ingin melanjutkan studi S2 di bidang child and youth studies. Salah satu keinginannya adalah mengembangkan pendidikan holistik berbasis karakter di sekolah konvensional yang ada di Indonesia. Dua hal yang paling disukai oleh Vina adalah menulis dan traveling. Yang pasti, menurutnya hidup haruslah bermanfaat untuk orang lain. Tulisan Vina lainnya dapat disimak di blog pribadinya: Ladies Traveler - all about my travel experiences.

Thursday, March 4, 2010

Enak Ngga Enaknya Traveling

Setelah tiga bulan berkutat mengulik mainan baru, yakni blog The Backpacker's Notes ini, tempat para backpacker berbagi cerita, dengan ini saya meresmikan travel blog ini:

*drum rolls, please*

What a day!
Image taken from sxc.hu

The Backpacker's Notes
http://backpacker-notes.blogspot.com
Travel on a Shoestring | explore the world, meet new people, visit new cultures, and see global wonders (on a budget!)


Terimakasih untuk para kontributor yang hobi jalan-jalan (dengan biaya terbatas) atas bagi-bagi infonya:
- Dhitta Puti Sarasvati
- Hanny Musytika
- Ronggo Ahmad Wikanswasto
- Dibya Kusyala
- Sasmaya Suliztiarto
- Anto Lucu
- Juningsih Anggraeni
- Anida Dyah Pratiwi
- Listya Reina Karyadi
- Wenny Rosliana
- Arlinda Wibiayu

Thanks guys! Sering-sering ngasi kontribusi ya! Hehehe... :)

Enak Ngga Enaknya Traveling
Seperti yang sering saya bahas dengan teman-teman lain yang juga hobi jalan-jalan, terkadang dalam traveling tidak semua hal berlangsung lancar dan menyenangkan, hal ini menimbulkan pertanyaan di kepala saya dan ingin saya tanyakan kepada para traveler.

Pertama adalah:
Apa sih yang Anda sukai dari kegiatan traveling?

Bersantai-santai + dimanjakan di hotel tanpa gangguan pekerjaan? Melihat/memotret tempat-tempat yang unik & indah? Keinginan untuk bertemu dan berkenalan dengan orang baru? Melihat budaya & cara hidup yang berbeda? Atau apa?

Lalu pertanyaan kedua:
Apa yang akan Anda lakukan apabila ternyata Anda tidak menemukan apa yang Anda cari (jawaban dari pertanyaan pertama) di tempat tujuan?

Saya sendiri, yang saya sukai dari jalan-jalan ke suatu tempat baru adalah unsur petualangannya. Facing the unknown.

Rasanya seru waktu menuju suatu tempat dengan bertanya-tanya, apakah saya akan tiba di sana dengan lancar tanpa halangan yang berarti? Apakah nanti saya bisa mengatasi halangan-halangan yang muncul di jalan? Apa yang akan saya lihat di sana nanti? Siapa sajakah yang akan saya temui di sana? Hal-hal baru apa sajakah yang menanti saya di sana? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang berkecamuk di pikiran.

Baru-baru ini saya membaca artikel menarik berjudul "Sindrom Paris: Menghadapi Gegar Budaya, Merubah Persepsi Wisata" oleh Ambar Briastuti, salah satu pendiri indobackpacker.com.

Artikelnya membuat kita berpikir kembali tentang "Apa yang saya harapkan dari traveling?" dan "Mengapa saya traveling?"

Terkadang kita memiliki ekspektasi yang berlebih terhadap suatu tempat, sehingga menjadi kecewa apabila apa yang kita temui ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
"... Sebuah tips yang menarik dari Oggi Gunadi agar tidak terlalu kecewa jika ekpektasi tidak seperti yang diharapkan. Yakni “mengubah konsep TRAVELLING menjadi DISCOVERING dan EKSPLORING…” dengan membuat perjalanan sebagai sebuah tantangan. Seperti yang disampaikan Alain de Botton dalam bukunya The Art of Travel. “Not where we travel, but why we travel.” ..."
Wah saya setuju sekali.

Sebagai contoh kasus, meskipun perjalanan backpacking pertama saya dan dua orang teman ke empat negara Desember 2009 kemarin tidak sepenuhnya sempurna, namun untungnya kami bertiga dapat mengatasi halangan-halangan tersebut.

Tips-nya : Pokoknya semua dibawa fun aja! Keep it easy. :)

Bila diingat-ingat lagi, banyak kejadian lucu saat kami bertiga backpacking:

"Pintu keluar yang di sana itu lho..."
Di Singapore, saat kami berjalan-jalan & berbelanja di Mustafa Center, kami terpisah dengan seorang teman akibat miskomunikasi. Apalagi waktu itu hanya HP saya yang berfungsi, kedua HP teman saya tidak dapat digunakan.

Nyaris lewat dari 1 jam kami berputar-putar di Mustafa Center, saling mencari dengan tubuh lelah & pikiran kusut. Untung saja akhirnya kami ketemu juga! Ternyataaaa... titik pertemuan yang kami sepakati berbeda! Astagaaa, pantes aja ngga ketemu-ketemu, hehehehe...

Waktu di depan Mustafa sih kita bertiga ngomel-ngomel, kenapa gini kenapa gitu, apalagi ditambah dengan tubuh lelah & pikiran kusut. Namun begitu sampai di hostel dan selesai bebersih, setelah kami reka ulang kejadian yang baru saja terjadi itu, kami bertiga akhirnya tertawa terbahak-bahak. Astaga, bisa-bisanya miskom... Hehehe...
Moral of the story:
Kalau tidak ada alat komunikasi, lain kali lokasi janjian harus bener-bener harus ditunjuk, hindari janjian dengan ngomong doang, "Eh gw tunggu di depan pintu keluar ya!" -- Padahal pintu keluar ada tiga bijiiii!! :))

Tragedi di Dalam Bus Menuju Melaka

Saat di Malaysia, di Puduraya Bus Station, karena banyaknya loket bus, kami sempat salah memilih bus. Bus yang mengantar kami ke Melaka ternyata bukan bus yang direkomendasikan orang-orang. Jam keberangkatan bus kami delay sekitar satu jam, karena ternyata bus ini prinsipnya "baru jalan kalau kursi penumpang sudah terisi semua". Waktu tempuh yang seharusnya bisa cuma 2 jam, ditempuh selama 3 jam karena rute bus-nya berputar-putar dahulu untuk mencari & menurunkan penumpang.

Daaannn, sopir bus kami GALAK banget! Aih!

Sebelum berangkat saja dia sudah membentak-bentak, "Siapa ini yang bawa durian??? Turunin! Bisa-bisa seperjalanan kita semua mabok!" Lalu ada seorang turis wanita, sepertinya dari Chinese, yang dibentak-bentak dengan kasar di hadapan penumpang lainnya karena meludah di tempat sampah bus. "Kamu pikir saya pembantu kamu?!?!? Kamu pikir siapa yang mau bersihin ludah kamu??? SANA, turun kamu sekarang! Bersihin dulu nih tempat sampah!" sambil menunjuk-nunjuk ke turis tersebut. Ironisnya, sepertinya turis itu tidak mengerti apa yang si sopir itu bicarakan, tapi pasti mengerti kalau dia sedang dimarahi...
Moral of the story:
Lain kali kalau naik bus, pilih operator bus yang direkomendasikan orang-orang, namanya Transnasional. Lebih terjamin, hehehe...

"Twenty dollars, twenty dollars, twenty dollars!"

Lain lagi saat di Vietnam, kami nyaris ditipu tukang taksi. Berhubung saat kami tiba di bandara internasional Tan Son Nhat sudah malam, dan malam itu ternyata ada pertandingan sepakbola antara Vietnam & Singapura dengan kemenangan Vietnam 4-1 terhadap Singapura, dapat dipastikan bahwa jalanan Ho Chi Minh City (atau yang lebih akrab disebut Saigon) penuh dengan supporter yang sedang ber-euforia.

Hal ini menyebabkan kami kesulitan mendapatkan taksi di bandara. Sebuah taksi di pool bandara yang kami datangi dengan gampangnya men-charge kami $20/org, alasannya karena semua taksi sedang dipakai dan terjebak macet di jalan. Untung kami tidak setuju, kami memutuskan untuk langsung keluar bandara (untungnya bandara internasional ini terletak di dalam kota), dan mencari taksi di luar bandara. Ternyataaa, masih banyak taksi yang beroperasi. Dasar.
Moral of the story:
Lebih baik bercapek-capek jalan keluar bandara dulu sebelum mencari taksi. Harganya lebih rasional. Cari taksi yang menggunakan argo (tanyakan langsung ke pengemudinya). Ada 2 jenis taksi di Saigon, berbentuk mini bus dan sedan. Yang mini bus memang argonya lebih mahal, tapi muat buat banyak orang, cocok buat rombongan. Kalau patungan bayar biaya taksi, jatuhnya pasti lebih murah.

Perjalanan Sebagai Tantangan

Dari pengalaman-pengalaman tadi, saya malah menyimpulkan bahwa justru hal-hal kecil yang tadinya menyebalkan akan menjadi cerita menarik di kemudian hari, dan saat ini justru membuat kami tertawa-tawa jika mengingatnya kembali.

Maka, pertanyaan terakhir sebagai penutup tulisan ini adalah:
Apa tujuan utama Anda melakukan kegiatan traveling?

Kalau saya, alasan utama saya backpacking sebenarnya sederhana, melatih diri saya agar bisa lebih mandiri & adaptif terhadap perubahan, dengan cara yang menyenangkan alias jalan-jalan. Seperti kata pasangan suami istri penulis, Adhitya Mulya dan Ninit Yunita : "...traveling adalah membeli pengalaman."

Dengan suksesnya kami menyelesaikan berbagai macam persoalan saat di perjalanan, hanya dengan bergantung kepada teman seperjalanan (atau mengandalkan diri sendiri, apabila Anda seorang solo traveler), secara tidak langsung kami merasakan adanya proses pendewasaan yang tumbuh di diri kami.

Benar seperti kata artikel tersebut, buatlah perjalanan Anda sebagai tantangan.

Kalau Anda, tujuan Anda traveling apa?

+ + + + +

Referensi
- Ambar Briastuti - "Sindrom Paris: Menghadapi Gegar Budaya, Merubah Persepsi Wisata"
- Her World - "Life is Beautiful Around the World"

Thursday, February 25, 2010

Why Should I Travelling?

Posting tamu oleh : Wenny Rosliana

Foto oleh sxc.hu

Who am I?

Hanya seorang mbak-mbak kantoran dengan gaji yang standar. Dan bukan anak orang kaya pula. Dan salahnya nasib gw bersekolah di SMP & SMA yang siswanya mostly anak-anak orang kaya.

Waktu sekolah hal itu ga jadi masalah, malah seneng. Bisa nebeng naek mercy, nginep di rumah mewah di Kemang, kalo ada makrab subsidinya banyak jadi kita-kita temen dengan tingkat ekonomi rata-rata ini patungannya jadi lebih murah. Ya Alhamdulillah. Hehehe...

Tapi sejak ada situs jejaring sosial dari Friendster, Multiply sampe Facebook. Gw jadi update kabar temen-temen gw yang setelah lulus SMA pada mencar kuliahnya. Yang paling bikin iri yaaa yang bisa kuliah di luar negeri. How lucky they're born in rich families... Gw cuma bisa mupeng aja liat foto-foto mereka.

But what can I say... Bersyukur aja deh, walaupun ga kuliah di luar negeri at least gw kuliah di kampusnya pemerintah. Do my best, be the best. Thatz it.

Setelah menyelesaikan diploma 3, masuklah gw ke dunia kerja. Masukin lamaran sana-sini, beberapa bulan gw nganggur di saat temen-temen yang laen udah pada mulai dapet kerja. Sambil terus berusaha & berdoa. Alhamdulillah akhirnya gw dapet kerja juga di perusahaan plat merah.

Setahun dua tahun kerja, mulai keliatan deh jalan hidup kita masing-masing berbeda-beda. Temen-temen kuliah yang dulu senasib sepenanggungan sekarang mereka udah pada jalan-jalan ke luar negeri dari kantornya. Ada yang ke Kuala Lumpur, ke Singapore, ke Thailand. Trus apa kabar ama kantor gw?? Bisa jalan-jalan ke Bandung aja udah sukur banget.

Trus haruskah gw menyerah pada nasib selamanya?? It has to be solved... Hmm, apa gw pindah kerja aja ya? Bisa dapet jalan ke luar negeri gratis. Tp ngebuang gaji 20x setahun + tunjangan kesehatan full cover? I dont think so. Lagipula gw betah kerja di sini...

Sambil ngelanjutin kuliah S-1 gw msh mupeng ngeliat temen2 gw.
Sabar Wen Sabar... Your day will come...

Dan kesempatan datang di saat yang tak terduga.
Saking tak terduganya, sampe gw ga mempersiapkan apa-apa...

Jadi begini ceritanya...

Waktu itu pak dirut diundang untuk menghadiri investor gathering di Bangkok. Tapi sayangnya di tanggal itu pak dirut lagi ada acara laen. Di disposisikan lah itu surat ke boss gw. Dan tau ga boss gw bilang apa "Saya males nich dateng ke acara basa-basi gini. Kalian kalo ada yg mau pergi, pergi ajah."

Semua staff-nya boss yg berjumlah 3 orang cuma bisa speechless doang. Si boss wondering and asked what happen...

Kami cuma bisa jawab lemezz...
"Kami ga ada yg punya passport, Pak."

Dan itu undangan untuk 2 hari ke depan. There's no way kita bikin passport dalam waktu sesingkat itu. Secepet-cepetnya 3 hari baru bisa jadi. Aaaarrgghhh... Ilang deh tuh kesempatan jalan-jalan gratis ke luar negeri. Akhirnya si boss yang berangkat ksana.

Lesson learned from this:
Kalo pengen aer, siapin gelas kosongnya.

Ga mau kehilangan kesempatan lagi. Pas dapet uang THR gw alokasikan untuk bikin passport. Gw ga tau kapan akan gw pake, yang penting punya aja dulu.

Ehh ternyata pemerintah jg membantu dgn kebijakan sunset policy & yg punya NPWP bisa bebas fiskal. Asiiiik... Segera deh lapor ke bagian yg ngurusin pajak di kantor untuk dibikinin NPWP. Horeee passport ada, NPWP ada. I'm getting closer to my dream ^o^

Setelah melalui pergantian tahun, dan kuliah sarjana gw pun selesai. Waktunya mengumpulkan pundi-pundi uang lagi stelah menjalankan tight money policy selama kuliah. Wkwkwkwk...

Hampir tiap minggu gw cek website Airasia, cari-cari tiket murah plus ngitung-ngitung budgetnya. Setelah berbulan-bulan cuma ngitung-ngitung doang, akhirnya kesempatan itu datang lagi...

Airasia ada promo 1 juta tiket gratis!
Waahhh segerraaa...

Dalam hitungan menit cepet banget kursi gratisnya sold out. Udah mana websitenya crowded bgt jadi kadang-kadang suka putus server.

Dan gw masih belum tau pengen pergi ama siapa. Waduuhh... Dalam tempo sesingkat-singkatnya gw harus cari korban untuk temenin gw nich. Wkwkwkwk...

Dengan berbagai tolakan dari temen-temen karena mendadak dll, akhirnya jam 10 pagi gw dapet 3 orang lagi untuk bertualang ke negeri orang dengan tiket gratis! Senangnyaaaa... ^o^

Jam 12 siang adek gw baru ngabarin kalo dia minat juga. And you know what... It's sold out!

My point is... Ga ada yg special dari diri gw, (tapi) gw bisa keluar negeri mewujudkan impian gw... And you can do it too... Beneraaann...

Maybe it took years to achieve it,
but in the end you can say out loud:
YES I CAN. YES WE CAN.

See you at the top. :)


Profil Kontributor
Wenny, kini bekerja di sebuah lembaga pemerintahan di Jakarta. Hobi jalan-jalan dengan budget minim dan sudah berencana untuk jalan-jalan lagi dalam waktu dekat. :)

Wednesday, February 3, 2010

Buku : Cerita Perjalanan Seorang Backpacker

Diambil dari posting saya di sini.

Ada dua buku tentang traveling yang baru terbit!

Kedua penulisnya adalah backpacker handal Indonesia dan terkenal sebagai travel writer, sehingga mutu tulisannya sudah terjamin.

(1) "Selimut Debu", oleh Agustinus Wibowo
Agustinus Wibowo adalah kontributor tetap artikel Jalan-Jalan di Kompas, saat berusia duapuluhan ia memutuskan untuk berkeliling Asia Tengah seorang diri. Jujur saya belum baca buku ini, tapi saya suka membaca cerita perjalanannya di Kompas dan terinspirasi untuk memulai cerita jalan-jalan saya sendiri di usia dini (hehe~!).

Berikut ini adalah cover story buku "Selimut Debu":
published : January 2010 by PT Gramedia Pustaka Utama
details : Paperback, 468 pages
isbn13 : 9789792252859
Pada tahun 2006, Agustinus mulai melintasi perbatasan antar negara menuju Afghanistan, dan selama dua tahun ia menetap di Kabul sebagai fotografer jurnalis---catatannya di buku ini adalah hasil perenungan yang memakan waktu tak singkat.

Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling "negeri mimpi"---yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum---sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan "Tanah Bangsa Afghan" dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan---sampai akhirnya ditemukan kembali.

"As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided."
---The Jakarta Post

"Agustinus tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat."
---Kompas

(2) "The Naked Traveler 2", oleh Trinity
Trinity adalah salah satu pelopor penulis buku catatan perjalanan backpacker Indonesia. Ini adalah bukunya yang kedua setelah "The Naked Traveler" yang berawal dari blognya (yang sempat di-banned karena mengandung unsur kata "naked", padahal cerita-ceritanyanya tidak ada vulgar-vulgarnya). Kisah perjalanannya ia paparkan dengan ringan dan jujur, sehingga banyak backpacker-backpacker baru yang muncul karena terinspirasi oleh ceritanya.

Berikut ini adalah cover story buku "The Naked Traveler 2":
published : January 2010 by B First
details : Paperback
Selama ini, tulisan perjalanan di media kebanyakan isinya tentang yang indah-indah saja. Seperti brosur yang menggunakan kalimat yang berbunga-bunga dan foto-foto hasil rekayasa digital agar pembaca tergerak untuk mengunjungi suatu tempat. Padahal traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling Trinity ingat pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah. Pengalaman (yang sering tidak terduga) saat melakukan perjalanan adalah jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah: it’s not the destination, but the journey.

Like climbing to the top of the hill to gaze down on the view I love to get a different picture, a different perspective, looking at the world through someone else’s eyes always adds another flavour to our travels. I fell in love with Indonesia on my first trip through South-East Asia way back in 1972 and now I can get a glimpse of the world through Trinity’s Indonesian eyes. I may have been to many of these places before, but The Naked Traveler takes me there by a whole new route.
-- Tony Wheeler, pendiri Lonely Planet, penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia

Seorang penulis – seperti juga seorang jurufoto – haruslah terlebih dulu seorang pengamat yang baik. Seorang yang memiliki kamera, bisa saja menjepret seribu foto ketika baru tiba di sebuah tempat yang baru dikunjunginya. Tetapi, mungkin hanya ada satu-dua foto saja yang benar-benar unik dan menarik. Seorang pengelana harus mampu menyeleksi semua pengalaman baru yang diserapnya, dan kemudian menuliskannya secara menarik. Perucha berhasil sekaligus menjadi pengamat dan penulis yang baik. Saya menikmati tulisan-tulisannya tentang kunjungan ke berbagai tempat.
-- Bondan Winarno, penulis, wartawan, dan pendiri komunitas wisata boga Jalansutra
Happy reading! :)

*Sumber :
Travel Story | Cerita Perjalanan Seorang Backpacker

Sunday, January 24, 2010

Life is Yours to Create

*Tadinya saya hanya posting ini di blog pribadi saya, tapi ternyata nyambung juga sama blog yang ini. I hope you can enjoy & inspired by this post...


Image taken from scx.hu

Hobi gw setahun belakangan ini adalah : baca travel blog.

Kemaren-kemaren gw nemu artikel ini:
"Society boxes you in and restricts your movements to their expectations. It’s like the matrix. And any deviation is considered abnormal and weird. ...

Years ago, at the height of the economy, a book called the “The Secret” came out. According to The Secret, if you just wish and want hard enough, you’ll get what you want. But the real secret is that you get what you want when you do what you want.

Life is what you make it out to be.
Life is yours to create."

Matt adalah seorang (twenty-something) full-time traveler & blogger. Sebelumnya ia sempat bekerja sebagai professional selama lima tahun. Setelah kepulangannya dari traveling di Thailand tahun 2005, ia berpendapat bahwa "traveling is better than working", lalu memutuskan untuk menyelesaikan gelar MBA-nya, keluar dari pekerjaannya, lalu pada Juli 2006 ia pun memulai perjalanan keliling dunianya. Hingga saat ini.

Just don't let society boxes you in and restricts your movements to their expectations! Wise man said, "You can never make everyone happy, so don't even bother trying. Accept that and move on."

*Artikel ini ngingetin gw tentang seorang teman yang hobi banget traveling sampe kayanya hidup dia emang didedikasikan untuk jalan-jalan. You go girl! Keep up the spirit! Hehe...

Saturday, January 9, 2010

"Travelling Differently" - Paulo Coelho

Menemukan tulisan di dinding hostel saat berada di Bangkok. Dan sampai saat ini selalu menjadi salah satu prinsip saya dalam berjalan-jalan:


Travelling Differently.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009
"Don’t compare anything – prices, standards of hygiene, quality of life, means of transport, nothing! You are not traveling in order to prove that you have a better life than other people – your aim is to find out how other people live, what they can teach you, how they deal with reality and with the extraordinary." — Paulo Coelho
Coelho memberikan 9 tips-nya dalam menikmati perjalanan:
1. Avoid museums.
2. Hang out in bars.
3. Be open.
4. Try to travel alone or – if you are married – with your spouse.
5. Don’t compare.
6. Understand that everyone understands you.
7. Don’t buy too much.
8. Don’t try to see the world in a month.
9. A journey is an adventure.

Baca artikel selengkapnya di sini:
Travelling Differently, by Paulo Coelho

Thursday, August 27, 2009

6 Buku yang Menginspirasi untuk Traveling

Diambil dari salah satu posting saya di sini.


"Don’t tell me how educated you are,
tell me how much you’ve traveled." — Mohammed


Beberapa tahun belakangan ini banyak muncul buku-buku bertopik backpacking atau budget traveling. Apa sih sebenarnya arti "backpacking"?

Menurut wikipedia, definisi "backpacking" adalah:
"Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel. Terms such as independent travel and/or budget travel are often used interchangeably with backpacking. The factors that traditionally differentiate backpacking from other forms of tourism include but are not limited to the following: use of public transport as a means of travel, preference of youth hostels to traditional hotels, length of the trip vs. conventional vacations, use of a backpack, an interest in meeting the locals as well as seeing the sights."

"Backpacking adalah melakukan perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangan berusia muda, tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur. Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun ke luar negeri. Backpack merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya tas yang digendong di belakang."

Jalan-jalan dengan biaya terbatas dan mengandalkan ransel saja, biasanya dengan tujuan untuk "melihat dunia", memang membutuhkan kreativitas tersendiri. Dari perencanaan rute, akomodasi murah, mencari tiket promosi (agar murah), googling info tempat wisata yang unik, dan lain sebagainya.

Beberapa buku di bawah ini adalah buku-buku lokal yang mempelopori munculnya buku-buku serupa dengan topik jalan-jalan ala backpacker, yang mungkin dapat menginspirasi Anda untuk mengikuti jejak langkah mereka:

(1) 5 cm (2005)
Penulis : Donny Dhirgantoro
Jenis Buku: Novel
Daerah Tujuan: Gunung Semeru
Website: http://5cm-legacy.com
"Lima sahabat telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Kegemaran mereka adalah mengeksekusi hal-hal yang tidak mungkin dan mencoba segala hal, mulai dari kafe paling terkenal di Jakarta, sampai nonton layar tancap. Semuanya penggemar film, dari Hollywood sampai film yang nggak kelas – kecuali film India karena mereka punya prinsip bahwa semua persoalan di dunia atau masalah pasti ada jalan keluarnya, tapi bukan dalam bentuk joget. Suatu saat, mereka terdorong oleh rasa bosan di antara satu dan yang lain, mereka memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Selama tiga bulan berpisah itulah telah terjadi banyak hal yang telah membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang penuh dengan keyakinan, mimpi, cita-cita dan cinta. Sebuah perjalanan yang telah mengubah mereka menjadi manusia sesungguhnya, bukan hanya seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama. “Ada yang pernah bilang kalau idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh generasi muda…”" - 5 cm

(2) Edensor (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 3) (2007)
Penulis : Andrea Hirata
Jenis Buku: Novel / Autobiografi
Daerah Tujuan: Eropa (Perancis, Brussel, Rusia, Sahara, Rumania, dll)
Website: http://sastrabelitong.multiply.com
"Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!" - Edensor

(3) Traveler's Tale : belok kanan, Barcelona! (2007)
Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita
Jenis Buku: Novel
Daerah Tujuan: Amerika, Eropa, Afrika... menuju Barcelona.
Website: -
"Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah. Mereka tumbuh besar dan bekerja di negara berbeda. Masalah dimulai ketika Francis mengirimkan undangan kepada tiga sahabatnya bahwa dia akan menikah dengan gadis Spanyol di Barcelona. Masing-masing pergi menuju Barcelona meski dengan budget terbatas dari penjuru yang berbeda dengan misi tersendiri. Mencari jawaban untuk pertanyaan masing-masing." - Traveler's Tale

(4) The Naked Traveler : Catatan Perjalanan Seorang Backpacker (2007)
Penulis: Trinity
Jenis Buku: Blook (Blog yang dijadikan buku)
Daerah Tujuan: All around the world. :)
Website: http://naked-traveler.com
"Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus" dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri. Happy Traveling!" - The Naked Traveler

(5) Back "Europe" Pack, Keliling Eropa 6 Bulan Hanya dengan 1.000 Dolar Lewat Jalur Pertemanan (2008)
Penulis : Marina Silvia Kusumawardhani
Jenis Buku: How-to / Autobiografi
Daerah Tujuan: 13 negara Eropa
Website: -
"Perubahannya membawa banyak pengaruh, termasuk untuk dunia traveling. Sekarang, kamu dapat bepergian ke Eropa untuk 6 bulan hanya dengan 1.000 dolar Amerika. Jutaan manusia telah membuka tangan untuk berteman dengan orang-orang berlatar belakang berbeda, dan seluruh penemuan teknologi dan infrastruktur di dunia siap membantumu mewujudkan mimpi. Sambut sebuah kesempatan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah muka bumi sebelumnya! 1.000 dolar Amerika untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai.... Semuanya kini mungkin. " - Back "Europe" Pack

(6) Merencanakan Sendiri Jalan Jalan Keliling Dunia (2008)
Penulis : Artsontravelpedia (Sonson Ns)
Jenis Buku: How-to
Daerah Tujuan: All around the world. :)
Website: http://artsons.wordpress.com
"Isi buku ini adalah panduan mengenai rencana perjalanan anda di Indonesia, ke luar negeri atau jika anda hendak melakukan perjalanan keliling dunia. ... Dengan tebal hampir 220 halaman buku ini cukup detail dan rinci membicarakan berbagai masalah mengenai langkah demi langkah persiapan Anda jika Anda akan melakukan perjalanan ke luar negeri secara independent/personal/solo traveling." - artsons.wordpress.com


Oh ya... Berhubung buku-bukunya sudah lama tidak saya baca ulang, jadi saya memberi info berdasarkan ingatan saya saja (& dari googling tentunya, untuk me-refresh ingatan, hehehe). Kalau ada yang terlewat, jangan sungkan-sungkan ya untuk memberi ralat & kritik.

OK, semoga menginspirasi pembaca untuk selalu berjalan-jalan & melihat dunia! :)

*gambar diambil dari pro.corbis.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting