Thursday, March 11, 2010

Merencanakan Itinerary dengan Google Earth

Itinerary adalah rute atau jadwal acara perjalanan yang telah disusun sedemikian rupa sebagai pedoman traveler selama berada di suatu destinasi.

Terkadang saat merencanakan itinerary, kita asal saja menyusun acara mengunjungi objek-objek wisata yang terkenal di kota tujuan kita, dan tidak sadar bahwa objek-objek wisata yang kita tuju berjauhan. Hal ini tentu menyebabkan waktu jalan-jalan kita terbuang sia-sia di perjalanan.

Salah satu cara merencanakan itinerary agar lebih efektif dan efisien adalah dengan menggunakan Google Earth.

Google Earth.
Sumber foto: wikipedia

Sejarah dan Perkembangan Google Earth
Google Earth adalah piranti lunak keluaran Keyhole, Inc. --sebuah perusahaan yang diambil alih oleh Google pada tahun 2004-- yang menggunakan pencitraan satelit untuk menunjuk lokasi dan tempat manapun di dunia secara tepat.

Perkembangan Google Earth dapat dibilang mengalami kemajuan pesat dan semakin mendetail. Contohnya adalah penambahan teknologi Google Street View yang dapat menangkap citra jalanan kota dari sudut pandang manusia & Google Flight Simulator yang dapat memberikan latihan simulasi menerbangkan pesawat. Namun perkembangan ini justru seringkali mendapat kritik serius dari beberapa negara karena berkaitan dengan keamanan nasional dan masalah privasi.

Untungnya sampai saat ini, penggunaan Google Earth masih dapat kita nikmati secara bebas, mungkin karena manfaat positif Google Earth lebih banyak daripada negatifnya (salah satu contohnya adalah memetakan lokasi bencana alam, dsb).

Penggunaan Google Earth untuk Traveling
Ketik destinasi Anda di kolom "Fly to:" dan --voila!-- peta kota destinasi terpampang jelas di depan mata Anda, kemudian lakukan tips-tips di bawah ini untuk memanfaatkan Google Earth secara maksimal sebagai piranti perencana perjalanan:

(1) Periksa kedekatan antara objek wisata yang satu dengan lainnya - Perhatikan lokasi objek-objek wisata yang saling berdekatan, lalu susunlah jadwal kunjungan ke sebuah objek wisata satu ke yang lainnya, disesuaikan dengan jarak tempuh.

(2) Periksa lokasi penginapan Anda - Penggunaan piranti lunak ini juga dapat untuk memeriksa lokasi penginapan yang akan kita booking, lihatlah apakah penginapan ini strategis terhadap objek-objek wisata yang akan kita datangi. Jangan sampai lokasi penginapan jauh di luar kota, sedangkan tujuan Anda adalah jalan-jalan keliling kota. Dengan begitu, maka perencanaan itinerary akan lebih efektif dan efisien.

(3) Ikuti tour wisata hanya dengan duduk di dalam rumah - Adanya fitur Google Street View dan Virtual Tour memungkinkan para traveler melihat kota destinasi dalam bentuk bangunan tiga dimensi, sehingga pengguna fitur ini akan seperti melakukan tour di sebuah kota di negara belahan dunia lain tanpa harus mendatangi kota tersebut secara fisik.

(4) Pelajari sejarah dan perkembangan kota destinasi Anda - Adanya Google Earth Community juga turut membantu para traveler untuk mempelajari dan mengenal lebih jauh destinasi yang akan dikunjungi. Komunitas Google Earth ini telah menandai titik-titik lokasi sejarah maupun wisata di dunia, contohnya seperti lokasi-lokasi dalam buku The Da Vinci Code.

Sudah selesai merencanakan perjalanan Anda? Bagus. Namun jangan lupa, perlu dicatat bahwa sebagian besar pencitraan satelit untuk Google Earth hanya diperbaharui setiap dua tahun sekali, sehingga terkadang masih terdapat peta yang kurang aktual. Dan untuk Google Street View, untuk sementara hanya mencakup beberapa lokasi saja di UK, Hong Kong, Macau, Belanda, dan Jepang. Oleh karena itu, gunakanlah Google Earth sebagai piranti pendukung, jangan sebagai piranti utama dalam merencanakan itinerary.

Untuk mengunduh, peranti lunak ini dapat diunduh gratis di http://earth.google.com

+ + + + +

Referensi
- National Geographic Traveler Indonesia, edisi Maret 2010. "Google Earth: Piranti Perencana Perjalanan".
- http://en.wikipedia.org/wiki/Google_Earth
- http://earth.google.com
- http://www.gearthblog.com/blog/archives/2009/03/using_street_view_in_google_earth_1.html
- http://edweb.tusd.k12.az.us/dherring/ge/googleearth.htm

Tuesday, March 9, 2010

Photo(s) : Pulau Rambut, Kepulauan Seribu

Foto oleh : Listya Reina Karyadi

Pulau Rambut.
Foto (c) Listya Reina Karyadi, 2009


Suaka Margasatwa Pulau Rambut.
Foto (c) Listya Reina Karyadi, 2009


Profil Kontributor
Listya adalah seorang karyawan di sebuah industri farmasi, lulusan sebuah institut di Indonesia, dan berpikir bahwa dirinya tidak ambisius tapi sering memiliki banyak keinginan. Mempunyai hobi fotografi dan jalan-jalan. Foto & tulisan Lis lainnya dapat ditengok di L-rk's Photostream & another list's journey.

Sunday, March 7, 2010

Review Akomodasi : Singapore

Tiga pengeluaran terbesar dalam jalan-jalan ala backpacker pada umumnya mencakup biaya transportasi (tiket pesawat), makanan, dan akomodasi.

Kalau soal akomodasi, biasanya bisa ditekan apabila nebeng kenalan/relasi di negara yang kita datangi (atau bisa coba couchsurfing). Namun apabila kita tidak ada kenalan di tempat yang kita tuju, satu-satunya cara untuk menekan biaya akomodasi adalah mencari penginapan murah, salah satu opsi adalah hostel.

Cara booking hostel dapat secara online melalui www.hostelworld.com, www.hostelbookers.com, www.hostelz.com, dan sebagainya. Pembayaran melalui online ini biasanya menggunakan Credit Card, dengan booking fee sebesar 5-10%, dan dilunasi saat kita sampai di hostel tersebut.

+ + + + +

Di bawah ini adalah dua hostel yang pernah The Backpacker's Notes tempati di Singapura:

Empire Hostel
202A Syed Alwi Road 2nd Floor, corner of Jalan Besar Opposite Mac Donalds, Singapore

Book Hostels Online Now Kami memesan hostel ini dari hostelworld. Sejujurnya, first impression kami terhadap hostel ini memang kurang meyakinkan.

Karena hostel ini terletak di lantai dua sebuah ruko, maka yang terlihat pertama kali adalah pintu hostel --yang rada creepy-- dan pintu tersebut ditempeli kertas yang di-laminating dengan tulisan "Empire Hostel".

Setelah kita konfirmasi kamar kita, untuk masuk ke dalam kita akan dibekali sebuah kartu elektronik, kartu ini nantinya digunakan untuk membuka pintu hotel tersebut (canggih juga!). Namun apabila kita baru datang pertamakali maka kita harus memencet bel yang ada di samping pintu agar penjaganya keluar.

Hostel ini termasuk bersih dan tenang, karena ada peraturan bahwa di atas jam 12 malam tidak boleh ribut. Kamarnya sendiri benar-benar "memanfaatkan ruang", hehehe... Isi kamar kami sendiri: dua tempat tidur tingkat disusun mepet-mepet, dan langsung dibatasi dengan triplek (atau gypsum..?), sehingga aktivitas kamar sebelah tampaknya bisa terdengar. Untungnya hostel ini tenang banget! Tapi itu mungkin juga karena kita pulangnya malem-malem, jadi memang sudah sepi.

Tipe Kamar: 3 bed, private, shared bathroom.
Rate: Rp 890.000,- for 3 people/2 day
Fasilitas:
- Air Conditioner,
- Kamar mandi luar (shared bathroom) dengan air panas,
- Disediakan sebuah komputer dengan koneksi internet 24 jam,
- dan disediakan sarapan/breakfast (roti, selai, dan isian roti lainnya).

Sayangnya, kamar kami tidak memiliki stop kontak, setelah seharian foto-foto keliling kota akhirnya baterai kamera kami habis total & tidak sempat di-charge di mana-mana, karena tidak menemukan stop kontak. (Makanya posting yang ini ngga ada fotonya, lagi berhemat baterai, hehehe...) Tapi overall hostel ini bolehlah untuk numpang tidur sebentar.

Poin utama dari hostel ini adalah: AC-nya dingiiiinnn, suasananya tenang banget, kamar tidur & kamar mandinya bersih, tersedia internet, dan staff-nya juga amat membantu.

Untuk standar Singapur, hostel ini termasuk yang paling murah (teuteup), hehehe. Memang harga sesuai dengan kualitas...


GAS 81
81 Frankel Ave (samping pom bensin), Singapore
Review oleh : Listya Reina Karyadi

Sampai saat ini, saya merasa GAS 81 adalah tempat menginap termurah di Singapura selain menebeng. Bagaimana tidak, terakhir saya kesana waktu libur lebaran 2009 lalu, rate kamar untuk private 3 bed adalah 36 SGD per hari. Sehingga per orangnya 12 SGD saja dan untuk 3 hari, 3 orang 108 SGD. Coba bayangkan, Singapur 3 hari 3 orang 108 SGD. Kayanya sih GAS aja ya. Hehehe.

Yaa memang sih tempatnya jauh, kalok naik MRT yang jalur ijo turunnya di kembangan yang mana udah ampir mentok dan kalau malam hari MRT-nya sepi sekali. Bahkan baru jam 8 malam sudah sepi. Dari MRT ke Frankel Ave juga hanya ada 1 loop bis yang muter-muter dulu ke belasan stop sebelum tiba di GAS 81 ini. Akhirnya pada hari-hari selanjutnya, saya pilih turun MRT di Eunos, terus naik taksi deh dari sana. Mengingat emang tinggal lurus lewat Sims Ave trus belok kanan ke Frankel Ave, ga sampe 10 menit, ga sampe 6 dolar. Murah, dekat, cepat.

Saya sendiri membooking hostel ini lewat www.hostelworld.com. Praktis, bisa lihat-lihat dulu dan baca review-review dari orang yang pernah menginap. Booking fee-nya pun hanya 10% dari total biaya yang dipotong dari kartu kredit. Sisa 90% dibayarkan waktu check in. Rata-rata hostel yang saya booking lewat hostelworld sih bayarnya harus cash (baru 2 hostel kok), jadi harus disiapkan uang sejumlah sisa pembayaran. Tapi, GAS 81 ini bahkan menerima rupiah untuk pembayarannya. Jadi tidak perlu khawatir kehabisan dolar dan ga bisa gesek kartu.

Penampakan hostelnya sendiri kalau dari luar tidak terlihat merupakan penginapan. Tampilannya seperti ruko, dan kamar-kamar ada di lantai atas. Lumayan sih kalo angkat koper. Sepertinya system check in-nya seperti hostel-hostel lain di Singapur (self check-in). Ada telepon di atas dan kita tinggal telepon ke nomer sana, nanti dia kasih tau kode angka untuk buka lemari besi tempat nyimpen konci kita. Uang pembayaran juga disimpen disana.

Kamarnya ga besar (tentu saja), ada AC yang dingin, TV, jendela. Hehehe, mengingat banyak hostel ga berjendela kan. Kamar mandinya shared. Ada 2 kamar mandi untuk digunakan bersama (tapi ga perna rebutan mandi sih). Ada air dingin dan air panas juga. Ada mesin cuci, ada dapur, dan beberapa peralatan makan.

Ya fasilitasnya memang tidak semewah hotel 100 dolar (harganya aja sepertiganya). Tapi cocok juga untuk orang yang memang butuh kamar untuk tidur dan beristirahat pada malam hari, serta merencanakan perjalanan atau membalas email-email penting (ada 1 komputer dengan internet super 24 jam untuk dipakai bersama). Sarapan tidak disediakan, tapi persis di samping GAS ada Seven Eleven, jadi makan, minum, pulsa semua tinggal jalan ke sebelah.

Foto hostel dipinjam dari www.dreamstime.com

Book Hostels Online Now


Catatan Administrator:
Ke depannya, blog The Backpacker's Notes akan menyediakan topik "Review Akomodasi", yang membahas mengenai akomodasi murah ala backpacker, baik yang baik maupun yang buruk. Semoga membantu.

Friday, March 5, 2010

Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-2)

Posting tamu oleh: Arlinda Wibiayu

Sambungan dari Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-1)

Lesson One - Finding Hostel is very tiring

Sumpah capek. Setelah semalem confirm ke Lee (pengelola Frankel Hostel), dengan menyesal saya harus cari hostel lain karena katanya udah di-booking. Emang sih hostel tersebut baru saya booking untuk satu malem, jadi ya nasib lah. Setelah sempet telpon dari hostel ke beberapa hostel lain, saya tetep gak dapet kamar juga. Agak panik sih, tapi akhirnya kami putusin untuk hunting kamar langsung setelah sebelumnya minta izin late check out sama Lee.

Dimulailah pencarian kami di daerah Little India. Di sini ternyata memang banyak hostel yang disiapkan untuk para backpacker. Setelah keluar masuk hostel dan membandingkan harga, diputuskan untuk stay di Fragrance Hostel karena murah dan ada female dorm-nya. Langsung deh di bayar untuk 2 hari. Jadi mendingan pas booking online langsung book sebanyak hari kita tinggal di kota itu deh. Kalo pun gak enak, toh kita lebih banyak waktu di jalan daripada di hostel. Jadi ya dibetah-betahin aja.

Lesson Two - Bus is easier than MRT
Sumpah deh, setelah awalnya selalu naik MRT yang bikin capek kalo mau pindah jalur, akhirnya saya and friends mutusin naik bus dari daerah Little India ke Sims Avenue. Ternyata lebih gak ribet aja. Karena ada yang langsung, trus sama aja kayak MRT bisa pake EZ Link card jadi gak perlu mikir ngitung receh. Pokoknya kita bisa liat jalurnya di halte sambil cocokin sama peta yang kita pegang. Dan ternyata bus is cheaper than MRT. So starting from to day, we prefer using bus.

Lesson Three - Water is expensive in Singapore
Beneran deh... saya sempet shock ngeliat harga mineral water merek Aqua yang di Indonesia cuma dua ribu bisa jadi 1,6 SGD alias 12 ribuan (dengan kurs saat itu). Karena malem sebelumnya kami nemu drinking water gratis di masjid di Changi street, kami bisa isi botol masing-masing. Lumayan bisa irit sedikit lah. Jadi di semua masjid yang kami datengi selama di Singapore ini selalu ada drinking water gratis. Kata bapak yang sempet kami tanyain sih itu memang wakaf masjid. Alhamdulillah...

Lesson four - Rice is better than noodle (for those who are picky)
Beneran deh. Setelah balik dari daerah Little India kami putusin untuk cari makan dulu baru ambil barang kami di Frankel Hostel. Di deket hostel kami ada rumah makan muslim gitu deh. Tadinya mau pesen nasi lemak, tapi katanya belum tersedia. Ya udah… sebagai penyuka noodle saya pesen mie. Temen-temen juga ikutan pesen mie. Setelah pesenan diantar saya sempet shock juga sih. Karena foto di menu sama kenyataannya beda banget.


Mie makan siang kami.
Foto (c) Arlinda Wibiayu, 2009.


Di foto mie di hidangkan dengan mangkok, tapi kenyataannya dihidangkan pake piring trus kuahnya kentel-kentel gitu kayak lo mie kali ya tapi lebih mirip kuah sate padang sih. Nah kebayangkan... Saya putusin untuk segera dimakan dan segera dihabiskan. Kedua temen saya kayaknya cuma sempet makan satu sendok deh, trus mereka nyerah (kasian sampe trauma bau kare).

Lesson Five - Bring compas, and you better learn to use it
Beneran saya sempet bingung nentuin arah kiblat ketika di Fragrance Hostel. Waktu di Frankel saya masih bisa tentuin arah kiblat karena saya masih bisa liat matahari. Tapi berhubung waktu di Fragrance dapet kamar di basement, mau gak mau saya cuma bisa memperkirakan arah kiblat atau barat berdasarkan letak gedung di sekitar. Jadi lumayan banget kalo bawa kompas dan bisa bacanya. Berhubung saya cuma ikut pramuka dua bulan waktu SD, saya gak ngerti bacanya. (Jadi bersyukurlah anda yang pernah ikut pramuka) Waktu Gramedia Grand Indonesia diskon saya sempet mau beli penunjuk arah kiblat, tapi kok jarumnya pindah-pindah aja, jadi kurang meyakinkan. Makanya gak jadi beli…

Mengintip Johor Bahru
Karena hari kedua ini sudah keambil waktunya untuk nyari hostel, kami putusin untuk sekalian aja dihabisin untuk ke Johor buat ngambil tiket kereta. Tiket kereta ini sudah saya pesen sebelumnya lewat email. Tapi karena booking by email, untuk dapetinnya saya harus ambil di wilayah Malaysia dan sebelum tanggal yang ditentukan dari KTMB-nya.

Ternyara bus 170 yang menuju Johor Bahru itu bisa saya naikin dari halte bus yang gak jauh dari Fragrance hostel. Alhamdulillah… Perjalanan dari Ronchor Canal Road menuju Johor bahru memang lumayan lama, tapi nyaman-nyaman aja kok. Lagian murah banget. Cuma yang perlu ekstra sabar adalah ngelewatin custom di sini. Gampang sih, tapi berasa ribet aja, karena melewati dua pemeriksaan. Pertama untuk keluar Singapura, trus pemeriksaan masuk Malaysia. Jadi harus turun naik bus, walaupun gak bayar lagi sih.

Keluar dari customnya Malaysia yang gede dan menurut saya mewah, kami langsung disuguhin pemandangan yang kontras dengan custom itu, tapi gak jauh beda sama di Indonesia. Yaitu bus lengkap dengan kenek atao calo deh. Sama aja ternyata sama di Indonesia. Kantor KTMB ternyata gak jauh, tinggal jalan sedikit.

Selese bayar tiket, kami sempet bingung mau ngapain. Mau lihat Sultan Palace kok orang tanyain pada gak ngertinya. Pas dibilang Istana Sultan baru deh ngerti. Tapi gak ada informasi yang jelas. Jadi kami putusin naik bus yang lewat skudai (katanya Istana Sultan di sana). Rada lama duduk di dalem bus kami rada bingung juga, kok gak ketemu-ketemu ya. Akhirnya ada yang menyarankan untuk turun aja dan balik ke JB City Center.

Karena takut kemaleman, kami putusin untuk balik ke Singapur setelah sebelumnya beli roti dulu. Lumayan beli roti manis yang udah diskon karena udah sore dengan harga 3 ringgit. Bisa untuk seharian deh rotinya, karena lumayan besar.

Back to Singapore
Karena hari sudah cukup malam, kami putuskan untuk langsung kembali ke hostel. Tapi saya rada heran juga di sepanjang jalan di Little India itu isinya laki-laki semua. Dan ruame banget, kata temen sekamar kami sih memang lagi ada sejenis festival sehingga kaum lelakinya pada tumplek di jalanan. Rada ngeri juga sih, apalagi ada yang sudah minum-minum juga dipinggir jalan. Tapi karena perut laper, kami putusin untuk beli prata untuk makan malam dulu sebelum akhirnya kembali ke hostel.

Balik ke kamar, ternyata teman sekamar kami belum dateng. Pas kami mau bersih-bersih dia baru dateng. Pas kami selese bersih-bersih dia udah mau tidur, simple banget sih.

Bersambung ke Perjalanan 3 Negara : Singapore - Phuket - Hat Yai - KL (Part-3)



Profil Kontributor
Ayu, kini bekerja di sebuah lembaga pemerintah dengan latar belakang bidang farmasi. Gaya backpackingnya adalah mengunjungi beberapa tempat sekaligus dan (tampaknya) sudah berencana untuk backpacking lagi dalam waktu dekat. :) Tulisan Ayu lainnya dapat ditengok di Arlinda's Site.

Thursday, March 4, 2010

Enak Ngga Enaknya Traveling

Setelah tiga bulan berkutat mengulik mainan baru, yakni blog The Backpacker's Notes ini, tempat para backpacker berbagi cerita, dengan ini saya meresmikan travel blog ini:

*drum rolls, please*

What a day!
Image taken from sxc.hu

The Backpacker's Notes
http://backpacker-notes.blogspot.com
Travel on a Shoestring | explore the world, meet new people, visit new cultures, and see global wonders (on a budget!)


Terimakasih untuk para kontributor yang hobi jalan-jalan (dengan biaya terbatas) atas bagi-bagi infonya:
- Dhitta Puti Sarasvati
- Hanny Musytika
- Ronggo Ahmad Wikanswasto
- Dibya Kusyala
- Sasmaya Suliztiarto
- Anto Lucu
- Juningsih Anggraeni
- Anida Dyah Pratiwi
- Listya Reina Karyadi
- Wenny Rosliana
- Arlinda Wibiayu

Thanks guys! Sering-sering ngasi kontribusi ya! Hehehe... :)

Enak Ngga Enaknya Traveling
Seperti yang sering saya bahas dengan teman-teman lain yang juga hobi jalan-jalan, terkadang dalam traveling tidak semua hal berlangsung lancar dan menyenangkan, hal ini menimbulkan pertanyaan di kepala saya dan ingin saya tanyakan kepada para traveler.

Pertama adalah:
Apa sih yang Anda sukai dari kegiatan traveling?

Bersantai-santai + dimanjakan di hotel tanpa gangguan pekerjaan? Melihat/memotret tempat-tempat yang unik & indah? Keinginan untuk bertemu dan berkenalan dengan orang baru? Melihat budaya & cara hidup yang berbeda? Atau apa?

Lalu pertanyaan kedua:
Apa yang akan Anda lakukan apabila ternyata Anda tidak menemukan apa yang Anda cari (jawaban dari pertanyaan pertama) di tempat tujuan?

Saya sendiri, yang saya sukai dari jalan-jalan ke suatu tempat baru adalah unsur petualangannya. Facing the unknown.

Rasanya seru waktu menuju suatu tempat dengan bertanya-tanya, apakah saya akan tiba di sana dengan lancar tanpa halangan yang berarti? Apakah nanti saya bisa mengatasi halangan-halangan yang muncul di jalan? Apa yang akan saya lihat di sana nanti? Siapa sajakah yang akan saya temui di sana? Hal-hal baru apa sajakah yang menanti saya di sana? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang berkecamuk di pikiran.

Baru-baru ini saya membaca artikel menarik berjudul "Sindrom Paris: Menghadapi Gegar Budaya, Merubah Persepsi Wisata" oleh Ambar Briastuti, salah satu pendiri indobackpacker.com.

Artikelnya membuat kita berpikir kembali tentang "Apa yang saya harapkan dari traveling?" dan "Mengapa saya traveling?"

Terkadang kita memiliki ekspektasi yang berlebih terhadap suatu tempat, sehingga menjadi kecewa apabila apa yang kita temui ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
"... Sebuah tips yang menarik dari Oggi Gunadi agar tidak terlalu kecewa jika ekpektasi tidak seperti yang diharapkan. Yakni “mengubah konsep TRAVELLING menjadi DISCOVERING dan EKSPLORING…” dengan membuat perjalanan sebagai sebuah tantangan. Seperti yang disampaikan Alain de Botton dalam bukunya The Art of Travel. “Not where we travel, but why we travel.” ..."
Wah saya setuju sekali.

Sebagai contoh kasus, meskipun perjalanan backpacking pertama saya dan dua orang teman ke empat negara Desember 2009 kemarin tidak sepenuhnya sempurna, namun untungnya kami bertiga dapat mengatasi halangan-halangan tersebut.

Tips-nya : Pokoknya semua dibawa fun aja! Keep it easy. :)

Bila diingat-ingat lagi, banyak kejadian lucu saat kami bertiga backpacking:

"Pintu keluar yang di sana itu lho..."
Di Singapore, saat kami berjalan-jalan & berbelanja di Mustafa Center, kami terpisah dengan seorang teman akibat miskomunikasi. Apalagi waktu itu hanya HP saya yang berfungsi, kedua HP teman saya tidak dapat digunakan.

Nyaris lewat dari 1 jam kami berputar-putar di Mustafa Center, saling mencari dengan tubuh lelah & pikiran kusut. Untung saja akhirnya kami ketemu juga! Ternyataaaa... titik pertemuan yang kami sepakati berbeda! Astagaaa, pantes aja ngga ketemu-ketemu, hehehehe...

Waktu di depan Mustafa sih kita bertiga ngomel-ngomel, kenapa gini kenapa gitu, apalagi ditambah dengan tubuh lelah & pikiran kusut. Namun begitu sampai di hostel dan selesai bebersih, setelah kami reka ulang kejadian yang baru saja terjadi itu, kami bertiga akhirnya tertawa terbahak-bahak. Astaga, bisa-bisanya miskom... Hehehe...
Moral of the story:
Kalau tidak ada alat komunikasi, lain kali lokasi janjian harus bener-bener harus ditunjuk, hindari janjian dengan ngomong doang, "Eh gw tunggu di depan pintu keluar ya!" -- Padahal pintu keluar ada tiga bijiiii!! :))

Tragedi di Dalam Bus Menuju Melaka

Saat di Malaysia, di Puduraya Bus Station, karena banyaknya loket bus, kami sempat salah memilih bus. Bus yang mengantar kami ke Melaka ternyata bukan bus yang direkomendasikan orang-orang. Jam keberangkatan bus kami delay sekitar satu jam, karena ternyata bus ini prinsipnya "baru jalan kalau kursi penumpang sudah terisi semua". Waktu tempuh yang seharusnya bisa cuma 2 jam, ditempuh selama 3 jam karena rute bus-nya berputar-putar dahulu untuk mencari & menurunkan penumpang.

Daaannn, sopir bus kami GALAK banget! Aih!

Sebelum berangkat saja dia sudah membentak-bentak, "Siapa ini yang bawa durian??? Turunin! Bisa-bisa seperjalanan kita semua mabok!" Lalu ada seorang turis wanita, sepertinya dari Chinese, yang dibentak-bentak dengan kasar di hadapan penumpang lainnya karena meludah di tempat sampah bus. "Kamu pikir saya pembantu kamu?!?!? Kamu pikir siapa yang mau bersihin ludah kamu??? SANA, turun kamu sekarang! Bersihin dulu nih tempat sampah!" sambil menunjuk-nunjuk ke turis tersebut. Ironisnya, sepertinya turis itu tidak mengerti apa yang si sopir itu bicarakan, tapi pasti mengerti kalau dia sedang dimarahi...
Moral of the story:
Lain kali kalau naik bus, pilih operator bus yang direkomendasikan orang-orang, namanya Transnasional. Lebih terjamin, hehehe...

"Twenty dollars, twenty dollars, twenty dollars!"

Lain lagi saat di Vietnam, kami nyaris ditipu tukang taksi. Berhubung saat kami tiba di bandara internasional Tan Son Nhat sudah malam, dan malam itu ternyata ada pertandingan sepakbola antara Vietnam & Singapura dengan kemenangan Vietnam 4-1 terhadap Singapura, dapat dipastikan bahwa jalanan Ho Chi Minh City (atau yang lebih akrab disebut Saigon) penuh dengan supporter yang sedang ber-euforia.

Hal ini menyebabkan kami kesulitan mendapatkan taksi di bandara. Sebuah taksi di pool bandara yang kami datangi dengan gampangnya men-charge kami $20/org, alasannya karena semua taksi sedang dipakai dan terjebak macet di jalan. Untung kami tidak setuju, kami memutuskan untuk langsung keluar bandara (untungnya bandara internasional ini terletak di dalam kota), dan mencari taksi di luar bandara. Ternyataaa, masih banyak taksi yang beroperasi. Dasar.
Moral of the story:
Lebih baik bercapek-capek jalan keluar bandara dulu sebelum mencari taksi. Harganya lebih rasional. Cari taksi yang menggunakan argo (tanyakan langsung ke pengemudinya). Ada 2 jenis taksi di Saigon, berbentuk mini bus dan sedan. Yang mini bus memang argonya lebih mahal, tapi muat buat banyak orang, cocok buat rombongan. Kalau patungan bayar biaya taksi, jatuhnya pasti lebih murah.

Perjalanan Sebagai Tantangan

Dari pengalaman-pengalaman tadi, saya malah menyimpulkan bahwa justru hal-hal kecil yang tadinya menyebalkan akan menjadi cerita menarik di kemudian hari, dan saat ini justru membuat kami tertawa-tawa jika mengingatnya kembali.

Maka, pertanyaan terakhir sebagai penutup tulisan ini adalah:
Apa tujuan utama Anda melakukan kegiatan traveling?

Kalau saya, alasan utama saya backpacking sebenarnya sederhana, melatih diri saya agar bisa lebih mandiri & adaptif terhadap perubahan, dengan cara yang menyenangkan alias jalan-jalan. Seperti kata pasangan suami istri penulis, Adhitya Mulya dan Ninit Yunita : "...traveling adalah membeli pengalaman."

Dengan suksesnya kami menyelesaikan berbagai macam persoalan saat di perjalanan, hanya dengan bergantung kepada teman seperjalanan (atau mengandalkan diri sendiri, apabila Anda seorang solo traveler), secara tidak langsung kami merasakan adanya proses pendewasaan yang tumbuh di diri kami.

Benar seperti kata artikel tersebut, buatlah perjalanan Anda sebagai tantangan.

Kalau Anda, tujuan Anda traveling apa?

+ + + + +

Referensi
- Ambar Briastuti - "Sindrom Paris: Menghadapi Gegar Budaya, Merubah Persepsi Wisata"
- Her World - "Life is Beautiful Around the World"

Monday, March 1, 2010

Komodo Island, The Nominator of New 7 Wonder

Komodo island proposed for the seven new wonders of nature. Competing with 261 natural tourist destination that diusukan by 222 other countries. In a competition held by the New7Wonders Foundation, in fact many miracles which allows Komodo to win this contest. So what magic is contained in the Komodo Island. Yuk! take a look.

LeisureRoll - the first miracle of course is the Komodo dragon itself. Komodo dragon or a lizard called the Komodo dragon full (Varanus Komodoenis) is the largest lizard species in the world of the living. Komodo dragons are found in Pulua Komodo, Gili and Gili Dasami Motang in Nusa Tenggara. The natives call it by name Ora.

The average length of Komodo dragon can reach 3 meters and weigh 100 kg. Large size is associated with symptoms of island gigantism, the tendency for body meraksasanya certain animals that live on the smallest island associated with the absence of carnivorous mammals. Because of his large size, Komodo dragon position who dominate the top predator ecosystem where to live.

First discovered by Western scientists in 1910. With his huge body and his reputation as a horrible vultures make this ancient animal quickly popular. On the island, located in West Menggarai district, east Nusa Tenggara, the Komodo dragon can be seen up close.

Watching the activity of the Komodo dragon is another miracle. For example, marriage komodo happened between May to August, the Komodo dragon eating deer, goats or pigs. Komodo sunbathing and watching the streets and dicabang trees in the morning.

For that there are several alternative choices. Seeking adventure ancient animals like dragons can be done while trekking to the valley or climb Poreng to Mount Ara. While Banu via Nggulung could be an alternative for those of you who do not want to walk away.

Komodo National Park should be achieved by speedboat from the Port of Bajo West Manggarai regency, East Nusa Tenggara during the 4 hour drive.

Floating in the middle of the blue silent Flores Sea, Komodo Island waiting to be admired. Above speedboat, "bonus" was a long journey can be felt. Panorama islands berstuktur arid red soil berkilaun scattered at sea, as well as marine parks colors visible to the naked eye.

In addition, the Red Beach with a charming line of coral, as well as everyday people in Kampung Komodo can also be incorporated into another miracle Komodo Island

Photo(s) : Curug Cikaso, Sukabumi Selatan

Foto oleh : Herajeng Gustiayu

Curug Cikaso, the hidden paradise,
terletak 38 km dari Ujung Genteng.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Airnya jerniiiihhh! :D
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2009

Catatan Perjalanan-nya dapat dibaca di sini:
Ujung Genteng on a Shoestring

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting