Thursday, February 11, 2010

Photo(s) : Suasana Natal di Orchard Road

Teks dan Foto oleh : Herajeng Gustiayu

Sejarah Orchard Road
Orchard Road adalah jalan besar pusat perbelanjaan yang terkenal di Singapore, dan menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan yang hobi berbelanja.

Jalan ini mendapatkan namanya dari perkebunan nutmeg, lada, dan buah-buahan yang tumbuh di kedua sisi jalan tersebut pada tahun 1840an, sehingga nama lain dari jalan ini adalah Jalan Kebun. (Orchard = Kebun) Selanjutnya, Orchard Road mulai dikembangkan menjadi area komersial pada awal abad 20.

Pada masa kini, saat menjelang Natal, Orchard Road selalu semarak dengan hiasan berbagai jenis ornamen dan lampu-lampu hias.

A Christmas All Decked Out
Uniknya, setiap tahun hiasan-hiasan di Orchard Road selalu memiliki sebuah tema, dan untuk tahun 2009 sendiri bertema "A Christmas All Decked Out". Terdapat 3 maskot natal yang meramaikan jalan satu arah tersebut, yakni Santa Claus, rusa, dan manusia salju (lihat foto di bawah).

Saat itu Orchard Road dibagi menjadi 3 zona warna dominan yang ditandai dengan pemilihan warna ornamen dan lampu-lampu hias:
Zona Biru - Tanglin Mall hingga Tangs,
Zona Oranye - Tangs hingga Heeren, dan
Zona Merah - dari Heeren hingga ujung Orchard Road.

Keterangan foto:
Foto-foto di bawah ini diambil pada tanggal 10 Desember 2009. Walaupun masih awal bulan Desember, namun Orchard Road sudah dipersiapkan dalam menyambut Natal. Tampak berbagai lampu warna-warni dan ornamen-ornamen menghiasi jalan besar penarik wisatawan tersebut.




Orchard Road, at Christmas Festive Season.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009



Raffles Hotel, at Christmas Festive Season.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009


PS. Foto diambil dari dalam mobil yang melaju, jadi maklum ya kalau gambarnya agak buram, hehehe...

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Orchard_Road
http://www.orchardroad.sg/christmas/
http://blog.dk.sg/2009/11/17/orchard-road-christmas-light-up/


Wednesday, February 10, 2010

7 Website Pengganti Guidebook

Anda pernah menyadari tidak? Terkadang info yang terdapat di buku panduan wisata (guidebook) kurang up-to-date, maka sebagai pembanding kita memerlukan informasi yang lebih aktual mengenai tempat yang kita tuju.

Salah satu sumber informasi yang dapat kita akses dengan mudah adalah internet, di mana informasi-informasi terbaru lebih cepat diperbaharui dibandingkan dengan buku yang biasanya diterbitkan pertahun.

Website-website di bawah ini mungkin dapat membantu Anda mendapatkan info lebih mengenai tempat wisata yang Anda tuju (dengan GRATIS):

7 Website Pengganti Guidebook

(1) Wiki Travel
Free Worldwide Travel Guides


Wikitravel adalah proyek berbasis web, yang bersifat open source (dapat ditambahkan & di-edit oleh pembaca) & bertujuan untuk menyediakan informasi panduan wisata di seluruh dunia. Proyek ini ditulis oleh kolaborasi wisatawan-wisatawan seluruh dunia.

(2) Boots 'n All Travel Network
The Ultimate Resources for the Independent Traveller


(3) TripAdvisor
Recommendations for hotels, resorts, inns, vacations, travel packages, travel guides and lots more!

TripAdvisor adalah website interaktif yang menyediakan informasi secara gratis dengan meminta rekomendasi penginapan, panduan wisata, dan sebagainya kepada para pengguna website ini.

(4) Travelfish
Original Asia Travel Intelligence You Can Trust

Website panduan wisata ini berfokus pada negara-negara Asia Tenggara (Kamboja, Laos, Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam).

(5) Let's Go Travel Guides
World’s favorite budget travel guides, written entirely by students and updated every year.

Sesuai dengan tagline-nya, situs ini ditulis oleh para backpacker yang masih pelajar. Idenya adalah, memberikan panduan wisata yang sesuai dengan kebutuhan pelajar yang ingin berkeliling dunia.

(6) Frommer's
Frommer's adalah salah satu penerbit guidebook terbesar di dunia setelah Lonely Planet. Websitenya menyediakan informasi mengenai negara-negara tujuan wisata. Amat lengkap & informatif. Bagi yang suka menjelajah kota dengan berjalan kaki, Frommer's memberikan opsi "walking tour" (lengkap dengan peta-nya!)


(7) Lonely Planet
Penerbit guidebook terbesar di dunia ini turut menyediakan cuplikan informasi di websitenya. Sayangnya informasi yang terdapat di sini tidak selengkap buku panduannya, hehehe...


+ + + + +

Sudah mengumpulkan informasi yang Anda butuhkan?
Jangan lupa di-print out & dijilid sebagai guidebook buatan Anda sendiri.

Happy traveling! :)

Tuesday, February 9, 2010

Photo(s) : Kepulauan Seribu

Foto oleh : Anida Dyah Pratiwi


Regatta the Icon.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.


Om Dani's Boat.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.


Pulau Air.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.


I Love Blue of Indonesia.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.


Profil Kontributor
Anid, teman (& mantan kolega saya, hehe), kini bekerja di sebuah konsultan environmental graphic di Karawaci, Banten. Mempunyai hobi fotografi dan jalan-jalan. Anda dapat melihat tulisan & jepretan Anid lainnya di bitter sweet & Nidnod's Photostream.

Sunday, February 7, 2010

CouchSurfing : Berkeliling Dunia dengan Hemat & Seru

"CouchSurfing is not about the furniture, not just about finding free accommodations around the world; it's about making connections worldwide."
- CouchSurfing.org
Bagi yang sudah pernah membaca buku "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar" karya Marina Silvia K. (walaupun tidak benar-benar 1000 USD karena belum termasuk tiket pesawat dan sebagainya), pasti sudah tahu tentang ide CouchSurfing. Saya sendiri --dan mungkin banyak orang Indonesia lainnya-- baru tahu tentang ide menarik ini setelah membaca buku tersebut.

Buku "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar" ini sempat booming di Indonesia karena judulnya yang menggiurkan. (Modal 10 juta bisa keliling Eropa selama 6 bulan??? Hmmm, sounds tempting!...)

Bagi yang belum pernah membaca buku tersebut atau bahkan belum pernah mendengar tentang CouchSurfing, ini mungkin berita baik buat Anda. Saya sendiri belum pernah mencoba CouchSurfing (mungkin suatu hari nanti, doakan saya agar cepat menyusul, hehe~!), tapi saya telah banyak mendengar dan membaca tentang dampak positif kegiatan ini di seluruh penjuru dunia.

Apakah CouchSurfing itu?
Ide CouchSurfing pertamakali diciptakan oleh Casey Fenton pada tahun 2000. Berawal dari saat Fenton mendapatkan tiket pesawat murah dari Boston ke Iceland. Alih-alih menginap di hostel, Fenton mengirim email ke 1500 pelajar dari University of Iceland, menanyakan apakah dia bisa menginap di tempat mereka. Fenton mendapatkan setidaknya 50 email balasan yang menawarkan tempat mereka sebagai tempat menginap. Sepulangnya dari Iceland, Fenton mulai mengembangkan ide tersebut yang mendasari terbentuknya komunitas CouchSurfing.

Apakah misi CouchSurfing?
"CouchSurfing seeks to internationally network people and places, create educational exchanges, raise collective consciousness, spread tolerance, and facilitate cultural understanding."
Intinya, CouchSurfing mempermudah interaksi dengan warga lokal, sehingga kita bisa lebih memahami budaya mereka dan hidup dengan cara mereka. CouchSurfing adalah cara seru untuk bepergian dan bertemu orang dari segala penjuru dunia, dengan hemat.

Apakah layanan ini benar-benar gratis?
Ya, layanan ini benar-benar gratis. CouchSurfing adalah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk komunitas global. Banyak CouchSurfer yang membawa hadiah maupun mentraktir makan siang sebagai rasa terimakasih mereka, tapi ini pun seikhlasnya saja.

Apakah saya harus mengizinkan semua orang menginap di tempat saya?
Tidak juga. Anda bisa menolak maupun mengizinkan orang yang Anda pilih sebagai CouchSurfer. Anda pun dapat tidak memilih opsi "menyediakan tempat menginap", dan dapat hanya menawarkan ngopi bareng atau mengantarkan para CouchSurfer ini berkeliling di kota Anda sebagai pemandu wisata dadakan.

Sebagai penutup, di bawah ini adalah reportase BBC News tentang CouchSurfing:



Tertarik?

Segeralah daftar di CouchSurfing.org. :)

+ + + + +

Referensi lebih lanjut:
http://en.wikipedia.org/wiki/CouchSurfing
http://www.couchsurfing.org/about.html
http://wiki.couchsurfing.com/en/FAQ
http://matadornetwork.com/focus/couchsurfing/
http://www.nomadicmatt.com/travel-blogs/couchsurfing
http://www.women-on-the-road.com/couch-surfing.html
http://www.getrichslowly.org/blog/2009/08/03/how-to-use-couchsurfing-to-see-the-world
http://www.indobackpacker.com/2009/01/catatan-gathering-indobackpacker-kumpul2-backpacker-dan-traveler-part-2-the-end/

Friday, February 5, 2010

10 Majalah Travel Online Terbaik

Di Barat sudah banyak sekali majalah online khusus traveler yang informatif, berkualitas, dan well-designed. GRATIS pula! (Di Indonesia ada ngga ya?)

Ini sepuluh di antaranya:

10 Majalah Travel Online Terbaik*

(1) Matador Network
The World's Largest Independent Travel Magazine


Favorit saya! Komunitas majalah ini tampaknya sudah mendunia. Berbagai macam informasi dikategorikan lagi ke dalam anak-anak website-nya:
(2) Vagabondish
The Travelzine for Today's Vagabond

Favorit saya nomor 2!

(3) Briefcase to Backpack
Travel Advice for Career Breaks or Sabbaticals

Favorit saya nomor 3!

(4) Go Backpacking
Go Backpacking Around the World, Independently


(5) Wanderlust & Lipstik
Your Destination for Womens' Travel


(6) GoNOMAD
Inspiration and Link to Plan Your Trip


(7) Offtrack Planet
The Backpackers' Ultimate Travel Guide


(8) World Hum
The Best Travel Stories on the Internet


(9) National Geographic Traveler
All Travel, All the Time. Anak majalah National Geographic, beberapa artikel yang dicetak di majalah terkadang di-publish di website ini. Versi Indonesianya ada di sini : National Geographic Indonesia.


(10) The New York Times - Travel
Salah satu kolom berita The New York Times. Favorit saya adalah kolom Frugal Traveler - Seeing the World in a Budget, blog yang ditulis oleh seorang backpacker, di-update setiap hari Rabu dan membahas tentang tips-tips dan info mengenai budget traveling.


+ + + + +

*terbaik menurut saya lho, hehehe... Dinilai berdasarkan desain situs & kualitas informasi yang diberikan. :)

Thursday, February 4, 2010

Photo(s) : Belitung Island

Foto oleh : Anida Dyah Pratiwi

Tanjung Binga.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.

Pulau Lengkuas, Belitung.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.

Rocks of Belitung.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.

Rocks of Belitung.
Foto (c) Anida Dyah Pratiwi, 2009.


Profil Kontributor
Anid, teman (& mantan kolega saya, hehe), kini bekerja di sebuah konsultan environmental graphic di Karawaci, Banten. Mempunyai hobi fotografi dan jalan-jalan. Anda dapat melihat tulisan & jepretan Anid lainnya di bitter sweet & Nidnod's Photostream.

Wednesday, February 3, 2010

Buku : Cerita Perjalanan Seorang Backpacker

Diambil dari posting saya di sini.

Ada dua buku tentang traveling yang baru terbit!

Kedua penulisnya adalah backpacker handal Indonesia dan terkenal sebagai travel writer, sehingga mutu tulisannya sudah terjamin.

(1) "Selimut Debu", oleh Agustinus Wibowo
Agustinus Wibowo adalah kontributor tetap artikel Jalan-Jalan di Kompas, saat berusia duapuluhan ia memutuskan untuk berkeliling Asia Tengah seorang diri. Jujur saya belum baca buku ini, tapi saya suka membaca cerita perjalanannya di Kompas dan terinspirasi untuk memulai cerita jalan-jalan saya sendiri di usia dini (hehe~!).

Berikut ini adalah cover story buku "Selimut Debu":
published : January 2010 by PT Gramedia Pustaka Utama
details : Paperback, 468 pages
isbn13 : 9789792252859
Pada tahun 2006, Agustinus mulai melintasi perbatasan antar negara menuju Afghanistan, dan selama dua tahun ia menetap di Kabul sebagai fotografer jurnalis---catatannya di buku ini adalah hasil perenungan yang memakan waktu tak singkat.

Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling "negeri mimpi"---yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum---sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan "Tanah Bangsa Afghan" dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan---sampai akhirnya ditemukan kembali.

"As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided."
---The Jakarta Post

"Agustinus tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat."
---Kompas

(2) "The Naked Traveler 2", oleh Trinity
Trinity adalah salah satu pelopor penulis buku catatan perjalanan backpacker Indonesia. Ini adalah bukunya yang kedua setelah "The Naked Traveler" yang berawal dari blognya (yang sempat di-banned karena mengandung unsur kata "naked", padahal cerita-ceritanyanya tidak ada vulgar-vulgarnya). Kisah perjalanannya ia paparkan dengan ringan dan jujur, sehingga banyak backpacker-backpacker baru yang muncul karena terinspirasi oleh ceritanya.

Berikut ini adalah cover story buku "The Naked Traveler 2":
published : January 2010 by B First
details : Paperback
Selama ini, tulisan perjalanan di media kebanyakan isinya tentang yang indah-indah saja. Seperti brosur yang menggunakan kalimat yang berbunga-bunga dan foto-foto hasil rekayasa digital agar pembaca tergerak untuk mengunjungi suatu tempat. Padahal traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling Trinity ingat pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah. Pengalaman (yang sering tidak terduga) saat melakukan perjalanan adalah jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah: it’s not the destination, but the journey.

Like climbing to the top of the hill to gaze down on the view I love to get a different picture, a different perspective, looking at the world through someone else’s eyes always adds another flavour to our travels. I fell in love with Indonesia on my first trip through South-East Asia way back in 1972 and now I can get a glimpse of the world through Trinity’s Indonesian eyes. I may have been to many of these places before, but The Naked Traveler takes me there by a whole new route.
-- Tony Wheeler, pendiri Lonely Planet, penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia

Seorang penulis – seperti juga seorang jurufoto – haruslah terlebih dulu seorang pengamat yang baik. Seorang yang memiliki kamera, bisa saja menjepret seribu foto ketika baru tiba di sebuah tempat yang baru dikunjunginya. Tetapi, mungkin hanya ada satu-dua foto saja yang benar-benar unik dan menarik. Seorang pengelana harus mampu menyeleksi semua pengalaman baru yang diserapnya, dan kemudian menuliskannya secara menarik. Perucha berhasil sekaligus menjadi pengamat dan penulis yang baik. Saya menikmati tulisan-tulisannya tentang kunjungan ke berbagai tempat.
-- Bondan Winarno, penulis, wartawan, dan pendiri komunitas wisata boga Jalansutra
Happy reading! :)

*Sumber :
Travel Story | Cerita Perjalanan Seorang Backpacker

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting